Posted by : AksaraProject Sunday, September 11, 2011

AKSARANGER 05 - "Demon Hunter (Pemburu kalong)"



Dewata Cengkar sudah menampakkan dirinya di depan dua belas Aksaranger, yang saat ini mengelilingi Minakjinggo. Dia muncul dengan wujud seekor monster buaya putih yang menjulang tinggi, menutupi awan yang diiringi dengan jilatan halilintar. Di sekujur tubuhnya terlilit rantai besi yang masih memerah karena panasnya lahar. Mata kecilnya yang berwarna kuning bagai sinar bulan, berputar menyisir area. Dan kini dia menemukan mangsanya, dua belas orang kecil yang berkumpul disatu tempat. Tangan kanannya terangkat, berusaha untuk menggapai dua belas orang tersebut. Tapi di tengah jalan, sebelum tangannya bisa menyentuh tanah, tiba-tiba rantai besi yang melilit tubuhnya bersinar dan membakar. Dewata Cengkar berteriak nyaring, meraung kesakitan. Tubuhnya masih terlalu lemah, karena baru dibangkitkan. Mengetahui hal ini, Dewata Cengkar melakukan satu hal terakhir yang bisa dilakukannya, melarikan diri. Tubuhnya terselimuti oleh lahar dari dalam gunung, dan seketika itu menghilang. Minakjinggo yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba juga lenyap di udara kosong, meninggalkan dua belas Aksaranger yang sampai sekarang belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa saat setelah kedua musuh mereka menghilang, mereka sadar dari keterkejutan mereka.
"Itu tadi... Buaya... Putih.." Karis terbata-bata mengucapkannya.
"Susanna...."?? Ica juga masih setengah terkejut.
Handi, Ratna, dan Nanda masih pucat, raut muka ketakutan terpancar dari mereka. Pandu dan Jaka terlihat seakan pundak mereka sudah dijatuhi gunung. Sedangkan Tim yang dipimpin oleh Dani, bersiap meninggalkan lokasi, tanpa kata-kata. Saat itu, Nanda melihat apa yang dilakukan Dani dan Timnya, segera menghampiri.
"Mau kemana kau!? Kabur juga"? Tanya Nanda menantang.
"Bukan urusanmu. Kami sudah tidak punya kepentingan disini". Jawab Dani.
"Enak benar, datang langsung main hajar, begitu tahu akan kalah, langsung kabur dari lokasi".
"......"
"Mau main-main denganku ya"!? Nanda meraih bagian pundak baju tempur Dani.
"Lepaskan tangan kotormu dari baju ku"!!! Tiba-tiba suara Dani menjadi keras karena marah. Dia memelintir tangan Nanda dan melempar Nanda ke belakang.
"Nyenyenye.... Kau ini orang lemah, berani-beraninya menantang kami". Melani, satu-satunya perempuan di tim 2 yang memiliki lambang La, kini buka mulut.
"Jangan sombong ya, hanya karena kalian bisa mengalahkan dua ekor monster, bukan berarti kalian bisa meremehkan kami". Balas Nanda.
"Mau bukti?? Aku tidak keberatan dengan hal itu". Kata Dani sinis.
"Betul betul, ayo Dan, kita hajar mereka, tunjukkan kalau tim kita yang lebih unggul". Melani menyemangati.
"Banyak bacot ah". Santo tanpa banyak omong segera melesat ke belakang Nanda dan membenamkan wajah Nanda ke tanah. lalu menduduki nya. "Selesai....". Kata Santo sambil berkacak pinggang.
Nanda benar-benar dipermalukan. Melihat hal ini, Handi, Ica, dan Karis tidak tinggal diam dan menyerbu Santo, Dani, dan Melani yang ada dihadapan mereka. Lawan mereka bertiga pun, juga sudah siap, tidak butuh waktu lama, sebelum akhirnya pecah perang diantara mereka berenam. Iwan (memiliki simbol Wa), yang tidak kebagian lawan, segera menghampiri Melani dan menariknya kebelakang.
"Sorry Mel,...Cari lawan yang sesuai denganmu ya. Bocah imut itu bagianku". Kata Iwan sambil menghampiri Ica.
"HEY"!!!! Melani protes. Kini didepannya sudah terjadi baku hantam seru, sedangkan dirinya malah ditarik kebelakang.
Tim 1 melawan tim 2, benar-benar hal yang memalukan. Tim 2 yang memang dari awal sudah lebih unggul, kini sibuk menghajar tim 1 habis-habisan. Mereka menggunakan senjata mereka, sedangkan tim 1 menggunakan tangan kosong. Pandu dan Jaka yang bermaksud menghentikan pertarungan, dihadang oleh Arta (yang memiliki huruf Ta). Nanda yang baru sadar dari pingsannya, segera ditendang oleh Melani. Kini tinggal Ratna yang berdiri diam melihat apa yang terjadi di depan matanya. Terdengar suara nafas yang berusaha diatur sepelan mungkin. 3, 4, 5 kali tarikan dan hembusan nafas, sebelum Ratna berjalan dengan tenang dan kepala tertunduk, menghampiri Handi yang saat ini pukuli oleh rebab milik Dani.
PLAKKKKKKKKK!!!!! Suara itu seketika membuyarkan adegan baku hantam yang sejak tadi memenuhi kesunyian lokasi. Orang-orang yang saling menindas dan ditindas, kini menengok kearah asal suara itu dan menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini.
"Sudah puas"!? Tanya Ratna kepada Dani. Ratna kini sudah melepas baju tempurnya, memperlihatkan raut muka yang penuh amarah. Tangan kanan yang digunakan untuk menampar Dani, kini berwarna merah.
Dani yang terkejut, kini juga melepas baju tempurnya, memperlihatkan sosok manusianya. Mereka berdua saling pandang dalam diam. Raut muka Dani yang setengah terkejut, melawan Ratna yang marah habis-habisan. Setelah tiga menit saling pandang, Dani memberi komando pada timnya untuk meninggalkan lokasi. Dia tidak berkata apapun atau menengok kebelakang, saat dirinya dan keempat temannya menghilang diselimuti asap.
#####
Satu minggu terlewatkan tanpa kejadian yang berarti. Ica, Karis, Handi, Ratna, Nanda, Pandu, dan Jaka kini terlihat berkumpul di rumah Handi, membahas tentang tindakan yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Dengan begini, sudah ada dua belas orang yang aku kenal". Hata Handi setelah menyebutkan nama orang-orang yang pernah ditemuinya. "Aku belum bertemu dengan dua orang abdi dalem dari tim yang dipimpin oleh Dani".
"Lupakan mereka, anda tidak akan bisa merekrutnya. Irwandha dan Tania sangat setia kepada atasan mereka. Tuan Dani dan Nona Melani". Jelas Jaka.
"Lalu bagaimana dengan yang lima terakhir paman? Kata paman Pandu, total orang yang dibutuhkan ada dua puluh". Tanya Ratna sambil mengingat lagi informasi yang sudah dia dapatkan.
"Saya sendiri juga tidak tahu. Kelima orang ini,...yang Nona sebutkan sebagai lima terakhir, agak sedikit....bagaimana mengatakanya ya...berbeda". Kata Jaka sambil berfikir, mengatur kata-kata yang tepat.
"Berbeda bagaimana"?
"Sampai sekarang kelima orang ini hanya pernah muncul satu kali".
"Nah, kalu begitu kan, kita tinggal datang ketempat dimana mereka pernah menampakkan diri, dan merekrut mereka sebelum keduluan tim yang lain". Kata Karis.
"Masalahnya adalah...." Jaka menambahkan. "Mereka muncul saat Dewata Cengkar disegel untuk pertama kalinya. Mereka berlima yang membantu Raden Ajisaka mengalahkan Dewata cengkar". Jaka mengakhiri penjelasannya. Dia melihat Karis melongo tanpa berkata apa-apa.
"Jadi kita mencari orang yang sudah mati nih ceritanya"? Tanya Handi.
"Menurutku tidak begitu. Hanya saja lima orang ini lebih seperti legenda". jawab Ratna.
"Kenapa kau bisa bilang seperti itu"?
"Apa kau pernah dengar ada lima orang yang membantu Ajisaka"?
"umm.....enggak sih. Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar sendirian kan".
"betul, tapi dari cerita paman Jaka, ada lima orang yang membantu. Secara tidak langsung, kisah yang terjadi dan diceritakan kepada kita, sudah diubah agar tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya Ajisaka tidak mengalahkan Dewata Cengkar sendirian. Hey....jangan tutupi telingamu".
"Jadi kelima orang ini tidak mau disebut dalam sejarah? kenapa, dan apa alasan mereka melakukan hal itu"?
"Aku tidak tahu. sebaiknya kalian mengumpulkan informasi dulu. Aku akan ke kampus untuk bertemu dengan temanku. Masih banyak hal yang belum aku ketahui soal makhluk-makhluk aneh itu. Terra, Homo Superior, dan sebagainya".
"Jangan pergi dulu...." Tiba-tiba Ica datang menghampiri Ratna. "Kita belajar pose untuk berubah ke baju tempur dulu".
"Hah"? Ratna kaget.
"Kan kita sudah berkumpul lima orang... umm.. dua abdi dalem tidak dihitung, hehehe". Kata Ica sambil meringis kearah Jaka dan Pandu."Kita harus punya pose untuk berubah memakai baju tempur". Tangan Ica terlihat mengepal.
"Nah lo, aneh lagi anak kecil itu". Handi melihat sifat Ica yang angin-anginan.
"Bagus kan, jika kita punya pose keren untuk berubah". kata Karis.
"Keren apanya...memalukan iya".
"seperti ini keren lo..."Karis menunjukkan gaya fusion dari Dragonball.
"ITU TIDAK KERENN"!!!!! Handi marah-marah sampai nafasnya tersengal.
"Ini, lihat korannya." Kata Nanda tiba-tiba sambil membawa koran pagi.
"Ada apa dengan koran itu"?
"Bukan kertasnya....tapi beritanya"!! Nanda ikut-ikutan panas.
"Hadeehhhh...kalian berdua ini tidak bisa akur ya". Kata Karis pelan.
"DIAM KAU"!!!!! Handi dan Nanda berteriak bersamaan.
"Apaan sih? dari kemarin ribut terus. sini aku lihat beritanya". Ratna datang mengambil koran yang tergeletak diatas meja. Ratna melihat koran itu sekilas, lalu ikutan berteriak. "APA!!!! Eh Nan, Kau suruh kita buat datang di konser orang brengsek itu!!! lupa ya apa yang sudah mereka perbuat pada kita"!? Teriak Ratna.
"Konser apa? Aku nunjuk disini nih". Nanda menunjukkan berita kekacauan yang terletak diatas poster konser band yang diadakan oleh Dani dan kelompoknya. "Aku malah ga tau kalau band dengan nama aneh ini, punya mereka".
"METAL"!!! Teriak Ica sambil tanganya mebuat lambang kepala banteng.
"HEH anak kecil... dari tadi bikin orang jantungan terus, cepet tua lo". Handi yang kaget hanya bisa mengelus dada.
"Ihhhhh,...Umurku sudah sembilan belas tahun ya. sudah bukan anak kecil. Weee". Ica menjulurkan lidahnya.
"Kelakuanmu itu...haduh" Kini Handi memegang kepalanya.
"Sudahlah..ayo semuanya, belajar pose".
"Moh...pose saja sendiri. Aku masih punya harga diri".
"Ummpphhh" Ica menggelembungkan wajahnya.
"kalian semua.... kita punya masalah serius". Ratna menghentikan adu mulut antara Handi dan Ica. "Ada monster di area foodcourt yang muncul tiap malam hari. Dari berita yang aku baca dikoran ini, sudah ada tiga korban tadi malam. Korban yang selamat mengatakan kalau dia melihat sejenis kelelawar besar yang terbang mengelilingi foodcourt dan menukik untuk menyerang korbannya".
"Itu yang aku maksud". Kata Nanda mendukung. "Jadi malam ini kita kesana dan menghajar monster itu".
"Tapi sekarang latihan dulu". Kata Ica spontan.
"OGAH"!! teriak Nanda, Handi, dan Ratna bersamaan. Jaka yang melihat keadaan disana, menoleh kearah Pandu yang dari tadi duduk diam di samping kanannya. Pandu hanya membalas tatapan Jaka dengan menggeleng-gelengkan kepala.
#####
"Kita sampai. Ini kan foodcourt yang dimaksud"? Malam itu, Handi dan keempat temannya berdiri didepan pintu masuk food court yang dikabarkan menjadi tempat serangan monster kelelawar.
"Memangnya di Jogja ada berapa foodcourt"? Ratna mengoreksi pertanyaan Handi dengan pertanyaan baru. "Kalian semua, sudah siap kan"? Ratna melihat keempat orang dibelakangnya. Mereka berempat mengangguk, menandakan malam ini mereka sudah siap untuk membasmi monster itu.
Kini mereka berlima berjejer dengan posisi dari yang paling kanan, Ica, Nanda, Handi, Karis, Ratna. Mereka memegang daun lontar ditangan kanan, kemudian membaca syairnya secara bersamaan. Setelah itu, mereka menggerakkan tangan kanan kearah pundak kiri dan berteriak GO AKSARA, dan akhirnya mereka melemparkan daun lontar yang mereka bawa, ke arah depan. Huruf-huruf dalam daun lontar itu bersinar, diikuti dengan lenyapnya daun lontar menjadi cahaya yang menyelimuti tubuh kelima orang itu, dan masing masing huruf jawa membentuk helm yang melindungi kepala mereka.
"Orange Goldenfish". Teriak Ica sambil berpose.
"White Belibis". Teriak Ratna. Dirinya juga berpose.
"Brown Barong". Teriak Karis.
"Red garuda". Teriak Handi.
"Aku ogah ngomong". kata Nanda santai, merusak suasana. seketika itu keempat orang yang lain terjatuh.
"Haish....ayo ngomong. Ga adil cuman kamu saja yang tampang cool". Handi memprotes.
"Ra sudik. ngisin-ngisini. Aku bukan badut".
"....... ya udahlah, ayo masuk". Kata Handi, dan mereka berlima masuk kedalam foodcourt.
Didalam terlihat sepi, terlalu sepi malah untuk ukuran foodcourt pada jam sepuluh malam. Kursi dan meja masih tertata rapi, toko-toko yang biasanya menjual makanan, kali ini terlihat digerendel dan tertutup rapat. Bahkan tidak ada suara-suara lain disitu, benar-benar sepi mencekam. Saat kelima Aksaranger sedang menginvestigasi lokasi, muncul dari arah atap, seekor kelelawar besar yang menyerang Handi. Handi dengan sigap mengelak dan menendang monster itu, yang kemudian dipukul oleh Nanda dan ditendang dari atas oleh Ica dan Karis. Ratna berlari kearah monster itu sambil mengeluarkan senjatanya, dari tangan kanannya keluar celurit berwarna putih yang dilemparkannya seperti bumerang untuk memenggal leher monster itu. Kematian satu monster, memicu munculnya lima monster lain yang serupa. Kali ini, Handi mengeluarkan pedang dari tangan kanannya, Nanda mengeluarkan cakar dikedua tangan. Ica dan Karis masing-masing mengeluarkan kipas besi dan panah. Mereka berlima menyerbu monster-monster yang datang dan membunuh kelelawar itu satu persatu.
Setelah semua monster mati, Handi dan keempat kawannya berkumpul ditengah ruangan. Mereka mengamati monster-monster yang baru saja mereka basmi.
"Cuman segini?? Aku pikir kita akan menghadapi lawan yang kuat". Kata Nanda.
"Yang penting kita sudah menghilangkan satu terror dikota ini, lemah atau kuat, itu tidak penting". Jawab Handi.
"Tadi pertarungan kita keren lo. Kita menghajar monster itu, ciat ciiiat". kata Ica riang. "Kalau seperti ini, kita bisa jadi superhero".
"Superhero kepalamu. Lebih seperti orang nekat dalam pandanganku".
"Siapa yang bilang tadi"? Tanya Ica. dia memandang keempat temannya, tapi semuanya tutup mulut.
"Aku yang bilang. Mau apa kau"!? terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang Ica. Mereka memandang kearah suara itu.
Dari dalam kegelapan, muncul siluet seseorang memakai jaket hitam dengan garis merah, dan angka romawi 10 (X) berwarna emas dimasing-masing pundak. Orang itu berjalan ke arah mereka dan wajahnya tertutup tudung jaket.
"Aku kira siapa yang sudah berani-berani nya menerobos masuk ke tempat ini. Semua rencana yang aku susun untuk membasmi monster-monster itu gagal total hanya karena lima orang badut mau pamer kekuatan". Orang itu sekarang membuka tudung jaketnya. Rambut hitam sebahu berkibar tertiup angin. Tampak wajah oriental seorang lelaki yang tersorot sinar bulan. Kedua mata lelaki itu bersinar merah marun. dan walaupun di kegelapan, kali ini matanya tetap memancarkan sinar. "Kalian mau mempermainkan aku ya"? Lelaki itu kini mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan menyilangkannya. lalu dia berkata "Awakening" dan memetik jari sambil menggerakkan masing-masing tangan kekiri dan kekanan. "Shi ne...".
Sinar emas, diikuti oleh lingkaran api, muncul dari bawah, mengelilingi tubuh lelaki itu. Sinar itu berubah menjadi baju tempur berwarna merah dan emas, berbentuk armor, dan ada dua huruf jawa Ma tertempel, yang satu membentuk helm, dan satu lagi menempel dijubah yang dikenakannya.
"Dia....Aksaranger juga". Kata Karis tidak percaya.
"Kau lihat itu kan,...hurufnya Ma". Kata Ica menanggapi.
Lelaki itu kini menembakkan bola api dari tangannya kearah lima orang Aksaranger. Semua orang menghindar, tapi lelaki itu sudah ada di depan masing-masing orang dengan cepat dan menendang mereka kembali ketengah ruangan. Kini, setelah semua Aksaranger berkumpul, mereka menggabungkan semua senjata mereka, dan menyerang lelaki itu bersamaan. Semua tendangan, pukulan, lemparan senjata, dan tembakan anak panah yang terbuat dari bulu merak, bisa dihindari. Nanda melompat mundur, kemudian meluncur dengan cepat, mencakar punggung lelaki itu, tapi armornya terlalu keras. Lelaki itu melempar Nanda menuju langit-langit.
"Hikari, Hoono". Dari kedua tangan lelaki itu muncul dua bilah pedang, yang satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna merah. Dengan sekali tebas, keempat Aksaranger yang lain juga ikut menabrak langit-langit dan terjun bebas menghantam lantai. Kini, lelaki itu siap menebas semua lawannya. Tangan kanannya yang memegang pedang berwarna merah, terangkat keudara.
"ANATA...mereka bukan orang jahat". terdengar teriakan yang berasal dari seorang gadis jepang yang memakai jaket hitam bergaris krim, dan angka romawi 11 (XI) di tiap pundaknya.
"Cream, mereka sudah merusak rencana kita".
"Tapi mereka juga sudah membunuh monster itu kan, jadi mereka juga membantu kita membersihkan tempat ini."
"Aku benci berurusan dengan badut-badut ini. satu orang bodoh, yang satu kekanak-kanakan. Yang satu terlalu lembek, yang merah ini,... naif, si putih yang pemarah, dan satu hewan peliharaan".
"Siapa yang kau sebut hewan peliharaan"!!?? Teriak Nanda, dia masih tergeletak dilantai karena luka yang dideritanya.
"Ternyata macan ini bisa bicara juga".
"GRRRRRRR"
"Dia bukan macan, dia manusia. seenaknya saja kau mengatakan dia hewan peliharaan". Karis ikut memprotes.
"Oh, Jadi kalian tidak tahu ya. Oke, sepertinya kau berhasil menipu mereka semua, macan hitam, aku buka wujudmu yang sebenarnya". Flame membakar Nanda dengan api yang keluar dari pedangnya yang berwarna merah. Seketika itu, wujud manusia nanda lumer, berganti dengan sekor macan hitam yang meringkuk kesakitan di lantai.
"SIHIR APA ITU? Kau ingin mengelabuhi kami agar membenci teman kami sendiri"!!? Teriak Handi.
"Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk merubahnya, aku hanya membakar wujud samarannya saja. Homo sapiens seperti kalian tidak akan paham apa yang bisa dilakukan oleh homo superior seperti aku dan adikku".
"Homo Superior kau bilang.....RATNA"!!!! Handi menoleh kearah Ratna yang berada disisi kirinya. Ratna hanya diam dan melepas baju tempurnya.
Melihat wujud asli Ratna, Flame juga melepas baju tempurnya dan mendekat. "Ratna, kenapa kau.. aku tidak mengira kau bisa ikut-ikutan beraksi sok pahlawan".
"Kami bukan sok pahlawan, tapi kami memang bertugas untuk mengalahkan monster". kata Ratna, sambil mencoba untuk berdiri. kemudian bersandar pada tembok. "Sama sepertimu,..dan juga adikmu. Tapi bukan Demon Hunter. Aksaranger lebih tepatnya".
"Jangan bercanda...kalian hanya manusia biasa tanpa kekuatan".
"Kau lihat baju tempur kami kan? kau lihat lambang yang ada di helm kami? Lambang yang sama dengan yang kau miliki di jubahmu, dan kau tahu itu adalah armor yang memiliki kekuatan".
Flame kini berdiri di tengah ruangan, bersama dengan Cream dan terlihat berdiskusi. Setelah itu, Flame mendatangi Ratna lagi. "Jadi benar, kalian adalah pemilik daun lontar yang bisa membuat kalian memakai baju tempur itu"?
"Iya,.." Ratna menunjukkan daun lontar miliknya.
"Siapa diantara kalian yang bernama Handi"?
"Aku" Handi menyahut.
"Kau...ikut aku. aku juga akan membawa abdi dalemmu".
"Mau apa kau"!!
"Dengan kemampuanmu yang sekarang, jangan harap kau bisa menyelesaikan misimu, malahan kau akan terlihat seperti badut".
"Lalu apa urusanmu"!?
"Akan aku buat kau menjadi Homo superior, dengan kemampuan mengendalikan api".
"Aku sudah bisa". handi menciptakan bola api dari tangannya.
"Heh...itu bukan kemampuan Homo superior, kau masih membaca mantra untuk menciptakannya".
Flame menoleh ke arah Cream. "Ayo pergi". Dan Flame, beserta cream menghilang dengan membawa Handi. Meninggalkan yang lainnya dalam 2 pertanyaan besar. Siapa jati diri Flame? dan Siapa juga jati diri Nanda.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger