Posted by : AksaraProject Sunday, September 25, 2011

"Warisan...(Duit, Duit, Duit)"



Handi beserta keempat temannya keluar dari mobil sedan hitam yang saat ini berada didepan sebuah rumah besar di wilayah Ponorogo, Jawa Timur. Mereka berlima melakukan perjalanan selama lima jam dari Jogjakarta, hanya untuk menemui seseorang yang mampu menyembuhkan Karis. Karena dari cerita yang didengar Handi, hanya Cemeti Samandiman, yang dulu dimiliki oleh Kelana Sewandana lah yang dapat mencabut kutukan yang ditimpakan pada temannya itu.
Seperti yang sudah diceritakan oleh Karis, disaat terakhir dimana Raja Singobarong dikutuk oleh Kelana Sewandana untuk berubah menjadi hewan berkepala dua, Raja Singobarong sempat mengucapkan kutukan, yaitu setiap anak laki-laki keturunan Kelana, nantinya akan menjadi medium roh bagi Raja Singobarong untuk membalas dendam. Itulah mengapa keturunan Kelana selalu perempuan, sehingga seiring berjalannya waktu, anak cucu Kelana semakin lupa akan kutukan Singobarong. Hingga saat ini, dimana Karis adalah satu-satunya anak laki-laki keturunan Kelana Sewandana.
Dan seperti yang dikatakan Singobarong, dalam tubuh Karis, terdapat roh dari Raja Lodoyo itu yang sewaktu-waktu bisa keluar dan membuat Karis bertingkah bagaikan binatang buas.
Handi mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu jati bermutu, dan dihiasi oleh ukiran khas Jawa. Pada ketukan ketiga, pintu rumah terbuka, tampak seorang perempuan berumur sekitar 23 tahunan, berambut panjang yang diikat ekor kuda dan berponi. Mata tajam dan bibir tipis, menandakan dia tipe perempuan mandiri, berpendirian kuat, dan tidak suka diperintah. Tapi sisi buruknya, nada bicaranya gampang menyinggung orang lain.
"Malam mbak, umm Mbak Dhika nya ada"? Tanya Handi berbasa-basi.
"Saya Dhika, Mas siapa ya? kok datang malam-malam begini"? Jawab Dhika sambil membuka pintu agak lebar.
"Anu mbak..."
"Halah, banyak omong". Nanda menyenggol Handi dan berdiri di depan Dhika. "Kami mau pinjam cemeti pusaka milik keluarga anda, teman kami butuh bantuan".
"Apa maksudmu"? Tanya Dhika tidak paham.
"Kutukan di keluarga kita jadi kenyataan kak". Karis berjalan kedepan, agar Dhika bisa melihat dirinya. "Roh Singobarong ada di tubuhku".
"Karis.." Dhika berfikir sebentar. "Oke, ayo masuk".
Mereka berlima masuk kedalam rumah, dan menunggu diruang tamu sementara Dhika berjalan keruangan disebelah kiri untuk mengambil barang pusaka yang diperlukan oleh Karis. Beberapa menit kemudian Dhika keluar dengan membawa sebuah cemeti bergagang emas.
"Ini yang kalian maksudkan"? Tanya Dhika.
"Tidak salah". Handi berdiri sambil mengambil cemeti dari tangan Dhika. Tapi saat tangan Handi menyentuh cemeti itu, aliran listrik pendek berwarna merah menyengat tangannya, sehingga Handi cepat-cepat menarik tangan agar tidak tersetrum."Aduh.. cemetinya nyetrum".
"Sebenarnya,..ada sedikit masalah mengenai hal ini". Dhika meletakkan cemeti diatas meja yang terbuat dari batang Kayu berukuran besar. "Coba kalian berempat, masing-masing memegang cemeti ini". Kata Dhika kepada keempat teman Handi.
Masing-masing orang mencoba memegang cemeti samandiman, tapi setiap kali tangan mereka akan mendekat ke cemeti itu, sebuah aliran listrik berwarna merah, menyengat mereka. Melihat hal ini, Dhika menghembuskan nafas sejenak, lalu memposisikan duduknya agar lebih santai.
"Aku akan jelaskan pada kalian". Kata Dhika. "Cemeti ini adalah pusaka keluarga seperti yang kalian dengar dari adikku." Dhika melirik Karis. Karis menanggapi dengan menganggukkan kepala perlahan. "Dan karena hal itu, Cemeti ini hanya bisa dipegang oleh keturunan Kelana".
"Tapi tadi Karis kok ga bisa memegang cemeti itu".!? Protes Ica.
"Karena didalam tubuhnya ada Roh Singobarong, dan roh itu bukan keluarga ataupun keturunan dari Kelana". Jawab Dhika sambil memejamkan mata. "Karis, untuk membebaskanmu dari kutukan Singobarong, aku sendiri yang harus menggunakan cemeti samandiman".
"Oke, apalagi yang kakak tunggu"? Tanya Karis.
"Dari kalimatnya barusan, ada hal lain yang jadi masalah". kata Ratna yang dari tadi diam.
"Hu um, Sebelum aku menggunakan cemeti ini, aku harus memastikan kau tidak punya kemampuan untuk menggagalkannya". Kata Dhika.
"Apa maksud kakak"?
"Serahkan Daun Lontar milik keluarga kita".
"Jangan bercanda"!! Teriak Nanda.
"Dia benar, jika Karis masih punya daun lontar itu, maka saat Singobarong mengambil alih tubuhnya, kejadiannya akan sama seperti waktu dia mengamuk dirumahku". Kata Handi menjelaskan.
"Kita semua tau, apa jadinya kalau singa itu punya kekuatan untuk berubah jadi Aksaranger".
"Apa itu Aksaranger"? Tanya Dhika tidak paham.
"Umm,, Itu nama dari tim kami. Karis termasuk didalamnya. Dan yah,...Kami berempat, juga punya Daun lontar untuk memakai baju tempur". Kata Handi sambil menunjukkan daun lontar miliknya.
"Aku paham, jadi begitu keadaannya. Oke Karis, aku bawa dulu daun lontarmu, setelah ini kalian berlima temui aku di depan rumah". Dhika membawa daun lontar milik Karis dan pergi ke depan.

#####

Tak lama setelah Dhika pergi kedepan rumah, Handi dan keempat temannya mengikuti. Dhika meminta Handi, Nanda, Ica, dan Ratna untuk merjaga di empat arah mata angin, selagi dirinya menggambar segel lingkaran ditanah. Segel ini dimaksudkan untuk mengunci pergerakan Karis agar saat dirinya mengamuk, tubuhnya tetap terperangkap dalam lingkaran.
"Kau yakin ini akan berhasil"? Tanya Ratna ke Karis. Saat ini Karis hanya berdiri diam di tengah lingkaran.
"Aku yakin, lagipula aku percaya kakakku".
"Jangan serahkan semua tanggung jawab ini ke pundakku. Aku belum pernah melakukan ini. Jadi aku sendiri juga tidak tahu tingkat keberhasilannya." Jawab Dhika sambil mulai membaca mantra sambil memegang cemeti.
Tiba-tiba dari arah barat, segerombolan caruga, berjumlah empat ekor datang menyerbu rumah Dhika. Handi dan ketiga temannya melindungi Dhika sambil memakai baju tempur mereka. Teriakan GO AKSARA terdengar seiring dengan sinar yang memancar dari daun lontar mereka.
"Kalian bawa Monster-monster itu jauh dari sini, jangan biarkan mereka menggagalkan usaha kita untuk membantu Karis"! Teriak Dhika sambil masih berkonsentrasi menyalurkan energi ke arah cemeti, yang mebuat cemeti itu bersinar keemasan.
"Baiklah, Semuanya, ikut aku"!! Handi berteriak sambil bersama keempat temanya menjauhkan Caruga dari lokasi.
Dhika, yang saat ini hanya bersama Karis, tetap menyalurkan energi ke cemeti. Karis sendiri berusaha menekan kekuatan Singobarong agar tidak membuatnya lepas kontrol dan menyerang kakaknya. Saat Dhika sudah selesai membaca mantra dan menyalurkan energi, lingkaran dimana Karis berdiri bersinar, membentuk sebuah kubah emas yang memenjarakan Dhika dan Karis didalamnya. Dhika memegang Cemeti erat-erat, dan mengarahkannya ke Karis. Tubuh Karis serasa terbakar, semua kekuatannya dihisap habis oleh cemeti itu dan dia merasa ada kekuatan lain yang perlahan-lahan keluar dari tubuhnya. Makin lama, tubuhnya makin panas, dan dengan hentakan cepat, seraya melepaskan cemeti dari tubuhnya, Karis ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri.
Dari belakang tubuh Karis, tampak siluet makhluk bermata merah, dia mengenakan armor yang mirip dengan baju tempur Karis, hanya saja didominasi warna emas. Dhika yang melihatnya, segera membaca mantra dan mengenakan baju tempur, bersiap untuk mengalahkan lawan yang berdiri di depannya.
"Lama sekali aku tidak menghirup udara luar. Terjebak dalam tubuh bocah itu membuatku bosan setengah mati". Kata Singobarong sambil melemaskan otot tangannya.
"Sudah kuduga, kau terlalu lama didalam tubuh adikku sehingga secara tidak langsung kau juga menyerap sebagian kekuatan baju tempur yang dipakainya". Kata Dhika.
"Oh, maksudmu baju tempur yang berasal dari daun lontar itu. Aku sendiri juga tidak menyangka kalau musuh besarku, Kelana Swandana adalah keturunan dari Ajisaka". Singobarong berjalan perlahan kearah kanan. "Aku sudah dengar desas-desus tentang Raja tanah Jawa yang memberikan kekuatan kepada keturunannya untuk menjaga tanah ini dan meneruskan kejayaan dirinya".
"Dan sekarang, dengan kekuatan dari Ajisaka, aku akan mengembalikanmu ke kebun binatang".
"Jaga ucapanmu!! kau kira bisa dengan mudah mengalahkanku?
Jika tanpa tipu muslihat, Kelana sendiri kalah sakti melawan kekuatanku. Dia bisa menang hanya karena dia menyerangku saat aku sedang tidak siap bertempur. Apa kau pikir itu tingkah laku seorang Raja!? Menikam lawannya dari belakang"!!!
"Kau sendiri mengendalikan tubuh adikku untuk melakukan kekacauan. Apa itu juga tindakan seorang Raja"?
"Siapa duluan yang main curang. Aku hanya membalaskan dendam dan sakit hatiku pada keturunan Kelana, bukan pada orang lain. Dia sudah mengutukku dan mengambil calon istriku dengan cara curang. Sudah sewajarnya aku melakukan hal serupa kepadanya".
"Makanya, aku ada disini untuk menggagalkanmu".
Singobarong dan Dhika bertempur di dalam kubah. Dhika menyerang dari arah kiri, yang ditangkis Singobarong dengan kanannya, mementalkan pukulan dhika. Singobarong lalu menyikut Dhika sehingga menghempaskan tubuh lawannya ke dinding kubah. Dhika menggunakan kakinya untuk menambah momentum dan menghempaskan tubuhnya ke arah Snigobarong. Setiap pukulan dan tendangan dari Dhika ditangkis dengan cepat. Tapi semakin cepat gerakan Singobarong, semakin Dhika bisa melihat ritme pertahanannya. Sehingga dalam satu gerakan tipuan, seolah-olah Dhika akan memukul dari arah kanan, membuat Singobarong menangkis, tapi ternyata Dhika dengan cepat menendang muka Singobarong dari arah kiri.
Singobarong melepaskan bulu merak dipunggungnya dan menggunakan bulu-bulu itu sebagai pedang. Setiap pedang melayang dan dikendalikan oleh kekuatannya. Dhika juga mengeluarkan panah dan menembakkan bulu-bulu merak kearah Singobarong. Singobarong berlari sambil melontarkan setiap pedang yang dimilikinya kearah Dhika. Dhika melompat menghindar dan membidikkan anak panah tepat diwajah Singobarong, tapi Singobarong mengumpulkan semua pedangnya ke tengah dan menggunakannnya sebagai perisai. Energi dalam anak panah Dhika terkumpul, dan dia menembakkan anak panah itu kearah perisai pedang milik singobarong. Hantaman energi dari masing-masing serangan, menimbulkan ledakan besar yang menghancurkan kubah emas dimana Dhika dan Singobarong berada.

#####

GLARRRRRRR!!!!!!
Suara ledakan besar membuat Handi, Nanda, Ica, dan Ratna segera menuju ke lokasi awal mereka. Caruga-caruga yang menyerang pun tiba-tiba juga menghilang. Setelah sampai di tempat Karis dan Dhika berada, mereka berempat melihat Dhika berdiri diam, ditangannya masih memegang panah, dan Karis yang tergeletak tak sadarkan diri disamping kirinya.
"Apa yang terjadi barusan"? Tanya Ica.
"Dia kabur, Singobarong berhasil kabur dari kubah perangkapnya".
"Bukannya Singobarong ada ditubuh Karis"?
"Aku memisahkan mereka berdua. Sebenarnya aku bermaksud mengalahkannya di sini, tapi dia memanfaatkan energi dari panahku untuk membuat jalan keluar dan kabur".
"HHAHAAHAHAHHA jangan kira aku cukup bodoh untuk masuk perangkapmu". Terdengar suara Singobarong dari arah atas. Dia melayang di tengah malam, sambil melipat tangan, mengawasi semua orang dibawahnya dari balik helm baju tempurnya.
"Itu,...itu baju tempur Karis". Handi terkejut.
"Bukan, dari jauh memang mirip, tapi kalau dilihat lebih teliti, armornya berbeda". Jawab Nanda.
"Dia berhasil menyerap kekuatan daun lontar, dan sekarang dirinya punya baju tempur sendiri". Kata Dhika sambil mengarahkan panahnya kearah Singobarong.
"Tiap baju tempur merefleksikan penggunanya. Dia seorang raja, tidak heran kalau baju tempurnya mirip dengan Flame". Kata Ratna sambil mengamati armor singobarong. "Dan aku takut kalau kekuatannya juga setara dengan Tim 4, tim para Raja. Karena jika benar, kita tidak mampu menghadapinya saat ini".
"Benar sekali, sebaiknya kalian ikuti kata-kata gadis berpakaian putih itu. Sekarang bukan waktunya kita untuk adu kekuatan". Kata Singobarong sambil menghilang ditelan malam.
"Sial!!!" Teriak Dhika.

#####

Jogjakarta, Keesokan Harinya...
Karis duduk diteras rumah Handi bersama dengan Nanda dan Ratna. mereka bertiga membahas masalah Singobarong yang terpisah dari tubuh karis, dan bagaimana dia bisa keluar dari kubah emas, yang seharusnya digunakan untuk menangkapnya. Daun lontar yang dipakai Dhika, juga sudah dikembalikan lagi. Sehingga sekarang, tim 1 sudah bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Tetapi lawan yang harus mereka hadapi juga bertambah. Handi datang sambil membawa jus jeruk segelas besar. Tadi pagi, Dia mendapat kabar dari Dani, kalau Arta dan Irwandha sudah siap untuk membangkitkan anggota tim 4, dan sekarang mereka membutuhkan Nanda untuk membantu.
Tentu saja Nanda ogah-ogahan. Dia skeptis pada Tim 2, sehingga tidak mau membantu. Tapi Ratna yang menjelaskan situasi yang saat ini dihadapi oleh semua tim, mau tidak mau memaksa Nanda untuk pergi ketempat Arta dan Irwandha. Ica dan Ratna sendiri akan pergi kerumah Ratna untuk menyembuhkan phobia yang dimilki Ica terhadap tempat luas, sehingga di dalam rumah, hanya tinggal Handi dan Karis, karena Jaka dan Pandu, saat ini sedang bertemu dengan Tania dan Yanuar untuk membahas pembentukan tim 3.
"Sepi juga ya kalu tidak ada mereka". Kata Karis sambil memutar-mutar daun lontar ditangannya.
"Hehe, aku lebih suka suasana seperti ini. daripada penuh teriakan ga jelas". Jawab Handi.
"Kau tau, kadang aku bingung. Banyak hal yang sampai saat ini masih belum bisa aku mengerti. Seperti kenapa ada tim 2, sedangkan mereka bukan keturunan Ajisaka, lalu tentang tim 4, dan juga...."
"Hey hey, antri dulu pertanyaannya, bukan cuma kau yang pusing dengan semua hal ini. Tapi aku yakin, suatu saat semua hal yang belum kita ketahui akan terjawab, hanya saja belum waktunya".
"Halah, waktu kan relatif. Sekarang atau nanti, juga sama saja kan".
"Hehehehe, ga seru nanti kalau semua hal di beberkan terlalu cepat. Kau pernah dengar istilah remaja karbitan kan...ya kira-kira sama lah perumpamaannya".
"Apa itu remaja karbitan? buah karbitan aku tau".
"Anak kecil yang terlalu cepat dewasa, jaman sekarang kan lagi musim tuh. Anak SD ja sudah pacaran. hahahahaha"
"Dan hubungannya dengan informasi yang tadi kau atakan soal tim 2 dan tim 4"?
"Sama kan,....kalau kita tau informasi terlalu cepat, bisa saja kan kita belum cukup data sehingga bisa salah mengambil keputusan".
"Ga paham... -_-a"
"Soal Flame, waktu pertama kali kita bertemu dia, dia kayak bajingan yang suka main jotos dan sok kuat".
"Hum hum aku sepaham denganmu". Karis mengangguk2.
"Tapi ternyata sifatnya tidak seperti itu".
"Kesan pertama begitu menipu. selanjutnya terserah anda".
Karis dan Handi tertawa.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger