Posted by : AksaraProject Thursday, December 22, 2011

"Black Heart...(Conspiracy...)"



Iwan, berbalut baju tempur dengan warna ungu, dan huruf jawa WA di helmnya, terlihat berjongkok diantara sela-sela ranting pohon yg saling berbelit satu sama lain dalam rimbunnya hutan. Matanya mengawasi sekeliling dengan awas, tangan kanannya memegang seruling emas, sedangkan tangan yang satu lagi memegang senapan jarak jauh. Setelah memastikan keamanan dalam radius jarak pandang, Iwan menempelkan punggungnya ke batang pohon. Dan sambil berdiri, dia mengangkat senapan jarak jauhnya, kemudian mulai mengintai.
Waktu sudah begitu lama berlalu. Tapi tak mengurangi kewaspadaan pemuda yang satu ini. sejak tadi Iwan tetap memusatkan pandangan salah satu matanya pada pembidik yang berada di bagian atas senapan. Sambil sedikit demi sedikit menggeser laras, untuk menyisir area disekitarnya. Tapi akhirnya, dia menyerah juga. Senapan jarak jauhnya diturunkan dan diletakkan di samping tempatnya berdiri. Sedangkan serulingnya, yang kini dirubah menjadi sebuah kapak digenggam erat, sambil waspada apabila tergetnya menyerang dari jarak dekat.
"Oke, tenangkan dirimu. Hufh..." Iwan menarik nafas panjang. "Dia hanya satu orang, sedangkan kau datang berlima. Orang bego juga tau kau yang akan menang." Iwan berbicara sendiri untuk menenangkan dirinya. "Tunggu....Kalau benar kau yang pasti menang, kenapa Melani bisa dilempar hingga ngrontokin 2 batang pohon? Santo dan Arta jadi mainan sepak bola dan kepala mereka diledakkan"? Arah pandangan Iwan makin lama makin tidak menentu. Sebentar, dia menengok kekiri, sebentar kemudian dia menoleh kekanan. "Dani....ya Dani cuman bilang, dia pasti selamat". Iwan mencoba alat komunikasi yang terdapat di helmnya.
Beberapa saat mencoba, yang terdengar hanya nada berisik tidak jelas. "Damn it!! Positif hanya aku yang lolos. Aku ga mau jadi makanan gagak. Arnold aja bisa survive di predator, masak aku enggak". Setelah berkata demikian, Iwan membalikkan badannya perlahan-lahan. Di belakangnya, sudah bediri dalam posisi menggantung, sesosok berbalut jubah hitam dengan rambut perak panjang yang berkibar ditiup angin. Wajahnya pucat, dan ketika Iwan memandangnya, dia tersenyum penuh kemenangan.
"Oh sial". Kata Iwan. Dan sosok itu membuka lebar-lebar jubahnya.

#####

1 Jam sebelumnya.
"Aduh....kenapa pula kita musti jalan kaki". Rengek Melani dengan aksen yang membuat orang normal akan berusaha mengelem mulutnya menggunakan lem kayu.
"Bisa diam ga!? Dari tadi kamu ngeluh terus. Pulang sana kalau ga mau ikut". Bentak Dani.
"Kamu kok gitu sih? Makin lama sifatmu makin aneh. Dulu kamu ga gini......" Melani makin meratap.
"Iya, dulu aku makan semen, sekarang aku makan nasi". Balas Dani asal.
"Udah Dan, biarin aja dia,.. tampar mulutnya pake duit. Pasti diam". Kata Arta.
"ARTA!!!! jaga bicara...." Kata-kata Melany terputus saat Iwan menutup mulut Melany dengan uang 100 ribu an. "Uph....Apa sih ini!? Heh. Jangan sembarangan ya".
"Ga mempan tuh Ta. Masih juga dia ngomong". Kata Iwan.
"Lempar ke sungai". Jawab Santo.
"Alamak,..kejam kali kau. Nanti kalau dimakan buaya gimana"? Tiba-tiba Arta menyela dengan menggunakan aksen Kalimantan.
"Lha daripada dia yang makan buaya, mending buaya yang makan dia". Jawab Santo.
"Iwan, kau taruh dimana anggota tim 1 tadi"? Tanya Arta.
"Di persimpangan barusan, dia pergi kearah kanan. Bukannya rencananya begitu ya"?
"Okelah bos... jadi tim kita ga digangguin sama cewek kecil mini sok imut yang kerjanya cuman nggembungin pipi sama monyongin bibir". Kata Arta.
"Ngomong aja kalau kamu naksir Ta. Tuh lihat, sifat pedofil mu udah keluar". Timpal Santo.
"Enak aja ngomongnya. Biar otaku gini aku milih-milih cewek juga ya. Kalau ga moe ga mau".
"Bwahahaha... Bangga kau jadi otaku? Kelaut aja sono...ga malu apa dipandang rendah sama orang laen? NERD"!!
"Eh singkek, aku kan otaku berduit".
"Makan tu duit, dasar paman gober. Dimana-mana yang namanya nerd tu ya tetep nerd. malah bangga ngakuin diri sendiri kayak gitu. Makanya kalau mo pake istilah, dilihat dulu pengertiannya, jangan asal comot".
"Nyomot mulutmu". Arta menimpali sambil monyongin mulut.
"Bebek...."Santo mencibir sambil tertawa.
Tim 2 melanjutkan sisa perjalanan dalam diam. Mereka mengawasi sekeliling mereka, untuk menjaga agar posisi mereka tetap diuntungkan. Bagaimana tidak, dalam hutan selebat ini, bukan mustahil jika pihak lawan sudah lebih dulu mengepung area dan mempersiapkan segala jebakan aneh bin ajaib yang mampu mengontak malaikat maut dengan kecepatan diatas wifi untuk melaksanakan tugas. Jadi selagi Dani mengawasi jalan di depan, Arta dan Santo masing-masing mengawasi bagian kanan dan kiri rombongan. sedangkan Iwan berada di barisan belakang, menjaga punggung mereka. Setelah kira-kira 300 meter dari tempat awal mereka berpisah dengan Ica, tim 2 berhenti dan menurunkan koper besi yang dari tadi dibawa oleh Dani dan Santo.
"Guys, kita bersiap disini". Kata Dani sambil berjongkok membuka koper dihadapannya.
"Yakin kau mau nggunain itu Dan"? Tanya Arta.
"Ga ada jalan lain kan. Kalau kita pakai cara kuno,...Kita kalah pengalaman".
"Paling tidak dengan begini kita bisa menunjukkan istilah PERUBAHAN JAMAN". Jawab Santo.
"Betul sekali". Kata Dani.
"Heh, Lawan kita itu Minakjinggo lo. The bastard yang berkuasa di Blambangan". Kata Arta.
"Yeah... kalau dia Minakjinggo, aku Damarwulan. Ganteng kan". Santo berpose sambil tersenyum memamerkan giginya.
"Weheheheh gondes...Sono gabung sama tim 4 klo mau adu tampang. Disini mah kita adu duit". jawab Arta.
"Kalian tau asal usul lawan kita kan"? tiba-tiba Iwan bertanya. Pertanyaan itu membuat Arta dan Santo yang sedang asyik ribut, jadi terdiam, melongo sambil memandang Iwan. "Apa?.... pertanyaanku salah ya"?
"Sudah, Aku sudah tau bagaimana masa lalunya". Kata Dani tenang.
"Wogh... Ga ada angin ga ada hujan. Sejak kapan kau suka investigasi"? Tanya Arta.
"Diam kau". Jawab Dani.
"So... Apa yang menarik Minakjinggo ini"? Tanya Iwan.
"Dia adalah Minakjinggo. THE...Minakjinggo".
"Jadi dia benar-benar Minakjinggo from Blambangan".
"Uh huh... Dan,...Hal itu membenarkan usahanya untuk membangkitkan si...buaya cengkar".
"Maksudnya apa"? Arta melongo.
"Minakjinggo, dulu pernah dikhianati oleh seorang Ratu di Majapahit". Dani berdiri dan mulai bercerita, tapi dengan nada yang pelan, sehingga tidak membongkar lokasi mereka saat ini. "Nama sebenarnya adalah Jaka Umbaran. Pria tampan dan sakti yang pernah mengalahkan Adipati Kebo Marcuet".
"Siapa pula itu". Kata Arta.
"Habis pulang, baca buku lagi ya. Jangan baca duit". Timpal Santo.
"Setelah mengalahkan Marcuet, dan mengambil alih Blambangan, Minakjinggo menagih janji pada Kencana Wungu. Ratu Majapahit". Dani melanjutkan ceritannya. "Akibat luka yang dideritanya saat melawan Kebo Marcuet. Kencana wungu tidak mau mengangkat Minakjinggo sebagai suaminya".
"Padahal dia yang ngadain sayembara sambil bilang Siapapun yang bisa ngrontokin gigi Kebo Marcuet, bakal jadi suamiku". Kata Arta.
"Yups".
"Cewek....Thypical".
"Dan kau tau...Kencana wungu ngadain sayembara lagi. Dengan kalimat yang 90% sama. cuman bedanya kali ini yang jadi wanted bukan Kebo Marcuet, melainkan Minakjinggo. Akhirnya dia bisa dikalahin oleh Damarwulan. Dan Damawulan jadi punya 3 harem. Yang 2 itu selir Minakjinggo, yang ketiga, Kencana Wungu".
"Wuih....pasti enak donk punya istri 3 sekaligus".
"Tempe...ga enak yo...tiap hari denger kicauan cewek yang bikin telinga sakit". Kata Santo.
"Itu lak kamu". Jawab Arta.
"Tapi yang tidak diketahui semua orang, Minakjinggo punya ajian rawa rontek". Kata Dani.
"Tau darimana kau"? Tanya Iwan.
"Damarwulan ga nemuin kepala Minkajinggo waktu dia cek gudang istana".
"What the...."
"Ya begitulah. Miankjinggo bisa kabur, dengan dendam yang numpuk, dia menyelidiki keris mpu gandring yang hilang setelah dipakai buat mbunuh Anusapati. Yang akhirnya ketahuan, kalau keris itu dipakai Ajisaka buat nyegel Buaya Cengkar".
"And so on...and so on... Kita tau kelanjutannya". Kata Iwan.
"Jadi kita akan nggunain ini buat ngrontokin giginya". Arta mengambil sebuah buah pistol magnum dari dalam koper. Dani, Santo, dan Iwan masing-masing mengambil AK-47, shotgun, dan senapan jarak jauh.
"Kalian tega ya...cewek disuruh bawa benda berat. Ntar kalau tanganku lecet gimana? Mau tanggung jawab hah"!? Omel Melany dengan nada yang makin tinggi.
"KAU!!! Dari tadi ga bisa diam. Kita bisa ketahuan kalau nada bicaramu ga kau kecilin". Dani naik pitam.
"Terlambat..." Kata sesosok pria dengan jubah hitam yang tiba-tiba muncul dihadapan tim 2 dengan posisi melayang. Dia membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajah seorang pria tampan dengan kulit pucat, dan rambut perak sepunggung.
Tim 2 tidak punya kesempatan untuk menanggapi lawan mereka, karena tiba-tiba saja Minakjinggo sudah berada didepan Melani sambil mengeluarkan sebuah pemukul berwarna kuning keemasan dari tangan kanannya. Melani yang kaget tidak sempat berfikir untuk menghindar. Yang akhirnya di pukul Minakjinggo hingga terlempar menabrak dua buah pohon jati dan terjun ke semak-semak.
Arta dan Santo yang masih memegang senjata mereka, segera memakai baju tempur dan membidikkan senjata mereka kearah Minakjinggo. Tapi dengan jubahhitamnya, setiap lontaran peluru yang keluar dari mocong senapan, berhasil dibalikkan dan tidak melukai Minakjinggo sama sekali. Arta dan Santo terus menerus menembak, tapi Minakjinggo, berlari menuju ke arah mereka. Dan dalam jangakauan tangan, kepala mereka di terkam oleh kedua tangan Minakjinggo dan diledakkan.
BLAM....
Iwan yang tercengang berlari menjaga jarak, saat kepulan asap masih menyelimuti area pertarungan. Minakjinggo kini berniat untuk memburu Iwan, tapi saat dirinya membalikkan badan, wajahnya sudah berhadapan dengan laras bazooka yang dipegang oleh Dani. Dani yang melihat keadaan tidak menguntungkan, segera mengganti senjatanya dengan bazooka saat Minkajinggo sedang fokus pada Arta dan Santo.
"Iwan.. lari!! Pergi dari sini"!! teriak Dani. Sesaat kemudian sebuah ledakan besar menghanguskan area itu dan melontarkan Iwan keudara. Untung saja dengan reflek yang baik, Iwan bisa menggapai salah satu ranting pohon, dan menyelamatkan diri.

#####

2 Jam kemudian
Tubuh Iwan yang terkulai lemas, terlempar menabrak puluhan batang pohon sebelum akhirnya terhempas diantara semak dan lilitan akar. Pandangan matanya berkunang-kunang, senjata kapaknya tergolek jauh dikanan. Kakinya gemetar, nafasnya tidak beraturan. Dalam waktu yang relatif singkat, dirinya bertarung dengan Minakjinggo diatas sebuah ranting, yang berakhir dengan satu uppercut berdaya hancur tinggi.
Belum sempat Iwan mengangkat tubuhnya, Minakjinggo sudah berdiri di depan, dengan efek angin, membuat jubah hitamnya berkibar-kibar. Kedua matanya yang sehitam ebony, memandang Iwan dengan seksama, memastikan bahwa lawan yang saat ini tergeletak setengah sadar itu tidak bisa mengkoordinasikan tubuhnya dengan baik. Setelah itu Minakjinggo tersenyum.
"Apa yang lucu Idjit (Idiot/Stupid)"? Tanya Iwan memberanikan diri.
Dan dengan suara yang halus tapi mencekam, berbeda sekali dengan suara berat yang biasanya diucapkan oleh Minakjinggo yang pernah ditemui Iwan, dia berkata.. "Mengenaskan. Klaian berusaha menghalangiku membangkitkan Dewata cengkar? Gagal.. Kalian berusaha menghalangiku mengumpulkan kekuatan? Gagal..." Minakjinggo berjalan kekanan sambil sesekali tetap mengawasi Iwan. "Kalian membunuhku? Gagal juga. Dan sekarang,...kalian mau main-main denganku menggunakan pistol anak-anak? Jangan bercanda". Senyum dingin tercipta di wajah pucatnya. "Aku abadi. Kau tahu artinya kan".
"Jangan banyak ngoceh. Kalau kau ingin membunuhku? cepat lakukan"!!
"Na na na... Tidak secepat itu, aku tidak ada urusan denganmu. Pemimpinmu yang aku incar".
"Apa maksudmu"!?
"Simpel, balas dendam...." Minakjinggo tersenyum sambil memandang ke atas. Menembus rimbunnya dedaunan, menuju kearah sinar matahari. "Aku sudah dikhianati wanita tiga kali. semuanya hanya gara-gara satu orang".
Iwan mengerutkan dahi, tidak bisa memahami apa yang diucapkan Minakjinggo.
"Dan kali ini aku akan membalikkan karma. Kau kira aku jahat? kau menganggap aku sebagai seorang yang menghalalkan segala cara untuk membuat kerusakan? lihat dulu akar permasalahannya. Dan tentukan, siapa yang pantas dihukum. Aku hanya korban keadaan. Korban tipu muslihat dari wanita yang berkuasa".
Saat Minakjinggo menyelesaikan kalimatnya, sebuah tombak dengan kecepatan tinggi tertancap di batang pohon, tepat disebelah kiri Minakjinggo. Iwan dan Minakjinggo memandang tombak itu sesaat, belum terpikirkan siapa yang melemparnya, tapi dari pangkal tombak, sudah tercipta lengkingan suara dengan intensitas yang memekakkan telinga. Minakjinggo terbang keatas dengan menggunakan jubahnya untuk melindungi diri, saat serentetan tembakan berhamburan dari arah belakang. Tampak Melani yang sudah menggunakan baju tempurnya menembaki Minakjinggo dengan dual handgun sambil berlari.
"Lama nya...Kau membuatku harus mendengar setiap ocehan...."
"Berisik". Melany memotong kalimat Iwan.
"Lihat siapa yang ngomong". Kata Iwan.
Melany mencabut tombaknya, mengangkat tubuh Iwan, dan membantu Iwan mengambil kapak miliknya. Minakjinggo yang terbang untuk menerjang Melani tiba-tiba terhenti saat dia menyadari diatas kepalanya kini tercipta sebuat lempengan tembaga yang secara virtual membesar dengan kecepatan tinggi. Diikuti oleh kemunculan kendang virtual dengan posisi yang siap untuk terjun menghantamnya. Minakjinggo menoleh kearah dua pohon di kanan dan kirinya. Arta dan Santo sudah berdiri ranting pohon yang berada beberapa meter diatas Minakjinggo. Mereka mengenakan baju tempur, tapi tanpa helm. Minakjinggo tidak sempat untuk memindahkan tubuhnya, saat Arta dan Santo secara membabi buta memukulkan kendang dan lempengan tembaga itu silih berganti menghantam Minakjinggo dari udara. Semakin lama, tubuh Minakjinggo makin tenggelam ketanah, hingga tidak terlihat lagi. Arta dan Santo turun untuk menemui Melani dan Iwan.
Minakjinggo tiba-tiba menghempaskan diri, keluar dari tumpukan tanah, dan dengan diselimuti kabut hitam, merubah dirinya menjadi seorang manusia, tapi dengan sayap dan kaki gagak. Kini Minakjinggo memiliki kecepatan yang makin tinggi. Dia mengeluarkan pemukul yang terbuat dari emas, dan menerjang Melani beserta ketiga kawannya. Pertarungan dan adu senjata satu lawan empat, tidak membuat Minakjinggo kualahan. Justru dia bisa menekan dan mengimbangi kekuatan dari gabungan empat orang yang silih berganti berusaha mengalahkannya.
Denting besi beradu, dan bunyi kayu yang rubuh mengiringi pertarungan yang berlangsung. Minakjinggo masih saja bisa mengimbangi lawannya. Hal ini membuat Arta, Santo, Iwan, dan Melani terdesak dan akhirnya jatuh ketanah. Saat keempat lawannya sudah roboh, Minakjinggo menciptakan puluhan jarum emas, dan menghujamkannya kearah Arta beserta tiga temannya yang saat ini tidak sadarkan diri. Empat orang anggota tim 2 praktis sudah kalah, tubuh mereka tertancap banyak jarum, sehingga mereka tidak bisa bergerak satu jengkal pun.

#####

Minakjinggo Masih melayang diudara, mengawasi sekeliling. beberapa saat kemudian, Dani menerjangnya dari arah Kiri, menggunakan rebabnya sebagai pedang sekaligus pemukul. Minakjinggo beradu kekuatan dengannya, masing-masing tidak mau kalah dan berusaha saling mengungguli. Minakjinggo sambil mengayun-ayunkan pemukul, menciptakan banyak halilintar yang menyambar kesana-kemari, berusaha untuk menjatuhkan Dani. Tapi Dani juga tidak kalah cerdik, dalam setiap tebasan, dia menggesek rebabnya dengan tangan kiri yang memegang semacam tongkat virtual, dan melontarkan puluhan bola api menghadang halilintar milik Minakjinggo.
Keadaan kini berubah, Minakjinggo yang dari tadi sudah menggunakan energinya untuk melawan keempat orang anggota tim 2, kini harus rela dibantai oleh pimpinannya. Dani memukul minakjinggo makin lama makin keras, sehingga Minakjinggo akhirnya jatuh menabrak batang pohon. Belum sempat Minakjinggo menggerakkan satu tangannya, Dani mengambil tombak Melani, melemparnya kearah pundak kanan Minakjinggo, lalu mengambil Kapak milik Iwan, dan melemparkannya ke pundak yang kiri. Minakjinggo tidak bisa bergerak, karena kekuatannya sudah terkuras, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dani berjalan meninggalkan keempat temannya yang masih pingsan, dan memandang Minakjinggo yang berdiri menancap di batang pohon. Minakjinggo memandang Dani yang melepas helmnya dan melemparkannya ke belakang. Mata Minakjinggo melotot untuk beberapa saat. kemudian...dengan tawa keras dan terbahak-bahak, Minakjinggo berkata...
"Bagaimana Kabarmu, Damarwulan"?

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger