Posted by : AksaraProject Tuesday, September 20, 2011

"Penjahat...(Banci Nyasar)"



Ratna dan Kedua temannya, juga seekor macan kumbang, memandang tubuh Handi yang menghilang dengan perlahan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sesaat sebelumnya, Flame menyebarkan semacam bubuk berwarna hijau ke sekujur tubuh Handi. Bubuk itu berkilauan tertimpa cahaya bulan. Menurut Flame, dengan memakai bubuk itu seseorang bisa menghilang dan muncul di tempat yang diinginkan. Istilah kerennya Teleport atau Warp. Dan saat ini, Handi menjadi satu-satunya orang dalam timnya yang terkena bubuk itu.
"Kalian berpandangan seperti kehilangan pacar saja". Kata Flame sambil melirik Handi dan Ratna.
"Heh, jangan ngomong sembarangan. Flame, bubuk hijau itu beneran aman kan"? Protes Ratna.
"Apa wajahku terlihat seperti seorang pembohong"?
"Pembohong...tidak...Manipulator..iya".
"Terserah lah. Aku tidak akan berdebat denganmu kali ini".
"Lalu mau kau bawa kemana ketua tim kami"?
"Ketua tim?? Aku pikir kamu ketuanya, dari apa yang aku lihat waktu kau dan keempat orang ini...." Flame memandang Nanda dalam wujud macan kumbang. "Maksudku,..tiga orang dan seekor hewan". Flame mengoreksi perkataannya. "Hanya kau yang aktif memberikan komando dan strategi. yang lain hanya anut grubyuk* (Ikut-ikutan saat ada sesuatu yang ngetrend). Tipikal orang Indonesia, ada yang populer sedikit, langsung ikut-ikutan".
"Jangan bawa-bawa nama negara".
"Fakta".
"Menurutmu".
"Tanya orang lain yang benar-benar bisa berfikir. Pandangan mereka juga akan seperti itu. Aku sudah berusaha menghindari hal ini, tapi akhirnya tetap saja berdebat denganmu".
"Aku hanya tidak terima dengan asumsimu. Lagipula, kau...yang jelas-jelas bukan orang Indonesia asli, bisa punya kemampuan untuk memanggil baju tempur. Jadi Tim Legenda pula. Seharusnya hanya orang-orang asli Indonesia saja yang bisa punya kekuatan seperti kami".
"Rasis... Apa aku bilang. Kau memang orang Indonesia asli. Tukang protes. Daripada buka mulut, lebih baik kau langsung serang aku sekarang dan ambil kekuatan baju tempur itu dariku".
Flame dan Ratna berpandangan dengan muka serius. Orang-orang yang ada disitu ikut merasakan hawa membunuh yang dikeluarkan oleh mereka. Hawa membunuh mereka berdua membuat udara malam yang tadinya dingin berubah menjadi panas dalam waktu singkat.
"khuhuhuhu.... sudah aku duga, kau hanya bisa buka mulut". Flame tertawa kecil sambil meghilang, diikuti oleh Cream dan Handi. Kini Ratna, Ica, Karis, dan Nanda berada dalam ruang foodcourt yang sepi. Udara malam kembali menjadi dingin setelah kepergian Flame. Ratna berjalan perlahan-lahan kearah Nanda. Dia melihat Nanda yang sekarang berwujud macan kumbang, duduk dengan kaki belakangnya. Ratna menatap Nanda dengan wajah setengah kecewa dan jijik. Dan tanpa berkata apa-apa, dia pergi. Ica yang kebingungan, seperti mencari perlindungan untuk Nanda, berusaha mencegah Ratna. Tapi dihadang oleh Karis.
"Semua orang pasti akan kecewa jika dikhianati dengan cara seperti itu". Kata Karis pelan. "Siapa sangka anggota satu tim kita ternyata juga siluman". Karis juga berjalan pergi.
Ica yang ini hanya tinggal berdua dengan Nanda, melihat Nanda yang berkonsentrasi untuk kembali ke wujud manusianya. Berkali-kali suara geraman terdengar. Tapi sekuat apapun Nanda berusaha, dia tetap terjebak dalam wujud macan kumbang. Ica yang ada disitu, akhirnya membawa Nanda untuk pergi menyusul kedua temannya.
#####
Keesokan paginya, Ratna terlihat sedang marah-marah sambil berjalan mengitari ruang makan. Di tangan kirinya terdapat handphone yang menempel ditelinga.
"Apa sih maumu? Aku saat ini sedang banyak masalah. Tidak ada waktu untuk menambah satu lagi masalah yang kau timbulkan". Kata Ratna kepada suara yang ada di telepon genggamnya.
"Aku hanya mengundang kau untuk datang ke acara konserku. Apa itu masalah"? Kata suara diseberang saluran.
"Iya". Ratna menutup teleponnya.
Ratna menuju ke ruang investigasi, disana sudah terlihat Jaka sedang mengutak-atik komputer, sambil sesekali melihat keyboard untuk memastikan ketikannya sesuai harapan. Karis duduk di kursi yang berhadapan dengan layar utama. Matanya tak henti-henti menyeleksi kata-kata di dalam buku tebal yang saat ini berada di telapak tangannya. Ratna menengok kearah jendela, dan melihat Ica duduk disebelah Nanda yang saat ini meringkuk dalam diam. Ratna memutar pandangan kesegala ruangan. dia mencari-cari sesuatu yang janggal disitu.
"Ada yang lihat paman Pandu tidak"? Tanya Ratna kepada Jaka dan Karis diruangan.
"Dia pergi bersama dengan tuan Handi dan seseorang bernama Flame". Jawab Jaka tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
"HA??? Kenapa paman biarkan Paman Pandu dibawa Flame"!?
"Kenapa?? Ya karena Pandu pergi dengan sukarela, Saya rasa tidak perlu kekerasan untuk mencegah seseorang pergi atas kemauannya sendiri".
"Ratna...Sekarang kita kekurangan dua orang. Dan kesemuanya itu elemen dasarnya api". Kata Karis seraya menutup buku yang dibawanya.
"Jika memang kita kekurangan orang...." Ratna berfikir sejenak. "Ya TUHAN...kenapa harus disaat seperti ini"?
"Ada apa memangnya"? Tanya Karis Heran.
"Kita akan minta bantuan Dani". Ratna berkata sambil menundukkan kepala. Selesai berucap, terdengar geraman marah dari arah halaman sebelah. Nanda tidak terima dengan keputusan Ratna. Tapi Ratna tetap tidak menggubrisnya. Sepertinya dia masih marah besar karena merasa ditipu oleh Nanda.
"Jangan hiraukan dia". Kata Karis pada Ratna. "Sekarang bagaimana kita menemui Dani, dan membahas masalah penggabungan kekuatan ini"?
"Dalam beberapa hari ini dia ada konser musik di Stadion Kridhosono". Jawab Ratna.
"Poster yang kemarin ada di koran"?
"Yups".
"Saya tidak bisa ikut kesana Nona Ratna.. maaf, tapi ada beberapa hal yang harus saya selesaikan disini, selama Pandu tidak ada". Kata Jaka.
"Iya paman, biar aku dan Karis yang akan kesana".
"Kenapa cuman kita? Ica tidak diajak"?
"Aku malas berurusan dengan siluman yang saat ini ada bersamanya. Jika kau mau dia ikut, ajak saja".
"Oke, akan kusiapkan segala hal yang diperlukan, biar aku yang membujuk Ica". Karis berkata sambil berjalan kearah halaman samping.
"Sepertinya akan jadi malam yang berat. Kenapa juga aku harus berurusan dengan tim brengsek itu".
#####
Malam disaat konser band yang diadakan oleh Dani dan teman-temannya, stadion Kridhosono yang terletak diutara stasiun lempuyangan padat terisi oleh muda-mudi. Hal ini bisa dipahami karena grup band yang dipimpin oleh Dani adalah grup band yang lumayan terkenal. Dan semakin terkenal sebuah grup band, maka semakin banyak pula fans nya, semakin sesak juga tempat konsernya. Seperti saat ini, belum juga dimulai lagu pertama, di bagian depan yang dekat dengan panggung, sudah terdengar teriakan "AIR AIR"... itu bukan teriakan yang berasal dari penjual air galonan. Tapi dari mulut pemuda-pemuda gundul yang saat ini terlihat bertelanjang dada dan mengibar-ngibarkan pakaian mereka seperti sedang kepanasan di gurun. Dibagian tengah, tak kalah heboh. Banyak orang - orang--sebagian besar gadis muda-- yang mengenakan kaos hitam bergambar wajah atau kepala dari para personil band, dengan wajah Dani yang paling besar. Mereka juga berteriak-teriak, tapi suara mereka kalah nyaring dibandingkan dengan teriakan minta air di bagian depan. Dan sepertinya penyelenggara acara sudah kepanasan kuping mendengar teriakan itu, maka tak lama kemudian bergalon- galon air mengguyur penonton di bagian depan. Air ini berasal dari truk pemadam kebakaran yang memang sudah siap siaga dari sore hari untuk iseng menenggelamkan penonton, kalau-kalau ada yang nekat loncat pagar pembatas panggung hanya untuk minta tanda tangan atau numpang narsis di panggung.
Ditengah-tengah keramaian pengunjung itu, tampak Ratna, Karis, dan Ica datang. Mereka bertiga memakai pakaian kasual, dengan kaos lengan pendek dan celana Jeans. Ratna mengikat rambutnya dengan model ekor kuda, dan Ica kali ini tampak dengan dua kepang mungil di kiri dan kanan kepalanya. Mereka bertiga berdesak-desakkan berusaha untuk menuju belakang panggung dan menemui Dani.
"Ratna, si Dani ini aliran musiknya apa sih"? Kata Karis sambil menggeser sedikit tubuh seorang pemuda berambut mohawk.
"Pop melayu. Memang kenapa"? Jawab Ratna tanpa menengok ke Karis.
"Yakin nih pop melayu? ga pernah lihat deh, anak Punk datang ke konser pop melayu". Jawab Ica yang berada diantara Ratna dan Karis.
"Udah tobat kali mereka. Atau pengen ganti sensasi, tampilan sangar, tapi jantungnya mellow". Jawab Ratna.
"Jantung apa hati"? Tanya Karis. "Kata-katamu salah tuh".
Ratna menggiring kedua temannya sampai ke daerah yang lebih sepi di dekat backstage. Lalu dia menoleh ke arah Karis. "Jantung. Aku ga salah ngomong".
"harusnya kan hatinya, bukan jantungnya".
"Artikan kalimat ini. Their face is scary, but their heart is soft".
"Tampang mereka kayak preman, tapi hatinya lembut".
"Nah lo". Ratna terlihat tersenyum.
"Apa yang salah"?
"Artikan per kata. Their..."
"Mereka".
"Face...."
"Tampang."
"Scary....."
"Nakutin, kayak preman".
"But..."
"Bokong,... heheheh bercanda". Karis nyengir. "Tapi".
"Their..."
"Mereka".
"Heart..."
"Hati".
"SALAH!!! Baca kamus. kamu juga ikut-ikutan orang Indonesia yang salah kaprah. Hati itu Liver".
"Itu peribahasa, Ratna..." Karis mempertahankan pendapatnya.
"Oke, mari berfikir secara global". Ratna memulai perdebatan. "Orang barat kalau bilang My heart is bouncing, mereka nunjuk kemana"?
"Itu artinya jantungku berdetak cepat kan... ya ke jantung, di dada".
"Nah... klo mreka bilang His death is caused by heart attack. Dia nunjuk kemana".
"Hmm....kematiannya disebabkan serangan jantung....ya nunjuk ke dada. Ke jantung".
"Betul...pinter juga kamu. Nah klo orang barat bilang, broken heart, mereka nunjuk kemana"?
"Ke dada. kemana lagi, masak ke jidatmu".
"La trus broken heart itu artinya apa"?
"Sakit hati". Jawab Karis santai.
"Makan tuh hati. Sejak kapan hati ada di dada. yang di dada itu jantung. Heart".
"Kalau sakit jantung kan heart attack". Karis ngeles.
"Heart attack itu serangan jantung mas. Dimana-mana juga, Heart tu artinya jantung. orang-orang didunia kalau bilang heart, apapun kalimatnya, mereka nunjuk ke jantung. karena artinya jantung. Orang sini saja yang ngotot mindahin hati keatas. pakai alasan peribahasa pula. Sudah salah,..bangga. menjijikkan". Ratna berlalu meninggalkan Karis dan Ica, menuju ke belakang panggung,
"Lo, Ica, ngapain kamu gemetaran begitu"? Tanya Karis yang melihat Ica dari tadi diam terus.
"Ica.... Ica phobia ketramaian".
"He"?????
Saat itu, dari arah barisan belakang pengunjung, terdengar teriakan dan jeritan, satu-persatu gadis, gadis yang ada barisan belakang berubah menjadi batu. Energi kehidupannya terlihat masuk kedalam sebuah guci besar yang dibawa oleh Minakjinggo.
"Haduh...orang itu lagi". Karis berkata sambil menepuk jidatnya.
Karis dan Ica segera pergi ke belakang panggung untuk memperingatkan Ratna, tapi mereka tidak menemukan gadis itu dimana-mana. Akhirnya mereka memakai baju tempurnya saat itu juga dan meluncur untuk menghajar Minakjinggo.
Saat itu, Minakjinggo sudah merubah setengah dari pengunjung konser (semuannya cewek) menjadi batu dengan mengambil energi kehidupan mereka. Karis dan Ica kesulitan untuk menerobos kepungan patung yang memang berdesak-desakan.
"Mereka ini semua fans ya? jabang bayi....perasaan aku lihat tampang Dani juga ngga ngetop-ngetop amat deh". Kata Karis sambil mengamati patung yang dilewatinya, seraya menambah kecepatan lari saat melihat Minakjinggo sudah dekat. Karis memukul Minakjinggo dengan tangan kanan, lalu selagi lawannya limbung, Karis menjegal kaki dan membantingnya. Minakjinggo dengan sigap menumpahkan berat tubuhnya ke belakang sehingga menahan kakinya agar tidak melesak ke tanah. Melihat salah satu dari lawannya ada disini, Minakjinggo menembakkan energi dan melontarkan Karis.
"Apa maumu!!?? masih belum puas kau membangkitkan Dewata Cengkar dan membunuh temanku"? Bentak Karis.
"Teman...Ow, pemilik sanggar tari ponorogo itu. Guardian kelima. Dia orang tidak penting yang gampang dilupakan".
"APA KATAMU!!!!" Karis menembakkan anak panah bulu meraknya bertubi-tubi. Tapi Minakjinggo dengan mudah menghindari itu semua. Karis yang terbakar amarah, mebuang busurnya dan melompat. Dia memegang kepala Minakjinggo dan menghantamkannya ke lutut. Minakjinggo, dari jarak sedekat ini, melontarkan energinya, tapi karis menyampingkan tubuhnya dan membanting minakjinggo kekanan. Minakjinggo yang bangkit, segera mengambil gucinya dan memukulkan ke punggung Karis. Karis dengan sigap menahan menggunakan tangan kanannya, membuat Minakjinggo tidak bisa bergerak untuk sementara karena enggan melepas guci pusaka miliknya. Kesempatan itu digunakan oleh Karis, selagi tangan kanannya menggenggam guci, tangan kirinya memukul perut Minakjinggo berkali-kali.
"Kenapa Kau (BUAK) Masih Juga (BAKK) Cari masalah (BAKK)!!! Padahal (BUKK) Misimu sudah berhasil (BLAMMM)"!!!
Minakjinggo jatuh terjerembab, beruntung guci pusakanya lepas dari tangan Karis. "heh...selesai apanya. Kau pikir enak membangkitkan Buaya itu. Tidak sesuai harapan, seharusnya aku mendapat kekuatan dahsyat, tetapi aku malah jadi kacung". Minakjinggo membalas serangan Karis. Mereka berdua beradu pukulan dan tendangan, hingga Karis, sekali lagi menjegal kaki minakjinggo dan menghujamkan sikunya ke perut Minakjinggo. Kesakitan, Minakjinggo melontarkan Karis dengan tembakan energi dari tangannya. "Sial, dia makin kuat kalau emosi. Harus pakai cara curang untuk bisa kabur."
Dengan sangat tiba-tiba, Minakjinggo menembakkan energi dari guci pusakanya ke arah kiri. Karis yang tidak tahu apa yang akan dilakukan Minakjinggo, mengikuti arah tembakan, dan melihat Ica sama sekali tidak bergerak dari tempat awalnya.
"Dia phobia keramaian....celaka"!!! Karis meluncur untuk mencegah energi itu mengenai Ica yang ketakutan. Tapi lajunya tidak mampu menyaingi kecepatan sinar energi yang saat ini sedang memburu kearah Ica. Karis, dengan putus asa, berusaha menggapai Ica, sekuat tenaga dia mendorong berat tubuhnya ke depan untuk menambah kecepatan. Tetapi...
BLARRRRRRRRRRR...
Seluruh area diselimuti oleh kabut tipis yang sejenak membutakan pandangan. Karis menyingkirkan kabut didepannya untuk melihat nasib Ica. Setelah agak lama, dan kabut mulai hilang, terlihat Ica masih gemetaran ditempat yang sama. Tapi kali ini dia sudah tidak memakai baju tempurnya. Pandangannya seperti diterkam teror, pucat pasi melihat kedepan. Didepannya, terbentuklah sebuah patung batu, yang berwarna putih pualam, dengan bagian baju berdesain burung belibis. Kedua tangan patung itu terangkat seakan berusaha menahan sinar energi yang menimpanya. Walaupun dia tahu apa yang akan menimpa, posisi patung ini tetap tegap dan dengan sepenuh hati melindungi Ica yang ada di belakang.
"Tidak....apa yang terjadi"?? Karis terkejut melihat pemandangan didepannya.
"Ini salah Ica..." Ica jatuh berlutut, tak kuasa menahan isak tangis dan kesedihan yang melanda. Dia telah menyebabkan salah satu temannya menjadi batu. "Karena Ica tidak bergerak...karena Ica takut keramaian...Ratna... Ratna jadi seperti ini". Isak tangis Ica terdengar seiring kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Karis mencari-cari Minakjinggo, tapi tidak menemukannya dimanapun. Stadion yang tadinya ramai dan penuh sesak oleh pengunjung, sekarang sepi dan dipenuhi oleh patung batu yang semuanya wanita. Para penonton pria hilang seperti ditelan bumi. Karis mendatangi Ica dan memapahnya untuk berdiri. Dia tidak bisa berkata apa-apa, Dia tahu ini kesalahan Ica, tapi dia juga maklum karena tahu bukan Ica yang meminta untuk punya phobia keramaian. Saat ini berbagai macam pikiran melompat masuk ke dalam kepala Karis. Saat Handi menghilang, Pandu pergi, Tim yang dipimpin Dani, sifat kelima orang itu, tanggung jawab yang saat ini dibebankan kepadanya, dan nasib Ratna yang membatu tepat diantara kedua matanya.
Belum habis kebingungan Karis, terdengar suara raungan mesin mobil. Tak lama kemudian tampak Mobil APV putih masuk kedalam stadion. Mobil itu tergesa-gesa untuk parkir, dan dari dalamnya keluar lima orang dari Tim yang dipimpin oleh Dani. mereka adalah Arta, Santo, Iwan, Melani, dan yang terakhir Dani. Lima orang ini bergegas menyebar kesegala arah dan memeriksa keadaan. Dani, yang melihat Karis dan Ica, menghampiri mereka dan menemukan bahwa Ratna sudah menjadi patung, dan melihat Karis memapah Ica yang masih sedih dan gemetaran.
"APA YANG TERJADI DENGAN TUNANGANKU"!!!??? Bentak Dani kepada Karis yang menatapnya dengan pandangan kebingungan.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger