Posted by : AksaraProject Saturday, September 3, 2011

"Awal...(Mungkin Seperti Itu)"



Jogjakarta, 3 sebtember 2011.

"Dingin", Adalah kata-kata yang akan diucapkan orang-orang saat ditanya mengenai hawa yang mereka rasakan pada malam itu. Tidak berlebihan, mengingat ini adalah musim panas. Jika siang hari udara menyengat, malam harinya siksaan berubah menjadi sedingin es.
Dimalam yang dingin itu, terlihat dua sosok manusia berdiri di depan sebuah toko barang antik. Mereka terdiam, melihat keanehan yang terjadi didepan mata mereka.
"Pencurian? Bagaimana pendapatmu?" Tanya salah satu dari dua orang itu. Dia adalah cowok berumur sekitar 22 tahun. Wajahnya tampan, dengan kulit sawo matang khas orang melayu. Rambutnya disisir rapi belah kanan. Kedua matanya tajam, mencerminkan sifatnya sebagai seorang pemikir dan analisis. Dia bernama Handi, anak keturunan bangsawan yang tinggal di salah satu rumah megah ditengah kota Jogja. Malam itu dia memakai jumper berwarna merah dan hitam dengan garis emas di kedua lengan. Celana hitam dengan sepatu yang senada melengkapi pakaian cowok ini.
"Aku pikir,...tidak begitu." Jawab orang yang satu lagi. Dia adalah laki-laki berumur 35 tahun, mengenakan baju batik resmi dengan celana kain berwarna cokelat dan sepatu kerja hitam. Tak lupa juga blangkon berwarna serupa dengan bajunya terlihat berada diatas kepala. Laki - laki ini bernama Pandu. Dia adalah pendamping (atau yang biasa disebut dengan "abdi dalem") Handi.
"Hmm,...apa penjelasan dari kekacauan yang ada dihadapan kita sekarang?" Tanya Handi.
"Coba Anda lihat tuan, bukannya keluar lewat pintu, sepertinya si pelaku justru
memilih jalan keluar dengan membobol etalase depan toko." Jawab Pandu tenang.
"Aku tidak melihat ada keperluan untuk repot-repot membuka pintu. Wajar kan, jika seorang pencuri ingin cepat-cepat kabur, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Dan menebarkan bau belerang sepekat ini? Saya kira tidak."
"Kita masuk. Akan terlihat bodoh jika kita tetap berdiri disini dan berdiskusi
mengenai sebuah toko barang antik yang kebobolan. Seakan-akan kita adalah..."
"Pencurinya,..Saya juga sependapat dengan anda."
Kedua orang itu masuk kedalam toko melalui tempat etalasae yang sudah rusak. Suara kaca pecah terdengar saat kaki mereka menginjak serpihan kaca yang bertebaran. Didalam, terlihat sebuah ruangan tempat barang-barang antik yang seharusnya ditata rapi untuk menarik pengunjung, berubah menjadi sebuah medan perang seperti telah kejatuhan bom atom. Patung-patung batu pecah, lampu hias berserakan dilantai, rak-rak besar saling menindih, kertas dinding sobek seperti habis dicakar. Dengan kata lain, kacau.
"Kekacauan macam apa ini?" Kata Handi melihat pemandangan didalam ruangan.
"Deduksi anda salah Tuan. Ini bukan pencurian. Tapi peperangan". Pandu mengoreksi tebakan Handi saat didepan toko tadi.
"Barang-barang antik ini dirusak, sepertinya ada yang memang berniat untuk menghancurkan karya seni dan peninggalan yang terdapat ditempat ini".
"Aku akan memeriksa ruangan ini, Anda mungkin berminat untuk mengintip ruangan disebelah kanan. Pintunya terlepas dari engsel, aku yakin ada bukti yang bisa membantu kita mengungkap kasus ini".
Handi beranjak menuju ke ruang berikutnya. Disana dia melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan. Membuat Handi serasa mual. Dia memanggil Pandu, dan beberapa saat kemudian, mereka berdua terlihat kaget melihat apa yang ada didepan mereka. Sebuah mayat laki-laki paruh baya, menempel di dinding, dengan kondisi isi perut keluar, cipratan darah tercetak dibagian belakang mayat.
"Ya ampun." Ucap Pandu tanpa sadar.
"Ternyata benar, tidak ada barang yang hilang, semua benda antik dirusak, pelaku yang keluar bukan lewat pintu depan, melainkan dengan membobol etalase". Handi membungkuk dan menganalisa lantai dibawah mayat. Dia seperti mencari-cari sesuatu, tapi tidak menemukannya. "Diambil.., Fragment keris nya diambil. Itu yang si pelaku incar. Tepat seperti dugaanku".
"Kalau benar seperti itu, berarti kita berurusan lagi dengan monster reptil yang belakangan ini sering dibicarakan masyarakat".
"Masyarakat hanya tau luarnya saja. Kita tau apa yang sebenarnya terjadi".
"Sebaiknya kita kembali kerumah. Jika polisi sampai ketempat ini dan menemukan kita, bisa-bisa kita yang jadi tersangka".
Handi dan Pandu bergegas meninggalkan lokasi kejadian. Mereka mengendarai sedan hitam dan melaju diantara dinginnya malam kota Jogja.
#####
Di Rumah, Handi dan Pandu segera menuju keruang rahasia, tempat dimana terdapat berbagai perangkat canggih yang mendukung investigasi berskala besar dengan layar LED 32" terpampang ditengah ruangan. Tempat ini adalah tempat dimana Handi, dibantu oleh Pandu, menjalankan pekerjaan mereka. Pekerjaan sebenarnya selain hanya sebagai seorang mahasiswa universitas swasta, dan seorang abdi dalem. Selama ini mereka memburu makhluk-makhluk yang disebut dengan Caruga. Makhluk reptil yang tercipta dari sihir hitam. Belakangan ini, Caruga seperti lebih terorganisir, karena seperti yang kita tau, monster lebih mengandalkan otot daripada otak mereka yang hanya sebesar kacang polong.
Sampai saat ini sudah dua korban meninggal karena mereka. Tapi yang lebih dikhawatirkan oleh Handi, adalah hilangnya Fragment keris, dari kedua korban ini. Fragment-fragment tersebut adalah benda yang sangat penting, karena jika semua bagiannya terkumpul, akan terbentuk sebuah keris yang membawa malapetaka di tanah Jawa.
"Mereka benar-benar ingin membangkitkan Kanibal itu." Ucap Handi sambil mencoba mencari posisi seseorang melalui komputer didepannya.
"Dewata Cengkar"? Tanya Pandu.
"Jangan sebut namanya. Bisa membawa sial".
"Itu hanya Takhayul,..hehehehe Anda terlalu berlebihan".
"Bagian mana yang takhayul? Kanibal itu, atau bawa sial nya"?
"Bagian yang membawa sial, Aku tidak akan menyangkal soal......sensor namanya. Dia memang nyata".
"Dan sekarang tugas kita untuk menggagalkannya."
"Saya sarankan anda untuk meminta bantuan kepada sepupu anda di Kediri."
"Belum, aku rasa, selama kita masih mampu untuk menghalau serangan mereka, kita belum memerlukan bantuan dari pihak luar".
"Tapi kita sudah gagal, DUA kali". Kata Pandu sambil menunjukkan dua jari kanan nya.
"Maka dari itu sekarang kita melacak Guardian ketiga. Dan segera datang melindunginya sebelum Caruga".
"Apa yang membuat anda yakin kalau kita bisa datang lebih dahulu"?
"Insting".
"Anda tidak dilatih hanya untuk menggunakan insting, analisa semua hal yang didapat. buat kesimpulan, dan buktikan kebenarannya. Itu yang selalu ayah anda ajarkan".
"Ada waktunya paman Pandu, ada waktunya dimana kita harus mengandalkan insting kita untuk menyelesaikan masalah".
"Insting yang terasah bisa diandalkan. Yang tumpul,... saya rasa tidak".
"Insting ku sudah cukup terasah, kita tau itu".
"Saya selalu kalah jika berdebat dengan anak muda".
"Usia menentukan segalanya".
"Hahhaha, anda bisa saja".
"Paman Pandu, Aku ingin menanyakan sesuatu. Sebenarnya apa dan bagaimana akar masalah dari semua ini"?
"Bukannya Ayah Anda sudah pernah menceritakannya"?
"Aku tidak begitu mendengarkan. Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tau kalau Kanibal itu bawa sial".
"Takhayul tuan muda".
"Ya sudahlah. Jadi, tolong ceritakan lagi mengenai semua hal ini".
"Baiklah, saya akan menceritakannya dari awal. Anda pasti ingat dengan penemu tulisan Jawa, Raden Ajisaka".
"Iya, yang di film jaman dulu diperankan oleh Barry Prima kan"?
"Saya,...kurang mengikuti acara televisi. Jadi mungkin saya tidak tahu yang itu".
"Masak sih? yang pemeran ceweknya Susana itu lo. Umm...yang nantinya si cowok dikutuk jadi bruruk rupa"?
"Bukan itu. Anda terlalu banyak mencampurkan fiksi dan sejarah".
"Okelah,...tolong dilanjutkan".
"Raden Ajisaka memiliki musuh besar, bernama Dewata Cengkar, Monster pemakan manusia yang sudah lama menggangu dan membuat kehancuran di tanah Jawa. Kejahatan yang sebenarnya".
Pandu melihat Hadi menutup telinga nya ketika dia menyebut nama Dewata Cengkar. Pandu tersenyum simpul, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Pertempuran demi pertempuran dilakukan oleh Raden Ajisaka melawan Prabu Dewata Cengkar, keduanya sama-sama sakti. Hingga suatu saat, Raden Ajisaka mendapatkan nasehat dari patihnya. Ada satu benda pusaka utuk mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, Keris sakti yang ditempa oleh seorang empu yang namanya sudah melegenda. Tetapi ada satu masalah".
"Kerisnya terkutuk". Kata Handi.
"Benar sekali. tapi Raden Ajisaka tidak mempermasalahkan hal itu. Dia menganggap kalau itu hanya Takhayul. Akhirnya, setelah berbulan-bulan mencari, Raden Ajisaka mendapatkan keris itu dari tangan seorang pendekar. Sebelum membawa pulang keris pusaka, Raden Ajisaka mendapatkan satu peringatan, bahwa jangan sampai keris itu menjadi barang rebutan, karena akan mencelakakan pemegangnya".
"Oke, paham. Tolong dilanjutkan".
"Dengan bersenjatakan keris pusaka itu, Raden Ajisaka berhasil menyegel Prabu Dewata Cengkar. Dia tidak bisa membunuhnya, bukan karena Prabu Dewata Cengkar tidak bisa mati, tapi karena memang ramalan mengatakan bahwa yang kelak akan membunuh Prabu Dewata Cengkar adalah Keturunan Raja tanah Jawa".
"Tunggu dulu... Bukannya Ajisaka adalah Raja tanah jawa"?
"Waktu itu dia belum tahu kalau dia akan menjadi Raja di tanah Jawa kan".
"Hmmm masuk akal. Ramalan memang mudah membuat orang stress, oke, lanjutkan ceritanya".
"Setelah menyegel Prabu Dewata Cengkar, Raden Ajisaka memimpin tanah Jawa dan menebar kedamaian didalamnya. Raden Ajisaka tahu, jika keris pusaka itu bisa digunakan untuk membuka segel dan membebaskan Prabu Dewata Cengkar, sehingga dia sendiri yang selalu menjaga Keris itu. Hingga suatu saat, Raden Ajisaka harus pergi meninggalkan kerajaan untuk urusan penting. Raden Ajisaka menitipkan keris pusaka itu kepada dua murid kesayangannya. Cerita kita lanjutkan dari sudut pandang kedua murid ini. Mereka merasa bahwa diri mereka lebih unggul dan sakti daripada yang lain, membuat mereka berhak mengklaim keris yang dititipkan oleh guru mereka. Karenanya, mereka saling berkelahi untuk memperebutkan keris itu".
"Jangan sampai keris itu menjadi barang rebutan, karena akan mencelakakan pemegangnya".
"Benar, dan kata-kata pendekar tersebut menjadi kenyataan, Karena sama-sama sakti, kedua murid yang berkelahi itu akhirnya terbunuh semua. Raden Ajisaka yang mengetahui hal ini menjadi sangat sedih. Dia menyalahkan dirinya yang lupa akan peringatan yang sudah diberikan. Dalam kesedihannya, dia membuat suatu syair untuk menghormati kedua muridnya. Empat baris Syair yang nantinya akan berubah menjadi huruf Jawa. Hana caraka".
"Ada utusan". Handi mengartikan setiap kalimat.
"Datasawala".
"Yang saling berargumen, bisa disebut juga berkelahi, tawuran".
"Padajayanya".
"Pada Jaya nya, sama-sama Jaya nya, sama-sama saktinya".
"Magabathanga".
"Bathang, Bangkai. Akhirnya jadi bangkai".
"Setelah itu, Raden Ajisaka menghancurkan keris pusaka menjadi 5 bagian. Untuk kemudian mengutus masing-masing bawahannya untuk menjaga setiap fragment".
"Pintar,..dengan membaginya jadi 5 dan menyuruh 5 orang untuk menjaganya, jadi tidak ada yang berebut, dan malapetaka bisa dihindari".
"Itulah akhir dari bagian pertama kisah ini".
"Lalu bagian kedua nya?"
"Bagian kedua, terjadi saat ini. Dimana Caruga berusaha untuk mendapatkan semua Fragment dan membebaskan sumber dari segala kekacauan".
"Monster Kanibal".
"Hahaahahahah".
"Dan sudah jadi tugasku, sebagai salah seorang yang mewarisi kemampuan Ajisaka untuk menggagalkannya".
"Dan tugas saya juga untuk selalu melindungi anda".
"Ketemu"!! Tiba-tiba Handi tersenyum puas karena berhasil melacak lokasi pemegang Fragment ketiga. Dan dari hasil komputer, ditunjukkan kalau guardian ini masih hidup. Berarti Caruga belum menemukannya. "Paman, kita berangkat ke Bantul".
"Siap tuan".
Handi dan Pandu segera berangkat menuju Bantul, daerah selatan kota Jogja, menemui Guardian ketiga untuk melindungi dirinya dan fragment yang dijaganya dari serangan Caruga.
#####
Handi dan Pandu tiba di depan rumah guardian ketiga pada tengah malam. Rumah itu terletak di kawasan Bantul, hampir mendekati pantai Parangtritis. Arsitek rumahnya sederhana, dengan taman kecil di depan, ruang garasi seukuran mobil, tidak memiliki pagar depan, tidak bertingkat, dengan kata lain hanya satu lantai, dan desain genteng berbentuk joglo sebagai atapnya.
"Kita datang tepat waktu, masih sepi". Handi mengawali pembicaraan, setelah dari tadi hanya diam saja diperjalanan.
"Sebaiknya kita masuk kedalam dan bertemu si pemilik rumah. Saya takut jika kesunyian ini bertanda buruk". Pandu berkata sambil melihat sekeliling dengan seksama.
Handi dan Pandu mengetuk pintu rumah, lumayan lama mereka berdiri di depan, baru pada ketukan ketujuh, pintu rumah terbuka, dibaliknya terlihat seorang pria paruh baya, berumur sekitar 45 tahun. Mata sayunya tersembunyi dibalik kacamata berbingkai gading. Pria itu mengawasi dua orang yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya dengan curiga. Seperti ingin menemukan maksud buruk dari mereka.
"Selamat malam Pak, maaf mengganggu selarut ini. Tapi, kalau anda berkenan, bolehkah kami masuk"? kata Pandu sopan.
"Ini tidak seperti kami akan mencuri dan merusak rumah anda, kami hanya perlu membicarakan beberapa hal." Handi meneruskan kalimat.
Pria itu berfikir agak lama, matanya meneliti kedua orang dihadapannya dengan lebih seksama. Dia baru yakin kalau kedua orang ini tidak bermaksud jahat, setelah melihat lencana bangsawan yang dikenakan oleh Handi di sebelah kanan atas jumpernya. Ketiga orang ini akhirnya masuk rumah dan duduk diruang tamu. Handi dan Pandu menunggu dengan tenang, sementara sang pria pergi ke dapur untuk menyajikan kopi hangat. Tak lama kemudian si pemilik rumah tersebut datang dengan membawa tiga cangkir kopi.
"Ada keperluan apa, keluarga bangsawan datang kesini"? Tanya pria itu.
"Perkenalkan, nama saya Pandu, abdi dalem dari keluarga pemuda yang bernama Handi ini". Pandu memperkenalkan dirinya dan Handi.
"Nama saya Prabowo. panggil saja Bowo". Ucap pria itu.
"Sebenarnya tujuan kami kesini agak sulit untuk dijelaskan, tapi kami yakin kalau anda paham setelah mendengar cerita kami". Handi memulai pembicaraan.
"Baiklah, kamu bisa menjelaskannya secara pelan-pelan". Jawab Bowo.
"Pak Bowo punya sebuah barang antik yang diserahkan turun-temurun dari keluarga"?
"Barang antik seperti apa yang kamu maksud"?
"Ummm, lebih seperti pecahan besi yang bentuknya mirip ular".
"Punya, memangnya ada apa dengan itu"?
"Jika bapak memilikinya, berarti bapak dalam bahaya besar. Sudah dua orang menjadi korban".
"Apa maksudmu"?
"Ada beberapa orang,....hewan lebih tepatnya, yang mengincar apa yang anda miliki. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh demi mencapai tujuan mereka. Jika bapak paham dengan situasai yang terjadi saat ini, kami sarankan bapak untuk memberikan benda itu kepada kami, agar kami bisa menjaga dan menjauhkan bapak dari malapetaka".
"Jangan katakan kalau orang yang mengincarnya adalah kalian berdua"?
"Bukan,...bukan kami. Kami justru datang untuk melindungi dan menyelamatkan bapak".
"Asal kalian tau ya, aku tidak akan memberikan benda itu kepada siapapun. Benda itu sudah menjadi harta warisan yang selalu diserahkan turun temurun dari keluargaku. Kalian tidak semudah itu bisa mengambilnya".
"Mereka datang"! Tiba-tiba Pandu berkata sambil melihat kearah depan rumah.
"Pak Bowo, waktu kita tidak banyak, bapak bisa lihat sendiri siapa yang saat ini sedang menuju kerumah bapak. Jika bapak tidak menyerahkan fragment keris itu kepada kami, bapak bisa mati".
"Fragment keris? Kenapa tiba-tiba kamu menyebutnya keris, padahal benda itu sama sekali tidak mirip keris".
"Benda yang bapak punya itu adalah satu dari lima bagian keris yang terpecah dan dijaga oleh lima keluarga keturunan pembantu Raden Ajisaka. Saat ini ada pihak lain yang menginginkan semua bagian itu untuk mewujudkan kekacauan. Kalau bapak tidak percaya kepada kami, bapak bisa lihat sendiri di depan." Handi mulai kehilangan kesabaran.
Pak Bowo mengintip dari korden ruang tamu. Matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di depan. Seekor monster sedang menuju kerumahnya. Monster itu adalah percampuran antara buaya dan manusia. Bagian atas, dari kepala, badan, dan tangan, berbentuk seperti buaya, sedangkan bagian bawahnya seperti manusia. Monster itu mendesis dalam setiap langkah, sambil menebarkan bau belerang pekat ke udara.
"APA ITU"!!??? Teriak Pak Bowo.
"Itu Caruga, bapak sebaiknya mengambil pecahan itu dan tetap berada dibelakang kami. Kami yang akan mengurus monsternya". Kata Handi.
Handi dan Pandu keluar dari rumah untuk menghadang Caruga didepan mereka. Dari tangan Handi, muncul sebilah daun lontar ynag bertuliskan sajak lama. Handi membaca sajak itu dengan berirama. Sesaat kemudian, setiap huruf dalam sajak itu bersinar dan mengelilingi tubuh Handi, membungkus Handi dengan pakaian tempur berwarna merah dan putih. Dari tengah pakaian, muncul huruf jawa "HA" yang kemudian menempel di wajah Handi dan membentuk helm dengan kaca hitam menutupi seluruh wajahnya.
Pandu yang berada di kiri Handi, mengeluarkan api dari tangan kanannya. Lalu melemparkan api itu ke atas, sambil membaca mantra kuno. Percikan api jatuh menyelimuti tubuh Pandu, membentuk pakaian tempur dengan warna dominan putih dan merah. Dari pakaiannya muncul huruf jawa "PA" yang membentuk helm tempur dan menutupi kepalanya.
Tak lama setelah proses transformasi itu, kedua orang itu langsung menyerbu Caruga. Pertarungan itu membuat Caruga terdesak, pukulan dan tendangan bertubi-tubi diterimanya dari segala arah. Dua lawan satu memang tidak seimbang. Caruga yang baru mau menangkis serangan dari satu sisi, harus menerima serangan dari arah yang berlawanan oleh sisi yang lain. Setelah cukup lama kualahan menghadapi kedua lawannya, Caruga jatuh merunduk di tanah. Dia terlihat seperti kehabisan nafas. Tiba-tiba dia menyemprotkan cairan asam dari mulutnya. Handi dan Pandu menghindar dengan cepat, Caruga membabi buta menyemprotkan senjata terakhirnya kesegala arah, tapi percuma, kedua lawannya lebih lihai dalam menghindari serangan. Beberapa detik kemudian, Handi sudah berada di belakang Caruga, dia melompat dan menendang punggung Caruga, yang diikuti oleh Pandu dengan mengeluarkan hawa panas dari kedua tangannya, lalu memukul Caruga dari depan. Gabungan serangan keduannya membunuh Caruga seketika, tubuh monster itu terbakar dan menjadi abu.
"Tugas kita hampir selesai paman, monster ini sudah mati, tinggal kita ambil fragment dari pak Bowo dan mengamankannya".
BLARRRRRRRR!!!!!!
"HA?? Rumahnya.....meledak"!!?? Teriak Handi terkejut. Rumah yang sejak tadi tidak menunjukkan tanda-tanda aneh, tiba-tiba saja meledak hebat.
"Tuan, jangan berdiam diri saja, kita masuk menyelamatkan Pak Bowo". Pandu membangunkan Handi dari keterkejutannya.
Mereka berdua berlari masuk rumah, menerobos setiap barang yang berserakan dan debu yang berhamburan. Cukup lama mereka mencari pak Bowo di setiap ruangan. mereka baru menemukan Pak Bowo di kamar belakang. Tubuhnya sudah hangus terbakar, seperti dibakar dari dalam. Tangannya seperti memegang sesuatu yang diambil dengan paksa. Handi tahu jika kali ini pun mereka sudah gagal. Caruga yang baru saja mereka hadapi hanyalah umpan untuk menjauhkan Guardian Fragment dari kedua orang ini.
Dalam keputusasaan Handi dan Pandu segera keluar dari rumah itu. mereka hanya bisa berdiri terdiam melihat rumah guardian ketiga yang saat ini berubah menjadi reruntuhan hitam.
"Kita gagal lagi paman". Handi berkata sambil menundukkan kepala.
"Andai saja saya tahu jika Caruga tadi terlalu mudah untuk dikalahkan...." Pandu juga menyesali apa yang terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, tinggal dua orang lagi. Apakah memang sudah takdir, jika malapetaka itu harus terjadi? Lalu apa tugas kita? apakah kita tidak punya kemampuan untuk mencegahnya"?
"Kita punya Tuan,...hanya saja kita belum cukup kuat". Pandu berkata lirih menghibur Handi. Dia membimbing Handi masuk mobil, dan keduanya pergi meninggalkan puing-puing rumah yang menjadi bukti kegagalan usaha mereka.

Bersambung...............





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger