Posted by : AksaraProject Tuesday, September 6, 2011

"Penyelamatan Sepupu...(Culik Putri raja)"



Puing-puing rumah pak Bowo masih dikerumuni tetangga dan polisi yang mencoba mengusut asal-usul kebakaran itu.
"Kompor mbleduk ya"? Tanya salah seorang ibu-ibu yang suka bergosip. "Bukan, gara-gara bakar sampah mungkin. Kan belakangan ini angin kenceng
banget". Jawab ibu yang lain.
"Eh, malem-malem bakar sampah, kurang kerjaan"? Sanggah seorang hansip.
"Hush, Bukannya mbantu polisi ngusut kasus, malah nge-gosip". Ketua RT menyelesaikan perdebatan mereka.
"Rumahnya dibakar Monster". Teriak salah satu anak kecil.
"Ini lagi,...kecil-kecil udah suka gosip. gedhenya mau jadi apa ntar"!? Pak RT mulai naik pitam.
"Mau jadi Ultraman". Jawab anak itu sekenannya.
"GRRRRR...Ini anak siapa"!!!!???
Di keremangan malam itu, tanpa penduduk sadari, ada siluet hitam mengawasi
rumah pak Bowo. Siluet itu sudah mondar-mandir bahkan sejak Handi dan Pandu meninggalkan rumah itu dua jam yang lalu. Mata kuning emas memancar dalam kegelapan, bagaikan bulan bersinar tajam. Saat penduduk kembali kerumah masing-masing, siluet itu berjalan mendekati rumah pak Bowo. keempat kakinya melangkah tanpa suara, bagaikan ada udara tipis yang membatasi telapak kakinya dengan tanah. Makin lama, mulai terlihat wujud sebenarnya dari makhluk itu. Macan kumbang. Dia hanya duduk diam dengan kaki belakangnya selama kurang lebih 30 menit. Kemudian dia menghilang, berubah menjadi kabut hitam dan menyatu dengan warna malam.
#####
Handi terbangun dari tidurnya pada jam 5 pagi. Matanya masih merah karena hanya tidur sebentar. Dia meraba-raba meja sebelah kanan tempat tidurnya mencari jam, lalu mengamatinya. Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan melakukan latihan bela diri di pagi hari. Saat membuka pintu belakang rumah, Handi melihat Pandu, abdi dalemnya sedang meditasi.
"Belum tidur paman"? Tanya Handi.
"Belum tuan, Paman hanya perlu untuk mengistirahakan pikiran". Jawab Pandu tenang.
"Walaupun aku kurang paham,...okelah. HOOAAAAAAHHMMMM"
"Jika tuan masih lelah, tuan istirahat dulu. Urusan rumah, biar saya saja yang mengerjakan".
"Tidak tidak,...Aku mau latihan. Stamina dan skill ku masih kurang."
"Skill dan Stamina tuan sudah cukup. Hanya saja sifat tuan yang masih belum bisa tenang".
"Itu masalah lain".
"Itu masalah yang sama".
"Tidak berpengaruh ke kemenangan pertarungan kok".
"Berpengaruh sekali".
"Beri aku contoh atas argumenmu"!
"Saya tidak perlu mengingatkan masalah tadi malam".
"...... oh itu...."
Handi berjalan ke halaman belakang. dan mulai belatih pernafasan untuk mengatur dan menenangkan pikiran. Dia sedikit ogah-ogahan untuk melakukan latihan ini. Karena selama ini dia yakin kalau kunci dari kemenangan dalam pertarungan, ada pada akal, kemampuan bertarung, dan skill atau ilmu bela diri. Tapi kejadian yang mereka berdua alami tadi malam, membuktikan bahwa sifat licik bisa menendang pantat ketiga aspek yang diunggulkan Handi.
Tak terasa sudah satu jam Handi bermeditasi. Sebenarnya dia tidur sih, hanya saja posisi tidurnya seperti orang meditasi. Pandu yang sudah pergi kedalam rumah duluan, sekarang terlihat menyapu ruang utama dan membersihkan perabot rumah. Suasana rumah itu terlihat tenang, udara pagi yang sejuk berhembus dari celah ventilasi di tembok dan dinding rumah. Kicauan burung terdengar beriringan disela-sela batang pohon. Sangat kontras dengan jalan raya didepan rumah yang penuh dengan suara deruman mesin motor dan mobil.
Pikiran Handi melambung membayangkan apa yang telah dilakukannya selama ini. Dari mulai daun lontar berisi dua bait tembang jawa warisan ayahnya, identitasnya sebagai keturunan dari Ajisaka, sang raja tanah Jawa. Kewajibannya mencegah kebangkitan Dewata Cengkar, serta kegagalannya dalam menyelamatkan 3 orang fragment guardian.
Tiba-tiba, kilasan bayangan tadi membentuk sesosok wajah yang familiar bagi Handi. Wajah seorang perempuan berkulit putih kekuningan, matanya agak sipit bagai angsa, bertambah indah dengan warna mata cokelat muda yang berkilau tertimpa cahaya. Rambutnya yang panjang sepunggung, lurus dan lembut, sehingga ketika dia menoleh, rambutnya akan berkibar searah tiupan angin. Senyum merekah dibibirnya yang merah. Sambil tersenyum, perempuan ini mendekati Handi. dan berkata.....
"BANGUN Anak Pemalas"!!!!
"WOAAAA" Handi berteriak gelagapan sambil melihat sekeliling,...tidak ada siapa-siapa di halaman belakang itu. Handi hanya mampu mengelus dada mengingat mimpi buruknya barusan.
"Tuan...ada apa? Anda kelihatan pucat". Pandu datang dari arah ruang tamu. Ditangannya masih membawa sapu.
"Mimpi buruk, Ada Caruga menonjok wajahku". Kata Handi ngeles.
"Anda...takut dengan Caruga"?
"Aneh"??
"........."
"Ada masalah"?
"Tidak ada....saya melanjutkan bersih-bersih rumah". pandu berjalan memasuki rumah lagi, kali ini sambil cekikikan.
"Paman,..oh iya, setelah ini kita membahas urusan yang tadi malam. Kebetulan hari ini aku tidak ada kuliah. Soal sarapan, biar aku saja yang menyiapkan". Kata-kata Handi dijawab dengan anggukan oleh Pandu.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, dan sarapan nasi gudhek disantap diatas meja makan, Handi dan Pandu kembali membahas masalah fragment keris dan Caruga.
"Tinggal dua lagi, dan kita kiamat". Kata Handi.
"Bukan hanya kita tuan,..Tapi seluruh penghuni tanah Jawa". jawab Pandu.
"Menarik, jadi kalau kita kabur ke Bali, atau Kalimantan, kita tidak akan kiamat".
"Tidak juga sih, karena mereka juga akan menginvasi pulau lainnya kan".
"Hanya tinggal tunggu waktu ya"?
"Takutnya seperti itu".
"Aku heran, apa nantinya mereka juga akan menginvasi negara lain ya"?
"Kenapa anda bertanya seperti itu"?
"Penasaran saja".
"Tidak Tuan,.. Visa dan Paspor sekarang mahal dan prosesnya makin sulit. apalagi untuk tujuan invasi. Untuk tujuan wisata saja sudah harus membayar sekitar 300 ribu".
"He...."?
"Um....lupakan apa yang saya katakan. Kita kembali ke pokok masalah".
"......"
"Tuan, saya sarankan lagi kepada anda untuk meminta bantuan. Kita kalah jumlah dan kalah otak disini. dengan kata lain, sumber daya kita kurang".
"lalu siapa paman,...yang bisa kita mintai bantuan? Karena yang aku tau, hanya kita berdua yang mempunyai kekuatan untuk membunuh mereka."
"Ada dua orang lagi yang anda ketahui tuan".
"Jangan mereka".
"Kenapa"?
"Paman tau sendiri kan, yang satu galak minta ampun, yang satunya lagi dingin dan sok pintar".
"Kami abdi dalem bukannya sok pintar tuan, kami hanya dilatih untuk menngobservasi dulu, sebelum bertindak. yah...walaupun aku juga kurang suka pada sikapnya. Tapi untuk yang satu lagi,...galak? Apa maksud tuan"?
"Hmph" Handi menelengkan muka seakan tidak peduli. Tapi Pandu membaca raut muka Handi.
"Ada apa dengan Nona Ratna"?
"AAAAAGGHHH,....Kenapa harus dia"? Handi marah-marah sambil mengacak-acak rambutnya. "Dia itu tipe cewek angkuh yang suka memerintah seenaknya".
"Tapi tidak ada jalan lain tuan".
"Moh (tidak mau)".
"Ayolah..."
"Gah (tidak mau)".
"Sekali ini saja".
Handi dan Pandu saling bertatapan sambil memasang wajah cemberut. mereka terdiaM selama 1 menit, lalu secara tiba-tiba mereka berdua melakukan ancang-ancang untuk saling memukul. "HEAAAAAAAAAA....."
"Paman menang,... semut lawan gajah, jelas gajahnya kalah".
"AUUUUUUU...... sial".
"Paman kebelakang dulu". Pandu pergi meninggalkan Handi di meja makan. Handi hanya merengut karena kalah suit dari Pandu, yang berakibat dirinya akan berurusan lagi dengan sepupunya yang galak.
"Kenapa sih aku ga bisa kabur dan hidup tenang, jauh dari cengekraman cewek itu. Pagi inipun aku sudah ditonjoknya. Pertanda ini.....haduh".
Handi pergi menyusul Pandu ke halaman belakang. Dia melihat Pandu sedang menggulung kertas kecil yang akan disematkan ke kaki seekor merpati putih.
"E E E E...paman mau apakan merpati ku"? Handi mencegah Pandu.
"Paman akan mengirimkan surat minta bantuan ini ke kediaman nona Ratna." Jawab Pandu tenang.
"Sini merpatinya." Handi merebut merpati itu dari tangan Pandu dan mengembalikannya ke kandang.
"Tuan...kenapa merpatinya dikembalikan ke kandang"?
"Hmph... lihat ini". Handi menunjuk kearah kandang yang kini sudah diisi merpati.
"Iya".
"Ini hanya untuk jaman jebot. Sekarang tahun 2011. Pakai ini untuk menghubungi orang lain". Handi menunjuk hanphone flip di tangan kanannya."TELEPON, ga ada merpati-merpatian". Sambil berlalu, Handi menekan tombol untuk menelpon nomor sepupunya.
Agak lama menunggu, terdengar suara telpon diangkat di seberang jalur komunikasi. Setelah itu, terdengar suara lembut seorang gadis.
"Halo,..."
"Halo. Ratna."
"Iya, ini siapa ya"?
"AMIN...Dia tidak menyimpan nomorku".
"Ini Handi. sepupumu dari Jogja".
"Handi...bagaimana kabarmu? sudah lama tidak main kesini."
"Cuman dua tahun, gak lama kok. (tunggu, beneran ini dia? kok suaranya lembut banget, ga ada galak-galaknya.)"
"Halo Handi..."
"Ya Halo.. hehehehe..maaf maaf, ummm kira-kira kamu ada waktu kapan? aku mau main kesana boleh kan"?
"Mau main? bukannya kamu sudah dikirimi undangan pertunanganku"?
"Whaaaa???? Apa?? Tunangan"???
"Kamu belum tau"?
"Tidak ada surat undangan yang sampai kesini, memangnya kapan tempatmu mengirim surat"?
"Sekitar satu minggu yang lalu".
"Ga ada tuh".
"................ apa mungkin kesasar ya"?
"Siapa sih yang ngirim surat"?
"Paman Yanuar sih..."
"Jangan bilang dia ngirim pakai merpati".
".......hehehe"
"HYAAAAHHHHHHHHH". Handi menghembuskan nafas. "Kacau lah, kalau jaman modern masih pakai cara tradisional untuk surat menyurat. ga efektif. Jadi kapan nih acara pertunanganmu"?
"Hari ini Handi..."
"HEEEEEEE"!!??? Handi terkejut mendengar kabar yang datang begitu cepatnya. Dia benar-benar tidak siap akan hal ini. Jika sampai perwakilan dari keluarganya tidak datang, bisa dicap jelek nama keluarganya nanti dihadapan kolega dan teman-teman ayahnya. "Okelah, aku datang, tapi telat-telat dikit gapapa ya".
"Kebiasaan ah, diusahakan tepat waktu ya".
"Kita lihat saja nanti". Handi menutup telponnya dan segera menghampiri Pandu dibelakang.
"Ada apa Tuan? kok kelihatan terburu-buru".
"Kita terumahnya Ratna. Hari ini dia tunangan".
"Kok tidak ada kabar yang datang dari pihak nona Ratna"?
"Jangan tanya,....suratnya telat datang".
"Maksudnya"?
"Sudahlah... Ayo siap-siap. ga lucu kalau keluarga kita telat datang".
"Tunggu tunggu, itu ada merpati cokelat datang".
"AHHHHHH....aku goreng merpati itu nanti. Ayo pergi, jangan dihiraukan".
Handi dan Pandu segera bersiap untuk berangkat ke rumah Ratna dan menghadiri prosesi pertunangan sepupunya itu. Mereka berangkat menggunakan mobil sedan hitam dan kembali melaju diantara keramaian kota Jogja.
#####
Dirumah Ratna, keadaan sudah ramai, pengunjung dari pihak keluarga kedua insan yang akan bertunangan ini sudah terlihat memenuhi ruang keluarga. Mereka berpakaian batik dan beberapa ada yang memakai blankon. Terlihat dari cara bicara dan busana, bahwa semua pengunjung ini adalah orang terhormat. Semua orang berbincang-bincang sambil menunngu acara dimulai.
Handi datang tepat sebelum acara, dia segera berlari keluar mobil dan bergabung dengan undangan, meninggalkan Pandu yang sibuk memarkir mobil diantara kendaraan yang berbaris rapi di halaman depan rumah itu.
"Untung ga terlambat." Ucap Handi dalam hati.
Acara pertunangan dimulai. Ratna terlihat mengenakan kebaya berwarna putih dengan corak bunga mawar berwarna pink. Bagian bawah kebaya itu terlihat serasi dengan warna senada. Ratna berjalan dengan anggun lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Semua hadirin yang sudah melihat calon dari pihak perempuan, kini menunggu calon dari pihak laki-laki.
"Satu jam, dua jam.....bosaaannnnnnn. mana ini tunangannya"? Handi mulai tidak sabar. Dari tadi dia hanya bisa mengumpat dalam hati. "Ini ga adil. undangan diharuskan datang tepat waktu, tapi pihak yang berkepentingan malah molor ga jelas. Kapan negara ini mau maju, kalau janji saja ga pernah ditepati. Budaya jam karet".
Pengunjung mulai cemas, mereka berbisik-bisik dan mulai bergosip, mencari alasan kenapa pihak laki-laki belum juga datang. Handi hanya melihat mereka dengan senyum kecut. setelah budaya jam karet, budaya lain yang dibencinya adalah budaya gosip. Orang-orang ini seperti menikmati melontarkan dugaan-dugaan seenak hati mereka, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang mereka gosipkan.
Saat Handi akan mengambil tindakan dengan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba
Seorang abdi dalem keluarga Ratna datang menghampiri ratna dan berbisik kepadanya. Abdi dalem itu terlihat agak tua, umurnya kira-kira 40an. Janggut kambing tampak di dagunya yang kurus. Tubuhnya tinggi tapi kurang atletis. Logat bicaranya bahkan lebih kalem dan serius dibandingkan Pandu, abdi dalemnya. Dari ciri-ciri diatas, Handi langsung tahu kalau orang yang saat ini berbisik ke Ratna adalah Yanuar, abdi dalem kepercayaan keluarga Ratna.
Setelah Ratna mengangguk, tanda menyetujui perkataannya, abdi dalem ini lalu menuju ketengah ruangan dan mengambil mikrofon. Dia mengetuk pelan mikrofon ditangannya sebanyak 3 kali. lalu mengetes apakah mikrofon itu berfungsi dengan baik. Setelah yakin akan kinerjanya, Yanuar mulai berbicara.
"Hadirin sekalian, saya mohon maaf atas acara pertunangan ini yang tidak bisa berjalan dengan semestinya".
Hadirin yang lain mulai berbisik-bisik lebih seru.
"Mohon para Hadirin dan undangan sekalian tidak berprasangka buruk. Pihak laki-laki mengalami musibah sehingga tidak bisa datang, dan dengan terpaksa, acara pertunangan ini harus ditunda".
Setelah pemberitahuan dari Yanuar tadi, orang-orang yang hadir mengeluh tidak karuan. mereka pergi meninggalkan acara dengan muka masam dan menggerutu. Maklum lah, mereka kaum bangsawan, jadi tidak suka kalau dipermainkan. Tapi kadang mereka suka mempermainkan. Setelah keadaan rumah sepi, Handi menghampiri Ratna.
"Calon tunangan mu kenapa"?
"Biasa lah, cowok". kata Ratna dengan menundukkan kepala.
"Memangnya cowok kenapa, kok bisa tidak datang ke acara sepenting ini".
"Diare". Jawab Ratna pelan.
"HE"?
"Kenapa? jangan heran lah. itu hal lumrah kok".
"Oke oke, lupakan. Begini, mumpung kamu lagi gundah gulana putra petir, aku ada tawaran untukmu...mmm bukan tawaran sih, lebih tepatnya permintaan".
"Tunangan"?
"Bukan".
"Atau kamu mau melamar aku"?
"Ngaco!!! aku mau minta bantuan masalah Caruga".
"Hush...jangan keras-keras. Kita bicara didalam ruang makan saja".
Handi dan Ratna akhirnya pergi meninggalkan orang-orang yang ada di ruang utama untuk menuju ruang makan. Disana mereka duduk dan mulai membahas masalah yang dihadapi oleh Handi.
"Ada apa dengan kadal-kadal itu"? Raut muka Ratna berubah serius.
"Mereka berhasil mendapatkan 3 fragment".
"3?? apa yang kamu lakukan? seharusnya kamu mampu mengalahkan mereka".
"Awalnya aku juga berfikir begitu. Tapi kali ini mereka seperti ada yang mengorganisir".
"Jelaskan apa maksudmu".
"Pernah dengar pocong baris"?
"Pernah, tapi kan itu hanya rumor".
"Itu perumpamaannya, ya seperti itulah, Caruga tak berotak yang biasa kita hadapi, kali ini bisa mengatur dan menjalankan strategi. Bahkan bisa menipu aku, yang seorang..."
"Raja penipu."
"Jenius.....bukan raja penipu".
"Ya kamu kan suka ngibuli teman-temanmu, jangan kira aku lupa ya".
"Ratna, itu bukan ngibul-i, tapi minter-i".
"Sama saja".
"Beda".
"Sama".
"Beda, yang satu kata dasarnya kibul, yang satu pinter".
"Terserahlah....jadi apa yang kamu inginkan"?
"Aku butuh bantuan mu untuk membasmi dan menghalangi mereka mendapatkan fragment selanjutnya".
"Lupakan, aku tidak bisa".
"Kenapa? kamu kan salah satu pemilik daun lontar ajaib kan? lagipula aku sepupumu, masak membantu sepupu saja perhitungan"?
Ratna mendekatkan wajahnya ke wajah Handi. Handi yang kaget memundurkan sedikit kursinya. Mata mereka saling bertatapan. yang satu mengintimidasi, yang satunya terintimidasi.
"Aku katakan padamu ya...Aku sudah tidak bisa keluar dari rumah ini. Banyak peraturan yang harus ditaati, terlebih lagi aku wanita. Kita tahu kan apa aturan kerajaan terhadap anak wanita mereka".
"Pingitan"?
"Kurang lebih seperti itu. Jadi,...Handi...maaf, kali ini aku tidak bisa membantu".
"Tunggu tunggu... Dimana kata-kata makian yang sering keluar dari mulutmu. kenapa juga kamu ga nggebrak meja seperti yang biasa kamu lakukan waktu marah? Keracunan apa sih kamu kok bisa jadi begini"?
"Handi...Aku sudah dewasa sekarang, umurku sudah 25, sudah bukan waktuku untuk bertingkah seperti anak kecil yang sok kuasa. Karena kenyataanya pun, aku saat ini berada pada kuasa kedua orangtua ku."
Ratna berajak dari ruang makan, meninggalkan Handi yang terdiam memandang sepupunya. Sebelum melangkah melewati pintu, Ratna berhenti dan memandang Handi.
"Satu hal lagi... Kita bukan sepupu. Ayahku adalah teman dekat ayahmu, dan walaupun mereka berdua mengganggap satu sama lain saudara, itu tidak menjadikanku sepupumu, dan begitu pula sebaliknya". Dan Ratna menghilang dibalik pintu.
#####
"Tuan, anda mau apa, berpakaian hitam-hitam seperti itu malam-malam begini"? Pandu bertanya keheranan melihat Handi berpakaian hitam bak teroris.
Malam itu, Handi tidak pulang kerumah, melainkan memarkir mobil sedan hitamnya didekat rumah Ratna.
"Aku akan menculik putri sok tahu itu. Tidak ada yang bisa menggagalkan rencanaku sekarang". Handi keluar dari mobil sambil membawa tali tambang untuk digunakan memanjat tembok.
Handi melemparkan tali yang dibawanya sehingga melewati tembok rumah. Pengait diujungnya menyangkut pada salah satu hiasan bunga di pilar tembok. Handi mengecek kekuatan tali, apakah sudah cukup untuk menampung berat badannya, kemudian mulai memanjat tembok putih dihadapannya.
Baru memanjat 5 langkah, Handi melihat ada bayangan meloncat keluar dari dalam rumah. Mengira itu maling, Handi langsung menjegal kaki orang itu. Si pelaku terjatuh dengan bunyi berdebab pelan. Handi segera melompat untuk menindih dan mengunci gerakan lawannya.
Pelaku yang sadar kalau dia ketahuan, segera membalikkan badan dan menghadang Handi dengan tendangan, Handi menangkis serangan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk membalas dengan pukulan. Pelaku itu menghempaskan tubuhnya ke belakang untuk menghindar, lalu melesat ke Handi dan mulai menghujani Handi dengan pukulan bertubi-tubi. Handi menangkisnya menggunakan kedua tangan, menunggu hingga ada celah terlihat dari serangan lawannya, lalu melancarkan tendangan kearah perut. Diluar dugaan, pelaku tadi juga bisa menahan tendangan Handi dengan kedua tangan dan melontarkan kaki Handi ke udara.
Handi melayang selama beberapa saat, dan kemudian melancarkan pukulan dari udara. Si pelaku juga tidak mau kalah, dia juga menghujani Handi dengan pukulan. Baku hantam mereka semakin sengit. Handi yang sudah naik pitam akhirnya memukul wajah pelaku itu.
BUAKKKKK Penutup kepala hitam yang dipakai si pelaku melayang. Akhirnya Handi tau siapa yang dihadapinya tadi. Handi terkejut bukan main, karena dia melihat seorang yang sudah dikenalnya.
"RATNA"?
"Kau....kenapa kau memanjat tembok rumahku? Mau mencuri ya"?
"Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Kenapa kamu loncat tembok malam-malam begini"?
"Bukan urusanmu. Suka-suka aku mau kemana".
"Jadi, kata-kata taat peraturan itu hanya keluar dari mulutmu, bukan hatimu".
"Mau aku tonjok lagi"?
"Kalau kau berani".
Mereka berdua kembali berkelahi. Kali ini bukan hanya pukulan, tapi juga tendangan yang saling beradu, ditengah hening malam. Pandu yang melihat tuannya melenceng dari rencana awal, segera menghampiri, dan ketika mengetahui siapa yang dilawan oleh Handi, Pandu segera mengkahiri pertarungan.
"Kalian berdua..sudah sudah".
"Jangan ganggu aku paman, aku akan memberi pelajaran pada cewek sok tahu ini".
"Tuan, bagaimana pun juga dia wanita. Jangan kasar".
"Iya, wanita galak". Handi menendang perut Ratna. Yang ditangkis Ratna dengan pergelangan tangan kirinya.
"Katakan apa mau kalian berdua malam-malam begini didepan rumahku"?
"Menculikmu".
"ApA???"
"Aku pikir tidak ada cara lain, meyakinkanmu untuk membantuku akan percuma mengingat sifatmu yang keras kepala".
"Itu dulu. Sekarang aku sudah berubah".
"Jadi makin keras kepala".
"Diam...." Ratna memukul pipi kanan Handi.
"ADUUHHHH"
"Rasakan. masih terlalu cepat sepuluh tahun untuk menculikku". Ratna berlari menjauh dari Handi dan Pandu. "Aku tunggu kau dirumahmu. Kita selesaikanurusan kita disana". Dan Ratna menghilang ditengah gelapnya malam.
"Cewek itu.....grrrrrrrr" Handi mengertakkan giginya.
"Tuan, sepertinya kita gagal menculik nona Ratna".
Handi dan Pandu saling menatap. Beberapa saat kemudian keheningan mereka dipecahkan oleh suara Handi. "Tadi dia bilang apa? mau menunggu dirumahku"?
"Sepertinya begitu".
"Berarti....."
"Nona Ratna bersedia ikut dengan kita".
"Oh tidak.... bukannya aku yang menculik dia, tapi dia yang malah melarikan diri kerumahku. Paman,... ayo pulang. kita sudah tidak ada urusan ditempat ini".
Handi dan Pandu pergi meninggalkan rumah Ratna, menaiki mobil sedan hitam. Sepeninggal Handi dan pandu, siluet macan hitam yang sebelumnya sempat muncul di puing-puing rumah pak Bowo, kini terlihat berjalan didepan rumah Ratna. Tanpa mereka ketahui, sang macan dari tadi sudah mengamati pertarungan antara kedua pemegang daun lontar ajaib tersebut. Kini, sang macan hanya duduk diam, didepan pintu rumah, menghadap kejalan dan mengawasi keadaan dengan mata kuningnya yang tajam.
Perlahan tetapi pasti, tubuh macan hitam itu berubah menjadi asap dan kembali berbaur menjadi udara malam yang dingin.

Bersambung...............





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger