Posted by : AksaraProject Thursday, December 29, 2011

"Final Battle... (Ini masih awal)"



Handi dan Nanda yang sudah memakai baju tempur mereka masing-masing, kini berdiri di depan pintu candi Baka. Dari dalam candi, nampak siluet seekor monster buaya raksasa yang berwarna seputih tulang. Deretan gigi setajam pedang, menghiasi senyum jahatnya. Dewata Cengkar dengan penuh wibawa dan kekuatan, berdiri dari singgasana, dan berjalan menghampiri kedua lawannya.
"Hajar dia mumpung masih belum siap"! Kata Nanda dengan volume suara yang kecil.
"Ide bagus. Kenapa ga kamu duluan yang unjuk gigi"? Balas Handi tanpa menoleh.
"Sial"!! Nanda menerjang kearah Dewata Cengkar dengan kecepatan tinggi. Dia mengerahkan kekuatannya untuk memukul Dewata Cengkar, berharap dia mampu menghempaskan buaya itu keluar dari candi Baka. Tapi apa yang terjadi, tidak sesuai harapan. Dewata Cengkar hanya bergeser selangkah ke kiri, dan pukulan Nanda luput dari sasaran. Membuat Nanda terlempar karena kecepatannya sendiri.
"Hehehe,...Kau kira bisa mengagetkanku". Kata Dewata Cengkar sambil memandang Nanda yang terperosok diantara rerumputan. Saat Raja buaya ini menoleh lagi kedepan, Handi dengan pedangnya, sudah bersiap untuk menebas. Ujung pedangnya sudah kurang dari 30 centimeter dari sasaran.
"Tebak lagi"! kata Handi.
Dewata Cengkar menahan pedang Handi menggunakan tangan kanan. Lalu memukuli perut Handi menggunakan tangan kiri. Handi yang tubuhnya bagai dihujani meteor, merasakan beberapa tulang rusuknya patah. Dia menjerit kesakitan, sebelum akhirnya Dewata Cengkar memegang kepalanya dan menghempaskan tubuh Handi ke lantai.
KRAKKKKK
Belum puas menghajar lawannya, Dewata Cengkar menendang Handi yang sudah hampir pingsan keluar Candi. Nanda dengan sigap menahan tubuh temannya sebelum tubuh itu menyentuh tanah. Melihat apa yang terjadi dengan Handi, Nanda menyerang Dewata Cengkar dengan membabi buta. Setiap pukulan dan tendangan yang diarahkan, maupun diterima oleh Nanda, seakan tidak disadarinya. Tapi Dewata Cengkar tetap berada diatas angin. Karena perbedaan kekuatan yang begitu besar, serangan Nanda hanya terasa seperti gigitan nyamuk. Tapi tubuh Dewata Cengkar tetap saja mundur selangkah demi selangkah, didesak oleh aura dan kecepatan Nanda yang saat itu dalam keadaan berserk.
Diluar dugaan, saat Dewata Cengkar sedang fokus ke Nanda, Disaat yang hampir bersamaan, punggungnya dihujani berpuluh-puluh anak panah yang terbuat dari helai bulu merak. Mengetahui ada yang tidak beres dengan situasi itu, Dewata Cengkar lengah dan menoleh kebelakang. Kesalahan kecil itu berujung malapetaka. Nanda berhasil memukul rahang bawah Dewata Cengkar, merontokkan beberapa giginya, dan membuat tubuh buaya itu sedikit sempoyongan. Ica yang muncul entah darimana, memerangkap tubuh Dewata Cengkar dalam pusaran angin, kemudian memecah kipas besinya menjadi enam bilah pisau, yang menyayat tubuh lawannya bertubi-tubi. Masih didalam pusaran angin, Dewata Cengkar kebingungan mencari lawannya. Dibakar amarah, Dia menghempaskan pusaran angin itu tak ubahnya seperti menepuk lalat. Tapi saat pusaran angin yang menyelimutinya hilang, lima orang tim 1 dengan senjata mereka masing-masing, menyerang Dewata Cengkar secara bersamaan.
Menghadapi lima orang sekaligus, Dewata Cengkar tidak dapat berbuat apa-apa, saat dia fokus untuk menahan serangan dari satu sisi dia akan dihajar dari sisi yang lain. Hal ini membuat Dewata Cengkar kalang kabut dan akhirnya menghempaskan kelima orang itu dengan menggunakan ledakan energi dari dalam tubuhnya. Kini Dewata Cengkar bisa bernafas sedikit, karena sudah tercipta jarak yang lebar antara dia dan kelima lawannya.
"Belum kalah juga"? Tanya Ica tidak percaya, karena dengan serangan yang barusan, dia sudah melihat teman-temannya mengerahkan seluruh tenaga, tetapi didepan mereka, Buaya putih itu belum juga roboh.
"Kau tidak berharap akan semudah itu kan"? Karis balik tanya.
"Sudah diam!! Apapun yang terjadi, kita harus mengakhiri semua ini. SEKARANG"!! Kata Ratna.
"AKSARANGER.....Serang"!!! Handi berteriak diikuti dengan keempat temannya, melesat bersamaan menyerang Dewata Cengkar yang berdiri dihadapan mereka.
#####
Bandung, bersama dengan tim 4 kini berlari menuju Candi untuk membantu tim 1 mengalahkan Dewata cengkar. Di jalan, mereka berpapasan dengan Dani beserta tim 2. Tiba-tiba Bandung Mendorong Dani hingga tubuhnya menabrak pohon, kemudian menghajarnya habis-habisan. Tim 2 yang terluka parah, dan tidak tahu apa-apa, segera menolong pimpinan mereka, tapi dihadang oleh tim 4. Dalam kondisi masih memakai baju tempur, minus helm mereka masing-masing. Anggota Tim 4 mengkonfrontasi tim 2. Arta ditodong kepalan tangan Mada yang dialiri listrik. Santo, lehernya di himpit dua bilah katana milik Flame. Iwan, bersiap di tebas oleh Sintha. Sedangkan Melani, tepat didepan wajahnya sudah siap sol sepatu milik Jonggrang.
"Apa-apaan ini"!? Protes Santo.
"Jangan coba-coba...Kalau kau tidak mau lehermu putus. Homo sapiens". Kata Flame dingin.
"Pengkhianat!! Katakan tujuanmu yang sebenarnya"!! Bentak Bandung pada Dani.
"Tujuan apa"!! Elak Dani.
"Jangan kau kira kami tidak tau"!!
"Apa sebenarnya maksudmu"!? Melany berteriak histeris.
"Lihat keadaan kalian. Babak belur seperti itu. Tapi pemimpin kalian, sama sekali tidak tergores. Apalagi setelah melawan musuh sekelas Minakjinggo". jawab Mada tenang.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Dani. Jangan kau pikir hanya karena dia tidak terluka, itu berarti dia melarikan diri dari pertarungan". Kata Iwan. "Aku melihatnya menusuk Minakjinggo menggunakan kapak milikku dan tombak milik Melani".
"Itu tipuan mata". Bantah Sintha.
"Aku masih bisa melihat dengan jelas ya".
"Kau yakin Minakjinggo sudah mati"!? Tanya Bandung.
"100 %". Jawab Iwan.
"Hei hei hei....turunkan tanganmu atau..." Kata Arta.
"Atau apa? Biar sambar sekalian mulutmu". jawab Mada.
"Kalian dengar mereka kan? Aku sudah membunuh Minakjinggo. Masalah selesai". Kata Dani.
"Kau..."!!! Bandung tidak melanjutkan kalimatnya. Dia melempar Dani ke tanah. "Jika aku menemukan bukti yang menjatuhkanmu, aku tidak akan segan-segan membunuhmu dan keempat anggota tim mu". Ancam Bandung.
Tim 4 menjauh dari tim 2. Tapi tetap dengan pandangan yang mengintimidasi. Dani berdiri, dan mendekati keempat temannya. Dia tetap santai menghadapi perlakuan tim 4. Sedangkan tim 4 terlihat sebuk mendiskusikan sesuatu, sambil sesekali memandang kearah tim 2.
Tim 3 yang berpapasan belakangan, terkejut melihat aura perseteruan antara kedua tim yang ada disitu. Pandu menghampiri tim 4, sedangkan Irwandha menghampiri tim 2. Setelah agak lama menbicarakan apa yang telah terjadi di masing-masing tim, Ketegangan bukannya semakin mereda, tapi malah bertambah.
"Tuan Bandung, Apa maksud anda menghajar tuan Dani"? Tanya Irwandha.
"Kalau begitu apa maksudmu melindungi pengkhianat itu"? Balas Bandung.
"Tuan Dani bukan pengkhianat, tolong cabut kembali kata-kata tuan"!
"Aku mendapatkan cukup bukti bahwa dia punya tujuan lain dalam misi ini. Hanya saja itu belum cukup untuk menjatuhkannya".
"Tuan Flame, apakah masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik"? Tanya Pandu?
"Maaf paman, kami berlima sudah melihat yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, kami belum bisa mengatakannya sekarang". kata Flame.
"Maksud anda"?
"Yang jelas, tim 2 adalah sekumpulan orang yang berbahaya". Flame berkata sambil mendekat kearah Bandung. "Kita sudahi dulu permasalahan tim 2. Ada hal yang lebih penting daripada sekedar membunuh mereka disini".
"Bagaimana jika hal "itu" benar-benar terwujud? Siapa yang akan menghentikan mereka"? Tanya Bandung.
"Aku Pillar Order of Heaven. Aku punya banyak anggota Homo Superior yang akan mengawasi mereka tanpa mereka ketahui". Jawab Flame.
"Aku tahu aku bisa mempercayaimu Flame. Hanya saja.."
"Ayolah... Apakah ini sikap seorang pangeran? labih mementingkan hal kecil daripada hal yang besar"?
Bandung berfikir sejenak. "Baiklah, aku akan ikuti saranmu. Tapi kita harus memperjelas siapa lawan dan kawan kita". Bandung Maju beberapa langkah. "Kami tahu bahwa kalian, tim 2, punya maksud tersembunyi dan berbahaya. Okelah, jika kalian menuduh kami sok tahu atau memfitnah kalian. Tapi kami tidak akan tinggal diam dengan apa yang kalian rencanakan. Saat ini, kematian Dewata cengkar adalah prioritas kami. Jadi kami tidak akan mempermasalahkan perseteruan kami dengan kalian. Hanya untuk saat ini.... Kami sudah menetapkan, bahwa setelah semua ini berakhir, kalian adalah musuh kami. Dan semua orang yang membantu kalian, secara tidak langsung juga akan kami anggap sebagai penghalang".
Tim 3 tampak kebingungan. Betapa tidak, kedua tim yang seharusnya saling membantu, ternyata malah berusaha saling menghancurkan. Ditambah dengan perkataan Bandung, membuat tim 3 kebingungan harus memihak siapa, karena mereka tidak tahu siapa yang benar, dan siapa yang salah. Akhirnya mereka hanya harus percaya dengan keyakinan yang mereka pegang selama ini. Jaka dan Yanuar bergabung dengan Pandu di tim 4, sedangkan Tania bersama Irwandha di tim 2. Praktis tim 3 terpecah menjadi 2.
#####
Kelima belas orang itu akhirnya sampai di lokasi pertempuran tim 1. Mereka tercengang melihat kondisi arena pertempuran yang seperti kapal pecah. Dimana-mana terlihat bekas ledakan yang menghitam disela-sela debu-debu dan asap yang menyelimuti lokasi. Candi Baka terlihat diujung kanan, tidak tersentuh sama sekali, kontras dengan keadaan di sebelah kiri, yang saat ini masih diselimut kabut tebal dan sesekali terlihat percikan cahaya. Bunyi senjata dan logam yang saling beradu membubarkan kesunyian.
Mereka berlari menuju kearah pusat pertarungan. Tapi semakin kabut menipis, semakin mereka melihat apa yang terjadi. Dan ketika semua penghalang mata sudah menghilang, Kelima Belas orang itu melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada kerusakan yang tercipta di area pertarungan.
Tubuh Ratna, Karis, Nanda, dan Ica tergeletak tidak bergerak, tertusuk senjata mereka masing-masing. Darah segar mengotori baju tempur mereka. Helm mereka pecah, retak, bahkan milik Karis sudah tidak berbentuk. Disebelahnya, berdiri Dewata Cengkar, yang terlihat mencekik dan mengangkat Handi ke udara. Pedang Handi tergeletak tidak jauh dari situ. Dan sebelum tim yang lain sempat menolong sang pemimpin tim 1,....
KRAKKKK
Dewata Cengkar mematahkan lehernya. Bunyi Tulang patah yang terdengar, menciptakan kesunyian yang intens dan mencekam. Tubuh Handi jatuh tidak bergerak. Pandangan matanya Kosong. Kepalanya berada di posisi yang ganjil dan tidak seharusnya.
Dewata Cengkar berbalik, memandang kelima belas orang yang ada disitu. "Giliran siapa sekarang"?

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger