Posted by : AksaraProject Tuesday, December 13, 2011

“Persiapan.... (no comment ah)”




Jogjakarta, Januari 2001

Langkah kaki terdengar menggema di koridor ruangan berpilar marmer yang dihiasi oleh jejeran patung batu ala romawi. Seorang anak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMP putih biru tampak tergesa-gesa. Raut mukanya menunjukkan suatu antusiasme yang sangat besar. Anak itu hanya melihat ke depan tanpa menoleh ke sekeliling untuk mengagumi keindahan ruangan yang saat ini ditapakinya.
Saking kencangnya anak itu berlari, hingga dirinya tidak sempat untuk menoleh kebelakang, saat dirinya menyenggol siku seorang pelayan wanita yang baru saja keluar dari salah satu ruangan disebelah kanan.
”Tuan Handi, Jangan berlarian di koridor.” Kata Wanita itu dengan sopan.
”Maaf Bi, keburu-buru. Hari ini ayahku datang soale.” Jawab Handi seadanya.
Handi menambah kecepatan kakinya saat melihat pintu besar berdaun 2 yang terbuat dari kayu jati berada tak jauh dari jangkauan larinya. Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka dan Handi tampak tersenyum puas melihat seorang laki-laki berumur 38 tahun memakai setelan jas berwarna hitam, menutup pintu belakang mobil sedan hitam di halaman depan.
“Halo Yah, bagaimana perjalanannya?” Tanya Handi sambil nyengir.
”Hey,...anakku yang ganteng sudah tambah besar rupanya.” Kata Ayah Handi sambil mengusap rambut Handi. “Debat Peradaban Jawa Masa Lampau yang diadakan di Belanda benar-benar menguras stamina ayah. Tapi after all, semuanya menyenangkan. Ayah harap kamu juga berkelakuan baik selama ayah tidak ada.”
”So pasti donk. Handi gitu loh, Anak teladan di SMP.” Kata Handi membanggakan diri.
”Itu baru anak ayah.” Ayah Handi mengajak Handi kedalam rumah, tapi baru 5 langkah, Pandu keluar dari mobil dan membisikkan sesuatu ke telinga kanannya. Setelah beberapa saat terdiam, Ayah Handi berjongkok dan memegang kedua pundak Handi.
“Maaf, sepertinya ada pekerjaan mendadak, mungkin ayah akan kembali sore nanti, dan kita bisa main bulu tangkis bersama-sama.”
”wuuu....Ayah kan sudah janji.” Handi kecewa.
”Maafkan ayah. Tapi ayah juga tidak bisa mengesampingkan pekerjaan ini.”
”hmm...sore nanti ya... janji loh.”
”Pasti.” Ayah Handi tersenyum dan kembali masuk ke mobil. Sebelum pintu mobil ditutup, Handi sempat melihat sebuah daun lontar tampak di saku jas ayahnya.
Mobil sedan hitam itu pergi menjauh dari halaman depan. Meninggalkan Handi yang menatapnya tanpa bergerak sedikitpun. Saat mobil itu sudah benar-benar menghilang dikejauhan, Handi kembali masuk kedalam rumah.
Sorenya, Ayah Handi pulang sambil membawa sebuah raket bulu tangkis. Raket itu sebenarnya adalah bentuk permintaan maafnya kepada sang anak karena sudah melanggar janji siang tadi. Kini, setelah kedua ayah dan anak ini punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, sang ayah tidak menyia-nyiakannya dan mengajak anaknya ke halaman belakang untuk bermain bulu tangkis.
30 menit berlalu bagai angin kencang, Handi dan ayahnya mengakhiri permainan bulu tangkis mereka dan duduk-duduk di kursi panjang yang ada disitu sambil melepas lelah. Iseng, Handi bertanya pada ayahnya.
”Yah, Tadi waktu ayah pergi, aku lihat ayah masih juga menyimpan daun lontar itu. memangnya ada apa sih dengan benda itu, kok kelihatannya berharga banget?”
”Maksudmu ini...” Ayah Handi mengeluarkan daun lontar dari saku celana nya. “Ini adalah benda peninggalan turun temurun di keluarga kita. Benda ini memrupakan bukti sah kalau keluarga kita masih keturunan Ajisaka, raja tanah jawa.”
”Ah masak....”
”loh... dibilangin tidak percaya. Benda ini ya,...sakti mandraguna, jika kamu tahu rahasianya, kamu bisa menjadi kuat tanpa harus pakai ilmu kanuragan.”
”Ini tahun 2001 ya... sudah bukan jamannya mistik begituan yah.”
”Ayah buktikan deh... lihat ya.” Ayah Handi lalu berdiri dihadapan hadni dan membaca sebuah syair sambil mengangkat daun lontar itu keatas. Tiba-tiba saja, tiap huruf dalam daun lontar itu menyala keemasan dan beterbangan menutupi tubuh sang Ayah. Huruf-huruf itu berubah menjadi baju tempur berwarna merah dan huruf jawa HA membentuk helm dikepalanya.
”WOOOOOOOOOO Keren.....Kayak Power Rangers” Kata Handi kaget bukan main.
”Bagaimana, sakti kan?”
”Aku mau, aku mau... pinjam donk.”
”Oke” sang ayah melepas baju tempurnya dan memberikan daun lontar itu kepada Handi.
Handi mencoba membaca syair yang tertera di selembar daun lontar itu. Tapi tidak terjadi apa-apa. Handi mencoba lagi, kali ini dengan irama yang dibuat semirip mungkin dengan ayahnya. Tapi tetap tidak terjadi apa-apa.
”Rusak nih.... masak aku tidak bisa berubah.” kata Handi kesal sambil mengembalikan daun lontar itu ke ayahnya.
”Hehehehehhe......bukannya kamu tidak bisa berubah, tapi memang belum waktunya kamu memakai dan mewarisi baju tempur ini.” Kata Ayah Handi sambil kembali duduk.
”Terus kapan donk aku bisanya? Kan aku juga ingin terlihat keren.”
”Handi.... memiliki kekuatan untuk memakai baju tempur ini adalah sebuah tanggung jawab. Bukan sekedar untuk pamer dan main-main. Ada kewajiban yang diamanatkan kepada kita, sebagai keturunan raja tanah jawa untuk menjaga dan melestarikan apa yang dulu pernah dimilikinya.”
”kayak Spider-man ah, kalau punya kekuatan besar, tanggung jawabnya juga besar.”
“memang seperti itulah adanya,... Ayah juga mewarisi amanat itu dan melaksanakannya. Suatu saat, akan datang masa dimana kamu yang menggantikan ayah menggunakan baju tempur ini.”
”Oke,...Aku akan bersiap untuk saat itu. Semangat 45.” Kata Handi sambil mengepalkan kedua tangannya.
”Ingat Handi, tidak peduli seberapa kuat dirimu dan seberapa giat latihan yang kamu jalani, selama kamu masih belum memiliki kemampuan untuk mengemban amanat leluhur kita, kamu tidak akan bisa menggunakan baju tempur ini.”
Handi dan ayahnya masuk kedalam rumah saat hari menjelang petang, dan lampu di sekeliling rumah sudah menyala. Senyum puas dan rasa semangat yang menggebu-gebu tergambar di wajah Handi kecil. Semangat yang membawanya untuk melewati latihan berat dari abdi dalemnya yang bernama Pandu, dan membuktikan dirinya sebagai pewaris sah daun lontar ajaib.

#####

Jogjakarta, Desember 2011

”Sedang apa Tuan, kok termenung saja dari tadi?” Kata Pandu mengagetkan Handi dari lamunannya.
Saat itu Handi sedang duduk di halaman belakang. Tempat duduk yang sama dengan yang didudukinya 10 tahun yang lalu. handi tersenyum kecil saat mengetahui sang abdi dalem memperhatikannya melamun sejak tadi.
”Hanya mengigat masa lalu, hehehe...semuanya seperti baru terjadi kemarin. Aku yang masih kecil, terkesan dengan kemampuan daun lontar ini, dan bersemangat untuk latihan demi mewarisinya.”
”Saya ingat hari itu.” Kata Pandu sambil tersenyum sambil memandang matahari sore yang tengah tenggelam ditelan cakrawala. “Latihan keras yang Tuan lakukan, kebulatan tekad yang Tuan tunjukkan. dan keteguhan hati tuan, walaupun tuan tidak berhasil menggunakan daun lontar itu di akhir latihan tuan.”
”Heheheh,...aku dulu sempat lupa apa yang dikatakan ayah. Aku hanya berfokus pada penempaan fisikku, tanpa mengimbangi mentalku dengan kesiapan dan tanggung jawabnya.”
”Tapi sekarang tuan berhasil.”
”Heheheheheh.”..
”Ngomong-omong,.. Tuan Gajah Mada meminta anda untuk datang ke rumah Tuan Flame dan membicarakan masalah utama kita. Saya sudah mengabari nona Ratna dan yang lainnya.”
”Kalau begitu, kita tunggu apa lagi? Ayo berangkat.” kata Handi sambil berdiri dan menepuk pundak Pandu, lalu berjalan kedalam rumah.
”Siap Tuan.” Jawab Pandu sambil setengah membungkuk.

#####

20 Orang sudah berkumpul di ruang utama rumah Flame. Tim 2 dan Tim 1 tampak saling adu cibiran untuk menunjukkan kebenciannya satu sama lain. Tim 3 hanya duduk dengan tenang menunggu kabar, kecuali Tania yang ikut-ikutan tim 2. Sedangkan Flame sibuk memarahi Sintha karena salah mengucapkan Awakening menjadi Awakening nyaaa. Sekitar 20 menit kemudian, semuanya sudah bisa tenang dan Gajah Mada bersama Flame berdiri di tengah-tengah kerumunan orang.
”Oke, semuanya yang ada disini. 20 orang sudah berkumpul untuk menyegel Dewatacengkar. Kekuatan kita sudah maksimal, tapi begitu juga dengan pihak musuh.” Kata Flame.
”Maksudnya apa?” Tanya Iwan.
”Dari data yang sudah didapat dari anggota Order of Heaven, selama beberapa bulan ini, ada sekitar 15 orang hilang. kesemuanya preman, gelandangan, pokoknya orang – orang tidak berguna yang bahkan matipun kita juga tidak akan sedih.” Jawab Flame.
”Yang berarti Dewata Cengkar sudah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kita.” Kata Bandung Bandawasa.
Exactly.. Sekarang bagaimana dengan lokasi persembunyiannya?” Tanya Ratna.
”Sudah ditemukan.” Jawab Rara Jonggrang Singkat. “Buaya itu ada di kerajaanku.”
”Heh? Kerajaanmu? Candi baka?”
”Hu um. Aku akan menghajarnya karena sudah seenaknya menggunakan peninggalan orang lain.”
”Baiklah, jadi semua hal sudah disiapkan, Kapan kita akan berangkat kesana?” Tanya Irwandha.
”Besok Pagi. Kita akan menggempur tempat Dewata Cengkar bersama-sama.” Jawab gajah Mada.
”Tanpa startegi apapun? jangan gila.” Timpal Arta.
”kau pikir siapa aku. Masalah itu, sudah aku tangani sejak dulu.”
”Semuanya,...persiapkan diri kalian, puncak perseteruan kita akan diadakan besok.”
Kata Flame menutup rapat hari itu. dan ke 20 orang yang ada disana berkumpul ke timnya masing-masing untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi takdir mereka esok hari.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger