Posted by : AksaraProject Thursday, September 8, 2011

"Macan Kumbang...(Kucing Garong)"



"Kita punya 3 kekuatan sekarang. 2 merah dan 1 putih, apa yang perlu kita takutkan"? Ucap Ratna saat dia bertemu dengan Handi dan Pandu di rumah Handi.
Beberapa jam setelah kegagalan Handi menculik Ratna - yang lebih dikarenakan Ratna sudah kabur terlebih dahulu dari rumahnya, - mereka bertiga berkumpul di ruang investigasi untuk membahas masalah Fragment Guardian yang keempat. Terlihat Ratna yang sekarang mulai pegang kendali, Handi dan Pandu diam mendengarkan. Yah walaupun sesekali Handi angkat bicara saat dia merasa ada yang kurang cocok dengan pemikiranya.
"Aku sudah melacak lokasi guardian yang keempat. Suatu keajaiban sampai sekarang dia belum mati". Kata Ratna sambil mengawasi layar monitor besar di tengah ruangan itu.
"Dan lokasinya"? Tanya Handi penasaran mendengar kata-kata Ratna.
"Di gunung kidul, kalau menurut peta ini, lokasinya lumayan terpencil". Jawab Ratna tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Jari tangannya masih sibuk menari diatas keyborad untuk memperbesar gambar.
"Pantas, itu bukan suatu keajaiban. tapi memang Caruga belum bisa sampai kesana".
"Memangnya ada apa dengan lokasi itu tuan"? Tanya Pandu.
"Tidak ada apa-apa sih, hanya saja lokasi itu susah dijangkau. Jalannya makadam, kita pergi kesana sama saja seperti ikut pecinta alam". Jawab Handi sambil beranjak mendekat ke Ratna.
"Kau pikir reptil-reptil itu butuh mobil? makhluk primitif seperti mereka pasti lebih memilih cara tradisional. Kita tahu kan kalau mereka bisa melompat sangat tinggi. Naik gunung menurutku bukan masalah". Ratna mengoreksi.
"Primitif,...kalau satu minggu yang lalu kau mengatakannya, aku akan bilang iya. Tapi sekarang, setelah apa yang aku dan Paman Pandu alami, aku akan bilang kalau otak mereka sudah makin besar sehingga bisa berfikir."
"Nona Ratna dan Tuan Handi sebaiknya berdiskusi dahulu, saya akan ke dapur membuatkan minuman hangat. Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya". Pandu beranjak dari tempat duduknya menuju dapur.
Ratna berdiskusi dengan Handi mengenai cara penyerangan Caruga belakangan ini. Bagaimana mereka berhasil 3 kali merebut fragment dan membunuh guardiannya. Handi menceritakan bagaimana dia dan Pandu terlambat menyelamatkan guardian kedua, dan rumah Pak Bowo yang tiba-tiba saja meledak seperti dipasangi bom dari dalam. Saat mereka membahas apa yang membuat Caruga lebih pintar, Ratna tiba-tiba mendapat sebuah gagasan.
"Handi, bisa kau ulangi lagi bagaimana cara bertarung mereka"? Tanya Ratna menunjukkan sikap antusias.
"Seperti biasa, membabi buta dan lebih mengandalkan otot daripada..."
"Otak. Iya kan".
"Hey..apa... ha"?? Handi terkejut dengan penjelasannya sendiri.
"Paham maksudku"? Tanya Ratna dengan tersenyum.
"Mereka masih mengandalkan otot mereka untuk berfikir. dengan kata
lain, sampai saat ini pun mereka tidak bertambah pintar. Jadi..."
"Ada sesuatu dibelakng mereka yang mengorganisir setiap gerakan dan perbuatan". Kata Handi dan Ratna bersamaan.
Bereka berdua tersenyum seolah berhasil menjawab misteri terbesar didunia. Tapi sesaat setelah senyuman mereka merekah, mereka kembali cemberut. Karena tugas yang lebih sulit harus mereka lakukan. yaitu menemukan siapa atau apa yang mengatur strategi untuk Caruga. Saat sibuk berfikir, Pandu datang membawa tiga cangkir kopi panas. Handi segera meminum kopi bagiannya, karena sudah merasa kedinginan dari tadi. sedangkan Ratna meminum kopinya dengan perlahan-lahan.
"Kau minum kopi seperti minum jus". Kata Ratna menyindir.
"Dingin tau. Hey....kenapa denganmu? Bukankah biasanya kau juga begitu?
Malahan kau duluan yang suka minum dengan tergesa-gesa". Handi memprotes.
"Itu dulu Han". Jawab Ratna tenang.
"Aku curiga kau kena jampi-jampi. Sikapmu jadi seperti seorang cewek tulen sekarang".
"Kau tahu alasan kenapa cewek lebih kalem daripada cowok"?
"....."
"Karena mereka lebih cepat dewasa. Umur cowok mungkin tetap bertambah, tapi pola pikir mereka lebih lambat berkembang".
"Ulangi lagi kata-katamu dan aku akan plester mulutmu pakai selotip".
"Benarkan apa kataku. itu buktinya." Ratna meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong, sambil tersenyum.
Pandu membereskan cangkir kopi yang ada di meja, dan mengembalikannya ke dapur. Setelah semuanya siap, mereka bertiga berangkat menuju ke Gunung Kidul. Tempat dimana Fragment Guardian keempat berada. Tapi saat akan melewati pintu depan, Handi tiba-tiba berhenti.
"Tunggu...kita mau naik apa"? Tanya Handi.
"Ya mobil donk tuan." Jawab Pandu heran mendengar apa yang ditanyakan tuannya.
"Mana bisa mobil sedan mendaki gunung"?
"Oh iya...jadi, apakah kita akan jalan kaki kesana"?
"Saipi Angin." Kata Ratna lirih sambil meniupkan sesuatu kearah Pandu dan Handi. "Dengan ini sekarang kita bisa terbang kesana. Efek sihirnya akan hilang setelah 20 menit, jangan buang-buang waktu lagi".
"Maksudmu opo nduk"? Handi yang masih belum paham apa yang dikatakan Ratna, meminta penjelasan.
"Maksudku seperti ini". Kata Ratna sambil mengangkat tubuhnya keudara.
Pandu dan Handi kaget melihat tubuh Ratna mampu melayang 30 centimeter diatas tanah. setelah beberapa saat, mereka paham. Tadi Ratna menggunakan magic saipi angin untuk meringankan tubuh mereka dan membuat mereka bisa terbang selama 20 menit. Handi cengingisan setelah mengetahui hal itu. Dan mereka pun terbang ke Gunung Kidul menembus udara Jogja yang lebih dingin pada malam itu.
#####
Handi dan Ratna turun lebih dulu kedepan rumah Guardian keempat. kaki kanan Ratna yang terlebih dulu menyentuh tanah. diikuti dengan Handi dan yang terakhir Pandu. Kali ini, Pandu akan berjaga diluar, sedangkan Handi dan Ratna akan menjaga Guardian itu didalam rumah. Jika ada hal aneh yang terjadi didalam, Handi dan Ratna akan segera keluar rumah dan menyelamatkan Guardian beserta fragment yang dia jaga. Setidaknya itu yang mereka bertiga rencanakan selagi mereka menembus tipisnya awan malam menuju ke ketinggian gunung yang tipis oksigen.
Saat ini mereka bertiga berdiri di hadapan sebuah rumah tua, kalau tidak mau dibilang gubuk, karena dindingnya bukan terbuat dari batu bata, tetapi dari anyaman bambu. Atap rumah yang memayungi tempat itupun juga tidak terbuat dari genteng. Hanya tumpukan jerami terlihat saling tindih seolah berusaha untuk bekerjasama menghangatkan siapapun yang ada didalam rumah.
"Paman, yakin ini rumah? seperti tempat nepi begini"? Tanya Handi.
"Rumah jaman dahulu memang seperti ini tuan". Jawab Pandu pelan.
"Aduh...baru beberapa menit yang lalu kita ada di gemerlap kota dengan teknologi canggih, sekarang kita sudah berada di antah berantah". Kata Handi meratapi nasib.
"Ucapkan selamat tinggal pada peradaban". Kata Ratna sambil berjalan menuju pintu rumah. dia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian, pintu yang juga terbuat dari anyaman bambu itu terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki yang sudah berumur sekitar 60 tahun an. Rambut dikepalanya sudah memutih, tubuhnya kurus dengan kulit yang terbakar matahari. Sejenak, Handi iba melihat perbedaan yang ada didepan matanya. Dia sadar, jika masih banyak di kota ini, orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. sedangkan orang-orang kaya, terlebih lagi para kaum muda yang tinggal di kota sama sekali tidak peduli dengan apa yang ada disekeliling mereka. Mereka lebih sibuk mengikuti trend, dengan bergonta-ganti handphone, i-pad, PC, Laptop, dan menghambur-hamburkan uang orang tua mereka hanya demi mengejar kesenangan, yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Ketika Handi sedang sibuk melamun, terlihat orang tua itu berbicara kepada Ratna. Setelah terdengar beberapa percakapan yang diutarakan dalam bahasa krama, orang itu mempersilahkan Ratna masuk. Ratna pun memberi isyarat kepada Pandu dan Handi untuk ikut kedalam.
"Tuan, ayo masuk." Kata pandu membuyarkan lamunan Handi.
"Um..paman, sebaiknya kita ubah rencana kita. biar aku yang menjaga diluar, paman dan Ratna didalam saja. Aku rasa, aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menghadapi Caruga disini".
"Baiklah,..Tuan berhati-hatilah disini". Jawab Pandu sambil beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju kedalam rumah.
Handi menghabiskan waktu sekitar setengah jam duduk didepan rumah sambil mengawasi, jika saja ada sesuatu yang mencurigakan. lama-kelamaan dia bosan juga. Kaki dan tangannya sudah menggigil kedinginan. Saat gigi gerahamnya sudah mulai beradu, Handi menyalakan api dari telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Hal ini wajar, karena Handi adalah Pyromancer. Atau yang bisa disebut sebagai orang yang bisa mengendalikan api. Agak merasa hangat, Handi mulai fokus kembali memandang sekeliling.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu diantara pepohonan hutan. Handi menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Kegelapan yang tercipta diantara rimbunnya pohon di hutan itu, tampak aneh. mula-mula pecampuran warna hitamnya terlihat wajar dan merata. tapi sesaat kemudian, terlihat, walau samar, warna Hitam itu bergerak kekanan. Kali ini Handi bisa melihat perbedaan antara latar belakang yang berwarna hitam kebiruan, dengan sosok yang bergerak itu. karena sosok itu berwarna hitam legam. Handi akan beranjak dari tempatnya duduk, saat dia melihat ada dua cahaya kuning yang berkedip diantara warna hitam yang dipandanginya.
"Keluar kau, makhluk kegelapan!!. Atau aku bakar kau dengan api ditanganku". Teriak Handi memperingatkan apapun yang dia perhatikan dari tadi. Tangan Handi menciptakan bola api yang terus berputar, siap dilemparkan.
Setelah menunggu selama beberapa saat. dari dalam kegelapan muncul sesosok manusia yang mengenakan jumper berwarna hitam. Celana kain dan sepatu yang dipakainya juga berwarna serupa. Dia adalah pemuda dengan mata tajam, dan dari raut mukannya, Handi bisa menebak kalau orang didepannya ini bersifat tempramental.
"Siapa kau"? Bentak Handi.
"Apa putra seseorang dari kerajaan tidak tahu cara bersopan santun? Meminta orang lain menyebutkan nama, tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dulu". Jawab pemuda itu santai sambil merapikan rambut hitam pendeknya yang berantakan.
"Jangan banyak omong. Sopan santun bukan hal yang pantas untuk digunakan saat berbicara dengan seorang penguntit sepertimu! Jangan-jangan kau yang selama ini mengorganisir Caruga".
"Grrrr....Siapa yang kau bilang penguntit"!?
"Kau.. siapa lagi".
"Aku ada disini untuk mengamankan fragment yang dibawa oleh pak tua disana". Pemuda itu menunjuk kedalam rumah.
"Sudah kuduga!! kau datang untuk merebut fragmentnya. Langkahi dulu mayatku".
"Aku hanya perlu melompat untuk bisa melangkahi tubuhmu yang masih hidup".
"Buktikan". Api ditangan Handi semakin besar.
"GRAAWWWWWW" Pemuda itu melompat sambil menerjang kearah Handi.
Dengan cekatan, Handi bergerak kesamping kiri dengan tanganya yang sudah diselimuti api, memukul perut lawannya. Pemuda itu balas menonjok muka Handi dengan tangan kanan. Mereka berdua kembali ke posisi mereka masing-masing. kali ini mereka bersiap untuk berkelahi. Pemuda itu bersiap untuk kembali menerjang Handi. Dia sudah memasang kuda-kuda, saat sesosok Caruga tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil membuka mulut lebar-lebar. Pemuda itu memutar tubuhnya dengan cepat, lalu menendang rahang bawah Caruga dengan keras. BRAKKKK...terdengar suara tulah rahang yang patah. Caruga tadi berguling kesakitan, melihat hal itu, pemuda misterius itu segera memukul Caruga dengan bertubi-tubi. darah segar dari tubuh Caruga bercipratan kesegala arah.
"Kita akan bertarung pada lain waktu. saat ini aku sibuk membantai kadal busuk ini". Kata pemuda itu sambil menoleh kearah Handi yang masih berdiri didepan pintu rumah. wajahnyapenuh noda darah, kedua matanya yang kuning makin terkihat jelas diantara darah yang mengalir.
Dari sisi kiri dan kanan, tiba-tiba muncul lagi 3 Caruga. mereka menerjang Handi yang dikira tidak siap dengan kedatangan mereka. diluar dugaan, Handi dengan cepat juga memukul masing-masing Caruga dengan sangat keras. Setelah itu, Handi melompat mengahampiri pemuda misterius didepannya.
"Aku lihat kau cukup menikmati membunuh makhluk itu. Dan Caruga didepan terlihat benci sekali denganmu". Kata Handi sambil bersiap bertarung.
"Heh....seharusnya aku yang berkata seperti itu". Jawab pemuda itu.
"Yah,..apa boleh buat. Musuh dari musuhku adalah temanku. Tapi jangan kau kira kita akan berdamai. aku belum selesai denganmu"!! kata Handi sambil mengeluarkan daun lontar ditangan kanannya.
"Haha...ini akan jadi semakin menarik." Pemuda itu juga mengeluarkan daun lontar dari saku celananya.
"Kau?? Bagaimana bisa??" Handi terkejut melihat cowok itu juga memiliki daun lontar ajaib.
"Simpan rasa penasaranmu sebagai makanan penutup". Kata pemuda itu sambil menendang Caruga yang datang kearahnya.
Pemuda itu membaca dua baris bait yang tertulis di daun lontar miliknya. Setelah selesai membaca, terlihat huruf-huruf dari daun lontar itu membungkus tubuhnya dan membentuk baju tempur berwarna hitam dan putih. Selanjutnya, Huruf jawa NA menempel di wajahnya membentuk helm. Tidak mau kalah, Handi juga melakukan hal yang sama dan tubuhnya juga terbungkus baju tempur berwarna merah dan putih, dengan huruf jawa HA membentuk helm untuk melindungi kepalanya.
Kini mereka berdua saling adu jotos dengan 3 Caruga yang menyerang mereka. Handi berhasil memukul jatuh seekor Caruga, saat Caruga lain melompat dari belakang, berusaha untuk menyergapnya. Tapi tubuhnya terlontar karena ditendang oleh pemuda itu. Saat dia mendarat, Caruga ketiga mengibaskan ekornya untuk menyabet, tapi dihalangi oleh Handi yang menangkap ekor dan melemparkan Caruga itu kearah Caruga yang baru ditendang pemuda tadi. Caruga pertama yang dipukul Handi, kini bangkit, Handi dan pemuda itu memukul Caruga dengan keras sehingga terpental menindih kedua Caruga sebelumnya. Merasa dipermalukan, ketiga
Caruga itu menyerang secara bersamaan. Handi dan pemuda itu menghujani muka mereka dengan tendangan bertubi-tubi. Dan pada akhirnya pemuda itu memegang kepala seekor Caruga, kemudian mematahkan lehernya. KRAKKKKKK...Bunyi leher yang patah memastikan kematian seekor Caruga. Handi Memukul Caruga kearah atas, tubuh Crauga itu terlempar bersama dengan percikan api. Saat tubuh yang berat itu meluncur turun, Handi menahan dengan kedua tangannya dan kemudian mengeluarkan api yang menembus tubuh Caruga tersebut.
Caruga terkahir sadar kalau dirinya sekarang kalah jumlah, mencoba untuk lari dari area pertarungan. menghilang diantara pepohonan, tapi dikejar oleh pemuda misterius itu. beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan diikuti oleh cabikan dan cipratan darah. Handi selama beberapa saat terpaku, dia merasa jijik bercampur takut. Setelah itu terlihat si pemuda keluar dari gelapnya hutan. baju tempurnya sudah meninggalkan tubuhnya. kini baju dan celananya penuh noda darah. dari mulutnya masih terlihat sisa darah segar mengalir.
"Kau...memakannya"?
"Tidak, aku hanya memutilasi tubuhnya, aku sempat berniat untuk membakarnya nanti, jika aku lapar".
"Menjijikkan tau".
"HAHHAHHAHAH bercanda. Aku bukan kanibal yang suka makan daging monster".
Saat Mereka berdua sedang berbicara, tiba-tiba Ratna terlihat melompat keluar
menerobos dinding rumah. Tangannya menggandeng Guardian keempat yang terlihat pucat seperti ahbis melihat hantu. Pandu yang sudah terbungkus baju tempur, terlihat bertarung dengan seseorang didalam rumah. Dan rumah itu terbakar. Pandu ditendang keluar menabrak tubuh pemuda misterius yang sejak tadi berada diluar dengan Handi.
Ratna mengeluarkan daun lontarnya dan membaca baris syair yang akan menutup tubuhnya dengan baju tempur dan huruf jawa RA berubah menjadi helm. Tubuhnya dibalut baju tempur dengan warna putih. Pemuda misterius tadi kembali memakai baju tempurnya, sehingga saat ini ada 4 orang berbaju tempur yang berdiri diluar rumah, menunggu siapapun yang keluar dari dalam untuk kemudian menghajar pantatnya.
Terlihat sesosok manusia memakai baju tempur yang terbuat dari besi bercampur tulang. ditangan kanannya memegang fragment yang keempat. Pemuda misterius segera menerjang diikuti oleh Ratna. Handi dan Pandu menembakkan bola api beruntun kearah lawan mereka kali ini.
"Ambil Fragmentnya!!!! Jangan biarkan dia kabur"!!! Teriak pemuda misterius itu. Dia memukul wajah lawannya, tapi ditahan oleh tangan kiri sosok itu. Dengan mudah sosok itu memuntir tangan si pemuda, dan melemparkannya kesamping. Ratna yang menendang, berhasil dihindari, lontaran bola api dari dua orang di depan rumahpun juga dengan mudah ditangkisnya.
"Kalian tidak akan bisa menang melawan Minakjinggo". Kata sosok itu sambil tertawa.
"Tutup mulutmu"!!!! Pemuda itu memukul secara bertubi-tubi.
Handi dan Ratna kini membantu. Tendangan dan pukulan dari tiga arah dengan tenang dihalau oleh Minakjinggo. Merasa dirinya diatas angin, Minakjinggo melontarkan energi hitam ke tanah dan meledak, melemparkan Handi, Ratna, dan pemuda misterius itu keluar. rumah yang tadi terbakar, kini rusak tidak bersisa akibat ledakan energi tadi. Minakjinggo menghilang dan muncul tiba-tiba didepan Pandu. Pandu yang siap siaga, menangkis 3 pukulan dari Minakjinggo. Tapi pukulan keempat, gagal ditangis, sehingga mengakibatkan Minakjinggo bisa melancarkan pukulan bertubi-tubi kearah Pandu.
Pandu terjatuh tak sadarkan diri. Ketiga orang yang lain juga terluka sehingga tidak bisa banyak membantu. Orang tua yang menjadi guardian keempat pun juga pingsan. Akhirnya Minakjinggo menghilang dengan membawa fragment yang keempat. Kepergiannya disaksikan oleh ketiga orang yang masih sadar. Pemuda misterius itu berteriak tidak terima dengan kekalahan yang dia alami. Teriakannya tenggelam ditelan malam.
#####
"AARRRGGGGHHHH Aku tidak percaya aku gagal melindungi fragment yang keempat"!!! Raung pemuda misterius itu. tangannya memukul-mukul batang pohon untuk melampiaskan kemarahannya.
"Tenangkan dirimu. paling tidak, guardian yang keempat tidak tewas ditangannya". Hibur Handi.
"Persetan dengan nyawa orang itu!! yang terpenting adalah fragmentnya!! bukan dia"!! Pemuda itu makin marah.
"Apa katamu!!? Kau anggap nyawa seseorang tidak penting"!! Handi juga tersulut emosi mendengar jawaban yang diucapkan cowok misterius didepannya.
"GRRRRR....Apa gunanya nyawa seorang kakek tua, jika Akhirnya mereka berhasil membangkitkan Dewata Cengkar"!!
"KAU!!! Dasar tidak tau diri. nyawa manusia kau anggap remeh"!! Handi memukul wajah pemuda itu. BUAKKKK.
"Mau cari mati ya"!?
"Kau yang cari mati!!"
"GRAAAWWWWWHHH" Pemuda itu menerjang Handi. Mereka berdua berkelahi saling adu pukulan dan tendangan. "Gara-gara kalian yang mementingkan orang tua itu, kalian jadi lemah"!!!
"Orang lemah tidak bisa merontokkan gigimu seperti ini"!! BRAKKKK
"HENTIKAN KALIAN SEMUA"!!!! Ratna berteriak sambil menendang kedua orang yang berkelahi dihadapannya. "Kalian ini seperti anak kecil yang bertengkar karena mainannya direbut orang"!! Mata Ratna menatap Handi dan pemuda itu dengan tatapan membunuh.
"Nona Ratna..." pandu yang sudah sadar kini terlihat bersama guardian keempat, mereka berdua duduk bersandarkan pada batang pohon besar.
"Paman, biarkan aku yang mengurus mereka. jika seperti ini, bagaimana kita bisa menang. Dengan kalangan sendiri saja masih tidak akur".
Ratna memukul perut Handi, sehingga Handi terduduk dan kesakitan. Setelah itu, dia menjambak rambut pemuda misterius itu dan menghantamkan mukanya ketanah. Pemuda itu juga kesakitan dan terduduk. Ratna berdiri diantara mereka berdua dengan berkacak pinggang.
"Handi!!! Kau harusnya malu, sebagai anak seorang raja, bukankah kau dilatih untuk berfikir dulu sebelum bertindak. tapi yang aku lihat, kau lebih cepat terbakar emosi daripada seutas tali yang diberi minyak tanah". Ratna marah kepada Handi.
"Tapi dia..." Handi membela diri.
"Diam!! lihat dirimu sebelum kau membantah omonganku tadi". Kata-kata Ratna membuat Handi terdiam. "Dan Kau!! Aku tidak kenal siapa kau, tapi kau dengan seenaknya datang dan adu jotos dengan dia!!" ratna memarahi pemuda itu sambil menunjuk Handi.
"GRRRR" Pemuda itu akan memukul Ratna, tapi tangan Ratna lebih cepat memukul wajahnya.
"Dia punya daun lontar ajaib juga". Kata Handi.
"Darimana kau punya itu"!!? Tanya Ratna.
"Tidak ada gunanya aku bertahu kau!! GRRRR..."
"Kita lihat apa kau masih bisa bertingkah seperti itu setelah kepalanku mendarat lagi dimukamu". Ancam Ratna.
Luka yang dideritannya, ditambah luka yang didapatnya dari pukulan Ratna membuat pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun dia ingin menghajar balik. Akhirnya dia berkata...
"Daun Lontar itu milik keluargaku. Aku mewarisinya. PUAS"!!
"Belum... Sekarang kau ikut kami. Membiarkan mu berkeliaran dan bertindak semaumu, akan membahayakan orang lain. merujuk pada pola pikirmu yang impulsif". Kata Ratna.
"Kalau aku menolak"!???
"Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berkelahi untuk esok hari, dan selamanya".
"GRRR awas kau.."
"Ancam aku sesuka mu. Tapi kau pasti juga tahu. para pemegang daun lontar harus dikumpulkan untuk bisa mengalahkan Dewata Cengkar, apabila dia berhasil dibangkitkan".
"Sekarang kita hanya bertiga. sedangkan mereka sudah punya empat fragment". Timpal cowok misterius itu.
"Kurang 2 lagi kan". Ucap Handi.
"Bukan 2, Tapi kurang 16 orang lagi". Jawab Ratna.
"Hah????"
"GRRR...sudah aku bilang tidak ada gunannya".
"Aku akan jelaskan semuanya dirumah. Sekarang kita bawa guardian keempat itu ke rumah sakit".
Pandu, dan Handi memapah orang tua itu, Ratna kemudian membacakan mantra Saipi angin, yang membuat mereka bertiga (dirinya, Handi, dan Pandu) Bisa melayang. Ratna juga menawarkan pada pemuda misterius itu, tapi ditolaknya. Dia bilang akan sampai dirumah Handi saat mereka bertiga sudah ada disana. Handi dan Pandu bersiap terbang meninggalkan lokasi ketika Ratna menanyakan satu hal kepada pemuda misterius itu.
"Omong omong, siapa namamu"?
"Nanda". Jawab pemuda itu tidak acuh.
"Hmmm.... itu menjelaskan segalanya". Kata Ratna sambil terbang meninggalkan pemuda itu dihutan. Mereka berempat berpencar, untuk menuju tujuan masing-masing. Nanda yang masih ada dihutan, scara perlahan menghilang menjadi kabut hitam dan berbaur dengan malam.

Bersambung...............





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger