Posted by : AksaraProject Friday, September 9, 2011

"All out...(Keluarin semuanya ....Kayak dirampok)"



Handi sudah mondar-mandir di ruangan itu selama setengah jam. Raut mukanya yang pucat, menunjukkan kecemasan. Gigi gerahamnya saling beradu berlomba dengan keringat dingin yang ikut turun dari dahinya. Nanda yang dari tadi melihat tingkah Handi lama-lama jadi tidak sabar dan risih. Dia memilih untuk pergi keluar rumah, menghirup udara segar.
"Tingkahmu seperti cacing kepanasan. Daripada aku muak, lebih baik aku keluar. Lagipula, Ruang tertutup tidak cocok untukku." Nanda berkata dengan sikap acuh, kemudian keluar melalui pintu depan.
Kali ini Handi mencoba untuk menenangkan diri dengan duduk. Tapi tetap saja, bayangan mengerikan itu muncul. Membuat dirinya makin tidak tenang. ketika dia melihat Ratna keluar dari kamar di depannya, sontak Handi berlari menghampiri.
"Bagaimana keadaannya"? Tanya Handi cemas. kedua tangannya memegang pundak Ratna.
"Dia masih dalam kondisi aman. Luka yang dideritannya hanya luka luar. tidak ada yang mencapai titik vitalnya". Jawab Ratna untuk menenangkan Handi. "Untung saja waktu itu dia menggunakan baju tempurnya. Karena jika tidak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi".
"Minakjinggo sialan!!! Dia sudah mempecundangi kita, tidak hanya 4 fragment yang diambilnya, dia juga melukai paman pandu dengan begitu parah." Tangan Handi untuk sesaat terkepal, kemudian dia melihat Ratna lagi. "Benar itu kan namanya"? Ratna mengangguk pelan.
"Dia butuh istirahat, Kita bahas masalah ini diruang tamu saja. Aku tidak ingin perdebatan kita mengganggunya. Dilihat dari tingkahku, kamu, dan juga satu orang preman itu". Kata Ratna seraya berjalan keruang tamu.
"Ratna, kau melihatnya kan, ilmu yang digunakan oleh Minakjinggo". Handi berbicara kepada Ratna sambil berjalan.
"Iya, Naga Geni. Tapi tidak seharusnya seperti itu".
"Ditambah dia tidak perlu melafalkan mantranya".
"Kecuali...."
"Apa"?
"Ummm, Ini hanya spekulasiku saja sebenarnya. Aku pernah bertemu dengan seseorang. Dia mengatakan bahwa setiap manusia punya energi. Orang China menyebutnya Qi, India menyebutnya Cakra. Dan Jika seseorang bisa memusatkan energinya disalah satu bagian tubuh, maka dia bisa memperkuat bagian itu. Orang yang aku temui, memberiku contoh seperti seorang yang ikut karate. Bagaimana bisa dia mematahkan bata yang ditumpuk hanya dengan tangan kosong".
"Pakai ilmu ajian pastinya".
"Tidak, semua orang yang berlatih pernafasan dan pengendalian energi, bisa melakukannya".
"Lalu apa kita ini. Kita pakai ajian kan untuk bisa melakukan semua itu, juga seperti ini". Handi berkata sambil memunculkan bola api ditelapak tangan kanannya.
"Dia menyebut kita Homo Sapiens, dan menyebut orang-orang yang memang bisa menggunakan kekuatan tertentu tanpa ajian, sebagai Homo Superior".
"Dari namanya terdengar seperti orang yang sombong".
"Mungkin, awalnya aku juga berfikir seperti itu".
"Lalu apa kaitannya dengan Minakjinggo ini"?
"Dia tidak butuh waktu untuk casting mantra. selain itu dia bisa memusatkan api yang didapat dari Ajian Naga Geni hanya di kepalan tangannya saja. Bisa jadi kali ini kita berurusan dengan homo superior".
"Tapi kita sadar kan, kalau itu masih Ajian Naga Geni yang sama. Apinya berwarna Orange. Tidak merah".
"Itu yang membuatku bingung. Jika lain kali aku bertemu dengan orang yang aku ceritakan tadi, aku akan menanyakannya lebih lanjut".
Handi dan Ratna sudah berada di ruang tamu. Melihat itu, Nanda yang dari tadi ada di depan rumah, kini juga menuju ke tempat yang sama.
"Sudah selesai"? Tanya Nanda.
"Apanya"? Jawab Handi agak risih.
"Urusan kalian dengan abdi dalem itu. Kalau sudah, kita bahas masalah kita. Kalau belum, aku tunggu disini".
"KAU....."
"Sudah, Jangan mulai keributan bahkan sebelum kita menemukan tujuan kita bersama". Ratna mencegah Handi dengan satu tangan.
Mereka bertiga duduk dalam posisi melingkar. Masing-masing sisi ada Handi dan Nanda, sedangkan Ratna ada di depan mereka mengawasi jikalau mereka berdua mulai seperti kucing dan tikus.
"Baik,...Dia punya 4 fragment, kita punya 0. Dia Homo Superior, kita Homo Sapiens". Kata Handi.
"Apa itu, nama aneh"? Nanda bingung mendengar nama yang asing di telinganya.
"Diam. Aku belum selesai bicara".
"Grrrrr"
"Dan yang paling parah, Dia hanya sendirian, dan kita bertiga. Lelucon macam apa ini".
"Tambahan, Dia brengsek, kita tidak. yah....setidaknya AKU tidak sih". Ratna menimpali. "Jadi, seperti yang dikatakan Paman Pandu sebelumnya, kalau saja Dewata Cengkar bisa dibangkitkan..." Ratna melihat Handi menutup kedua telinganya saat mendengar Ratna menyebutkan nama Dewata Cengkar.
"Kenapa kau"? Nanda bertanya lagi. Tapi kali ini Handi tidak menjawab.
"Hmph,...masih percaya dengan Takhayul juga." Ratna mengomentari, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Jika Dewata Cengkar bisa dibangkitkan, kita butuh 16 orang lagi untuk bisa mengalahkannya".
"mencari 2 orang saja susah, apalagi 16". Nanda menginterupsi.
"Sebenarnya hanya tinggal 8 orang, Jika kalian mau bekerja sama". Terdengar suara seorang lelaki dari depan rumah. Saat itu sudah jam delapan pagi, jadi wajar jika ada orang yang datang bertamu. Tapi kali ini yang datang bukan orang yang mereka harapkan. Yanuar, Abdi dalem Ratna.
"Haduh...." Ratna mulai mengumpat.
#####
Yanuar kini berdiri di teras depan. sepertinya dia menolak untuk masuk rumah. Dan lebih menginginkan penghuni rumah untuk keluar. Jenggot kambingnya terlihat berkibar searah dengan tiupan angin yang menerpa rambut panjangnya.
"Nona Ratna, saya datang kemari untuk menjemput anda pulang. Bukan sebuah perilaku yang baik, melarikan diri dari rumah. Apalagi anda adalah putri keraton". Yanuar berkata dengan nada suara yang tenang. Tidak ada satu kata pun dalam kalimatnya yang meninggi atau merendah.
Ratna, Handi, dan Nanda keluar. Mereka bertiga berdiri di depan Yanuar. Setelah itu, Ratna maju satu langkah.
"Paman, ada hal yang lebih penting yang saat ini harus aku hadapi". Kata Ratna.
"Hal terpenting yang saat ini Nona harus lakukan, adalah melanjutkan pertunangan Nona dengan Tuan Dani".
"JANGAN SEBUT NAMANYA"!!!! Mendadak Ratna menjadi lepas kontrol. "Lebih baik aku tidak menjadi seorang putri keraton, daripada harus menikah dengan dia, disaat genting seperti ini"!!
"Saya tidak melihat situasi yang sedang anda sekalian hadapi, sebagai situasi yang genting. Jikalau memang, Dewata Cengkar bisa bangkit lagi, masih ada Satu team yang dipimpin oleh tunangan anda yang cukup berkompeten dalam menyelesaikan masalah ini. Dan mereka pasti bisa mengalahkannya".
"Satu tim?? HEY...." Handi mulai paham maksud pembicaraan Yanuar. "Kami juga kompeten".
"Bukti yang saya lihat saat ini menunjukkan sebaliknya. Kemajuan yang anda sekalian dapat, tak lebih hanya bertambah satu orang".
"Sepertinya orang ini merendahkan kita".
"Memang, baru tau ya". Nanda setengah mengejek.
Handi dan Nanda terlihat memegang Daun lontar ajaib yang mereka gunakan untuk berubah, ditangan kanan.
"Nona Ratna, sebaiknya anda pulang, disini tidak baik untuk anda, dan malah bisa merusak moral anda".
"CUKUP"!!!! Handi dan Nanda menerjang kearah Yanuar. Secara bersamaan mereka berdua berubah memakai baju tempur mereka. Tangan mereka yang terkepal melayang dengan cepat. Tapi Yanuar, tetap dengan posisi berdiri yang sama, menahan kedua pukulan lawannya dengan menggunakan telapak tangan. Tangan kanan menahan tinju Handi, dan tangan kirinya menahan tinju Nanda. Tubuh Yanuar pun kini juga terlihat sudah menggunakan baju tempur, dengan secercah cahaya berbentuk huruf jawa YA, terlihat menjadi helm untuk melindungi kepalanya.
"Dia juga....??? Ratna, kau tidak bilang padaku". Handi protes kearah Ratna.
"Kau tidak pernah tanya". Jawab Ratna.
Kali ini, Yanuar melompat keudara dan menebaskan pisau angin kearah dua orang lawannya dibawah. Nanda dan Handi menghindar kesamping, kemudian menendang keatas untuk menjatuhkan Yanuar. Tapi Yanuar hanya melipat kedua tanggannya, lalu berputar, menciptakan angin puyuh kecil yang melindungi dirinya dari serangan luar. Handi dan Nanda tetap menyerang Yanuar dari kedua sisi, tubuh mereka bertiga turun perlahan, kontras dengan gerakan mereka yang cepat. saat mencapai tanah, tiba-tiba tangan Yanuar mencengkeram leher mereka berdua, dan tubuh mereka dihempaskan kedalam tanah. Hanya sekali hempas, mereka sudah melesak sedalam satu meter. Handi mencoba untuk bangkit, dia melihat Yanuar melompat dua langkah kebelakang. Kali ini seperti bersiap-siap untuk melakukan serangan. Nanda yang bangkit belakangan menggunakan kekuatannya. Dari kedua tanggannya keluar gumpalan asap hitam. Handi secara bersamaan juga mengumpulkan api ditangan, dan melakukan hal yang sama dengan Nanda. Mereka berdua melepaskan energi untuk menyerang Yanuar. Yanuar dengan tenang menunggu serangan itu datang. Setelah dari jarak yang cukup dekat, Yanuar menendang energi di depannya, bukannya terpental, campuran energi antara kegelapan dan api, berhasil ditembus oleh Yanuar, dan tendangannya menghantam dada Nanda, untuk kemudian menabrak Handi yang berada dibelakangnya. kedua orang ini terkapar ditanah.
"Jangan memulai pertarungan, yang tidak bisa kalian menangkan". Kata Yanuar pelan. "Nona Ratna.....ayo pulang".
"Tidak". Ratna tetap berdiri pada posisi yang sama. Melihat abdi dalemnya tidak bergeming, Ratna melanjutkan kalimatnya. "Paman mau apa?? menghajarku seperti paman menghajar kedua lelaki barusan"?
Yanuar hanya diam selama beberapa menit. Dia memandang ekspresi Nona mudanya. Dari mata Ratna terlihat sebuah keseriusan. Dan dia tau, tidak mungkin untuk merubah keputusan yang sudah dibuat oleh Nona mudanya. "Baiklah jika itu yang nona inginkan". Yanuar mulai membalikkan badan. "Saya kesini hanya untuk menjemput, bukan memaksa. Saya harap kalian juga dapat menghadapi apa yang kalian takutkan. Saya hanya memberitahukan, tinggal 8 orang yang harus kalian temukan. Karena dengan sikap kalian hari ini...." Yanuar kembali memandang Ratna. "8 dari 16 orang itu, akan berseberangan jalan dengan kalian". Yanuar berkata sambil berjalan menjauh. Dia melepas baju tempurnya, dan masuk lagi kedalam mobil putih yang diparkir di depan rumah.
"Ratna....Bagaimana sekarang"? Tanya Handi sambil memegangi luka yang didapatnya dari pertarungannya dengan Yanuar.
"Kita sudah mengibarkan bendera perang dengan mereka. Bah...hanya karena kau tidak mau ditunangkan disaat seperti ini". Nanda juga ikut bicara. Kondisinya tidak berbeda dengan Handi.
"Huuuhhh...". Ratna menghela nafas. "Tim yang tadi Paman Yanuar bicarakan, beranggotakan 5 orang, yang dipimpin oleh tunanganku".
"Dani"? Tanya Handi.
"Diam kau"!
"Sorry... tidak sengaja. Tutup saja telingamu, seperti yang aku lakukan saat mendengar orang mengatakan nama sial itu".
"Dan kau tau, anak raja...." Ratna berkacak pinggang didepan Handi sambil tersenyum. "Mereka punya 2 abdi dalem yang loyal". Ratna masuk kedalam rumah.
"Malam ini, kita temukan fragment terakhir dan merebutnya. Walaupun itu berarti kita harus mati".
#####
"3 Orang dengan baju tempur seperti kalian mana mampu mengalahkan aku, Minakjinggo"!! Terdengar suara tawa diikuti oleh kalimat yang baru saja diucapkan oleh Minakjinggo.
Didepannya, ada 3 orang dengan menggunakan baju tempur, berdiri dan bersiap untuk menyerang. Dibelakang ketiga orang itu, terdapat tumpukan mayat Caruga. Ketiga orang itu bernama Karis, seorang lelaki yang mengenakan baju tempur berwarna cokelat, dengan motif dari Reog. Dihelmnya terdapat huruf Jawa KA. Lalu yang ditengah adalah Jaka, Yang mengenakan Baju tempur berwarna hijau gelap dengan huruf jawa JA di helmnya. Yang terakhir Ica, satu-satunya wanita di kelompok itu. Dia memakai baju tempur berwarna orange dengan huruf jawa CA di helmnya.
Keempat orang ini berada diatas tanah tandus di dekat lahar gunung Merapi. kondisi lingkungan yang panas, mendukung konflik yang saat ini sedang berhembus disekitar tubuh mereka. Dan setelah keheningan yang mencekam selama satu menit, mereka berempat memulai pertarungan. Suara pukulan, tendangan, dan besi yang beradu, terdengar disela-sela letupan lahar, berbagai ajian dikeluarkan, elemen alam digunakan untuk menyerang dan bertahan. Satu orang dikeroyok tiga orang pun ternyata masih sanggup untuk mengendalikan suasana. Minakjinggo bukan orang yang mudah untuk dilukai. Jaka dan Karis yang punya stamina lebih besar daripada Ica pun juga tidak sanggup membuat lawannya kualahan.
Saat Stamina ketiga orang ini hampir habis, tiba-tiba dari langit meluncur turun, 4 cahaya merah yang kemudian menghantam Minakjinggo, hingga dia terpental kebelakang. Dari keempat cahaya itu, terlihat sosok Ratna, Handi, Nanda, dan Pandu, dalam balutan baju tempur mereka.
"Kamu ini...kira-kira donk kalau mau teleport. Main lempar orang seenaknya. minta dihajar"? Nanda meneriaki Handi.
"Jangan salahkan aku!!! Kau tau kan mantra barusan yang kita gunakan itu, aku belum menguasainya dengan benar"!!! Handi membela diri.
"Kau ini sama saja dengan penduduk lain. Sudah jelas salah, tidak mau minta maaf. Dasar keras kepala". Nanda akan menonjok Handi.
Ratna yang cekatan menhantamkan helm kedua orang ini secara bersamaan. BRAKKKK suara hantaman terdengar begitu keras. "Sudah selesai main kucing tikusnya"? Tanya Ratna.
"Kalian berempat..."Jaka memecahkan konflik antara Handi dan Nanda. "Pandu,.. itu kamu kan"? Jaka melihat seseorang dengan memakai baju tempur berwarna merah dan putih, dengan huruf jawa PA di helmnya.
"Dari suaramu... Jaka. Kau ternyata ada disini". Pandu gembira bertemu dengan Jaka. "Dan ini, kau bersama dengan dua orang yang juga punya kekuatan daun lontar ajaib. bagaimana bisa"?
"Cerita jelasnya nanti saja, sekarang kita hadapi Minakjinggo. Dia sudah mendapatkan semua fragment keris, dan sekarang berniat untuk membangkitkan Dewata Cengkar".
"Kalian bertiga, Ayo kita gabungkan kekuatan untuk mengalahkan dia". Karis berjalan kearah Ratna, Handi, dan Nanda sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Yang disambut oleh Ratna dan Handi, tapi Nanda hanya diam saja.
"Biarkan,..Sifatnya memang seperti itu". Kata Handi.
"Kalian juga bisa berubah ya... berarti sekarang kita ada 1, 2,....7 orang". Ica menghitung jumlah pemakai baju tempur yang ada bersamanya saat ini. "Kita bisa mengalahkan Minakjinggo".
HEEEAAAA!!!!!! Ketujuh orang ini kini berdiri berjejer, dengan posisi dari ujung kanan kekiri, Jaka, Karis, Ica, Handi, Ratna, Nanda, Dan yang paling kiri Pandu. Bersiap melakukan serangan frontal terhadap Minakjinggo yang sudah kembali menghimpun kekuatan.
"AKSARANGER!!!! MAJU......" Teriak Ica spontan.
"Heeee"???? terdengar 6 orang lainnya secara bersamaan.
"Jangan dipikirkan". Ica meringis kekiri dan kekanan. "Ayo serang...."!!!
Minakjinggo seketika itu diserang oleh 7 orang secara bersamaan. Dia dihajar bertubi-tubi. Jurus yang dimilikinya tidak mampu untuk mempertahankan diri dari pukulan dan tendangan yang melayang bagai ombak laut kidul. BUAK BAK PLAK BRAKKK Kali ini Minakjinggo jadi sandbag.
"Minggir semuanya...." teriak Handi. Dia dan Pandu kini melesat kearah Minakjinggo dengan Api terkepal di tangan. Mereka berdua memukul Minakjinggo, membuat Minakjinggo terlempar kedalam lahar.
"YESSS!!!" Kita menang.... Teriak Ica.
Ratna tersenyum mengangguk, dia tidak percaya dalam waktu singkat dan dengan kekuatan tim yang tiba-tiba didapatnya, dia dapat mengalahkan lawan yang selama beberapa hari ini begitu merepotkan".
"Makan itu lahar. Panas mulutmu sekarang". Nanda melongok kedalam lautan lahar, memastikan bahwa lawan mereka sudah benar-benar mati.
"Siapa bilang....."! Tiba-tiba suara Minakjinggo terdengar menggelegar. Dirinya terlihat terbang naik dari dalam lautan lahar. Kini diikuti oleh dua makhluk yang terbuat dari api. Seperti golem, tapi bedanya dari badan mereka masih tersisa warna merah menyala akibat lahar.
"Terra... Dia bisa memanggil makhluk selain Caruga". Ratna tidak percaya melihat pemandangan didepannya.
Jaka dan Pandu, kini berlari ke barisan depan, berusaha mengamankan generasi muda di belakang mereka.
"Dia belum mati??? Bahkan setelah kita bertujuh menggabungkan kekuatan"? Karis terlihat putus asa.
"Kalau kalian pikir kalian bisa dengan mudahnya membunuhku, Tebak lagi....kalian salah besar. Kini, sebagai gantinya, kalian akan berhadapan dengan kedua Terra ini. Nikmati waktu terakhir kalian, selagi aku membangkitkan Dewata Cengkar". Minakjinggo kini melayang ditengah lautan lahar. Bersiap untuk melakukan upacara kebangkitan. Sedangkan kedua Terra yang dipanggilnya, turun, menghadang ketujuh orang Aksaranger (Aku mesti bilang apa? ketujuh orang itu....? bahkan setelah Ica dengan spontan menyebutkan nama cerita ini? Aku rasa tidak).
Kedua Terra itu menyerang dengan membabi buta. Sehingga tujuh Aksaranger terpaksa bertahan dari serangan yang datang. Mereka bertujuh, kini memfokuskan serangan pada satu Terra dulu. Tapi hal itu justru membuat Terra yang satunya tidak dihiraukan dan dapat menyerang dari belakang.
"Sial....Kenapa ada Terra disini"? Kata Ratna pelan.
"Ratna, Kau kenal mereka"? Handi yang mendengar Ratna, penasaran.
"Keren...Kau tau nama-nama makhluk gaib". Karis tiba-tiba ikut di pembicaraan.
"Husss...jangan bicara sembarangan. Aku mendengar cerita mengenai mereka, dari seorang kenalanku dikampus".
"Aku tebak, Orang yang sama yang mengatakan kalau dirinya Homo Superior". Handi menebak sekenanya.
"Homo apa???" Tanya Karis.
"Homa homo.... Itu bukan Homo yang itu... Tapi Homo Superior, Orang dengan kemampuan khusus". Handi memprotes.
"Heheheh maaf..." kata Karis sambil menggaruk-garuk helmnya.
"Kenalanku berkata, satu Terra paling tidak, bisa dihadapi 3 orang Homo Superior berkemampuan tinggi. Tapi saat ini, kita bertujuh pun, belum bisa mengalahkan seekor Terra".
"Apa kau mau bilang kalau kita berkemampuan rendah"? Nanda tidak terima. Kita jadikan Monster ini Batu arang, lalu kita bakar-bakar ketela setelah pulang nanti. Nanda kembali meluncur menghantam bahu Terra yang menjulang di depan.
Saat mereka bertujuh kualahan menghadapi dua ekor Terra, tiba-tiba terlihat tembakan menghujani kedua Terra ini hingga limbung. Hal ini membuat ketujuh Aksaranger yang sebelumnya sibuk memfokuskan diri dalam pertarungan, kini menengok kebelakang.
"Apa itu...."? Tanya Handi.
"Itu pesawat". Kata Ica.
"Bukan, Itu kereta api". Kata Karis.
"Bego... Itu peluru". Timpal Nanda.
"Kalian salah semua....Itu pembawa masalah". Ucap Ratna.
#####
Dari kepulan asap lahar yang mulai menipis, tampak 5 orang dengan baju tempur masing-masing, berjalan dengan santai kearah 7 aksaranger di depan. Dari helm mereka, terukir motif huruf jawa, dari kiri ke kanan, DA TA SA WA LA. Seolah tidak menganggap bahwa 7 orang dihadapan mereka ada, ke 5 orang ini melewati mereka begitu saja. baru berjalan beberapa langkah di depan. Orang dengan huruf jawa DA di helmnya, berhenti dan menengok kearah Ratna.
"Hey cantik....Dapat masalah ya"? Kata Orang ini sambil berkacak pinggang.
"KAU!!!! Mau apa KAU kesini"!?? Teriak Ratna emosional.
"Dani, Kita biarkan orang-orang lemah ini meratapi nasib. Ada tugas yang harus kita selesaikan". Kata orang dengan huruf SA di helmnya.
"Sip bro.. Duluan saja".
"Oke". Dan mereka berempat menyerang Kedua Terra yang kini menghadang di depan jalan mereka. Serangan mereka lebih kuat daripada aksaranger sebelumnya. membuat Terra yang tadinya diatas angin, menjadi bulan-bulanan.
"Cantik, soal kedua batu itu, serahkan saja pada kami. Kau dan keenam temanmu, gagalkan saja Minakjinggo. Kalian terlalu lemah untuk merontokkan satu debu dari tubuh mereka".
"Apa Kau bilang HEH!? Kau pikir aku tidak mampu ya?? Sini, biar tinju ku ini jadi bukti kalau aku bisa merontokkan debu sekaligus meretakkan kaca helmmu"!!!
"Hey hey...kau jadi emosional begini? Biarkan mereka yang bersusah payah untuk mengalahkan kedua Terra itu. Kita akan melakukan sisanya". Karis menahan Ratna.
"Dengarkan kata temanmu. Lagipula,...aku tidak mau melihat tunanganku jadi buruk rupa karena dihajar hingga babak belur".
"TUNANGAN!!!?????" Ica, Karis, dan Handi serentak berteriak.
"Jadi ini yang namanya Dani"? Kata Nanda sambil meremas tangan.
"Tenang bro...Aku sadar kalau aku ini terkenal, tapi jangan maen palak gitu. Aku ga punya hutang sama kau". Jawab Dani Santai.
"Sudah sudah. Jika kita tetap disini, Dewata Cengkar akan bangkit". Pandu melerai mereka.
"Ingat Pandu...Daun muda. Wajar jika sikap mereka seperti itu. Beda dengan kita yang sudah tua". Jaka menenangkan Pandu.
Ketujuh Aksaranger itu kemudian berlari kearah ritual yang dilangsungkan oleh Minakjinggo. Meninggalkan Dani untuk kembali bergabung bersama Timnya mengalahkan 2 ekor Terra.
Dani, segera melesat menendang kepala Terra yang pertama kali dia temui. Keempat rekannya, kini juga terlihat memukul dan menendang Terra secara bergantian. Akhirnya, saat kedua Terra itu limbung ketanah, kelima orang ini berkumpul. Mereka bersama-sama memencet tombol di sabuk mereka. Masing-masing tombol berlambangkan alat musik jawa yang merepresentasikan diri mereka. Setelah itu, muncul 5 alat musik gamelan secara digital. Kelima alat musik ini kemudian digabungkan menjadi sebuah bazooka dengan Gong besar berada pada bagian belakang, dan alat musik mirip biola di bagian paling depan. Serentak, kelima orang ini menyatukan tenaga dan mengisi kekuatan senjata mereka. Setelah senjata mereka terisi penuh, mereka menembakkan gumpalan energi berwarna ungu, kearah 2 ekor Terra yang saat ini sudah tidak berdaya. dan BLARRRRRRRRR..... Ledakan diikuti dengan Batu hitam beterbangan mengisi udara yang panas dan pengap.
Dilain pihak, Handi dan keenam rekannya kini sampai pada mulut lahar. Dia melihat Minakjinggo sedang komat-kamit baca mantra. Musuh mereka ini sudah menggabungkan 5 buah Fragment, menjadi sebuah Keris, kemudian memanggil Dewata Cengkar.
"Itu kayak mbah dukun, komat-kamit ga jelas". Kata Karis.
"Kita serang dia sekarang, waktu belum siap. Ayo". Handi menyemangati, yang dibalas dengan anggukan dari keenam rekannya.
"Kita Hancurkan dia sekarang dan untuk selamanya...Jinggo,.. Jinggo Jinggo Ugh". teriak Ica ambil mengepalkan tangan keatas.
"Apa itu"? Handi dan Nanda melongo.
"Iklan Rokok. hehehe". Balas Ica santai sambil terseyum.
Mereka terbang kearah Minakjinggo dan menghantamkan pukulan. Minakjinggo yang tidak siap, kini harus memecah konsentrasi. Dirinya juga tidak mampu menghadapi 7 orang sekaligus. Tapi apa daya, kekuatan lawannya tidak terus saja datang tanpa henti. Akhirnya, Dengan satu pukulan telak dari Nanda, Minakjinggo jatuh ketanah.
Kini Minakjinggo dikelilingi oleh 12 orang berbaju tempur yang siap untuk menggorengnya hidup-hidup. Dicekam ketakutan karena kalah dalam bertarung, Minakjinggo meneriakkan nama Dewata Cengkar dengan putus asa, berharap sebuah keajaiban akan terjadi dan nyawanya bisa terselamatkan.
Tiba-tiba, sebuah tangan raksasa yang dibalut rantai, keluar dari dalam lahar. Tangan ini meremas Keris yang sedari tadi melayang, sampai remuk menjadi serpihan kecil. Setelah tangan ini mencapai mulut Lahar, muncul juga dari dalam lautan api, Sosok Raksasa Buaya berwarna putih. Mulutnya yang penuh gigi tajam mengeluarkan suara lolongan yang memekakkan telingga. Membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding. Tak terkecuali 12 orang yang saat ini berkumpul untuk membunuh Minakjinggo. Mereka memandang dengan tidak percaya, kearah monster itu. Padahal mereka sudah sukses menggagalkan upacara pembangkitan, dan mengalahkan semua monster yang menghadang. Tapi tetap saja, buaya putih itu muncul dihadapan mereka. dengan tubuh yang dibelenggu rantai besi bercampur dengan lelehan lava yang mengalir. Dihadapan mereka kini terpampang sosok musuh yang benar-benar mereka takutkan. Sosok yang selama ini hanya menjadi legenda dan cerita fiksi. Dewata cengkar, dengan wujud Buaya putih raksasa, tersenyum kecil kearah 12 Aksaranger.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger