Posted by : AksaraProject Tuesday, October 11, 2011

"Complete...(Akhirnya...)"



Pagi itu di tempat tinggal Flame, terdengar ledakan yang memekakkan telinga. Diikuti dengan sinar dan kilat kecil yang saling menyambar. Sudah dua jam anomali ini berlangsung. Tapi belum ada tanda akan berhenti. Cream hanya menggelengkan kepala melihat apa yang sedang terjadi di rumahnya. Pagi itu dia terlihat berantakan. Kaos putih tanpa lengan dipasangakan dengan celana pendek warna biru muda, membalut tubuh putihnya. Rambutnya yang berwarna cokelat kekuningan hanya diikat seperlunya. Yang berakibat banyak cabang rambut mencuat kesegala arah. Cream duduk sambil makan pop cycle dan melihat tiga orang saling bertransformasi di halaman belakang yang menimbulkan ledakan-ledakan besar. Melihat hal in Cream hanya menggeleng lagi. Dan akhirnya menemui ketiga orang itu.
"Kalian bertiga memang kuno nyaaa. Jika kalian menggunakan kekuatan kalian untuk berubah menjadi monster seperti ini, bisa gempar seluruh kota nyaaa". Kata Cream sambil mulutnya masih terisi pop cycle.
"Adik kecil, mana kami tahu kalau wujud ini sudah tidak cocok dengan perubahan zaman? dimasa kami, wujud ini yang paling keren". Kata Sintha yang saat ini berubah menjadi angin dengan siluet manusia.
"Benar itu, Harusnya kakakmu sendiri yang mengajari kami. Dia lebih tahu detailnya". Kata Jonggrang yang berubah menjadi elemen air, menimpali.
"Hmph...benar juga nyaaa". Cream berfikir sejenak. "Tapi tidak. ANATA masih kuliah. Baru pulang pukul 3 sore nyaaa. Jadi Cream yang akan menggantikan ANATA melatih kalian membentuk armor baru dari kekuatan kalian nyaaa".
"Aku pribadi berfikir wujud golemku ini akan terlihat konyol dibandingkan baju tempur tim yang lain". Kata Gajah Mada sambil kembali ke wujud manusianya.
"Intinya,...sebelum kalian bertransformasi, kalian pikirkan armor paling keren yang ingin kalian pakai. Setelah itu, teriak AWAKENING nyaaa....." Chika mengangkat kedua tangannya keatas.
"Ngomong gampang,...prakteknya susah". timpal Sintha.
"Coba dulu nyaaa".
"Oke oke, aku coba". Sintha berdiri di tengah halaman belakang. Jonggrang dan Gajah Mada yang sudah kembali ke wujud semula, menyingkir agak jauh. Cream mundur tiga langkah. "Pikirkan armor paling keren, hmmmmmmm" Mata Sintha terpejam membayangkan baju tempurnya. "Pusatkan kekuatan" wajah Sintha berubah serius karena mengumpulkan energi. Cream dan kedua orang yang lain melongo melihat perubahan dalam diri Sintha. "Dan terakhir.......". Sinar kehijauan diiringi angin menyelimuti tubuh Sintha. "AWAKENING NYAAA"...
GUBRAKKKKKK
Tiga orang yang memperhatikan Sintha jatuh setelah mendengar teriakan itu. Tapi Sintha berhasil, kini tubuhnya diselimuti armor putih emas, dan terdapat huruf THA di bagian jubahnya. Mirip seperti punya Flame.
"Wow, Keren...ini benar-benar mimpi jadi kenyataan". Sintha mencoba mengeluarkan senjatanya, sebuah rapier kecil berwarna putih yang dihiasi ukiran naga emas. "Wutt wutt wutt" Kata Sintha sambil menebaskan pedangnya. "Yahooo...Kalian berdua pasti ngiler kan". Sintha memandang Gajah Mada dan Jonggrang sambil menjulurkan lidah.
"Bah, kalau cuman begitu, aku juga bisa". Bantah Jonggrang.
"Aku tidak mau kalah dengan pendekar desa". Kata Gajah Mada.
"AWAKENING NYAAA". Teriak Jonggrang dan Gajah Mada bersamaan. Halaman belakang tempat tinggal Flame terbungkus oleh cahaya terang yang menyilaukan mata.
"Mereka salah mengucapkan kata-kata perubahan nyaaa, ANATA marah tidak ya"? Kata Cream sambil garuk-garuk kepala.
#####
Disebuah taman, didepan perpustakaan besar Jogjakarta, seekor Caruga terlempar menabrak dinding, diikuti oleh Caruga kedua. Handi beserta empat anggota tim 1 yang lain, saat ini sedang sibuk menghajar tujuh Caruga yang sejak tadi sudah membuat onar dan meresahkan masyarakat. Nanda melompat dari pundak Karis, kemudian menendangi tiga Caruga secara berturut-turut. Ketiga kadal itu terhuyung mundur, yang kemudian dipanah secara bergantian oleh Karis. Panah-panah itu meledak, membuat ketiga Caruga ikut terpelanting menabrak dua Caruga yang sudah saling tindih.
"Tinggal dua lagi. Handi, Ica, bantu aku". Kata Ratna sambil mengambil kuda-kuda untuk berlari.
"Okky dokky". Ica melemparkan kipas besinya kedepan, yang kemudian dinaiki Ratna sebelum dirinya menendang kipas itu ke arah tenggorokan seekor Caruga.
Handi yang dari tadi menghindari pukulan dan sabetan ekor Caruga yang dihadapinya, kini mengambil kipas besi Ica dan memebelah Caruga dengan pedang yang dimilkinya dan kipas besi ditangan satunya. Ratna yang berlari kearah Handi, menambahkan satu tebasan lagi untuk memastikan lawan mereka benar-benar sudah kalah.
Ketiga Caruga yang tadi pingsan, kini bangkit dan berlari menyerang Aksaranger secara bersamaan. Handi dan keempat temannya membentuk formasi dengan urutan Handi paling depan, Nanda dan Karis berada di belakangnya, sedangkan Ratna dan Ica, masing-masing berada di belakang Nanda dan Karis. Senjata mereka berlima digabungkan menjadi sebuah pedang besi yang memiliki bilah dua kali panjang pedang Handi, dengan busur panah dan kipas besi berada di gagangnya dan senjata cakar milik Nanda mencengkeram bilah pedang di masing-masing sisi. Gabungan senjata kelima orang ini dipegang oleh Handi, dan keempat orang dibelakangnya menyalurkan energi dengan cara memegang punggung orang yang ada didepannya. Aliran energi yang terkumpul membuat bilah pedang berwarna emas dan makin memanjang, hingga dirasa panjangnya sudah cukup, Handi menebaskan pedang dari arah samping dari jarak tiga meter. BLAZZZZZZZZ.
3 Caruga yang tadi berlari tanpa sadar telah terpotong tubuhnya. Dan kadal-kadal itu ambruk lalau terbakar. Aksaranger terdiam sejenak melihat hasil pertarungan mereka, kemudian kembali melepaskan baju tempur, dan pergi ke Malioboro untuk jalan-jalan. Tapi sebelum mereka sempat melangkahkan kaki dari tempat itu, Yanuar datang bersama Jonggrang dengan keadaan tergesa-gesa.
"Nona Ratna, ada urusan mendadak, Nona Jonggrang ingin merundingkan sesuatu dengan anda". Kata Yanuar setelah tiba ditempat Aksaranger.
"Kau yang bernama Ratna. Ikut aku". Kata Jonggrang sambil memegang tangan Ratna.
"Kemana? Jangan maen culik orang. hey..." Tubuh Ratna perlahan menghilang mengikuti Jonggrang yang memegang tangannya. Tapi sebelum Ratna benar-benar lenyap, dia sempat memegang pundak Yanuar, sehingga dalam hitungan detik, Yanuar juga ikut lenyap.
"Wooo.... apa yang terjadi. Datang ga dijemput, pulang ga diantar." Kata Karis kaget melihat kejadian barusan yang sangat cepat.
"Semoga saja 2 Ratu itu tidak membuat masalah dan melemparkannya pada kita". Kata Nanda sambil berjalan menjauh.
"Maumu... Tapi ya sudahlah, kita senang-senang sekarang. Katanya ada Cosplay di lapangan Ketandan dekat Malioboro. Ayo buat sedikit kegemparan". Handi meringis sambil tertawa kecil.
"Eh, jangan aneh-aneh, kau ga akan pakai baju tempurmu didepan otaku-otaku cosplay kan". Ica melarang Handi.
"Kenapa tidak boleh, Toh mereka juga akan mikir baju ini terbuat dari busa ati". Kata Handi sambil memakai baju tempurnya lagi.
"Jangan salahkan Aku kalau nanti terjadi apa-apa lo". Ica berkata sambil menghampiri Karis.
"Apa yang bisa lebih buruk daripada ini...." Kata Handi sebelum... JEPRET....
Terdengar suara kamera diikuti dengan kilat cahaya dari arah kanan Handi. keempat orang Aksaranger menoleh reflek kearah sumber suara, dan mereka mendapati 3 orang berkacamata, membawa tas besar berwarna hitam dipunggungnya, berjongkok sambil memotret Handi berkali-kali. Jepret jepret jepret...
"Wah,..Cosplayernya udah ada yang ganti baju nih. Padahal masih ditaman pintar". Kata salah seorang yang memotret Handi.
"Yang ini kostumnya keren banget, mirip aslinya. Kita bakalan menang kontes photo kalau modelnya serealis ini". Timpal orang yang satunya. dan ketiga orang itu kembali memotret Handi.
"Karis, Ica, Kita kabur...." Kata Nanda lirik mengkomandoi kedua temannya. dan mereka bertiga lari tanpa diberi aba-aba.
"HEY kalian,...tunggu aku". teriak Handi sambil melepas baju tempurnya dan berlari menyusul ketiga temannya.
"WOW.....Efek cahanya keren banget....."Teriak orang terkahir yang memotret Handi tadi.
#####
Ratna, Jonggrang, dan Yanuar berdiri di rerumputan yang terdapat didepan Candi Sewu Prambanan. Mereka terlihat berargumentasi sambil berjalan mengitari kompleks candi. Mencari sesuatu yang tersembunyi diantara bebatuan dan relief penghias arsitektur bersejarah itu.
"Aku tidak sudi membebaskannya. Dia hanya pembuat masalah". Teriak Jonggrang marah-marah sambil menendang kerikil didepannya. Kali ini Jonggrang tampak modern, dengan rambut panjang dibiarkan tergerai dipunggung, dan Jaket putih biru, berbalut garis emas dipadu dengan celana jeans biru tua menutup tubuh moleknya. Tak lupa aksesoris kaca mata dengan gagang tipis dan tanpa frame, praktis membuat orang yang melihatnya tidak akan sadar kalau dirinya adalah Ratu yang hidup pada masa awal tanah Jawa.
"Lalu kenapa kau memintaku kesini RATU"!! Ratna tak kalah ngambek.
"Apa lagi, KAU yang akan membebaskannya. Bukan aku. Hmph".
"Hey ratu galak, aku bahkan tidak atau apa yang kita cari disini, dan apa pula yang akan aku BEBASKAN. Jadi jangan bentak-bentak tidak jelas seperti itu".
"Sudah panas aku hanya mendengar permintaan Mada yang mengatakan kalau cuma aku yang bisa membebaskan kutukan yang menimpa....DIRINYA".
"siapa? Gajah Mada? memangnya dia dikutuk jadi apa? Gajah ya.."
"Bukan dia. Tapi seorang laki-laki lagi di tim kami".
"Ba..."
"Jangan teruskan nama itu"!!
"Heh, wajah saja galak, ternyata, kelakuan sama kayak Handi". Ratna mencibir.
"Nona, kenapa anda tidak mau membebaskan teman seperjuangan anda"? Tanya Yanuar halus.
"Dengan segala hormat paman Yanuar, aku tidak suka dia". Jawab Jonggrang.
"Alasan macam apa itu? kalau memang tidak suka ya tinggal bilang kan? repot". Ratna meninggikan volume suaranya sambil berkacak pinggang.
"Ha Ha Ha....Kau sendiri,...kenapa kau tidak bilang benci pada tunanganmu"!? Tantang Jonggrang.
"Jangan bahas itu"! Timpal Ratna.
"Ada yang salah nona kecil? Keadaan yang kau alami, garis besarnya sama denganku. Kita sama-sama harus berurusan dengan laki-laki yang terus saja berlari mengejar kita seperti kuda pacuan. Sedangkan kita mati-matian menendang mereka agar manjauh dengan cara halus, tapi gagal".
"Salah. keadaanku berbeda denganmu"!
"Sebutkan letak perbedaan mendasarnya".
"Pihak lelaki yang bertunangan denganku, aku merasakan ada niatan buruk dalam diri mereka, sehingga aku mati-matian menolak, karena aku akan menghancurkan garis keturunan keluarga mereka hingga keakarnya. Sedangkan kamu....Dia melamarmu karena tulus, tapi kamu tidak berani menolak lamarannya, bahkan memakai cara curang untuk menggagalkan tugas yang kamu berikan padanya".
"Tulus? Apa yang kau tahu. Sifat yang dimilikinya tidak sebaik apa yang ada di muka".
"persetan".
"Mau cari masalah denganku ya"?
"Coba kalau kau berani".
"Kalian berdua tolong tenang dulu"!!!!! Yanuar berteriak menghentikan pertikaian antara Jonggrang dan Ratna.
Ketiga orang itu terdiam untuk beberapa saat. Yanuar mengatur nafasnya agar dia tidak
kehilangan kontrol karena mengurusi kedua cewek sok kuasa itu.
"Nona Ratna, Nona Jonggrang, tolong, untuk sekali ini, kita melakukan sesuatu yang berguna, dan menyisihkan ego kita." Yanuar diam sebentar lalu memandang Ratna. "Nona Ratna, saya paham kenapa anda tidak mau menuruti permintaan orang tua anda dan melanjutkan hubungan dengan Tuan Dani. Wajar saja anda curiga, bagaimana mungkin 2 kerajaan yang dari dulu selalu berebut kekuasaan, tiba-tiba melakukan gencatan senjata dan menjodohkan anak mereka. terlebih lagi kekuatan dari tim 2, didapat dari eksperimen akan daun lontar keluarga anda".
"Itu yang aku takutkan Paman. Aku kenal dengan sifat manipulatif keluarga itu. Karena itulah, aku akan menghancurkan semua keturunan mereka hingga tidak tersisa. Dan paman, tolong jangan halangi aku. Aku tau paman tidak bisa menolak perintah ayahku, tapi aku tidak akan sungkan melawan keluargaku sendiri demi membuktikan bahwa apa yang aku takutkan, adalah kenyataan".
"Saya memang tidak punya hak untuk menentang perkataan ayah anda. Tapi sebagai seorang pengasuh, saya hanya bisa memberikan saran. Jika anda memang ingin meruntuhkan sebuah istana dengan kekuatan kecil, jangan runtuhkan dari luar, tapi hancurkan pondasinya dari dalam".
"Dengarkan itu ratu kecil". Kata Jonggrang tanpa melihat Ratna dan masih mencari sesuatu direruntuhan candi sewu.
"Anda juga Nona Jonggrang". Kata Yanuar pelan.
"Apa denganku"?
"Anda adalah seorang ratu yang menjadi pedoman dan pandangan rakyat, seorang ratu yang baik, bukanlah seorang ratu yang menutupi hati sebenarnya dengan kebohongan dan muslihat. Dari apa yang anda lakukan saat itu, dan apa yang saya lihat saat ini, merupakan 2 hal yang saling bertolak belakang".
"Maksudmu"??
"Jika memang anda tidak mau membebaskan kutukannya, dan meminta nona Ratna untuk melakukannya, kenapa justru saat ini anda yang kalang kabut mencari pintu gerbang candi itu"?
"Apa.... pintu...?? Tentu saja! agar kekuatan 20 orang bisa terkumpul. Apa lagi"?!
"Lalu kenapa harus nona Ratna"?
"Karena hanya dia yang bisa. Dia punya darah kerajaan".
"kenapa bukan Nona Melani"?
"HAH? cewek ember itu? tak sudi"?
"Anda memang tidak sudi, atau karena anda takut jika dia membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah gadis lain yang masih belum punya jodoh"?
"Memangnya aku peduli? Dia mau sama cewek lain, gadis lain, janda lain, itu urusannya".
"Ketahuan". Ratna tertawa kecil mendengar jawaban Jonggrang.
"Jangan ketawa".
"Nona Jonggrang, kami disini sudah tahu apa sebenarnya yang terjadi, Pandu mengatakan, kalau segel yang mengikat kutukan batu dalam tubuh orang yang kita cari, berada pada Candi pertama yang dia bangun. DAN HANYA ORANG YANG DIKEHENDAKINYA SAJA, YANG MAMPU MELEPASKAN SEGELNYA". Kata Yanuar sambil membimbing Ratna ke Candi pertama di kompleks Candi Sewu.
"a....aa" Jonggrang tidak mengeluarkan suara.
"Sebelum anda menyanggah kalimat saya sebelumnya, Anda perlu mengetahui, cerita yang kami dapat turun temurun dari abdi dalem kerajaan, mengatakan bahwa dia melakukan hal seperti itu, agar dirinya tidak dapat dibebaskan. Itu merupakan bentuk penyesalan terbesarnya karena telah mengutuk anda. Jadi hanya anda yang bisa menghilangkan kutukannya. Dan dari sikap anda barusan, sepertinya saya dan nona Ratna hanya akan menunjukkan pintu masuknya". Yanuar menunjukkan sebuah reruntuhan Candi yang terletak agak jauh dari kompleks, di reruntuhan itu terdapat pintu besar yang terbuat dari batu. Ratna dan yanuar hanya menunggu di luar, sedangkan Jonggrang berjalan memasuki Candi. Ratna tersenyum dari kejauhan, dia menoleh kearah abdi dalemnya sambil tersenyum.
"Kadang paman punya keberanian juga menantang seorang ratu". Kata Ratna.
#####
Jonggrang berjalan memasuki Candi secara perlahan-lahan. Didalam dirinya masih bercampur perasaan malu, takut, dan rasa bersalah atas apa yang terjadi. Dirinya sama sekali tidak mengira jika kecurangan kecil yang dilakukannya untuk menghindari lamaran, berbuah bencana dan menjadikan dirinya beserta lelaki yang tulus melamarnya terkena kutukan seumur hidup.
Seiring dengan langkah kakinya yang semakin mendekatkan dirinya dengan luka lama yang telah tertoreh dalam, Jonggrang mengingat kembali apa yang terjadi setelah dia dan keempat temannya membantu Ajisaka menyegel Dewata Cengkar. Kilasan-kilasan memori yang dihabiskannya setelah berpisah dengan Gajah Mada, Flame, dan Sintha, dikarenakan takdir masing-masing. Ingatan tentang bagaimana dia kesulitan menyeimbangkan antara posisi dirinya yang seorang ratu, dengan fakta bahwa dia juga adalah seorang wanita, menyesakkan nafas. Menolak lamaran yang terus berdatangan dari kerajaan lain, hanya untuk menunggu permintaan dari seorang pangeran yang tidak akan pernah datang karena permusuhan kerajaan.
Dan ketika pangeran itu datang, hari yang seharusnya menjadi hari terbahagia dalam hidupnya, berubah menjadi hari ternaas, karena orang yang diharapkannya telah membunuh sang ayah. Dan bukannya datang untuk melamar, sang pangeran justru datang dengan segenap tentara untuk merebut kerajaan. Kecewa dan amarah telah membutakan hatinya, Ratu ini terbutakan oleh kenyataan akan peperangan yang tidak akan menyatukan kedua hati mereka, sehingga ketika sang pangeran benar-benar melamarnya dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi, sang Ratu bukannya menerima, melainkan menolak dan memberikan 2 tugas yang mustahil diselesaikan.
Jonggrang semakin mendekati patung seorang lelaki yang duduk bersila. Seolah menunggu dengan sabar pujaan hatinya untuk memaafkan dan menerima lamaran yang sudah ditunda selama ratusan tahun. Saat jonggrang melihat patung itu, lututnya lemas, air matanya jatuh tak terbendung, harus diakui, walau dendam dan kebencian sudah menutupi matanya saat itu, dirinya tidak bisa berbohong bahwa dia masih bisa menerima lamaran teman seperjuangannya. Rasa sesak dan penyesalan yang memenuhi paru-paru sang ratu, membuat dirinya tak berdaya menahan semua rasa dan tekanan yang selama ini sudah menyiksannya. Dari luar Candi, Yanuar dan Ratna samar-samar mendengar isak tangis Jonggrang ketika dirinya menemukan kenyataan dan harapan yang selama ini diyakininya sudah hilang.
"Paman, sebaiknya kita segera kabur dari sini, ratapan memilukan itu bisa membuat satpam yang berjaga di kompleks ini lari tunggang langgang, karena mengira kalau itu suara kuntilanak". Kata Ratna sambil bersiap lari. Yanuar hanya tersenyum melihat Ratna, dan menunggu Jonggrang keluar dari candi.
Didalam Candi, Jonggrang masih menangis, kali ini bukan amarah yang menguasainya, namun hembusan angin kasih sayang dan harapan yang ironisnya, justru membuat dirinya makin sesak nafas dan menangis tersedu-sedu.
"Aku mengira, dengan menghukummu untuk membalas dendam kematian ayahku, aku bisa mengubur perasaan dan harapanku. Aku kira,...dengan memberimu tugas yang mustahil kau selesaikan, kau bisa memadamkan perasaanmu menyerah akan diriku. Aku kira....." Jonggrang menangis makin kencang sambil menunduk, tidak berani menatap wajah patung didepannya. "Aku kira dengan kemarahanmu, dengan kutukan yang kau jatuhkan padaku, kau bisa melupakanku dan melanjutkan hidupmu. Ketika aku membuka mata pertama kali dihadapan Teman seperjuanganmu itu, Hal pertama yang aku tanyakan adalah kisahmu. Dan ketika aku mengetahui bahwa kisahmu berakhir tak lama setelah diriku. Penyesalan atas apa yang telah kuperbuat memenuhi pikiranku. bayangan dan dugaan akan kematianmu membuat diriku makin kalut dan menyalahkan diri sendiri. Tapi Flame menolongku, Dia mengatakan bahwa kau masih hidup dan mengutuk dirimu dalam penyesalan mendalam". Jonggrang mulai memberanikan diri menatap wajah patung itu.
"Akhirnya,....harapan untuk bisa bertemu kembali denganmu, menjadi kenyataan. Tapi aku yang bodoh dan keras kepala ini masih saja menepis semua hal itu". Jonggrang tersenyum kecil diantara tangisnya. "Mungkin benar kata Flame, nama kerajaanku bisa diartikan kerajaan bodoh. bahkan ratunya sendiri juga seperti itu". Jonggrang diam selama beberapa saat. "Kali ini, aku tidak akan berbohong lagi, aku tidak akan mentutupi apa yang terjadi, 700 tahun adalah waktu yang cukup lama bagiku untuk menata kembali pikiran dan emosiku. Dan walaupun kita tidak ditakdirkan bersama, apa yang kau lakukan telah membuktikan padaku, bahwa itu semua hanya mitos. Karena saat ini, detik ini, kita bertemu dan akan mematahkan itu semua". Jonggrang berdiri dan menyentuh wajah patung yang duduk bersila di depannya. Sambil tersenyum, dan sebutir air mata terakhir menetes dari pipi kanannya, Jonggrang berkata....
"Bandung Bandawasa....Aku memaafkanmu".
#####
Diluar candi, Ratna makin gatal ingin segera pergi dari tempat itu, saat dirinya melihat cahaya suram merayap dari dalam candi. Matanya menoleh ke sisi kiri candi, dimana terdapat semak-semak Janggal yang seharusnya tidak ada disitu. kecurigaanya muncul.
"HEY.....tidak usah sembunyi, penyamaranmu terlalu mencolok". Kata ratna kearah semak-semak aneh itu.
"Tuh kan, apa ku bilang. Kau sih, ga mau nurut omonganku. kalau sembunyi jangan disemak semak, kebiasaan perang sih". Protes Flame pada Gajah Mada yang keluar dari tempat persembunyian mereka.
"La kapan lagi kita bisa mendapatkan area sedekat ini dengan pusat drama. Jarang kan kita bisa lihat dua orang keras kepala itu saling mengaku salah". Bantah Gajah Mada.
"Haduh...kalian berdua, suka ya lihat cewek nangis". Sintha yang muncul dibelakang Flame dan Gajah Mada ikut bicara.
"Kalau kau protes, kenapa kau ikut sembunyi"?? Teriak Flame dan Gajah Mada bersamaan.
"Tak disangka, ternyata tim para raja juga bisa berkelakuan seperti anak kecil". Kata Ratna sambil berkacak pinggang.
"Hey nona, kami bukan raja ya. Aku hanya patih..MAHA patih sih, hehhehehe, Flame ini, hanya seorang petinggi keluarga, sedangkan ini, Sintha..." Gajah mada menarik tangan sintha. "Dia pendekar, jadi wajar donk, kalau sifat kami seperti ini, lagipula kami masih muda." Kata Gajah Mada sambil cengar-cengir.
"AKU yang masih muda, kalian berdua sudah tua. Dan Kau Mada, Patih kok kelakuannya slenge'an gitu, mana sidat bijaksana mu". sanggah Flame.
"Bijaksana, bijaksini....protes saja, itukan aku waktu sudah tua, sudah uzur. sekarang aku muda lagi, ga ada yang larang aku menikmati masa mudaku. hhehehehe".
"Kacau nih sejarah kalau begini". Flame menepuk jidatnya.
"Eh lihat, itu mereka berdua sudah keluar". Kata Sintha sambil menunjuk kearah pintu candi.
Tampak Jonggrang berjalan sambil memapah Seorang pemuda yang berperawakan gagah dan berambut sebahu yang agak acak-acakan. mereka tersenyum saat melihat Gajah Mada dan teman mereka yang lain menunggu didepan candi.
"Gimana didalam, dingin ga"? Tanya Gajah Mada asal-asalan. Yang dijawab Bandung dengan tersenyum.
"Nah, sekarang tidak ada lagi yang namanya kerajaan Penging dan Baka. yang ada hanyalah Jogjakarta. Kerajaan kalian sudah tamat. Kalau mau protes, protes sana ke Hamengkubuwono X. Jadi sekarang tidak ada alasan perbedaan kerajaan dan peperangan yang bisa memisahkan kalian berdua". Flame berkata sambil menepuk bahu Gajah Mada dan Sintha.
"Akhirnya tim kita lengkap". Kata Gajah mada sambil nyengir lebar.
"Tinggal ngomong suka, gitu aja kok repot". Kata Sintha sambil menjulurkan Lidah.
"Tim 4 sekalian,...silahkan nikmati keadaan, kami berdua pulang dulu". Kata ratna sambil menjauh.
"Terimakasih Ratna, kalau bukan karena kalian berdua, Ratu Bodoh ini tidak akan mau mengakui perasaannya sendiri". Kata Flame sambil tersenyum mengiringi kepergian Ratna dan Yanuar.
"Nah Mereka sudah pergi, sekarang waktunya kita makan-makan. Tapi sebelum itu, Kau Bandung, Ini tahun 2011, telanjang dada mamerin otot kayak gitu sudah ga jaman, ini eranya pakai baju, jadi kau akan ikut-ikutan pakai baju, seperti kami". Kata Gajah Mada sedikit mengejek.
"Kamu kalau banyak makan, nanti jadi gendut lo". Kata Bandung setelah dari tadi tidak mengeluarkan suara.
"Lah....belum tahu dia, makanya jangan jadi batu. ga tau perkembangan cerita kan akhirnya".
Kata Gajah Mada sambil tertawa.
"Dia ini tuanya memang jadi gendut. kebanyakan makan maja pahit". Kata Flame diikuti tawa
keempat temannya.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger