Posted by : AksaraProject Wednesday, September 21, 2011

"Kebangkitan Kembali...(Necromancy)"



"Apa yang terjadi dengan tunanganku"!!? Dani berteriak-teriak pada Karis yang saat ini terlihat lemas sambil menggendong Ica. Tatapannya tajam penuh ancaman. Tangan kanannya mengepal, siap memukul Karis apabila dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Selang beberapa menit, Dani belum melihat Karis membuka mulutnya. Marah karena merasa diabaikan, Dani memukul Karis hingga tubuh lawannya itu terpental dan menjatuhkan Ica.
"Pukul aku sesukamu...Apapun yang kau lakukan, Ratna tidak akan kembali". Kata Karis seraya duduk dan membersihkan darah yang mengalir dari bibirnya dengan menggunakan tangan kanan.
"Kau benar-benar cari masalah ya!!? Kau sadar di depan siapa kau bicara saat ini"!? Dani mulai mengancam.
"Aku tahu. Aku sedang bicara di depan pemimpin tim 2 yang sifatnya sombong dan kekanak- kanakan". Jawab Karis sambil tersenyum.
Seketika itu, Dani menarik kerah baju Karis, dan mengangkatnya. Mata mereka berdua saling tatap, saling mengintimidasi dan berusaha menjatuhkan yang lain. Tapi tidak tampak diantara mereka ada yang akan menyerah.
"Kau bilang aku anak kecil. Coba kita lihat, apa mulutmu masih bisa bersiul setelah anak kecil ini membenamkan kepalan tangannya ke wajahmu". Kata Dani sambil mendekatkan tangan kirinya ke wajah Karis.
"Hehe...Dari sekian banyak korban Minakjinggo. Kau hanya terpaku pada satu orang. Tidak lihat ya, kalau masih banyak cewek lain yang jadi batu disini. Dan apa kalimat pertama yang keluar dari mulutmu? Egois, kau bahkan tidak memikirkan nasib korban yang lain".
"Bagiku tidak penting nasib orang lain, hanya orang-orang tertentu saja yang aku khawatirkan. Terserah mereka semua mau apa, asalkan mereka tidak menggangguku, aku tidak peduli".
"Dan kau bilang kalau kau bukan anak kecil"?
"Anak kecil tidak bisa melakukan ini". Dani membanting Karis hingga tubuh pemuda itu terbenam ke tanah. Setelah mengamati lawannya yang tidak memperlihatkan gerakan sedikitpun, Dani pergi menemui keempat temannya yang lain. Mereka berlima kini berkumpul di depan mobil untuk membahas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Jangan mulai mengatakan untuk rapat darurat. Sebentar lagi aku ada kencan dengan anak ekonomi UGM". Kata Iwan begitu melihat Dani datang dengan tergesa-gesa.
"Terserah kau. Toh datang atau ngga, juga ngga ada perubahan". Dani bicara tanpa memandang Iwan.
"Ada apa sih? Tim mereka ngajak ribut lagi?" Kata Santo sambil menggenggam tangan Kirinya. "Belum kapok ya mereka".
"Bukan,..ada hal lain. Dari info yang dikatakan cowok itu".
"Yang barusan kau hajar"?
"Minakjinggo datang kesini dan membuat semua korban jadi batu".
"What??? Hey man...Ini konser kita udah rencanakan lama banget. Duitnya juga ngga sedikit. Okelah, semuanya tu pake duit gua. Tapi ya....masak sih kita musti konser didepan Patung"? Keempat teman Arta yang lain memandangnya tanpa bicara apa-apa. "Tau gini kita sewa studio film dan konser disana".
"Lalu mau apa kau? nangis minta duit ke mama mu?" Iwan memanas-manasi.
"Sorry ya, Aku ga kayak kamu yang sukanya mewek didepan cewek. Sok ganteng, sok kaya". Arta berkata sambil tangannya mendorong Iwan ke belakang. "Duit saja masih minta orang tua, bangga".
"Eh Gober,...okelah, mungkin kau mandi pake duit. tapi sampe sekarang, cewek satupun kau belum dapet. Apaan tuh".
"Aku ga suka mainin cewek ya. ga profitable".
"Ini kita mau bahas masalah konser, duit, berantem, cewek, apa Minakjinggo"!? Dani menghentikan adu mulut antara Iwan dan Arta.
"Atau mau bahas masalah Ratna". Kata Melani sambil berkacak pinggang.
"Sudah deh, kalau soal Minakjinggo, datengin aja tempatnya. Kita bantai rame-rame". Santo tambah bersemangat.
"Trus ritual kita buat mbangkitin Tim 4 gimana? udah terlanjur sewa tempat, Mo buang-buang duit lagi?" Arta protes.
"Oke oke oke...Kita lakukan ritual dulu. Sakit telingaku dengar omongan tidak berguna yang keluar dari mulut kalian". Dani masuk ke mobil.
"Lalu mereka mau diapakan"? Tanya melani sambil menunjuk ke Karis dan Ica yang masih dalam kondisi mengenaskan.
"Tinggalkan saja disini, bikin kotor mobil saja". Balas Dani tak acuh.
"Dan.....Ratna? umm Maksudku Patungnya"? Tanya Melani dengan nada memancing.
"............. Tinggalkan dia".
Keempat Orang lainnya masuk kedalam mobil, dan setelah suara mesin terdengar menderu, mobil itu meluncur pergi meninggalkan area stadion Kridhosono yang penuh dengan patung putih dan dua orang Aksaranger yang terluka parah.
#####
Dani, Arta, Santo, Iwan, dan Melani memasuki sebuah aula di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Aula ini sudah disewa oleh Arta dengan kedok konser gamelan. Walaupun aslinya tempat pesanan mereka digunakan untuk ritual pembangkitan arwah.
Begitu membuka pintu besar berdaun dua, yang terbuat dari kayu jati yang di pelitur dengan indah, kelima orang ini mendapati diri mereka berdiri diatas sebuah podium. Berderet kursi kayu tampak disamping kiri dan kanan. Setiap deret berada lebih tinggi daripada deret selanjutnya. Urutan penempatan kursi itu semakin lama semakin turun sehingga membuat ruangan aula tampak seperti kolisium di Roma. Dibagian bawah, terdapat lahan luas yang digunakan untuk kepentingan acara dan pentas. Dani menengok kebelakang, dan melihat sebuah ruang kontrol berada di belakang deretan kursi paling atas. Dirinya mengamati ruangan itu selama beberapa saat, sebelum menjatuhkan pandangan kepada dua sosok yang saat ini tengah menata satu set alat gamelan di pusat aula. Dua orang ini adalah abdi dalem dari Dani dan Melani. Irwanda, seorang empu pembuat keris pusaka, dan Tania, gadis berkuli sawo matang yang tampak judes. Tahu bahwa semua hal yang diperlukan untuk ritual sudah disiapkan, Dani mengajak keempat temannya untuk memulai ritual pemanggilan.
Mereka berlima mengambil posisi di alat gamelan yang sesuai dengan keahlian mereka. Dani menggunakan Rebab, Arta menggunakan Kendang, Santo mengambil Bonang, Iwan menggunakan Seruling, dan Melani mengambil mic, karena posisinya sebagai Sinden. Irwandha mengambil sebilah keris besar seukuran pedang, dan duduk bersila di depan orang-orang ini. Tania duduk disebelah Melani dan membantu Melani untuk melantunkan tembang.
"Tuan-tuan...Ingat, Ritual ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak sedang bermain-main. Karena urusan dengan dunia arwah, akan sangat berbahaya kalau terjadi kesalahan. walaupun itu kesalahan kecil". Irwandha mengingatkan Dani dan kawan-kawannya. Kelima orang itu mengangguk tanda mengerti, dan mereka memulai ritual.
Melani dan Tania melantunkan tembang jawa yang berfungsi sebagai penggiring Mantra yang diucapkan oleh Irwandha sambil membasuh Keris dengan air yang sudah dicampur bunga tujuh rupa. Dani dan ketiga temannya yang lain, dengan hikmat mendengarkan mantra sambil memainkan alatmusik mereka seiring dengan naik turunnya irama Melani. Hal ini berlangsung selama 20 menit tanpa kejadian apa-apa, hingga saat lirik Melani mencapai pertengahan, usaha mereka menampakkan hasil.
Mula-mula udara mulai dingin, hal ini membuat bulu kuduk ketujuh orang itu menjadi berdiri, tapi mereka masih melanjutkan ritual, kemudian angin malam berhembus kencang, padahal semua pintu dan jendela tertutup rapat. Angin ini hanya berhembus didalam ruangan, berusaha menumbangkan apapun yang dilewatinya. Suara nyanyian Melani mendadak menjadi semakin tinggi dan membuat merinding, karena sesaat kemudian tampak roh-roh halus terbang kesana-kemari. Dani dan Iwan menutup mata, seolah-olah mereka tidak melihat apa yang terjadi, dan berkonsentrasi untuk memainkan alat musik. Irwandha semakin cepat melantunkan mantra, keris yang dibawanya bergetar keras dan bertambah berat. Ritme lagu dan mantra, serta irama musik, makin lama makin cepat, seiring dengan gangguan yang juga semakin intens dan mencekam.
Melani menampakkan raut muka pucat dan bertaburan keringat dingin. Tangannya gemetaran memegang mic, matannya terpejam. Dia berusaha sekuat tenaga menyelesaikan syair yang dinyanyikannya. Sedikit lagi,...tinggal dua bait syair lagi, batin Melani saat dia merasa ada yang memegang bahu kanannya dari belakang. Dan saat mulut Melani mengucapkan kata-kata terkahir dari syairnya, kesunyian mendadak datang. Tidak ada angin, tidak ada roh, semuanya tenang. Hampa,...
Dari hadapan Irwandha, berdiri seorang gadis memakai pakaian perang Jawa kuno. Dari penampilannya, terlihat kalau gadis ini pendekar yang kuat, walaupun itu tidak bisa menyembunyikan paras cantiknya. Matanya tajam bagai elang, pipinya merona, dengan bibir yang tipis bersemu merah. Rambut hitam yang panjang sepunggung, diikat ekor kuda, dan disamping kanannya, terletak sebuah pedang dari besi dengan sarung pedang yang terbuat dari perak.
"Ada keperluan apa kalian memanggilku kesini"? Tanya Gadis itu.
"Maafkan kelancangan kami terhadap anda nona. Tapi kami disini untuk membangkitkan pendekar yang dulu pernah membantu Raden Ajisaka menyegel Prabu Dewata Cengkar". Irwandha menjawab dengan bahasa krama.
"Aku sudah datang. Dan memang benar, aku adalah salah satu dari 5 orang yang dulu membantu Ajisaka menggulingkan kekuasaan Dewata Cengkar".
"Tetapi kenapa gerangan, hanya nona saja yang muncul? Bukankah seharusnya 4 yang lain juga datang"? Irwandha tampak heran.
"Jika memang hanya aku saja yang menampakkan diri disini, itu berarti keempat temanku yang lain belum meninggal".
"Itu tidak mungkin terjadi kan... Tidak ada manusia yang sanggup hidup dengan usia yang sangat lama."
"Salah satu temanku memang meninggal, tapi arwahnya terlalu kuat untuk dipanggil menggunakan ritual ini. Satu temanku terkena kutukan, satu lagi mengutuk dirinya sendiri dalam penyesalan. Dan yang terakhir,...Dia masih hidup." Gadis itu menarik nafas seolah-olah dirinya masih bernyawa.
"Hmmmmm Aku bisa mencium baunya dari sini".
"Nona, mohon tidak mengatakan hal yang membingungkan, Kami membutuhkan kekuatan dari Nona dan teman-teman nona untuk bisa mengalahkan Dewata cengkar".
"Bukankah Dewata Cengkar sudah disegel"?
"Tetapi segelnya sudah rusak. Dia berhasil lolos beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, Ada 20 pendekar yang harus berkumpul untuk mengalahkannya".
"Tunggu dulu,...tahun berapa sekarang"?
"Tahun 2011, memangnya ada apa Nona"?
"Hmmmm Dia berkata, bahwa di masa depan, Dewata Cengkar akan bangkit lagi dan meminta kami untuk berkumpul dan menggabungkan kekuatan. Tahun 2011 ya."
"Dia siapa? siapa yang Nona bicarakan"?
"Salah satu temanku, Hanya dia yang saat ini memiliki kemampuan untuk menyatukan kami berempat". Seiring percakapan mereka, tubuh gadis itu perlahan-lahan menjadi padat dan akhirnya berubah kembali menjadi manusia. "Sekarang tubuhku sudah kembali. Aku akan menemui temanku dan menyampaikan pesan kalian agar dia mengumpulkan yang lainnya".
"Terimakasih banyak atas bantuannya Nona". Kata Irwandha sambil membungkuk.
"Tidak masalah, sudah kewajiban kita untuk menjaga daerah kerajaan ini".
"Maaf,....anu, ini sudah bukan satu kerajaan lagi. Tapi satu negara". Iwan mengoreksi perkataan gadis itu.
"Negara? Seperti China"?
"Iya,.. seperti itu".
"Di masaku, tempat ini masih menjadi kerajaan, tapi yah, apa boleh buat, jaman sudah berganti. Tak disangka aku benar-benar bisa mencicipi apa yang disebut dengan masa depan". Kata Gadis itu seraya beranjak pergi.
"Tunggu nona,...siapa nama nona kalau saya boleh tahu"? Tanya Iwan. Semua orang ditempat itu yang tau sifat playboy Iwan segera memandangnya dengan pandangan membunuh. Dani menatap Iwan dengan wajah yang seolah-olah berkata "Kalau sampai hantu saja kau sambet, awas kau".
"Namaku Restu Sintha". Kata Gadis itu sambil perlahan-lahan menghilang dalam asap tipis yang menyelimuti tubuhnya.
Dani dan semua orang yang ada disitu menyudahi ritual mereka. Mereka merapikan peralatan, yang nantinya akan dibawa pulang oleh Irwandha dan Tania. Kini, setelah kewajibannya selesai, Dani beranjak pergi meninggalkan teman-temannya, tapi dihalangi oleh Melani.
"Mau kemana kau Dan"? Tanya Melani.
"Bukan urusanmu aku mau kemana". Jawab Dani kesal.
"Urusanku lah,..apalagi kalau itu menyangkut tunanganmu.. jangan bilang kau mau menyelamatkannya".
"Lalu kau mau apa? Terserah aku kan. Apa hakmu melarangku"!?
"Cewek itu ga ada bagus-bagusnya. Cantik enggak, kaya juga enggak. sok pintar iya".
"Jangan...sekali-kali...kau bilang itu soal Ratna". Dani mendorong Melani hingga terjatuh. "Dia tunanganku. Sadari statusmu sebelum kau menjelek-jelekkan orang".
"Aku sadar statusku! dan aku sadar kalau aku lebih tinggi derajatnya daripada dia. Dia hanya putri raja biasa. Sedangkan aku..."
"Diam!! Kau boleh menganggap dia sampah dihadapanmu. Tapi tidak denganku. Bagiku dia adalah tunanganku, dan sudah tanggung jawabku untuk menjagannya".
"Dani"!!!
"Jangan halangi aku... Atau aku akan menghajarmu". Dani memandang semua orang di aula itu satu-persatu. "Kalian juga...Aku tidak keberatan bertarung dengan kalian jika kalian mencegahku pergi".
"Bukan aku lo....terserah kau mau apa, asal ga nyenggol aku, aman". Kata Arta sambil angkat tangan. Orang-orang yang lain hanya diam saja.
Dani meninggalkan Aula itu secepat dia datang, dijalan dia memakai jaket hitamnya dan bergerak mendekati mobil. Dia berdiri selama beberapa menit, sadar kalau kunci mobil dibawa Santo, dan tidak ada gunanya untuk kembali kedalam, Dani memilih untuk berjalan kaki kerumah dan mengambil motor. "Ratna,....tunggu aku, setelah ini giliran kamu yang akan tergila-gila pada penyelamatmu ini". Kata Dani sambil tersenyum.
#####
Karis mendatangi Jaka dalam keadaan luka parah sambil membopong Ica yang masih gemetaran dan shock. Jaka, yang mendengar cerita yang menimpa pengunjung konser dan Ratna, segera menelpon Pandu yang berada bersama Handi dan Flame. Dari percakapan antara Jaka dan pandu, Karis diminta untuk datang ke sebuah candi, tempat dimana saat ini Flame, Handi dan Pandu sedang menuju.
Karena tidak mau membuang-buang waktu, Karis segera pergi ke lokasi yang dimaksud dengan mengendarai motor bebek yang diparkir di garasi. Perjalanan selama 20 menit terasa sangat lama dan menyakitkan, karena memar-memar disekujur tubuhnya selalu menghalangi dirinya untuk mengalihkan pikiran. Tiga kali dia hampir kecelakaan karena kondisi tubuhnya yang memang tidak cocok untuk mengendarai motor. Dan setelah 20 menit penuh siksaan, akhirnya dia berhenti di depan sebuah sedan hitam yang diparkir dihalaman depan candi. Desebelah mobil itu, berdiri Handi, Pandu, dan Flame. Mereka bertiga memakai jaket hitam bertudung. Hanya Flame yang dijaketnya ada garis merah dan angka Romawi 10 (X), sedangkan Handi dan pandu memakai jaket hitam polos.
"Kau Karis kan"? Kata Flame memastikan. "Biar paman Pandu yang merawat lukamu di mobil. Aku dan Handi akan masuk ke kompleks candi, tunggu kami 30 menit, dan kita akan sama-sama ke rumahku untuk membahas masalah yang menimpa Ratna".
"Tapi Candi ini ditutup, lagipula sekarang sudah malam". Protes Karis.
"Justru itu, karena kalau siang hari, akan terjadi kegaduhan akibat ulahku". Jawab Flame sambil tersenyum.
"Hey...dimana sifat kasar dan sombongmu yang kemarin"?
"Aku akan menunjukkan sifatku berdasarkan situasi. Dan saat ini, aku tidak melihat alasanku untuk mengajakmu berkelahi karena kata-kata yang aku ucapkan".
"Heh,...tetap saja dingin. apapun sifatmu, kau tidak bisa menyembunyikan saifat dasarmu itu".
Flame tersenyum dan meminta Pandu untuk memapah Karis dan merawat lukanya. Setelah itu, Flame dan Handi loncat pagar dan berlari masuk kedalam kompleks utama Candi. Di kompleks itu, ada 3 Candi utama yang menjulang bak raksasa, menantang setiap pengunjung dengan keeksotikan dan kemegahannya. Pahatan dan relief rumit namun mengagumkan, terbentuk disetiap sudut dan tubuh Candi itu, dan ditengah gelap malam, Candi itu membuat suasana dalam kompleks seolah-olah kembali kemasa kejayaan tanah Jawa pada masa lalu. tanpa listrik dan barang elektronik, tapi menebarkan kesan oriental dan mistik yang berbaur dengan budaya masyarakat. Handi dan Flame menikmati keindahan peninggalan peradaban masa lampau ini selama beberapa saat, sebelum akhirnya menuju ke candi besar yang ada di tengah.
"Kenapa kita pilih yang di tengah"? Tanya Handi.
"Karena disinilah dia berada. Tidur dalam lautan mimpi yang dalam, tanpa bisa terbangun". Jawab Flame sambil menaiki tangga Candi.
"Kau yakin dia masih hidup Flame? Ini sudah beratus-ratus tahun".
"Aku yakin, karena aku tahu apa yang terjadi padanya".
Flame menghilang dalam kegelapan Candi. Didalam, Dia menatap sebuah batu yang terpahat menyerupai bentuk sesosok manusia. Flame mengusap bagian kepala batu itu dengan lembut.
"Tak kusangka akan jadi begini nasibmu. Dia ceroboh dikuasai kemarahan. Dan membuatmu jadi seperti ini". Flame kini berdiri di depan Batu itu. Dia berkonsentrasi, memejamkan matanya, dan memusatkan energi pada kedua tangannya. Saat Flame membuka mata, kedua matanya berwarna merah marun yang bersinar di kegelapan malam. Tangannya kini juga bersinar kecoklatan. Dan dengan konsentrasi penuh, dia memegang batu itu dan menekan di kedua sisinya, hingga sesaat, batu itu terlihat akan berbenturan dan hancur. Tapi tidak... Batu itu meleleh, dan menampilkan seorang wanita cantik dengan memakai selendang berwarna jingga dan kemben berwarna hijau. wanita itu terlihat masih tertidur dalam kutukannya. Dan setelah Flame selesai memebebaskan kutukan itu, perlahan-lahan, kedua mata wanita itu terbuka. Pertama kali, setelah ratusan tahun, dia memandang dunia lagi. Dan kali ini, didepannya berdiri Flame sambil tersenyum.
"Yang mulia, selamat datang di Jogjakarta, tahun 2011". Kata Flame dengan nada lembut kepada Roro Jonggrang.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger