Posted by : AksaraProject Saturday, September 24, 2011

"Singo Barong...(Singo maho)"



Tubuh Nanda yang berwujud macan kumbang, terbungkus bola berwarna hijau terang. Didalam bola tersebut, Nanda seperti tertidur, tidak mempedulikan lingkungan di sekitarnya. Semakin dalam tenggelam terbawa mimpi dan khayalan.
Flame membungkus Nanda dengan selubung energi untuk memisahkan aura manusia dan hewan yang terdapat di dalam tubuhnya. Dibantu oleh Cream, Flame mengekang kesadaran Nanda, agar dirinya tidak memberontak saat tubuhnya dipaksa melepaskan hawa siluman. Setelah semua persiapan selesai, dan Nanda sudah masuk kedalam selubung energi, Flame, Cream, Jonggrang, dan Sintha pergi meninggalkan rumah Handi. Mereka berkata akan menyusun rencana untuk membangkitkan salah satu teman mereka. Dan Karena itu membutuhkan Nanda, dengan tubuh manusia tentu saja, maka mau tidak mau Flame mengembalikan tubuhnya. Kini, 1 jam sudah berlalu sejak mereka pergi.
"Lamanya, Apa aku musti jadi satpam buat njaga macan tidur ini"? Handi menggelengkan kepala, dia ingin segera pergi melakukan pekerjaan yang lain. Tapi dia diminta oleh Flame untuk mengawasi Nanda.
"Loh, bukannya tadi persiapannya cepat ya? Mungkin sebentar lagi juga selesai". Ica menyemangati Handi.
"Persiapannya sih cepat, tapi prosesnya kayak rebounding rambut. Flame bilang paling tidak butuh waktu 3 jam agar aura silumannya keluar sepenuhnya".
"Dan kau akan terus berdiri disitu seperti patung"?
"Apalagi yang bisa aku lakukan"?
"Banyak loh... Seperti.." Ica berfikir sambil menempelkan telunjuknya di bibir. "Debat kusir dengan Ratna, atau membantu paman Pandu dan Paman Jaka melacak lokasi Dewata Cengkar, atau... Hey, kau kenapa"? Ica memotong kalimatnya saat melihat Handi menutup kedua telingannya dengan tangan.
"Jangan kau bilang nama itu di depanku. Pamalih, ntar bisa kena kutuk".
"Oh... Oke. Ya udah, kalau kau mau tetap disini. Aku mau jenguk Karis dulu. Takut lukanya makin parah".
"Omong-omong, aku heran kenapa dia bisa terluka sampai seperti itu"?
"Minakjinggo". Ica menjawab sambil menunduk. "Dan aku tidak bisa menolongnya... Waktu dia membutuhkan bantuan, aku justru jadi beban". Ica berlari ke ruang depan.
"Anak aneh, tidak ada yang minta dia untuk punya phobia itu. Tapi dia tetap menanggungnya sendirian". Handi melipat tangannya dan kembali berkonsentrasi mengawasi Nanda.
Tak lama kemudian, Ratna datang. Wajahnya masih beruap karena menahan amarah. Begitu melihat Handi, dia berhenti dan duduk di kursi sebelahnya. Handi menoleh sambil tersenyum. Ia tahu bahwa mengajaknya berdebat sama saja dengan menyulut api dimulut naga. Handi mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Waktu berlalu tanpa terasa, Ratna dan Handi sama-sama menghabiskan waktu dalam diam. Ica belum kembali dan Pandu serta Jaka juga belum menampakkan kemajuan dalam percarian mereka. Dengan keadaan yang demikian, Mata Handi menjadi berat. Sebentar-sebentar kepalanya terangguk karena terlalu berat. Tiap kali dia bangun tiba-tiba dari kantuknya, dia segera menoleh kesekeliling ruangan, takut kalau seseorang memperhatikan wajah bodohnya karena kalah oleh kantuk. Tapi sepertinya tidak ada yang tahu, karena Ratna pun juga tidak menghiraukan Handi dan sibuk dengan urusannya sendiri.
Handi kembali mengawasi bola hijau dimana Nanda terlelap. dalam hati dia protes, memikirkan betapa enaknya Nanda sekarang, tidur pulas tanpa peduli dengan keadaan. Pokoknya bangun langsung segar bugar dan berwujud orang. Tak terasa, sambil menggumamkan makian tidak jelas, Handi mengingat-ingat kembali bagaimana dirinya bisa sampai seperti sekarang. Saat pertama kali mendapatkan daun lontar dari orang tuanya, saat pertama kali menghajar Caruga, pertama kali tahu kalau ada fragment keris yang menyegel Dewata Cengkar, hingga pertemuannya dengan Flame dan mengalahkan Minakjinggo. Tiba-tiba terdengar suara Ica menjerit dari arah depan.
"KYAAAAAAAAA"
Handi terkejut dan menoleh kebelakang. Ratna tanpa pikir panjang langsung berlari kearah asal suara. Pintu depan meledak karena energi proyektil. Dari sela-sela engsel pintu, terselip bulu merak. Handi marah-marah melihat rumahnya hancur. Dia dan Ratna keluar ke halaman depan dan melihat Ica pingsan dengan luka di bahu kiri. Masih berlumuran darah, tubuh lemasnya dibawa oleh Ratna untuk menghindar dari apapun yang sudah menyerangnya.
"Siapa yang berani-beraninya menghancurkan pintu depan rumahku!? Udah sok jago HAH"!!? Handi berteriak sambil mengepalkan tinju. Dia melihat dari bayang-bayang gelap pepohonan, seseorang atau sesuatu yang memiliki mata berwarna merah menyala, keluar perlahan-lahan untuk menampakkan diri. Saat sosok itu sudah terlihat sepenuhnya, Handi terperanjat. "Karis?? sudah gila kau ya? seenaknya menjebol pintu orang".
Dari mulut Karis, hanya terdegar raungan seperti seekor singa, dan dia menyerang Handi tanpa banyak bicara. Handi yang berusaha mengelak, akhirnya terpaksa melawan balik dan memakai baju tempurnya. Karis secara insting juga memakai baju tempur untuk mengimbangi lawan. Perkelahian mereka membuat seisi rumah keluar. Pandu dan Jaka melerai mereka, tapi Karis seperti hilang akal, dirinya tidak mengindahkan Pandu dan Jaka, juga Handi yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Itu bagian mata di helmnya kok warnanya merah? bukannya seharusnya hitam"? Ratna memperhatikan keanehan dalam tubuh Karis. Selain warna matanya berubah, kelakuannya juga jadi seperti hewan buas. "Paman, buat dia pingsan"!!!
Jaka meminta Handi untuk mundur. Handi melompat satu kali untuk memperlebar jarak, dan Pandu serta Jaka memukul kepala Karis hingga tubuhnya melayang menabrak pohon. Karis terjatuh dengan bunyi berdebam keras. Semua orang kecuali Ratna, segera membawa Karis kedalam rumah.
Tak lama kemudian Karis sadar. Dirinya melihat sekeliling, heran dengan pandangan teman-temannya yang mengintimidasi. "Apa? kalian melihatku seperti melihat penjahat".
"Kau benar-benar tidak ingat"? Kata Handi curiga melihat kelakuan Karis yang berbeda 180 derajat dari yang tadi dihadapinya.
"Memangnya aku kenapa? jangan memandangku seperti itu. Kayak maho".
"APA KAU BILANG!!! SETELAH SUKSES MERUSAKKAN PINTU DEPAN, KAU MENGATAIKU MAHO"!!!
Handi menjitak kepala Karis dengan keras karena tidak terima dengan kata-kata Karis barusan.
"JETAKKKKK"
"ADOH!!! Sakit tahu"!!! Karis memegangi kepalanya.
"Ris, yakin kau tidak ingat apa-apa"? Ica ganti bertanya. Bahunya yang terluka kini nampak dibalut perban.
"Sumpah. Kalau bohong rela deh, digigit anjing rabies".
"Suruh Nanda nggigit tuh". Handi makin sebal.
"Hush diam". Kata Ratna.
Pandu menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh penghuni rumah. Dimana Karis tiba-tiba kalap dan menyerang membabi buta. Mulanya Karis berusaha menutupi dengan bercanda, tapi melihat luka yang diderita oleh Ica, akhirnya Karis mau mengakui dan menjelaskan kepada semua orang mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tanya kepada kalian ya,...sudah ada yang pernah dengar cerita reog ponorogo belum"? Tanya Karis sambil berusaha duduk bersila di lantai.
"Yang versi mana? sebelum dicuri maling sial, atau sesudah dicuri"? Tanya Handi.
"Ada ye??? halah, negara itu cuman bisa ngaku-ngaku. Ga ada yo, asal usul Reog dari sana". Karis melipat tangan. "Mau-maunya saja orang-orang di troll sana-sini".
"Oke, lanjutkan. Lebih cepat lebih baik". Kata Ratna.
"Kau ini mau dengar cerita apa mau kampanye"? Tanya Karis heran.
"Ada yang salah dengan kalimatku"?
"LANJUTKAN...." Kata Ratna sambil mengepalkan tangan kedepan. "Paham..." Karis melihat
Ratna yang bengong memandangnya. beberapa saat kemudian, masih dengan mulut terbuka, Ratna mengangguk pelan dua kali. "Dan satu lagi....LEBIH CEPAT LEBIH BAIK"!!
"Ini bukan ajang duet SBY VS JK, Tuh cerita mo dimulai ga!!? Kalau ga, aku yang bakalan maksa kamu buat buka mulai pakai bogemku". Handi sudah panas-panasan dengan Karis yang tidak kunjung memberikan penjelasan.
"Sabar tuan..." Kata Jaka menenangkan Handi.
"Yosh, Kerana kalian sudah tidak sabar dengar cerita awak".
"JANGAN PAKAI LOGAT ITU!!!!! AWAKMU WES BOSEN URIP YO"!!! Handi berdiri sambil ancang-ancang untuk memukul Karis.
"Oke, kembali ke masalah, sekarang kita serius. Aku mulai... Begini ceritanya".
"Selamat datang di kismis, kisah-kisah misteri". Kata Ica. Tapi dia tidak meneruskan kalimatnya setelah melihat tatapan membunuh dari mata Handi. Ica hanya tersenyum sambil menjulurkan lidah.

#####

Pada jaman dahulu, di kerajaan Kediri, ada seorang ratu cantik yang bernama Dewi Sanggalangit.
"Wuih, namanya sombong banget,...Nyangga langit. Kayak Atlas ja". Handi berkomentar.
"Diam, tak plester loh mulutmu". Ancam Ratna
Selain berwajah cantik, Sanggalangit juga berhati baik, sehingga menarik perhatian semua lelaki dan pangeran dari kerajaan tetangga. Tapi seperti kebanyakan wanita karir sekarang, Sanggalangit belum juga mau menikah. Hal ini membuat pusing raja dikarenakan banyaknya lamaran yang datang, namun belum juga ada jawaban.
Suatu hari, saking jenuhnya dengan pria-pria yang datang melamar, Sanggalangit akhirnya memberikan jawaban. Tapi jawaban ini malah membuat Ayahnya, sang raja tambah pusing dan juga... orang-orang yang melamarnya tujuh keliling.
"Kalimatmu yang bener donk, pusing sama tujuh keliling tu satu kalimat. Jangan dipisah." Koreksi Ratna.
"Bawel, suka-suka aku mendramatisir cerita donk". Protes Karis.
"Mau mati ya". Ratna mengacungkan tinju.
"Ampun mbah...eh mbak, ampun".
Apa gerangan jawaban Sanggalangit? Ternyata.... tak disangka..... akhirnya Sanggalangit mau menikah juga. Tapi siapa yang diterima lamarannya? Siapa? Siapa?....
"Siapa sih"? Tanya Ica heran.
"Mau tahu"? Pancing Karis.
"Mau mau".
"Tunggu episode selanjutnya".
TASSSSSS!!!!! Karis di tampar Ratna tanpa banyak omong.
"Lanjutin ga? jangan bikin orang penasaran satu minggu cuman buat tau siapa yang mau married". Kata Ratna marah.
"Hu um...." Ica mengangguk.
"Ga ada yang diterima lamarannya". Jawab Karis sambil memegang kepala.
"WHAT"!!!! Ratna dan Ica berteriak bersamaan.
"NAH!!! Ekspresi seperti itulah yang tercipta di muka semua orang yang mendengar perkataan Sanggalangit". Karis meringis melihat wajah Ratna dan Ica.
Kontan terjadi kekacauan dalam istana, saura-suara sumbang terdengar dari setiap arah. Tapi keputusan Sanggalangit tetap pada tempatnya. Dia hanya akan menerima lamaran dari lelaki yang sanggup memenuhi syaratnya. Aku buatkan list syaratnya dulu.

  1. Sang lelaki harus mampu menghadirkan keramaian dan kesenian yang belum pernah ada sebelumnya;
  2. Harus mampu menghadirkan tontonan dengan tarian yang diiringi gamelan;
  3. Harus membawa 140 kuda kembar;
  4. Harus membawa binatang berkepala dua.

"Dia gila". Kata Nanda yang datang ikut nimbrung, dengan memakai baju tempur, tapi bagian helmnya dilepas.
"Wogh...sudah bangun kau ternyata". Kata Karis. "Tapi kenapa kau pakai baju tempur? mau pamer cosplay"?
"Aku ga pakai baju, tolol. Apa kau pernah melihat macan hitam jalan-jalan pakai jumper dan celana jeans"?
"Pingin sih. Lihat yang gituan. Akan terjadi keramaian yang belum pernah ada sebelumnya". Kata Karis sambil meringis.
"Lha itu tadi syaratnya aneh bener. Pasti Sanggalangit asal ngomong. 140 kuda kembar? Ngimpi!!!! Jadi perawan tua aja sekalian". Komentar Handi.
"Hah,...lihat siapa yang bilang. Lupa ya sama temannya Flame. Si Jonggrang. Dia malah minta dibuatkan 1000 candi dalam semalam. Makin edan pula tuh". Jawab Ica.
"Sudah aku bilang kan, cewek seperti mereka itu gila. Itu sebabnya aku benci keturunan ningrat". Kata Nanda.
"No comment". Ratna berkata tegas.
Dengan keempat syarat nan mustahil diatas, pastilah ga ada satu batang hidung pun yang bisa memenuhi. Dan Sanggalangit bisa terbebas dari maho-maho yang melamarnya. Paling enggak untuk sementara sih. Karena setelah ini akan kau kenalkan 2 tokoh utama lagi.

#####

Diantara beratus-ratus pemuda yang galau dan mengundurkan diri untuk melamar Sanggalangit, ada seorang Raja dari tanah Lodoyo yang bernama Singo Barong, yang mengatakan bahwa dia mampu memenuhi segala persyaratan dari Sanggalangit. Singo Barong sendiri terkenal sebagai seorang tiran mirip Hitler yang memimpin kerajaannya dengan kejam dan tangan besi. Selain kejam dan jahat, dia juga berwujud menyeramkan, dimana dia adalah werelion. ummm....kayak werewolf gitu. Cuman tubuhnya manusia tapi kepalannya singa. Kayak Gado, kalau pernah main game Bloody Roar. Nah, tahu kan kalau singa tu banyak rambutnya, juga banyak kutunya. Maka dari itu, Singo Barong memelihara seekor merak untuk mematuki kepalanya yang penuh kutu. Dari sini kalian pasti sudah dapat gambaran besar ceritanya.
Disisi lain, ada seorang raja lagi yang mengatakan bahwa dia bisa memenuhi persyaratan Sanggalangit. Dia adalah Kelana Swandana dari Bandarangin. Bagaikan pinang dicincang, kelana adalah kebalikan dari Singo barong. Selain berwajah tampan rupawan, dia juga adalah raja yang adil dan bijaksana. Tapi....ada tapinya loh. Setiap manusia pasti memiliki sisi buruk. Tak terkecuali kelana. Dibalik wajahnya yang tampan dan sifat baik hatinya, dia punya kebiasaan buruk suka menciumi pemuda.
"MAHOOOOOOOO!!!!!!!!" Handi berteriak histeris sambil tangannya menekan kedua pipi.
"DIAM!!!!" Ratna marah-marah lagi.
Tapi Kelana sudah berjanji, jika kelak menikah dengan Sanggalangit, dia akan meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Dan begitulah, Kedua raja memerintahkan penduduknya untuk menyiapkan segala persyaratan. mulai dari kesenian yang belum pernah ada, hingga 140 kuda kembar. Saranku.... Cinta memang buta, hingga membuat orang jadi gila. 140 kuda, KEMBAR!!!!...-__-a
Dipihak Kelana, semua persyaratan sudah disiapkan. hanya tinggal binatang berkepala dua saja yang belum. Raja Singo Barong, yang ingin tahu seberapa jauh persiapan Kelana, mengirim patihnya sebagai mata-mata. Dari sang patih, diketahui kalau persiapan Kelana hanya tinggal persyaratan terkahir saja. Hal ini membuat Singo Barong kalang kabut dan memerintahkan untuk melacak jalur yang nantinya akan digunakan Kelana untuk pergi ke Kediri. Untuk kemudian disergap dan dibantai.
Kelana sendiri sudah tau niat bulus Singo Barong yang mengirimkan mata-matanya. Sehingga perang antara Lodoyo dan Bandarangin meledak bak petasan tahun baru. Singo Barong sendiri tidak tahu akan niat Kelana, sehingga dengan santainya dia pergi ke taman sari dan meminta merak peliharaannya untuk mematuki kutu.
Peperangan besar dimenangkan oleh Bandarangin, dan pasukan Kelana mengepung kerajaan Lodoyo, lagi-lagi tanpa diketahui oleh Singo Barong yang sedang asik berendam di taman sari. Betapa terkejutnya Singobarong ketika Kelana, dengan membawa cemeti amal rasuli...eh salah, cemeti samandiman datang di depannya dengan petentang-petenteng. Kedua raja inipun akhirnya saling adu jotos dan adu jurus. Kelana yang berada diatas angin, akhirnya mengalahkan Singobarong dan memberikan kutukan lewat cemetinya. Kutukan itu membuat merak yang ada dikepala Singo Barong bersatu dengan tubuhnya. Sehingga kini Singo Barong berubah menjadi hewan berkepala dua, dan hilang pula akalnya. Tak ubahnya seperti hewan buas, Singo Barong dibawa oleh Kelana, dan dijadikan pemenuh persyaratan yang terakhir, yang membuat Kelana akhirnya dapat menikah dengan Sanggalangit.
Begitu ceritanya.....

#####

"Loh, terus apa hubungannya dengan kau Ris? dan kenapa pula Kau berserk"? Tanya Ica penasaran.
"Iya, ceritamu tadi sama sekali ga menyinggung soal keadaan dirimu yang aneh". Tambah Handi.
Karis memandang orang-orang yang duduk didepannya satu persatu. setelah memandang Handi, yang berada di ujung, Karis tersenyum sambil memejamkan mata. Sesaat kemudian dia berkata.
"Itu hanya setengah dari keseluruhan cerita". Kata Karis sambil memperlihatkan bola matanya yang berubah semerah darah.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger