Posted by : AksaraProject Thursday, September 22, 2011

"Perfect Girl...(And Nasty Boy)"



Aku ga habis pikir, Kenapa 80% dari hidupku harus kugunakan buat mikirin tingkah lakunya? Mungkin kalau dia bisa diam bentar, ga banyak tingkah dan ga aneh-aneh, sampai sekarang dia ga akan jadi batu.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran seperti itu terus berputar di otakku. Oke, mungkin ini bukan urusanku. Siapa sih dia? orang tuaku? bukan. Saudaraku? juga bukan. Tapi semua kelakuannya selalu membuatku repot. Dan di mata orang lain, justru seolah-olah aku yang seperti anak kecil. Jelas aku ga bisa terima dong. Kalau kau jadi aku, kau pasti sudah teriak-teriak dan menghajar dia. Tapi aku...yang aku lakukan cuman diam dan pasrah membersihkan semua kekacauan ini.
Enam tahun aku berusaha membuktikan ke dia kalau aku ini orang yang punya segalanya. Dia tahu itu... tapi tetap ga mau mengakui. Dan terlebih lagi, ga kayak temen-temenku. ummm..yang playboy, suka berantem, mata duitan, dan mulut ember. Aku ini bertanggung jawab. BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRINYA. Seperti malam ini, kalau ga gara-gara dia, dan masalah yang dia buat, aku ga akan pulang jalan kaki di tengah malam buta cuman buat ngambil motor, terus bepergian napak tilas entah kemana buat nyari dia. Menyebalkan....
Oke, mungkin kau pikir aku orang yang suka menggerutu dan bermulut besar. Tapi kau harus tau, cuman kepadamu aku bisa bicara panjang lebar seperti ini. Di depan teman-temanku? ga mungkin. Aku lebih memilih diam daripada harus menanggung resiko diolok-olok dan di kerjai oleh mereka. Lagipula, kau juga ga bisa laporan ke mereka kan. Jadi, aku tau kalau cuman kau yang bisa pegang rahasia ini. Ngomong-omong, sudah berapa paragraf keluhanku tadi?.... Anh, Ngurus.. yang penting, malam ini, aku akan tunjukkan pada dia kalau aku adalah orang yang bertanggung jawab. Biar dia tau rasa.
Kalau kau bertanya kepadaku, kenapa sampai segitunya aku bela-belain dia? Akan aku ceritakan alasannya. Biar kau juga bisa paham, siapa yang benar, dan siapa yang sok benar. Hitung-hitung kalian temani aku sampai nanti dirumah. hehehehe.
Semua ini bermula lima tahun yang lalu. Dimana waktu itu umurku masih tergolong muda. Jadi bisa dibilang kalau aku cowok ingusan--walau aku udah ga beringus--. Waktu itu aku masih ingat, aku diminta ayahku untuk melakukan penelitian keuangan di salah-satu perusahaannya..... Apa? Kau heran? kau pikir aku bohong? sorry, aku bukan tipe orang pembohong. Aku benar-benar melakukannya di usiaku yang masih muda. Aku kan sekolah di SMK Akuntansi. Wajar kan, kalau anak tingkat SMK akuntansi meneliti keuangan perusahaan. Aku teruskan ya. Aku melakukan penelitian, langsung di kantor, di ruangan ayahku lebih tepatnya. Dan saat itu ada satu teman ayahku yang datang berkunjung. Aku kenal dia, karena dia sering datang kerumah untuk bersilaturahmi. Aku pikir kedatangannya waktu itu juga hanya kunjungan kantor biasa. Tapi aku salah. Disela-sela pekerjaanku, aku mendengar --menguping sih lebih tepatnya-- percakapan antara ayahku dan temannya itu. Arah pembicaraan mereka makin lama makin aneh, dan yang membuat aku terkejut setengah hidup, mereka mengatakan sesuatu tentang menikahkan aku dan Ratna. Anak dari teman ayahku tadi.
Seketika itu, habis sudah masa mudaku. TAMAT. Keinginanku untuk menikah dengan artis luar negeri --yang sudah pasti diimpikan oleh orang-orang, termasuk kau-- seakan runtuh dan bertebaran bagai debu yang disapu keluar rumah. Bagaimana mungkin Aku,..yang seorang anak milyader dengan masa depan yang cerah, akan dinikahkan dalam usia yang sedini ini? Apa yang ada diotak mereka? Dunia ini ga adil. Walaupun, ya...sampai sekarang dunia mana pernah adil.
Waktu itu, berkat teknologi dari labolatorium yang dikelola oleh orang tua Santo (temanku yang demen berantem itu) dan dibiayai ayahku, Aku dan keempat temanku yang lain, kalian sudah tau kan, Arta. Santo, Iwan, dan Melani. Bisa memakai baju tempur untuk membasmi monster. Tapi tunggu, jangan keburu menyemprotkan pertanyaan-pertanyaan padaku. Aku jelaskan satu persatu. Soal si Ratna, aku lanjutkan setelah ini.
Sebenarnya aku dan keempat temanku bukanlah keturunan ataupun relasi dari Ajisaka. Si pemimpin tanah Jawa, yang pada dasarnya punya kemampuan untuk memanggil baju tempur secara normal, lewat mantra yang dinyanyikan. Nah, lalu darimana data utama untuk membuat baju tempur yang sekarang bisa aku pakai?...Tebak. Dari daun lontar milik Ibunya Ratna. Jadi dengan meneliti alat perubah itu, ilmuwan-ilmuwan dari labolatorium, berhasil menciptakan 5 alat perubah yang lain. Yang kami gunakan tentu saja.
Lalu siapa lawan kami? Umm...Waktu itu belum ada Caruga, Apa lagi Minakjinggo. Jadi ya.... Seperti generasi sebelum kami, Kami menghajar penjahat secara diam-diam. Penjahat apa saja. Mulai dari preman pasar, mafia, koruptor, sampai penjahat kelamin. Yang sering berakhir dengan batu nisan diatas kepala mereka. Aku ga tanggung-tanggung, buat apa memaafkan penjahat dan mengirim mereka ke sel tahanan? toh mereka bakalan keluar dan melakukan kejahatan lagi. Lebih baik langsung kirim mereka ke alam kubur.
Nah, selama masa menjadi vigilante itulah, yang seharusnya jadi masa-masa keemasanku, kabar pernikahan itu datang. Belum nikah sih, cuman rencana pertunangan. Sekali lagi, umurku masih kepala 1 masih terlalu muda buat nikah atau ditunangkan. Sialan, andai saja aku bisa melawan mereka. Tapi aku ga mau menyakiti orang tuaku, terutama ayahku. Jadi sambil pura-pura menurut, aku melakukan investigasi atas keputusan mereka, mencari titik lemahnya, dan bersiap buat menyerang balik.
Akhirnya, 2 bulan sejak pembicaraan Ayahku dan temannya di kantor, teman ayahku itu datang berkunjung ke rumah. Hari itu hari sabtu, jadi sekolah hanya setengah hari. Dan sorenya aku langsung pulang. Ya,..pulang, hanya untuk melihat satu cewek dengan wajah oriental mirip artis jepang duduk disamping temanayahku. Dan mereka berdua asyik ngobrol sambil ketawa-ketawa mengenai rencana pertunanganku. Hey....ini masa depanku, bukan bahan ketawaan. Pingin deh aku langsung terbang ke kamar dan menenggelamkan diri ke buku game station yang baru aku beli. Tapi ketika aku berjalan mengendap-ngendap --hal bodoh, kenapa harus mengendap-endap kaya maling didepan muka orang tua sendiri-- Ibuku memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi sebelahnya.
Aku dikenalkan kepada anak mereka, Ratna. Hari itu aku belum kenal dia, belum tau juga kalau keluarganya dia adalah keturunan Ajisaka dan segala tetek-bengek soal daun lontar itu. Jadi, Aku pandangi dia, lihat apa dia punya cacat fisik atau apapun yang bisa aku gunakan untuk melepaskan diri dari kekangan masalah ini. Tapi sayangnya tidak,...Aku tidak melihat ada yang salah dengan wajahnya ataupun fisiknya. Sempat bahkan aku berpikir kalau, okelah,...ga masalah aku ditunangin sama cewek ini, toh dia juga cantik, dari keluarga golongan atas, sekolah di sekolah elit --sekolah yang dikelola oleh ayahku juga sih-- dan pendiam. oke,...kriteria cewek idaman. Jadi aku mengurungkan niatku untuk memberontak.
Setelah lumayan lama bercakap-cakap, akhirnya kedua orang tua kami memberi kesempatan kami untuk saling mengenal, dengan dalih menyuruhku menemani dia ke halaman belakang. Dia senyum-senyum saja waktu itu, dan aku ga punya pilihan lain. Akhirnya aku antar dia ke halaman belakang. Dan kau tau apa kalimat pertama yang dia ucapkan? Kalau kalian tebak itu adalah kata-kata terima kasih, kalian salah besar. Dia bilang padaku, percayalah itu yang dia katakan.... "Kalau sampai pertunangan ini berhasil, orang pertama yang akan aku jadikan sandbag, adalah kau".
Waw,...Aku sudah sampai depan rumah sekarang. Tunggu di depan sini ya, aku akan mengambil motorku dan kita akan pergi ke tempat dimana tunanganku ditawan untuk menyelamatkannya.
Oke, ayo berangkat. Ini motorku, keren kan, motor sport dengan cat merah marun ini aku dapat dengan uangku sendiri lo. Hasil dari bekerja sebagai konsultan keuangan. Jadi apa yang kau tunggu? kita selamatkan si damsel indistress itu bersama-sama. Oh ya, soal cerita itu, akan aku lanjutkan sambil jalan.
Aku baru tau sifat aslinya yang galak dan sok kuasa itu saat dia sudah mengacungkan tinjunya didepan muka ku. Aku kaget, dan mundur dua langkah. Bagaimana tidak, Awalnya dia tampak seperti cewek alim pendiam yang jadi impian semua cowok, tapi tiba-tiba saja dia jadi ogre ganas yang siap memakan dan mencabik-cabikku. Tapi itu bukan masalah sih, aku masih bisa mengatasinya, seandainya ayahku tidak mengambil keputusan untuk menyekolahkan aku di sekolah yang sama dengannya.
Mungkin ini terdengar gila, pindah sekolah hanya untuk seorang cewek? Tapi percaya deh, itu lebih baik daripada aku musti tinggal satu rumah dengannya. Resikonya lebih kecil. Paling ga kau ga akan digrebek pak RT dan jadi korban amuk masa kalau hanya bersekolah di satu sekolah yang sama. Tapi kalau sudah tinggal 1 rumah, apalagi 1 kamar, beda cerita. Jadi seperti cowok waras lainnya, aku protes keputusan untuk tinggal bersamanya, dan memilih untuk satu sekolah. Oke, mungkin maksud orang tuaku baik, tapi coba deh....mana yang lebih kau pilih, pola pikir orang tuamu, yang notabene hanya 2 orang, dengan pola pikir masyarakat yang secara ga langsung menentukan norma-norma di lingkungan. Apa kata dunia, dua orang beda kelamin tinggal 1 atap tanpa ikatan pernikahan. Orang buta pun juga bakalan tau kalau mereka kumpul buffalo. Dan aku ga akan ambil resiko itu.
Aku resmi pindah sekolah, dari jurusan Akuntansi di salah satu SMK ternama, menjadi siswa jurusan IPA di SMA elit milik keluarga. Dari penantang, jadi pecundang. Dan semua ini hanya untuk Ratna. Well...rasanya aku pingin membombardir sekolah itu dengan gattling gun. Awal-awal masuk SMA itu, aku jadi artis dadakan dikarenakan identitasku sebagai anak pemilik dana tertinggi disekolah. Seperti yang kau bayangkan, cewek-cewek nempel kayak perangko. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali ga menikmati keadaan itu. Aku suka kebebasan, dan dengan kelakuan mereka yang mengejarku seperti mengejar teroris, aku ga mendapatkan apa yang aku inginkan sedetikpun. Ditambah tampang cowok-cowok lain yang melihatku seolah-olah berkata "Loe mampus aja napa? disini cuman buat nggebet cewek". Hey....sapa juga yang mau nggebet cewek.
Tiap hari, Ibuku selalu menanyakan soal hubungan kami, dan tentunya aku jawab dengan "Baik,..lumayan kok, makin hari makin mesra". Walau kenyataannya ga begitu. Dia sama sekali ga nganggap aku ada. Tapi walau begitu, sepertinya dia bisa diajak kerja sama, karena sampai saat ini ga ada komplain dari orang tuannya atas sikap kami yang sebenarnya.
Suatu hari, dia pernah diganggu oleh 3 cowok kelas 12. Kayaknya mereka naksir dia tapi ga kesampaian. eh, apa kau sudah memberitahumu kalau sifatnya di sekolah beda 180 derajat dengan yang dirumah? Dia kayak cewek alim. Putri raja. Ga banyak omong, santun, sopan, lemah lembut. oh tidak, dan sekarang dia kena masalah. Aku cuman lihat dari jauh sih awalnya, ga tertarik ngurusi urusan orang lain. Tapi makin lama tu cowok-cowok makin sok kuasa dandorong-dorong dia sampai nabrak tembok. Jadi, seperti pahlawan kesiangan, aku lari dari depan kelas dan menendang 3 orang pengganggu itu. Rasanya menyenangkan banget, bisa memberi pelajaran ke orang-orang sok kuasa. Aku mengancam mereka supaya ga ngganggu Ratna lagi. Dan karena hal itu, Ratnaakhirnya mau berterima kasih kepadaku. Tapi dirumah, dia ngancam kalau sampai aku sok jadi pahlawan, lain kali aku yang bakalan dapat tanda kaki diwajahku.
Masa SMA berlalu ga jauh-jauh beda dengan awal aku masuk. Satu masalah selesai, masalah lain datang, dan aku yang harus membereskannya. Pernah aku ga ikutcampur, yang berakhir dengan dia menghajar perampok perhiasan seorang diri. Tapi dia marah-marah ke aku dan bilang kalau aku ini cowok lemah yang bisanya cuman ngandalin cewek buat nolong orang. Apes kan aku. Gini salah, Gitu juga salah.
Setelah lulus SMA, kami masuk Unversitas yang berbeda-beda. Saat itu aku jadi jarang ketemu dengan dia. Tapi ga begitu dengan apa yang aku rasakan. Walau jauh, tapi aku tetep harus tanggung kawab dengan apa yang dia lakuin. Apalagi setelah dia tahu jati dirinya sebagai keturunan Ajisaka dan bertemu dengan Handi. Dan juga, setelah Caruga muncul entah darimana. Selain kegiatanku dan teman-temanku sebagai vigilante, kami juga musti menghajar Caruga itu dan ikutan membantu dia dan Handi, walau ga secara langsung.
Oke, hal seperti itu berlangsung sampai akhir-akhir ini. Salahku juga sih sebenarnya. Aku pura-pura diare supaya acara pertunangan kami kacau, karena dengan begitu aku bisa mengumpulkan informasi bagaimana membangkitkan salah satu dari kelima orang yang dulu pernah membantu Ajisaka menyegel Dewata cengkar. Aku yakin kok, 5 fragment keris yang dilindungi Handi dan Ratna pasti ke tangan Minakjinggo. Mereka pasti gagal, dan Dewata Cengkar pasti bangkit. Karena kalau ga begitu, ceritanya ga akan seru kan. hehehehe.... Dan seperti yang kalian lihat, hasil dari pengumpulan informasi yang aku lakukan. Kami bisa membangkitkan Restu Sintha.
Tapi di lain pihak hubunganku dengan Ratna jadi tambah buruk. Aku terlihat seolah-olah sebagai cowok sombong ga berperasaan di depan mata dia. Sudah tahu anggota timnya yang ngajak berantem duluan, malah aku yang ditampar. Ga mau datang ke konser, malah dia datang dan jadi batu. Harga diriku sebagai seorang cowok kok jadi kayak diinjak-injak gini ya? Aku yang seharusnya melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatannya, malah jadi bahan bulan-bulanan karena apa yang dia perbuat. Tapi itu ga lagi... Kau yang jadi saksinya. Mulai saat ini, setelah aku menyelamatkan dia dari tangan Minakjinggo, Aku ga akan biarin dia berbuat semaunya. Dia cewek, dan aku cowok. terlebih lagi dia tunanganku. Sudah jadi tugasku untuk menjaga dan mengurus dia. Aku akan tunjukkan itu, sehingga dia ga akan bisa seenaknya lagi. Dan kami bisa hidup tentram bersama, tanpa kekacauan.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger