Posted by : AksaraProject Monday, October 3, 2011

"Episode Cewek...(Angka sial,Racun Dunia, apalagi?)"



Sore itu Ica berjalan-jalan di taman sebelah rumah Ratna. Dia menikmati keindahan bunga-bunga yang mekar dan menawan seiring dengan semakin mengecilnya sinar matahari, yang akhirnya tenggelam di ujung barat. Hari itu jadwal psikoterapi untuknya yang akan dilakukan pada pukul 7 malam memberinya banyak waktu untuk menenangkan diri. Ica duduk dibangku taman sambil melamun. Mengenang masa lalunya sebagai seorang penari keraton disalah satu sanggar tari di Jogjakarta. Dia sedikit merindukan hari-hari dimana dia harus bangun pagi untuk olahraga, melenturkan badan, sarapan dan berangkat ke sanggar untuk latihan. Hal itu memang menguras tenaga, tapi tidak bisa ditutupi, Ica memang dilahirkan untuk itu. Dirinya sangat menikmati detik demi detik saat tubuhnya melenggok, mengikuti irama musik dan mempertunjukkan salah satu kesenian yang hampir punah. Seperti ada kebanggan tersendiri dalam diri Ica atas apa yang dilakukannya. Ica tersenyum mengingat hal itu.
Dari arah pintu dapur, Ratna memanggil Ica. Dia mengatakan bahwa sekarang sudah waktunya makan malam, dan sesi psikoterapi akan dilakukan setelah makan. Ica segera bergegas ke dapur dengan tingkah riangnya lalu duduk dan mengambil beberapa sendok gudhek dan tiga potong paha ayam. Mereka berdua makan dengan tenang, hingga jam menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit. Ratna dan Ica pergi ke ruang tengah.
"Itu piringnya tidak dibersihkan"? Tanya Ica sambil berjalan dibelakang Ratna.
"Tidak usah, ada orang rumah yang bertugas membersihkannya". Jawab Ratna tenang.
"Enaknya..... Wah, jadi Putri Keraton menyenangkan banget".
"Heheheh, tidak juga kok. Aku malah merasa terkekang dengan semua status ini".
"Kok bisa"?
"Tentu saja bisa, aku tidak bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Bak putri Raja, banyak peraturan yang mengikatku".
"Kalau aku jadi Putri Keraton. Apa aku bisa lebih pendiam daripada ini ya"?
"Kamu bercanda? heheehehe Kamu tidak cocok jadi cewek pendiam Ca".
"Heeee...."
Mereka berdua akhirnya sampai diruang tengah. Disana sudah ada meja bulat yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran khas Jawa disisinya. Di sebelah kiri dan kanan meja, terdapat kursi kayu berwarna putih. Ica dan Ratna duduk di masing-masing kursi itu. Setelah dilihat, kira-kira Ica sudah siap untuk terapi, Ratna mulai mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ratna, beberapa ada yang bisa langsung dijawab oleh Ica, beberapa membutuhkan waktu yang agak lama. Dari sudut pandang Ratna, dia menarik kesimpulan kalau Ica mengalami phobia tempat luas, karena selama ini dia terlalu sering berada dalam ruangan yang kecil. Dari rumah, naik kendaraan umum, dalam hal ini angkutan kota, ke sanggar, pulang ke rumah. Hal ini dialami oleh Ica sejak kecil, sehingga lambat laun, interkasinya saat berada ditempat yang luas, baik secara motorik maupun psikis, menurun dan akhirnya terganggu.
Ratna kemudian menyarankan Ica untuk terapi lapangan. Mereka berdua akan mencoba untuk jalan-jalan ke tempat yang luas, tapi hanya 2 orang. Hal ini untuk melatih Ica agar sedikit demi sedikit dirinya bisa menyesuaikan dan mengurangi ketakutannya. Mereka berdua akhirnya berjanji untuk pergi ke sanggar tari Ica besok pagi, tapi tanpa menggunakan kendaraan umum, maupun pribadi, melainkan dengan berjalan kaki.
"Oke, jadi besok kamu tidak boleh bangun kesiangan". Kata Ratna sambil menutup catatannya yang berisi data-data dari terapi barusan.
"Siip...Aku paling jago kalau harus bangun pagi". Jawab Ica sambil meringis.
"Hush.. memangnya kamu ayam jago".
"Bukan..bukan, bukan ayam jago. Aku kan memang terbiasa bangun subuh".
"Oke".
#####
Esoknya, Ica dan Ratna mengunjungi sanggar yang dulu merupakan tempat Ica belajar Tari. Sanggar yang mengkhususkan diri dalam tari Gambyong ini terletak di wilayah Malioboro, dekat dengan Stasiun Tugu. Kira-kira butuh waktu setengah jam untuk berjalan kaki dari rumah Ratna.
Disini, Ica dan Ratna disambut oleh teman-teman dan guru tari Ica. Mereka bercakap-cakap mengenai masa lalu Ica, bagaimana dia bisa tertarik dengan dunia tari, usahanya untuk belajar, hingga akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk menari di acara-acara keraton.
"Bukankah Ica memiliki Phobia terhadap tempat luas, apakah hal ini tidak mengganggu dirinya dalam menari"? Tanya Ratna kepada salah satu guru tari di sanggar itu.
"Kami paham dengan apa yang dialami oleh Ica, bagaimanapun juga dia salah satu murid terbaik yang kami punya". Wanita setengah baya itu tersenyum sebentar. "Untuk itu, kami hanya meminta Ica menari saat ada acara keraton, karena acara di dalam keraton hanya di lakukan di ruangan yang tidak begitu luas, tidak seperti di lapangan atau di stadion".
"Aku sendiri juga, kalau ada tawaran acara menari di tempat yang luas, juga akan menolak". Jawab ica dengan senyum khasnya.
"Oh iya, kebetulan saat ini ada acara tari untuk menyambut ulang tahun sanggar, kalian bisa melihatnya di samping sanggar. Itu....sepertinya acara sudah dimulai". Kata Guru tari itu.
Ratna dan Ica pergi ke samping sanggar, kearah kerumunan. Disana mereka melihat tiga gadis menari dengan elok dan gemulai. Gerakan-gerakan mereka indah dan lentur, seakan menyatu dengan alunan irama yang berasal dari pemain gamelan. Ica sangat menikmati pertunjukan itu.
Tiba-tiba Ratna merasakan sesuatu yang ganjil. Hawa dingin menerpanya bersamaan dengan tiap gerakan gemulai para penari. Ratna merasakan ada kekuatan yang seolah menariknya untuk terus memusatkan perhatiannya pada tarian ketiga gadis itu. Berfikir sejenak, Ratna menoleh kekiri dan kekanan untuk melihat reaksi orang-orang yang menyaksikan pertunjukan tari.
"Sepertinya benar, ada yang tidak beres disini". Kata Ratna dalam hati. Dia memusatkan konsentrasi agar tidak terpengaruh dengan aura dari penari. Sehingga dirinya terlepas dari hawa dingin yang seakan menghipnotis setiap orang yang ada disitu. Ratna melihat Ica, ternyata Ica pun tak luput dari hipnotis, sehingga Ratna menepuk pundak Ica untuk menyadarkannya dan mengajaknya untuk pulang. Awalnya Ica ogah-ogahan, tapi setelah dipaksa, akhirnya mau tidak mau Ica menurut. Dijalan, mereka berdua mengobrol masalah pertunjukan tari barusan.
"Ica, kamu merasa ada yang aneh tidak di pertunjukan tadi"? Tanya Ratna.
"Tidak tuh, aku ga ngarasa apa-apa". Ica agak melongo mendengar pertanyaan Ratna.
"Yakin"?
"Banget. Tadi pertunjukannya keren kok".
"Haduh,....anak ini benar-benar gampang dihipnotis". Kata Ratna dalam hati. "Aku mau tanya sesuatu, jawab jujur ya".
"Tanya apa sih? kok agak mekso gitu, jangan-jangan....."
"Hey, hilangkan pikiran anehmu. Aku cuma mau tanya-tanya seputar sanggar".
"Hehehehehe kau tertarik buat nari ya"?
"Enggak. Itu bukan duniaku. Aku punya hobi sendiri".
"Iya deh..iya aku kalah. Tanya apa"?
"Kamu dulu waktu pertama ikut latihan tari, ada ritual-ritual khusus tidak yang kamu lakukan"?
"Enggak. Aku ga nglakuin apa-apa. Cuman daftar, trus latihan. Ga lebih."
"Hmmm.... aneh".
"Aneh gimana"? "Tidak apa-apa. Terus, kalau mau pertunjukan"?
"Nah, kalau itu ada. Biasanya penari yang akan manggung, musti puasa dulu tiga hari, terus lakuin amalan-amalan apaaa gitu..."
"Kamu dulu juga begitu"?
"Hu um. Katanya udah dari dulu sanggar tempatku kayak gitu".
"Kamu tidak takut? Bahaya lo, kalau melakukan amalan dan kita tidak kuat".
"Iya sih, Tapi aku kuat kok. Buktinya aku ga apa-apa, hohohoho".
Ketika sampai dirumah Ratna, Ica istirahat sebentar lalu melanjutkan terapi. Saat Ica istirahat, Ratna berkonsultasi pada Yanuar tentang apa yang tadi dia rasakan di sanggar. Setelah menyelidiki ciri-ciri yang diutarakan Ratna, Yanuar mengatakan kalau itu adalah efek dari salah satu aliran ilmu pengasihan, atau yang dalam bahasa agak kasar, disebut pelet. Dalam hal ini, amalan dan ritual yang dilakukan oleh penari itu, ditujukan agar penonton makin terpikat dan mau melihat pertunjukan hingga akhir tanpa beranjak dari tempat duduk. Hal itu juga secara tidak langsung akan membantu sanggar untuk makin terkenal.
"Kalau seperti itu, bukannya malah ilmu sesat, Paman"? Tanya Ratna ke Yanuar.
"Tidak bisa dibilang seperti itu juga Nona. Kebanyakan ritual dan amalan yang dilakukan orang, sekarang ini asalnya dari turun temurun. Mereka banyak yang lupa tujuan sebenarnya dari ritual itu. Yang mereka tahu, ritual dan amalan itu hanya suatu kewajiban yang dilakukan turun temurun sebelum mengadakan pertunjukan". Jawab Yanuar.
"Kebiasaan deh, orang sekarang sukanya ikut-ikutan kayak bebek. Alasannya mau melestarikan kebudayaan, ternyata cuman tau setengah-setengah".
"Jangan marah begitu, tiap orang punya pola pikir berbeda".
"Iya, ada yang dangkal kayak kodok. Ada yang ngentol kayak gorila".
"Ada juga yang gontok kayak macan". Tiba-tiba Ica datang sambil tersenyum.
"Jadi paman, bagaimana cara menghentikan efek dari ritual itu. Paling tidak, dengan menghilangkan efeknya, mereka bisa tetap melestarikan apa yang turun temurun diajarkan, tanpa membahayakan orang lain, dan diri mereka sendiri". Tanya Ratna lagi.
"Mau tidak mau, harus dihilangkan dari akarnya".
"Lalu....."
"Akar dari ilmu pelet, ada di satu wilayah di Cirebon. Tepatnya di Gunung Ciremai. Ada perempuan di gunung itu yang dijuluki Ratu dari segala ilmu Pelet dan pengasihan".
"Begitu rupanya, kita kalahkan ratu itu, hilang sudah semua khasiat pelet melet nya". Jawab Ratna. "Oke, Ica,...Kita ke Ciremai besok lusa".
"Kok Ga besok aja"? Protes Ica.
"Besok aku ada kuliah, jadi tidak bisa bepergian jauh. ehehehehe".
#####
Esok lusanya, Ratna dan Ica berangkat subuh ke Cirebon. Mereka mengendarai mobil Toyota Picanto warna putih milik Ratna. Sedangkan Yanuar, pergi ke tempat Irwandha untuk menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Tim 3. Berhubung Irwandha sudah pulang, jadi mereka bisa membahas apa yang sudah dicapai saat proses pembangkitan.
Perjalanan dua cewek ini ga seru, kita skip saja ke tim 3. Ntar kalau mereka udah nyampe Ciremai, baru settingnya dibalikin lagi. Yosh, Loncat ke Tim 3 (Ini bahasa penceritaan kok jadi ngasal gini, sapa sih penulis scriptnya? Grrrr)
Ditempat itu sudah ada Jaka, Pandu, dan Irwandha. Kemudian disusul oleh Yanuar, sedangkan 15 menit kemudian, Tanya menampakkan diri.
"Telat mbak, saiki lo wes jam songo esuk". Kata Jaka sambil setengah tertawa.
"Telat sebentar saja kok protes". Jawab Tanya.
"Kebiasaan wes, Lek diomongi kon nglumpuk jam 8.15, mangkat teka omah yo jam 8.15". Kata Irwandha sambil mengasah keris.
"Wes lah, jo gegeran, iki sido mbahas masalah regu 3 ga"? Tanya Yanuar.
"Lah, memang e awakmu wes mari ta nggawe kata-kata di enggo awake dhewe lek nggawe klambi sakti Ndha"? Tanya Jaka.
"MARI ngombe Obat". Jawab Yanuar seketika.
"Waduh, la lali aku a. Maklum wong Jawa Timur. Lek ngomong rampung kuwi mari".
"Wes rampung. Lek regu 1 ngomong Go Aksara, ra menakne kuping, sok ke inggris-inggrisan". Irwandha menjelaskan tanpa menoleh dari keris yang di asah nya. "Terus regu 2, seng diarani regu brandalan, ngomong Action...."
"Opo meneh kuwi"? Tanya Pandu.
"Awakmu gung tau ndelok regu 2 ganti klambi ta"? Kata Jaka sambil melongo menoleh ke Pandu.
"Heh, tutuk mu lo, umur wes ndas 4, ngomong gonta-ganti klambi sak karep e dhewe". Tanya marah-marah.
"Sori sori, Ndha,...lanjut".
"Regu 4 malah ra kalah nginggris i... ngomong e, AWAKENING".
"Tangi turu"?
"Yo wes ngono kuwi lah. Makane kuwi, aku usul, piye lek awake dhewe ngomong e sing njawani,eling umur lah, regu iki isine wong tuwo-tuwo". Irwandha memandang Tanya (yang umurnya masih 29 tahun). "Kecuali Tanya, koreksi omonganku mau. Piye lek regu iki ngomong MALIH RUPA".
"Rupa mu". Kata Jaka seketika.
"Di guyu lak an mengko karo regu liyane". Kata Pandu.
"Beh, nggak cucok. golek sing liyane ae lah". Kata Tanya.
"Hmmmm... ngomong Shakti ae piye"? Kata Yanuar.
"Oke oke....kuwi ae". Kata Jaka sambil tersenyum.
"Setuju". Kata Tanya.
"Lek kaya ngono nyapo ngongkon aku golek kata-kata ne". Irwandha protes.
"Wes, wes, rasah gegeran. Ndha, piye acaramu karo cah-cah dhek ingi"? Tanya Yanuar.
"Aku wes niliki nggone Flame, wes ana Ratu Jonggrang, Restu Sintha, Karo Patih Gajah Mada. Kurang siji meneh, gek komplit 20 uwong".
"Heh, Awakmu iki, niliki panggonan. Ra pait ta ilat mu"? Tanya Jaka. "Maksudmu opo"?
"Niliki lak berarti awakmu ndilati tembok omah".
"Kuwi Ngicipi.... HADUH". Pandu menyela perkataan Jaka sambil menepuk jidat Jaka.
"La nak nggon ku niliki kuwi karo ngicipi artine podho".
"Lak nak Jogja, Jawa Tengah wes. Niliki kuwi njenguk. Ngicipi kuwi Njajal". Jelas Pandu.
"Ya wes, kurang siji meneh kan, berarti mari ngene awake dhewe kudhu melok mbantu langsung nglawan Dewata Cengkar". Kata Tanya.
"Mesti lah, la wong awake dhewe ki abdi dalem, yo kudhu ngewangi keraton lan keturunan e".Jawab Irwandha.
"Rasah nyawang aku. Aku dudu abdi dalem maneh. Nak Jawa Timur wes ga enek istilah kaya ngono kuwi. Saiki wong sing ngabdi nak kerajaan, nak Jawa Timur wes ga enek". Kata Jaka.
"La terus, awakmu opo"? Tanya Yanuar.
"Aku yo wong biasa, kerjo biasa nunggu toko".
"Heleh alasan". kata Tanya.
"Timbang awakmu lo, jeneng TANYA ae njaluk di celuk TANIA".
"Jenengku wi mbingungi yo, mosok lek enek wong ngomong. "Arep nyapo mbak? Tanya Tanya"."Wajah tanya merah padam. "Kudhu ne lek Tanya Tania".
"Wes wes, rasah gegeran". Kata Yanuar.
#####
Di Gunung Ciremai, Perjalanan Ratna dan Ica tidak selancar yang mereka perkirakan. Kabut tebal yang aneh, dari tadi terus membatasi pandangan mereka. Hampir saja Ica terperosok ke jurang karena kabut ini. Seolah-olah memang mereka berdua dihalang-halangi.
Akhirnya mereka menemukan sebuah gua yang tertutup daun merambat, Ratna merasakan hawa negatif sedingin es merayap keluar dari mulut gua. Dia mengistruksikan Ica untuk memakai baju tempur. Karena tanpa baju tempur yang melindungi tubuh mereka, mereka tidak akan kuat melawan hawa negatif itu. Setelah Memakai baju tempur, Ratna dan Ica masuk ke dalam Gua.
Jalan didalam sangat licin dan berliku. Lebar jalan yang dilalui hanya 1,5 meter. Curam pula. Ratna dan Ica harus memperhatikan langkah mereka sehingga kemajuan perjalanan dua orang ini sangat lambat. Kira-kira di belokan keempat, Ratna dan Ica sampai disebuah ruangan luas. Di dalam ruangan ini ada sebuah patung seorang wanita memakai selendang dan dandanan Khas penari jaman dulu. Rambut wanita ini panjang sepinggang, dibiarkan terurai dihiasi ukiran kembang melati. Patung ini seolah hidup, mengawasi Ratna dan Ica.
Ratna menggunakan Pedangnya untuk menghancurkan patung yang merupakan sumber dari hawa negatif itu. Tapi Patung itu sekeras berlian, pedang Ratna sendiri tidak mampu untuk menghancurkannya. Saat Ratna mundur, patung itu berubah menjadi wanita cantik, hidup dan menatap Ratna dengan pandangan membunuh.
Ratna dan Ica tidak banyak bicara untuk memperkenalkan diri, mereka berdua menghajar lawan menggunakan senjata mereka. Mulanya Ratna menerjang dengan pedang terhunus. Lawannya juga mengeluarkan sebuah ranting kayu yang panjang untuk menangkal serangan. Ica tiba-tiba sudah melompat dari arah belakang Ratna mengibaskan kipasnya dan menciptakan hembusan angin kencang. Wanita itu mundur beberapa langkah, tapi tangannya berhasil memegang kaki Ratna dan menariknya, sehingga Ratna terjatuh. Ica mengayun-ayunkan Kipasnya untuk menyerang, dari arah kanan, berlanjut ke bahu kiri. Dan saat wanita itu lengah, Ratna yang ada di tanah, menendang kaki wanita itu.
Merasa akan jatuh, wanita itu menekan berat tubuhnya ke kedua telapak tangan. Melempar ranting kayunya hingga menyambar wajah Ica, membuat Ica terpelanting, dan melambungkan tubuh wanita itu hingga melayang ke langit-langit gua. Ratna memandang lawannya dan bersiap untuk berdiri. Mengayunkan pedang keatas untuk menusuk. Tapi wanita itu menghembuskan hawa negatif dari mulutnya. Hawa negatif itu mematikan tumbuhan, menurunkan suhu ruangan, dan membekukan tulang. Ratna dan Ica tidak bisa bergerak saat hawa negatif itu merasuk ke sendi-sendi tulang mereka.
Keadaan ini dimanfaatkan wanita itu untuk menyerang balik. Ratna dihajar hingga terlempar menabrak tembok, begitu pula dengan Ica. Serangan dari wanita itu membuat tubuh Ica dan Ratna kesakitan, tapi mereka bisa bertahan dikarenakan efek yang ditimbulkan oleh hawa negatif tadi tidak maksimal. Baju tempur mereka melindungi dari kerusakan yang lebih parah. Maka dengan satu hentakan ke tembok, Ratna dan Ica melayang sesaat, kemudian bersama-sama menendang Lawan mereka bertubi-tubi. Lalu mengayunkan dan menebaskan senjata mereka. Terkahir, saat lawan mereka sudah kualahan, Ratna menyalurkan energi di pedanganya dan menebaskannya dari arah bawah ke atas, dan Ica mengibaskan kipasnya dengan pola setengah lingkaran, sehingga menimbulkan angin puyuh yang mengoyak dan menyayat lawan mereka hingga hancur. Puing-puing atau sisa dari lawan mereka, berjatuhan dalam bentuk serpihan batu. Ratna memandang lokasi dan aura disekitarnya sejenak. lalu berjalan mendekati serpihan batu didepannya.
"Selesai, YES,....sekarang ga ada yang namanya melet melet lagi". Kata Ica riang.
"Sepertinya belum. Kita hanya melawan penjaganya saja. Orang yang kita cari.....sudah tidak ada disini sejak lama". Jawab Ratna.
"Wah....gawat".
Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger