Posted by : AksaraProject Friday, September 23, 2011

"Kekuatan Api...(Gunung Meletus)"



Dani memarkir motornya di depan sebuah Hutan lebat yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Dia merasakan aura Minakjinggo yang sudah berbaur dengan aura-aura korbannya, termasuk Ratna, kini bergerak menuju ke tengah hutan. Dani yang tidak mau membuang waktu, membuka jok motor, dan mengambil dua buah sarung tangan hitam, sebuah smartphone, dan sebuah masker hitam untuk menutup mulut. Setelah semua barang yang diperlukan dibawa, Dani berlari masuk hutan, siap menghajar orang yang sudah membuat masalah dengan tunangannya.
Hutan itu sangat lebat, batang-batang pohon saling berhimpit, menyisakan jalan yang terjal dan kecil untuk dilewati. berkali-kali dia harus memelankan langkahnya untuk memastikan agar salah satu kakinya tidak ada yang tersangkut akar.
"Merepotkan, kenapa juga harus dihutan kayak gini sembunyinya"? Matanya memandang kiri kanan dengan waspada sambil menggerutu karena sulitnya lahan yang harus dilalui. Kedua tangannya kini memegang pohon yang berada disisi kiri dan kanan. Kepalanya melongok melihat keadaan area didepannya. Dani diam untuk beberapa saat, memastikan bahwa dia tidak kehilangan jejak Aura Minakjinggo, dan juga memutuskan rute terpendek untuk menyusul. "Tempat ini ga menguntungkan aku. Kalau saja aku diserang sekarang, bakalan kesulitan buat mengatasi musuh".
Perjalanan menyusuri hutan sudah berlalu selama setengah jam. Tapi Dani sama sekali tidak menemukan titik terang dimana tempat persembunyian Minakjinggo. Berkali-kali dia merasa hanya berkutat disatu tempat. Untuk memastikan apakah dirinya memang tersesat atau tidak, ditempatnya berdiri saat ini, ada sebuah pohon yang cukup besar dan bisa ditandai. Dani mengikatkan masker hitamnya ke salah satu batang pohon. Lalu berjalan lagi lebih dalam ke hutan. Pada belokan pertama, Dani mengarah ke kanan, lalu di belokan selanjutnya, dia mengambil jalur kiri, hingga dia menemukan sebuah sungai kecil. Setelah menyeberangi sungai, dia berjalan lurus lagi. Tapi dia terkejut, saat dihadapannya terpampang pohon besar yang dijadikannya sebagai tanda. Masker hitamnya masih tergantung. Hal ini membuat Dani yakin dirinya sudah di akali.
Dengan amarah yang memuncak, Dani memusatkan konsentrasi. Pikirannya di fokuskan untuk melihat apa yang seharusnya tidak ada di depan mata. Dan untuk melakukan itu, dia tidak boleh memandang dengan kedua matanya, melainkan dengan mata batin. Beberapa saat setelah dirinya memejamkan mata, semilir angin malam yang berhembus pelan menerpa telinga kanannya. Pada awalnya Dani tidak mengindahkan, tapi lama-kelamaan angin itu bertambah kencang dan mengganggu konsentrasi. Sehingga Dani harus menghindar ketempat yang lebih tenang. Kali ini dia berdiri ditanah yanga agak lapang di bagian kiri pohon besar. Disini, walaupun ada angin kencang, akan terhalang oleh pohon, sehingga tidak akan membuyarkan pikirannya.
Mula-mula hanya terlihat kegelapan. Namun seiring dengan makin tingginya fokus Dani, tampak sebuah rute yang mengarah masuk ke hutan, ke jalan yang sama sekali tidak tampak waktu dia menyusuri tempat ini tadi. Tanpa banyak pikir, Dani mengikuti jalan setapak didepannya, yang pada akhirnya mengarahkan dia pada sebuah tanah lapang, dimana diujung bagian yang lain, Minakjinggo duduk disebuah tunggul kayu dengan bersilang kaki.
"Disini kau rupanya"! Dani berteriak mengetahui keadaan Minakjinggo.
"Aku sudah menunggumu bocah. Mau apa kau kesini heh? menyelamatkan salah satu temanmu? atau....hanya mau pamer kekuatan"?
"Banyak omong! Disini, saat ini juga, aku akan menghajar dan merontokkan gigimu sehingga bicaramu akan seperti kakek-kakek".
"Coba kalu bisa". Minakjinggo tersenyum mengancam.
Dani melompat kearah Minakjinggo sambil mengepalkan tinju. Tapi saat tangannya hanya berjarak beberapa centimeter, seekor Caruga menyerangnya, sehingga Dani terhempas, kembali ketempat dimana dia datang. Melihat hal ini, Minakjinggo tertawa, dia memanggil 3 Caruga lain yang keluar dari semak-semak rimbun di sekelilingnya.
"Ups,...Aku lupa memberitahu kalau ada empat reptil disini. Caruga-caruga ini adalah makhluk yang patuh padaku. Dan sekarang, mari kita lihat kau bersenang-senang dengan mereka sebelum masuk ke menu utama".
"Terserah"! Dani mengeluarkan smartphone yang ada di saku celana kirinya. Dia mengangkat benda itu sehingga sejajar dengan bahu kiri. Dengan tangan kirinya, dia menekan beberapa tombol, dengan tombol enter menjadi yang terakhir ditekan. Tak lama setelah tombol enter ditekan, keluar suara COSTUME READY. Dani mengayunkan Smartphone yang ada di tangan kanannya kearah bahu kanan dengan layar menghadap kedepan. Bersamaan dengan mendorong tangan kanan kedepan, Dani Berteriak ACTION!!! Dan dari dalam layar keluar kostum berwarna kuning menyala, yang kemudian membalut tubuhnya. Dan huruf Jawa DA membentuk Helm. Kini kostum tadi berubah warna menjadi merah maroon. "Kalian mau main kasar, aku turuti". Dani memencet beltnya dan keluar Rebab besi yang memiliki warna senada dengan baju tempurnya.
Dani Menghajar Caruga-caruga yang menyerangnya dengan brutal. Satu Caruga yang menyerang arah kanan, dipukul dengan rebabnya sehingga terpelanting menabrak Caruga dibelakang. Belum puas, Dani melompat kearah Caruga yang terjatuh tadi dan mengahajar mukannya dengan Rebab. Tiga caruga yang lain menyergapnya dariatas, Tapi Dani memutar tubuhnya dan menendang mereka satu-persatu. Dan dengan memusatkan berat tubuh di senjatanya, Dani menghempaskan tubuhnya keatas dan mengayunkan Rebab yang dibawanya sehingga menghantam kepala tiga Caruga tersebut secara bersamaan. Monster- monster kadal itu akhirnya jatuh ke tanah dengan bunyi berdebam keras. Mereka tidak bergerak lagi.
"Anak buahmu sudah keok. Sini kau"!!!
"Jangan sok jago bocah"! Minakjinggo menghilang, dan tiba-tiba berada di belakang Dani.
Dani yang merasakan tekanan aura kuat yang berasal dari Minakjinggo langsung kaget sehingga tidak bisa menggerakkan badannya. Kesempatan itu digunakan oleh Minakjinggo untuk mencengkeram leher Dani dan menghempaskannya ketanah. BLAMMMMMMM!!! "Sekarang gantian kau yang akan aku hajar". Kata Minakjinggo dengan senyum jahatnya.
#####
Satu Jam sebelumnya....
Flame, mengendarai mobilnya bersama Pandu, Handi, Karis, dan Jonggrang. Mereka berlima menuju ke rumah Flame di Jogja. Tepatnya di daerah Condong Catur. Setelah sampai ditempat yang dituju, Flame memarkir mobilnya digarasi. Cream yang mendengar deru mesin mobil Flame, berlari ke garasi sambil tergesa-gesa. Flame baru membuka pintu mobil, saat melihat adik sepupunya ini membuka pintu dengan hanya memakai satu sandal dan bertampang panik.
"Ada apa Cream? Wajahmu kok jadi lucu begitu".
"ANATA....moouuu Dicari teman ANATA didepan tuh Nyaaa".
"Teman? Aku ga merasa di sms atau di telpon kalau ada yang mau datang".
"Pastilah....mana ada hantu bisa telpon Nyaaa".
"Hantu? Jangan bercanda ah. Ga ada yang namanya hantu ketok pintu bertamu kerumah orang".
"MMMMMMBBBHHHH" Cream menutup mulut sambil menahan nafas, yang membuat kedua pipinya menggembung, mengakibatkan wajahnya yang bulat makin imut dan memerah. "ANATA tidak percaya pada Cream. Lihat sendiri di runag tamu sana Nyaaa".
"Oke-oke, jangan mewek gitu. Aku keruang tamu sekarang. Handi, Pandu, kalian bawa Karis ke kamar belakang saja, nanti aku minta temanku untuk menyembuhkannya".
"Secepat itu, mana mungkin"? Handi sangsi dengan perkataan Flame.
"Tenang saja, temanku itu healer". Kata Flame sambil pergi bersama Cream ke ruang tamu.
Di sofa panjang berwarna hijau daun, duduk seorang gadis muda dengan rambut diikat model ekor kuda. Dia memakai jumper putih dengan kaos berwarna biru muda. Celana kain yang dikenakannya juga berwarna putih. Terlihat dia sedang meminum teh dari cangkir porselen, saat Flame dan Cream datang. Flame terkejut melihat tamu yang menunggunya itu. Dan saat gadis itu melihat Flame, dia juga berteriak histeris.
"FLAME!!!!! Masih sama juga rupanya penampilanmu". Kata Gadis itu seraya menghampiri Flame dan merangkulnya dengan tangan kanan. "Jaket hitam dengan garis merah, Celana Hitam, baju kuning, sepatu hitam, dan pedang jepang di punggung".
"Katana...ini Katana, lagipula...hey..kenapa kau bisa ada ditahun ini?" Kata Flame heran.
"Dia Hantu ANATA.....HANTU. Arwah yang tidak tenang. mungkin minta diterbangkan ke alam kubur". Kata Cream sambil sensi melihat perlakuan gadis itu terhadap kakaknya.
"Sintha?? Kau ada disini juga". Jonggrang yang kebetulan melewati ruang tamu untuk menuju ke belakang rumah, terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Waaaa....Nona Jonggrang juga ada ditempat ini? Seingatku nona dikutuk jadi"
"Jangan teruskan kalimatmu Sintha". Flame membekap mulut sintha sambil melirik korban kata-kata temannya itu. Dia melihat Jonggrang berdiri terdiam dengan rambut menutupi kedua matanya. Dibelakangnya, aura kegelapan menyebar ke seluruh ruangan. "Ini yang aku takutkan".
PLAKKK BRAKKK BUUKKK TASSSS Suara keras itu membuat Handi dan Pandu berlari menuju ruang tamu. Disana mereka berdua melihat Sintha yang babak belur, duduk disofa sambil memegangi pipinya yang bekas tamparan. Flame dan Cream duduk di ujung kanan Sofa, merapat ke dinding. Dan Jonggrang, berdiri sambil berkacak pinggang di sebelah kiri.
"Ada apa ini? tadi seperti ada suara kapal pecah". Tanya Handi.
"Kapal pecah gigimu... tidak lihat apa, aku babak belur begini". Sintha protes.
"Siapa suruh kau bilang kalimat itu. Sudah tau Ratu yang satu ini judes". Kata Flame.
"Hmph...Jangan ingatkan aku lagi soal lelaki brengsek yang sok ganteng itu". Ucap Jonggrang sambil memalingkan muka.
"Omong-omong, Kenapa kau bisa ada di masa sekarang? Aku ragu kau gentayangan selama lebih dari satu abad. Tidak ada hantu yang betah selama itu". Flame bertanya kepada Sintha.
"Aku dibangkitkan. Ummm, oleh sekelompok orang. satu, dua, tiga,..tujuh orang". Sintha menghitung jumlah orang-orang yang telah membangkitkannya dengan jari tangannya.
"Dan.....dengan alasan apa mereka membangkitkanmu"?
"Mana aku tau".
"Moshi moshi, orang mau bersusah payah untuk orang lain, pasti ada tujuannya nyaaa". Cream mengoreksi perkataan Sintha.
"Apa ya..... Aku mendengar sesuatu soal Dewata Cengkar yang katanya bangkit lagi. Dan mereka memintaku untuk membantu mengumpulkan tim yang dulu sudah menyegelnya. Begitu kurasa".
"Yakin? Selama ini yang aku tau, kau agak plin plan". Kata Jonggrang.
"Enak saja, aku ini pendekar, bukan tukang catat perkamen. Jadi jangan salahkan aku kalau ingatanku agak lambat. Aku ngomong ke musuh saja pakai pedang, ga pakai mulut".
"Sudah sudah..kalian berdua". Flame menghentikan adu mulut kedua temannya. "Kita sudah terkumpul tiga orang saat ini. Tinggal dua lagi. Tapi seperti yang kalian tahu, untuk membangkitkan yang satu, butuh kekuatan dari pemilik baju tempur NA, TA, dan Dha. Sedangkan yang satu lagi...."
"Jangan bangkitkan yang satu lagi. Kita berempat sudah cukup untuk menyegel Dewata Cengkar". Jonggrang memotong kalimat Flame.
"Siapa yang bilang akan membangkitkannya"?
"Tadi kau.....HEIII Jangan katakan kalau dia belum mati. Ini sudah lebih dari satu abad".
"Saa naa..."
"Jangan pura-pura tidak tahu. Dari kita bertiga, hanya kamu yang sampai saat ini masih muda dan mengikuti perkembangan jaman. Seingatku dulu kau membual datang dari masa depan. Sekarang aku percaya". Jonggrang makin marah.
"Aku tidak mau menyinggungmu saat ini, kalau memang yang satu itu bermasalah buatmu, aku tidak akan mengurusnya hingga saat terakhir. Tapi yang satu tadi, harus segera dibangkitkan. Mengingat Aku sudah bertemu dengan pemilik baju tempur NA, dan menurutku, tinggal tunggu waktu sebelum TA dan DHA menampakkan diri".
"Flame....Aku punya segudang pertanyaan untukmu". Handi berkata dengan serius kepada Flame,
"Simpan nanti saja Handi. saat ini ada masalah yang lebih penting".
"AKU MOHON, SELAMATKAN RATNA DARI TANGAN MINAKJINGGO"!!!! tiba-tiba Karis yang masih lemah berlari keruang tamu. Dia terkulai lemas di karpet setelah berteriak. Sehingga mengagetkan semua orang yang ada disitu.
#####
"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya dihina dan diremehkan oleh orang yang kau puja". Minakjinggo berkata sambil menendang dan menginjak kepala Dani. Dani berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan Minakjinggo, tapi kekuatan yang dimiliki lawannya saat ini lebih besar, dikarenakan jiwa-jiwa korban yang bergabung dengan auranya. "Susah payah aku membangkitkannya, tapi apa yang aku dapat. Tak satupun keluar kata terima kasih dari mulutnya. Malah aku diperlakukan seperti pembantu".
"Heh, siapa suruh kau membangkitkan buaya itu. Tau rasa kau sekarang". Kata Dani sambil berusaha tersenyum.
"Tapi sekarang, dengan kekuatan yang aku miliki, bahkan Ajisaka pun akan bertekuk lutut dihadapanku".
"Mimpi kali ye..."
"Tutup mulutmu"!!!! Minakjinggo menendang Dani hingga menabrak pohon. Hantaman yang keras, dan luka yang dideritanya, membuat Dani kembali ke wujud asal.
Dari kejauhan, Santo mengintip diantara semak dan akar pohon. Sejak awal, dirinya memang sengaja mengikuti Dani, karena dia yakin, seorang diri mengalahkan Minakjinggo adalah suatu hal yang mustahil. Kini pemikirannya terbukti benar. Dan dia bersiap untuk menyelamatkan ketua timnya itu. Tapi sebelum mampu menggerakkan satu otot tubuh pun, Santo diterjang suatu perasaan aneh. Aura berwarna merah yang kuat, terpancar dari arah yang tidak jauh dari situ. Aura ini membuat Santo terkejut dan membatu. Tekanan yang dihasilkan oleh aura merah ini sangat kuat dan menandakan bahwa yang kini mendekati arah Minakjinggo bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.
"Cukup, sampai disitu perbuatanmu". Pandu mengawali perkataan. Dia, Handi, dan Flame berjalan kearah Minakjinggo dengan tatapan membunuh. Setelah dekat dengan Dani, Handi membantu Dani untuk berdiri, sedangkan Flame dan pandu tidak melepas pandangan terhadap Minakjinggo.
"Kau...Kenapa kau datang kesini hah? membuntuti ku ya"? Dani tidak terima kalau harga dirinya jatuh karena ditolong oleh bangsawan kelas menengah.
"Siapa pula yang nguntit kau. Kami kesini karena dimintai tolong Karis. Tau tau kau sudah tergeletak babak belur kayak berkedel". Kata Handi santai.
"APA KAU BILANG HAH"??
"Apa? Mau menghajarku? Yakin?? Kali ini kau yang bakal aku hajar lo".
"Pede banget! menghina"!
"Bisa diam tidak kalian berdua. Kalau kalian mau adu jotos seperti anjing dan kucing, silahkan lakukan. Tapi nanti, setelah kita pulang dari tempat ini". Flame membuat Handi dan Dani diam dengan perkataannya yang dingin dan tajam. "Karena saat ini, kita berempat akan membuat orang sok kuat di depan itu menyesal telah dilahirkan ke dunia".
"Hemph....Aku tidak kenal siapa kau. Tapi bicaramu boleh juga. Kami bertiga disini adalah pengguna baju tempur peninggalan Ajisaka. Aku DA, sibodoh ini HA, dan paman mesum disana itu PA. Lalu siapa kau? Kau hanya orang asing". Kata Dani meremehkan.
"Terserah kau menganggapku apa. Aku tidak peduli, jadi cepat angkat bokongmu dan hajar Orang yang punya nama sama dengan merek rokok itu bersama kami".
Dani berjalan bersama Handi dan berdiri disebelah kanan Pandu. Handi berdiri di kanan Dani, sehingga posisi keempat orang itu jadi sejajar dengan urutan dari paling kanan Handi, Dani, Pandu, Flame. Mereka berempat membuat pose untuk memanggil baju tempur masing-masing.
Handi memegang daun lontar ajaib ditangan kanan sambil membaca syair mantra, lalu meletakkan tangan kanannya sejajar dengan pundak kiri dan berkata GO AKSARA. Kemudian dia melempar daun lontar itu kedepan. Huruf-huruf jawa keluar dari daun lontar dan membentuk baju tempur menyelimuti tubuhnya, dengan huruf jawa HA menjadi helm.
Dani mengambil smartphonenya dan memegangnya dengan tangan kanan, dia menggerakkan tangan kanannya ke pundak kiri, dan tangan kirinya memencet smartphone itu. Terdengar suara COSTUME READY. Dani berteriak ACTION!!! dan mengarahkan smartphone itu ke depan untuk mengeluarkan baju tempur yang kemudian menyelimuti tubuhnya, dengan huruf jawa DA membentuk helm.
Pandu menciptakan bola api di tangan kanannya. Dia melemparkan bola api itu ke atas sambil membaca mantra. Percikan api itu jatuh dan menutupi tubuhnya membentuk baju tempur, dengan huruf jawa PA membentuk helm.
Flame menyilangkan tangannya hingga masing-masing tangan sejajar dengan pundak. Dia berkata AWAKENING, sambil memetik jari dan menarik kedua tangannya, sehingga sekarang posisi tangan sejajar dengan pundak masing-masing. Lingkaran merah muncul di tanah dan menciptakan sinar emas yang menutupi tubuh Flame membentuk baju tempur dengan huruf Jawa MA membentuk helm dan jubah.
"What....Kau...Tapi aku kira semua tim 4 sudah berumur lebih dari satu abad. Seharusnya kau sudah mati". Dani terkejut melihat Flame yang memakai baju tempur MA. "Terlebih lagi,.. Kau orang asing. Darah Jawa sama sekali tidak mengalir di nadimu".
"Persetan dengan darah pribumi. Yang penting aku bisa memakai armor ini kan". Sanggah Flame.
"Oke teman-teman. Saatnya beraksi". Teriak Handi sambil menerjang Minakjinggo.
#####
Kali ini keadaan berbalik, Minakjinggo bagai di terjang oleh lahar panas yang datang bertubi-tubi. Flame menyerangnya dengan dua pedang andalannya Hikari dan Hoono. Handi dan Dani, masing-masing menggunakan pedang Garuda dan Rebab besi, sedangkan Pandu sebagai support, menyerang menggunakan tembakan bola api.
Menghindari satu serangan, membuat Minakjinggo dihantam serangan yang lain. Keempat orang itu tidak memberi ruang bagi lawan mereka untuk memikirkan taktik balasan, sehingga saat ini Minakjinggo hanya bisa menahan gempuran silih berganti dari Handi, Flame, Dani, dan Pandu.
Handi menebas pundak kiri Minakjinggo yang ditahan oleh tangan kanan lawannya itu. Tapi hal ini memberi kesempatan Dani untuk memukul rusuk kanan Minakjinggo dengan keras. Menjerit kesakitan, wajah mikajinggo ditendang oleh Flame, sehingga tubuhnya jatuh ketanah. Minakjinggo tidak sempat menjaga keseimbangan, dan seketika itu tiga orang melompat di atasnya dan menebaskan senjata mereka untuk menjatuhkan Minakjinggo lebih cepat lagi. BRUAKKKKK tubuh berat Minakjinggo Amblas tertelan tanah.
Terbakar amarah karena dirinya dipermainkan oleh empat orang yang berelemen api, Minakjinggo menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk berubah menjadi gagak hitam yang sangat besar. Dirinya melayang ke udara, membumbung tinggi, sehingga lawan-lawannya tidak bisa mencapai dirinya. Dari ketinggian, dia melontarkan halilintar yang menyambar dan membakar area hutan. Flame dan teman- temannya menghindar, tapi tidak cukup cepat, sehingga beberapa halilintar berhasil mengenai tubuh mereka.
Minakjinggo lalu terbang dengan cepat dan menyambar Dani serta Pandu sehingga kedua orang ini melayang. Handi melompat untuk menangkap Pandu, dan Flame menggunakan Hikari, untuk membuat pijakan bagi Dani, dan melempar Dani kembali kearah Minakjinggo. Dani dengan kecepatan penuh, memukulkan rebabnya ke paruh gagak itu, KRAAKKKKK suara paruh retak terdengar dan tubuh gagak itu oleng ketanah. Masih dalam wujud gagak rasasa, kali ini Minakjinggo menghempaskan lawannya dengan angin kencang. Handi dan ketiga temannya mundur hingga menabrak pohon. Mereka menjaga jarak dari angin kencang yang berasal dari sayap Minakjinggo.
"Kalian bertiga, keluarkan senjata kalian. Salurkan energi kalian di senjata itu dan berdiri dibelakangku serta gabungkan senjata kalian dengan dua pedangku ini." Kata Flame.
"Apa yang akan kau lakukan dengan hal itu"? Tanya Dani tidak paham.
"Kau akan lihat nanti".
Handi, Dani, dan Pandu memegang pedang, rebab, dan bola api di belakang Flame. Mereka bertiga mengangkat senjata mereka keatas sambil berkonsentrasi menyalurkan energi. Hal ini tidak mudah, karena disaat yang bersamaan, terpaan angin kencang terus menerus datang dari Minakjinggo. Flame yang sudah tahu bahwa ketiga orang dibelakangnya sudah mulai menyalurkan energi, mengangkat kedua katananya keatas dan menyalurkan energinya ke kedua katana itu.
Aura keemasan berbalut api yang melilit aura itu dari bawah keatas terlihat mulai memancar di ujung kedua katana Flame. Aura ini makin lama makin terang dan membentuk sebuah pedang yang besarnya mencapai lima kali pohon beringin. Api yang melilit aura pedang itu, berubah menjadi seekor burung api yang kemudian melebarkan sayapnya hingga melingkupi keempat orang dibawah. Flame menjaga keseimbangan dengan memegang pedang besar bernama Jatayu itu sambil menahan dirinya dari terpaan angin. Saat Pedang itu sudah semakin solid, karena energi dari keempat orang itu sudah cukup, Flame, dengan satu tebasan besar, menebas Minakjinggo yang berwujud Gagak hitam sehingga terbelah menjadi 2. BLARRRRRRRRRRRRRRRRR Ledakan dahsyat menggema diseluruh hutan, membutakan penghuninya dengan sinar emas dan jilatan api.
#####
Dani melihat jiwa-jiwa beterbangan dari tubuh Minakjinggo yang makin lama makin memudar. Jiwa-jiwa ini kembali ketubuhnya masing-masing. Meninggalkan Minakjinggo dan melemahkan kekuatannya. Setelah jiwa yang terakhir menghilang, Minakjinggo lenyap ditelan malam. Bulu-bulu hitam gagak menyebar disekitar tempatnya berada terkahir kali.
"Kau pikir dia mati"? Tanya Dani.
"Tidak. Aku rasa dia tidak akan mati semudah itu". Jawab Flame sambil berjalan pergi.
"Kemana kalian setelah ini"?
"Pulang, aku sudah bertemu dengan Sintha. Orang yang kau dan teman-temanmu bangkitkan. Dan kami akan berkumpul dirumah Handi untuk membahas langkah selanjutnya".
"Aku sarankan kau untuk ikut juga. Tapi tanpa tim mu. Aku belum bisa tahan melihat kelakuan mereka yang kayak kurawa itu". Kata Handi.
"Maumu... Kau pikir mudah memisahkan diri dari mereka. Lagipula aku akan dianggap berkhianat kalau sampai ketahuan bertemu denganmu".
"Ada Ratna juga lo".
"Apa urusanku dengan dia".
"Bukankah kau datang kesini untuk menyelamatkannya? Aku dengar dari Karis kalau mukamu seperti kepiting rebus waktu melihat Ratna jadi batu".
"Aku hanya menunaikan tanggung jawabku. Tidak ada hubungannya dengan dia".
"Paling tidak kau bisa menampakkan mukamu sebagai tempat untuk dia berterimakasih kan".
"Kau ini banyak omong ya".
"Terserah". Handi pergi bersama Pandu keluar dari Hutan. Mereka tidak menyadari kalau Santo juga menyelinap keluar bersamaan dengan mereka.
"Aku katakan padamu". Flame mengawali pembicaraan dengan Dani. "Cewek dimana-mana memang menyebalkan. Itu sudah jadi sifat dasar mereka, karena mereka sebenarnya tidak menemukan kata-kata dan kalimat yang sesuai untuk mengatakan bahwa mereka ingin diperhatikan".
"Maksudmu? Aku sudah memperhatikan cewek itu sejak aku SMA. Masih kurang"? Jawab Dani.
"Kesalahanmu adalah, kau bertingkah seperti anak kecil. Cewek mana yang mau diperhatikan oleh anak-anak".
"Aku berbuat seperti ini karena tanggung jawab yang diserahkan kepadaku atas dirinya".
"Tanggung jawab tidak termasuk dalam bersifat sok cool dan ganteng didepan cewek. Ratna itu tipe orang yang suka debat. Dia menilai seorang cowok bukan dari tampang dan harta. Tapi dari otak mereka. Kau bicara masalah tanggung jawab didepannya? Jangan bergurau. Tidak heran dia selalu mendepakmu."
"Apa maksud kalimatmu barusan"!?
"Akuilah....dia lebih dewasa daripada kau. Dia lebih paham apa itu tanggung jawab. Jadi jangan berlagak seolah-olah kau itu prince charming, yang selalu bisa menjaga dia. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Rubah sikapmu, karena jika kau terus begini, jangan harap kau dapat menjalin hubungan baik dengannya".
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Semua tindakan ku akan berakhir sebagai kesalahan dimata dia".
"Jika dia marah-marah didepanmu, peluk dia dan cium dia. Beres, masalah selesai. Karena dengan begitu, dia bisa tau seberapa besar kau peduli dengannya tanpa harus sok kuasa dan bicara soal tanggung jawab".
"Kau yakin"?
"Aku sudah berpengalaman". Flame berkata sambil melangkah meninggalkan Hutan bersama Dani.
Di depan Hutan, Dani mengikuti mobil Flame menuju kerumah Handi. Disana sudah terlihat Ica, Ratna, Jaka, Jonggrang, Cream, dan Sintha. Handi menanyakan pada Ica dimana Karis, dan Ica memberitahu kalau Karis dirawat di kamar tamu. Kondisinya masih belum stabil, sehingga Cream yang akan mengurusnya. Jonggrang mengajak Flame dan Sintha untuk berdiskusi. Handi, Pandu, Jaka, dan Ica memikirkan cara bagaimana melacak Dewata Cengkar, sedangkan Ratna, bersama dengan Dani pergi ke halaman belakang rumah.
"Jangan kira apa yang kau lakukan akan merubah pemikiranku terhadapmu". Kata Ratna.
"Aku tidak mengharapkan hal itu. Sifatmu yang sekarang ini sudah cukup. Paling tidak kegalakanmu sudah berkurang". Jawab Dani.
"Lalu apa maumu datang kesini? bukannya kamu paling anti dengan Tim kami karena keturunan darah kami"?
"Cepat atau lambat, Tim ku dan Tim kalian akan bersinggungan. Aku lihat tinggal dua orang lagi yang belum muncul untuk menggenapi jumlah 20 orang".
"He? bukannya kurang empat orang. Siapa dua orang lagi yang sudah kau ketahui"? "Akhirnya, kau penasaran dengan pembicaraanku. Ini pertama kalinya kau ingin tahu informasi dariku".
"Jadi....kau mau jawab atau tidak"?
"Dua orang itu adalah Irwandha dan Tania".
"Orang-orang yang ada dipihakmu. Iya kan". "Bisa dibilang begitu. Dan jika kita ingin 20 orang ini berkumpul, Tim ku dan Tim mu harus disatukan. Tidak ada jalan lain".
"Koalisi sementara, Oke. Penggabungan permanen, jangan harap".
"Fine by me". Dan Dani mencium Ratna.
"Lho,...ANATA, dimana Ratna dan Dani? Cream lihat tadi mereka berdua masih ada di ruang ini Nyaaa".
"Heh? mana aku tahu? Coba ka tanya Handi atau temannya". Jawab Flame yang masih berbincang- bincang dengan Jonggrang dan Sintha.
"Ratna ya, tadi dia ke halaman belakang dengan tunangannya". Jawab Handi.
"Umm, mungkin mereka masih ada urusan. Karena Cream rasa, tim kalian harus disatukan, dan perselisihan antar anggota juga harus disudahi".
"Aku pikir juga begitu". Jawab Handi sekenanya.
"Handi,..ngomong-ngomong, aku tidak melihat kucing garong hitam itu disini".
"Nanda? Dia ada di halaman belakang. Sejak dirinya tidak bisa berubah menjadi manusia, dia selalu bersemedi untuk mengatur energinya". Jawab Ica.
"Waduh gawat ini". Flame panik sambil memegang jidatnya.
"Gawat kenapa"? Handi tiba-tiba waspada dengan perkataan Flame.
"Aku meminta Dani untuk sendirian bersama Ratna. Tapi tidak menyangka akan ada seekor macan ditempat mereka sekarang".
"ANATA....apa Yang ANATA lakukan nyaaa"? Cream curiga kepada Flame.
"Heheheheehhe"
Dan dari arah halaman belakang terdengar suara yang sangat keras. PLAKKKKKKKKK

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger