Posted by : AksaraProject Friday, September 30, 2011

"Ganesha...(Kaki Gajah)"



The Shell, Sebuah club malam yang terletak ditengah jantung kota Jogjakarta, saat ini dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang asyik melepas penat sambil menari dan minum alkohol. Tujuan mereka datang ke tempat seperti ini hanya satu, apapun pekerjaan dan golongan mereka, semua orang datang untuk bersenang-senang. Mungkin pada siang hari, mereka adalah mahasiswa, sopir, pegawai, direktur, atau bahkan pemegang saham. Tetapi ketika mereka melangkahkan kaki memasuki The Shell, mereka semua sama. Tidak ada yang akan memperhatikan status sosialmu. Karena hal inilah, tempat seperti klub malam, jadi tempat yang cocok untuk menyembunyikan identitas, sambil menjaring koneksi. Tak terkecuali dengan keempat cowok dari tim 2.
Dani, Arta, Santo, dan Iwan memesan lima botol bir favorit mereka. Sambil menunggu minuman datang, keempat orang ini duduk santai sambil mengobrol di sofa ukuran XL yang berada di pojok selatan. Tempat yang pas, karena dari tempat ini, mereka bisa melihat seluruh isi klub. Mulai lantai dansa, kelap-kelip lampu diatas ruangan, lantai atas yang penuh cewek seksi, bahkan sampai lokasi bertender yang penuh dengan atraksi juggling.
"E ngapain mata mu belalakan kesana kemari"? Tanya Arta kaget melihat Iwan, sambil berekspresi seakan-akan ada kotoran di depan hidungnya.
"Ini surga, tau gak loe. Lebih indah daripada cuman nonton group idol Jepang nyanyi di pantai sambil pakai bikini". Jawab Iwan tanpa memandang Arta.
"Bah,.. mending nonton idol Jepang, lebih yahud".
"Yahud sih, tapi ga bisa loe pegang kan? HAH.... makan tu idol jepang. Sorry men, gua mo ke sana dulu ya, I have date with destiny". Kata Iwan sambil melenggang pergi ketengah-tengah cewek yang berkerumun untuk menari dan bergoyang. Sejenak kemudian, terlihat Iwan sudah mengeluarkan rayuan maut ala Tony Stark.
"Buset dah,...Perasaan disini yang gudang duit tu aku. La kok malah dia yang gampang dapet gebetan". Kata Arta sambil melongo.
"Pantes lah, la wong awakmu kencan e karo saham". Timpal Santo. "Tu minumannya udah datang, buruan bayar".
"Weeee....nyuruh bayar. Kamu yang bayar, mank sapa yang ulang tahun!? Grrrr".
"Urusan gratisan otakmu ga pernah lupa Ta". Kata Dani sambil tertawa kecil.
Santo mengambil lima botol minuman, kemudian membayarnya dan menambahkan tip untuk pelayan yang tadi mengantarkan minum. Musik Klub bertambah kencang seiring dengan susana yang makin panas. Santo dan Arta meneguk minuman tanpa tanggung-tanggung.
"Dan, jangan diam mulu, keburu habis minumannya ntar". Kata Arta.
"Jar no ae. Ra sah diurus, engko lek entek ya ben kapok". Kata Santo setengah mabuk. Dani hanya melihat kedua temannya sambil tersenyum.
"Gimana To, katanya kamu mau beli lahan baru di Jogja buat bisnis".
"Udah nego sih Ta, cuman alot. Ga kayak di Tempatku, beli diskotik ja musti bertele-tele".
"Tempatmu yang mana? Yang di Indo pa yang diluar indo"?
"Yang di Indo lah. Ngapain aku ngurusin tempat yang diluar".
"Sapa tau...."
Tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan dengan dering handphone Santo yang berbunyi seperti ratapan anak tiri.
"WUAHHHH..... Ringtone horrormu belum diganti juga? Pingin bikin orang jantungan ya"? Protes Dani kaget.
"Sorry bro.." Kata Santo sambil mengangkat handphone. Untuk beberapa saat, Arta dan Dani diam, memberikan kesempatan pada Santo untuk bercengkarama dengan seseorang yang ada di seberang jalur. Setelah Santo selesai bicara, mereka bertiga santai lagi.
"Sapa To? Nyokapmu"? Tanya Dani.
"Bukan, Ce ce ku yang dari Jatim mo maen ke Jogja minggu depan".
"Ce ce mu? Bukan yang kerja di Bank itu kan"?
"Huum, yang kerja di Bank. Mank ada apa"?
"Ampun deh, mending minggu depan kamu ajak kabur deh ce ce mu, daripada ketahuan Iwan. Di gasak, habis ntar." Kata Arta.
"Kayak ga tau Iwan aja, Mak lampir membo-membo jadi cewek seksi ja dia gasak". Tambah Dani.
"Hmmmm....musti cari kost cewek yang jauh dari jangkauan Iwan". Santo mulai berfikir.
"HEY!!!!! Inikan Singkek Jowo yang dulu suka di gantungin di tiang bendera waktu SMA kan". Terdengar teriakan dari sebelah kanan sofa, yang mengagetkan Dani, Arta, dan Santo. Kontan mereka bertiga menoleh serentak kearah asal suara.
"Sapa loe"? Tanya Dani marah.
"Ga tau sapa gue? Kenalin, Juragan Batubara se Jogja. Dhimas Arto Wibowo". Kata Cowok yang berteriak tadi sambil memasang wajah sok pamer. "Makanya, jangan gaul sama singkek, ntar ikut-ikutan jadi kaum terbuang".
"Apa maksud loe? Gua ga paham, kalo ngomong pake bahasa manusia donk".
"HAhaahhahaha.....Udah ketularan bahasa Cina ya loe? fung tang cong hang hong buih.. Pantesan, Heh To, Santo, Singkek Jowo. Makin gaya loe sekarang, pake temanan sama orang pribumi segala. Ingat status donk, ini Indonesia bukan Cina. Bukan tempat orang mata sipit kayak loe. Ketawa dikit ja, ditinggal sembunyi loe ga akan tau kan gara2 mata loe kayak gini". Kata Dhimas sambil menyipikan mata menggunakan kedua tangannya. "HAHHAHAHAHAHAHHHAA"
BUAKKKKKK!!!!!!!
Santo memukul Dhimas tanpa banyak omong. Begitu Dhimas jatuh terjengkang di lantai, Santo segera menerjunkan bogemnya untuk meremukkan muka Dhimas. Teman-teman Dhimas yang melihat perlakuan Santo, segera bangkit dari sofa dan berusaha membantu Dhimas, tapi dihadang oleh Dani dan Arta. Perkelahian pun pecah, membuat kegiatan klub jadi berhenti dan berubah menyoraki kedua partai yang sedang adu kampanye lewat jotosan bukan coblosan.
"Sorry cantik, Robin butuh bantuan". Kata Iwan yang dari tadi sibuk ciuman dengan cewek di pinggir toilet klub.
"So,...Apa yang akan Batman lakukan". Tanya cewek itu sambil bertingkah nakal. Iwan tersenyum kecil, lalu melanjutkan ciuman sebelum berjalan menjauh kearah perkelahian.
"Hey..." Kata cewek itu menahan Iwan. Iwan menoleh sejenak kearah cewek itu.
"Call me" Cewek itu berkata tanpa suara, sambil memperagakan telphon dengan tangan kanannya.
"Pasti". Kata Iwan sambil tersenyum sok ganteng. Lalu berlari menjauh".
"OEY Cassanova!!!!! Bantuin napa"!? Teriak Arta kearah Iwan.
"Okky Dokky"!!!! Balas Iwan.
Dani dan kedua temannya makin menjadi ketika Iwan datang membantu. Hal ini membuat Dhimas dan teman-temannya jadi babak belur dihajar empat orang, dan mereka dipermalukan di tengah-tengah kerumunan pemngunjung klub. Setelah Dhimas dan kawan-kawannya tidak bisa bergerak karena luka-luka memar ditubuh mereka, Dani, Arta, Santo, dan Iwan baru menghentikan pukulan.
"Ada apa sih Dan? tiba-tiba maen sikat"? Tanya Iwan yang tidak tau apa-apa.
"Tanya Santo aja gih".
"Ada apa San..."? Iwan memandang Santo yang diam ditempat "To".
"Aku ga bisa tahan lagi dihina-hina terus kayak gitu. Mentang-mentang aku orang keturunan Cina, selalu ja diremehin dan direndahin dimata pribumi".
"Hah??? Orang macam apa yang ngrendahin keturunan Cina? Gua mah, kalo disodorin cewek Indonesia sama Cewek Cina, mending milih cewek Cina."
"Kamu disodorin cewek negro ja digasak". Timpal Arta santai.
"Tutup mulutmu".
"WEEEkk" Arta Menjulurkan lidah.
"Sekarang udah ga jaman diskriminasi ras, jangan bikin malu orang Indonesia yang lain dengan sok nasionalis tapi rasis, bilang aja ga mau ngakuin kalo orang Cina lebih sukses daripada orang pribumi". Kata Iwan sambil beranjak pergi. "Ayo San, tinggalin ja orang Indonesia ga berguna kayak mereka".
Iwan, Santo, Arta dan Dani pergi dari klub malam itu dengan perasaan jengkel campur puas. Jengkel karena sampai saat ini ternyata masih ada kasus rasis diantara orang-orang di masyarakat. Puas karena mereka bisa menghajar orang-orang rasis itu hingga babak belur. Ketika akan naik ke sepeda motor mereka masing-masing, Arta teringat dengan janjinya untuk bertemu Irwandha. Dia lalu pergi sendirian meninggalkan ketiga temannya.

#####

Arta bertemu dengan Irwandha yang sedang duduk minum kopi dengan Flame di sebuah warung kopi disekitar stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Warung itu adalah warung kecil biasa yang tidak mencolok, sehingga anak-anak muda jarang ada yang mampir. Kebanyakan pengunjungnya adalah bapak-bapak, tukang ojek, ataupun orang-orang tua yang sudah biasa dengan warung seperti itu.
"Wah, jarang-jarang aku lihat cewek Cina minum kopi di warung". Kata Arta melihat Flame. Flame hanya diam tidak menganggapi. "Ini temanmu paman"? Tanya Arta ke Irwandha.
"Tuan Arta, mohon tuan jangan asal bicara. Pemuda yang duduk disebelah saya adalah pemuda yang akan membantu kita membangkitkan salah satu dari teman Raja Ajisaka dulu".
"HAH??? pemuda? jadi dia cowok". Arta kaget, tapi Flame hanya diam sambil menyeruput kopinya. Tak lama kemudian Nanda datang sambil memasang muka cemberut.
"Flame!!? Dimana kau"? Tanya Nanda. Flame hanya mengangkat tangan kanan, untuk menunjukkan lokasi dirinya, dan Nanda menghampiri.
"Apa yang mau kau perbuat heh? mengumpulkan aku dengan tim 2 dan antek nya? Jelaskan"!!
"Osh....Semuanya sudah ada disini ya. Satu, dua, tiga". Flame berkata tanpa mempedulikan Nanda. "Kita berangkat ke Blitar sekarang". Flame menoleh ke arah Nanda sejenak. "Kau.. Ikut aku, atau aku sulap kau jadi macan garong".
"Grrrrr" gumam Nanda.
"Kita ke Blitar naik apa Tuan"? Tanya Irwandha.
"Teleport".
"HAH!!!??? Jangan gila donk. Memangnya aku anak kecil yang bisa kamu tipu dengan hal begituan"? teriak Arta.
"Banyak omong". Flame memegang pundak Irwandha dan Arta, sedangkan Irwandha memegang Nanda. Tak lama kemudian kedua warna mata Flame yang merah maroon menjadi makin terang dan keempat orang ini tiba-tiba saja sudah berada di lokasi reruntuhan candi di Blitar, Jawa Timur.
"Woagh...dimana ini"? Arta kaget karena sedetik yang lalu dia masih berada diwarung kopi.
"Keren kan. Bahkan kalaupun kau mandi uang, kau tidak akan bisa bertranportasi secepat ini". Kata Flame agak mengejek. Flame kemudian berjalan agak jauh kedepan Nanda, Irwandha, dan Arta lalu membalikkan badan. Kini Flame berhadapan dengan ketiga orang tersebut. Dan dengan pose agak membungkuk, Flame berkata.... "Selamat datang di Candi para Raja. Candi Penataran".
Irwandha terkejut mengetahui dimana sekarang dia berada. Dia segera melihat sekeliling untuk memastikan kebenaran perkataan Flame. Ketika pandangannya menyisir candi, dia tidak menemukan adanya kesalahan, relief candi, arca yang ada di sekitar taman, dan posisi bangunan, mengindikasikan bahwa tempat itu benar-benar candi Penataran. Tapi Irwandha belum yakin.
"Tuan Flame, Dimana pohon maja yang tumbuh di Candi ini"?
"Itu, didepan. Dekat pos satpam". Jawab Flame sambil tersenyum. Aku tahu kenapa kau memperlihatkan ekspresi setengah tidak percaya dan takjub seperti itu paman Irwandha.
"Pohon Maja? Jangan bergurau. Tidak mungkin ini...." Nanda berkata.
"Majapahit, Candi para raja, tempat dimana abu Ken Arok dan Raden Wijaya berada. Dan tempat salah satu Patih Majapahit yang terkenal". Jawab Irwandha.
"Aku beritahu, wahai kalian yang tidak suka sejarah". Flame memandang ke Nanda dan Arta.
"Saat ini kalian berdiri di atas reruntuhan bagian dari kemegahan Majapahit. Akhir dari Singosari, dan saksi dari sebuah sumpah seseorang yang akan berjanji menyatukan Nusa Antara".
"Maksudmu...." Arta bertanya tidak yakin.
"Ya...Ini tempat dimana Gajah mada mengucapkan sumpah palapa. Dan aku butuh bantuan kalian, terutama kau Nanda, untuk membangkitkan Gajah Mada". Flame memandang ke arah Nanda yang masih melongo karena dirinya tidak menyangka akan bisa datang ke tempat dimana terdapat salah satu kerajaan paling jaya di Indonesia. "Tentu saja, kalau kau menolak, aku bisa mengembalikanmu ke wujud silumanmu". Ancam Flame.

#####

"Hey Nanda... Aku dengar tadi Flame berkata kalau dia akan mengembalikanmu kewujud siluman. Jangan bilang kalau kau ini bukan manusia". Tanya Arta sambil menyiapkan tempat untuk membangkitkan Gajah Mada.
"Aku manusia,....Hanya saja gara-gara aku suka gonta ganti wujud ke macan kumbang, hawa siluman di tubuhku makin menumpuk. Makin lama, aku jadi tidak berbeda dengan siluman". Jawab Nanda.
"Aku tidak mencium bau siluman ditubuhmu".
"Flame sudah menghilangkannya".
"Memangnya kenapa kamu bisa sampai punya kekuatan untuk gonta-ganti wujud? Jangan-jangan kau maen ajian terlarang ya"?
"Bukan....ummm bagaimana mulainya ya". Nanda berfikir sejenak. "Kau tau kisah tentang akhir hidup prabu Siliwangi"?
"Yang dia pergi dari kerajaan bersama pengikut setianya"?
"Ya, Kau pasti juga tau kalau legenda mengatakan mereka berubah jadi Maung. Prabu siliwangi jadi macan putih, sedangkan pengikutnya jadi macan hitam".
"Lalu apa hubungannya kau dengan pengikut Prabu Siliwangi. Kalau kau keturunan dari salah satu pengikutnya, tidak mungkin kau ada disini, karena pengikutnya cowok semua. Dan tidak mungkin punya keturunan".
"Keturunan, Iya. Secara langsung, tidak".
"Jadi....anak siapa kamu"?
"Anak Ibuku lah... Kakekku, adalah adik dari salah satu pengikut setia Prabu Siliwangi. Dia secara diam-diam mendapatkan ajaran bagaimana cara berubah wujud menjadi maung hideung. Dan seperti kutukan dari tiap ilmu yang terlarang, ilmu itu menurun kepadaku. Dulunya sih aku senang punya kekuatan seperti itu, sehingga aku sering menggunakannya tanpa tau efek sampingnya".
"Dan lama kelamaan kau jadi siluman".
"Begitulah".
"Kalian sudah siap"? Tanya Irwandha mengembalikan Arta dan Nanda kepada kenyataan.
"Siap paman, Ini tidak jauh beda dengan waktu membangkitkan Restu Sintha kan"? Tanya Arta.
"Lebih mudah malah, karena ini adalah tempat yang paling berpengaruh bagi Gajah Mada, jadi akan lebih mudah memanggil dia. Tapi dibutuhkan kekuatan dari satu golongan di tiap Tim untuk membangkitkannya. Bukan hanya sekedar memanggil rohnya".
"Maksud Paman"?
"Tuan Nanda, sebagai orang yang mewakili huruf kedua dari tim 1 NA, Tuan Arta, yang mewakili huruf kedua dari tim 2 TA, dan saya, yang mewakili huruf kedua dari tim 3 DHA, akan memanggil Gajah Mada yang mewakili huruf kedua dari tim 4 GA".
"Hmmm....makanya Flame butuh Bantuanku dan Nanda. Hey...memangnya dia siapa"?
"Aku Salah satu anggota Tim 4. MA, Kawamata Flame". Jawab Flame.
"HAH??? Masak? Kau sendiri bahkan bukan orang Indonesia. Nama mu jepang begitu". Teriak Arta.
"Protes ya? ga trima kalau aku bisa punya kekuatan ini? Mau duel"!! Tantang Flame sambil tersenyum.
"Tapi bukannya Tim 4 adalah tim yang dulu pernah membantu Ajisaka, tidak mungkin Anda bisa hidup selama itu dari jaman dulu sampai sekarang kan"? Tanya Irwandha.
"Itu cerita lain, sekarang yang penting kita bangkitkan dulu Gajah Mada".

#####

Prosesi pembangkitan berjalan sesuai perencanaan. Irwandha, dengan keris super gede nya mengumpulkan kekuatan untuk menarik roh Gajah Mada. Nanda dan Arta menyalurkan kekuatan mereka kedalam keris untuk membantu Irwandha, dan dengan sebuah mantra kuno yang dipelajari Irwandha dalam pemanggilan roh, prosesi ini selesai makin cepat.
Kurang dari 30 menit, keris Irwandha yang sudah penuh energi menyala berwarna hijau. Mengetahui hal ini, Irwandha makin cepat membaca mantra, dan akhirnya menghujamkan keris itu ketanah. Dari bekas retakan yang diakibatkan oleh keris itu, muncul secara perlahan sosok laki-laki bertubuh gempal dengan jidat yang agak menonjol dan rambut ikal, memakai sarung dan bertelanjang dada. Makin lama sosoknya makin memadat. Flame mendatangi sosok itu untuk melakukan tugasnya, membuat tubuh Gajah mada menjadi solid. Tapi sebelum Flame sempat melakukan hal itu, dia terkejut melihat sosok yang telah dipanggil ketiga orang tadi.
"Loh, siapa ini? Ini bukan Gajah Mada". Kata Flame
"Tuan Flame, Lihat baik-baik, itu Gajah Mada". Kata Irwandha.
"Tapi Gajah mada yang aku kenal tidak gendut kayak gini, haduh...salah mantra ini pasti".
"Flame...Kau Flame ya"? Kata Sosok Itu.
"Kau kenal aku"? Flame bertanya balik.
"Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan teman sepermainannya waktu muda. Kau lupa dulu pernah aku jeburkan ke kolam ikan waktu kita sedang bertamu kekediaman Ajisaka".
"Jangan buka kartu"!!! Flame sewot. "Tapi, hey...bagaimana kau bisa tau. Hanya Gajah mada yang tau akan hal itu".
"Karena aku memang Gajah mada".
"Tapi Gajah mada ga kayak gini...Dia pemuda tegap, agak culun, yang porsi makannya teratur".
"Maksudmu wujud yang ini"? Gajah Mada berubah kewujudnya waktu masih muda. Waktu dirinya masih dalam era pemerintahan Raden wijaya, dan dirinya belum terkenal.
"Nah, Ini baru Gajah mada yang aku kenal".
"Halah sewot, bilang saja kau baru kebakaran jenggot".
"Aku ga punya jenggot ya".
"Ini bukan Flame yang kita kenal deh". Arta bilang ke Nanda, melihat perubahan sikap Flame.
"Cowok cool pendendam dan pengancam tadi sudah berubah jadi tukang ngomel". Jawab Nanda.
"Tunggu....bagaimana Gajah mada yang hidup pada jaman dahulu, bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan berbicara denganmu seperti ini"? Tanya Arta ke Flame.
"Ini bukan plothole, aku sudah menyesuaikan logat bahasa mereka ke era kita. Sama seperti yang dilakukan Irwandha kepada Sintha, dan yang kulakukan pada Jonggrang". Jawab Flame.
"Jonggrang....maksudmu Rara Jonggrang".
"Siapa lagi kalau bukan dia".
"Ya TUHAN...bunuh aku karena dulu waktu SMP nilai sejarahku dapat lima". Kata Arta meratap.
"Kalau saja aku tahu kisah dan tokoh jaman dulu bisa sekeren ini. Tim 4, Isinya hantu semua".
"AKU BELUM MATI"!!!!!! BUAKKKKK Flame menjitak kepala Arta.
Setelah perdebatan kecil itu, Flame memberi tubuh fisik pada Gajah Mada sehingga dirinya bisa jadi manusia, bukan hanya roh. Kini tim 4 sudah terkumpul 4 orang, dengan Flame, Gajah Mada, Sintha, dan Jonggrang. Hanya tinggal satu lagi agar duapuluh orang bisa terkumpul dan mengalahkan Dewata Cengkar. Arta, dan keempat orang di Candi penataran itu bersiap untuk kembali ke Jogja. Saat Irwandha berhenti dan bertanya pada Gajah Mada.
"Tuan, kenapa diperlukan dua puluh orang untuk mengalahkan Dewata Cengkar, padahal dulu hanya dibutuhkan enam orang"? Tanya Irwandha.
"Pertanyaan yang bagus, ada dua jawaban untuk hal itu paman". Gajah Mada mulai menjelaskan.
"Yang pertama adalah karena Keris Empu Gandring, sebagai keris yang digunakan untuk menyegel Dewata Cengkar, sudah hancur. Paling tidak itu yang aku dengar dari Flame". Gajah Mada menghela nafas. "Yang kedua, karena kekuatan Ajisaka sudah menyebar menjadi lima daun lontar yang diberikan kepada keturunannya, dan masing-masing dari kami tim 4, menyumbangkan sebagian kekuatan kami kepada pengawal Ajisaka untuk melindungi keturunan Ajisaka".
"Dengan kata lain, kekuatan dari tim 3, didapat karena adanya tim 4. Lalu Tim 2, sebagian kekuatannya didapat dari penggabungan mistis tim 3 dan daun lontar tim 1". Sambung Irwandha menanggapi penjelasan Gajah Mada.
"Benar sekali". Jawab Gajah Mada sambil tersenyum.
"Oh ya Flame, ngomong-ngomong, bagaimana Nusa Antara sekarang"? Tiba-tiba Gajah Mada bertanya pada Flame.
"Heh, kenapa kau tanya hal itu"?
"Ummmm.....Pada masa tua ku, aku pernah bersumpah untuk menyatukan Nusa Antara, dan Berhasil. Aku ingin tahu bagaimana keturunanku merawat wilayah kekuasaan Majapahit".
"HAHAHAHAHAHAHHAHAHA"
"Kenapa kau tertawa? ngejek ya"?
"Mending dulu kau makan sekalian itu buah palapa sampai kau kenyang".
"Maksudmu"????
"Nusa Antara sekarang udah hancur, pecah-pecah ga karuan. Timur leste keluar, Kalimantan bagian atas, jadi negara lain. Irian, tinggal setengah. Apalagi yang kurang? Pemimpin-pemimpin negara ini bego semua sih, cuman mikirin perut sama duit. Tanya tuh si Arta." Flame meninggalkan Gajah mada yang cemberut tidak percaya atas apa yang terjadi saat ini.
"Ngomong-ngomong, Nanda, kamu orang Sunda kan, pulau Jawa bagian Barat? disana kalau ada orang mudik ke arah Timur, apa masih suka dibilang MUDIK KE JAWA"? Tanya Flame ke Nanda.
"Iya lah... Kan mereka memang mudik ke Jawa".
Flame tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Nanda. Dan dia menoleh ke Gajah Mada. "Hey, Ini ada request,...Pisahin saja Jawa bagian barat menjadi pulau tersendiri, biar jadi pulau Sunda sekalian. Kan mereka ga mau ngakui kalau mereka berdiri diatas tanah pulau jawa".
"HAH!!!!!????????" teriak Arta dan Gajah Mada bersamaan.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger