Posted by : AksaraProject Saturday, December 31, 2011

"Final Battle... (Bagian ke-2)"



12 Jam Sebelum Pertarungan dengan Dewata Cengkar....

Handi duduk bersama dengan tim 4 untuk mendiskusikan rencana penyerangan yang akan mereka lakukan pagi nanti. Ruangan tempat mereka berkumpul adalah ruangan luas dengan dinding yang dihiasi foto orang-orang yang mengenakan jaket hitam. Total ada sebelas foto yang mengelilingi dinding ruangan itu. Masing-masing foto terdapat angka romawi dari 1 sampai 11. Foto nomor 10 adalah foto diri Flame, sedangkan nomor 11, adalah foto adiknya, Cream.
Di tengah ruangan itu berdiri sebuah meja marmer seukuran 4 kali bangku yang ada di sekolah. Di atas meja, berserakan puluhan kertas yang menggambarkan peta dan catatan mengenai lawan mereka selama ini, mulai dari Caruga, hingga Dewata Cengkar. Flame yang duduk di depan Handi, sedang berkonsentrasi mengurutkan beberapa lembar file mengenai Caruga. Jonggrang dan Sintha yang duduk disebelah kanan dan kiri Flame memejamkan mata mereka, berfikir untuk mencari solusi terbaik bagi rencana yang akan dibuat. Bandung, duduk disebelah kanan Jonggrang, mempelajari peta dan area yang ada di Candi Baka. Mencocokkan dengan ingatan yang diperoleh saat dirinya masih menjadi pangeran dari kerajaan Penging. Keheningan suasana seketika dibuyarkan oleh Gajah Mada yang duduk disebelah kiri Sintha.
"Ini rencananya". Kata Mada mengawali.
Semua orang yang ada diruangan itu memperhatikan Mada, mereka semua meninggalkan aktifitas yang telah mereka lakukan dan fokus pada perkataan sang ahli strategi.
"Dari data yang didapat hingga sekarang, kita... paling tidak, akan melawan empat penjahat. Caruga ada diluar antrian." Mada berhenti sejenak sambil memisahkan data Caruga dari keempat data lawan yang lain.
"Kenapa"? Tanya Handi.
"Karena mereka hanya cecunguk. Kita fokus pada target yang lebih besar". Jawab Mada tenang.
"Empat orang. Dewata Cengkar..." Flame mulai mengurutkan.
"Target utama kita". Mada menyahut.
"Minakjinggo". Lanjut Flame.
"Singo Barong". Tambah Bandung.
"Ratu Gunung Ciremai". Kata Handi.
"Hah?? yang benar"? Jonggrang tidak percaya.
"Kenapa memangnya"? Handi balik bertanya.
"Kalian membuat masalah dengan dia"?
"Jonggrang,..biasalah, mereka kan anak kecil". Timpal Sintha.
"Kita tidak bisa menyeret wanita itu dalam persoalan ini. Sama saja cari mati". Balas Jonggrang.
"Tenang,..aku sudah mengatur agar tujuan kita tetap tercapai. Tanpa berkonfrontasi dengannya". Kata Mada.
"Aku harap startegimu lancar. Terakhir kali kami ikut kata-katamu, Kau lupa memberitahu Ajisaka, bahwa dia tidak bisa membunuh Dewata Cengkar". Kata Bandung.
"Sori, itu kesalahan lama. Tidak akan terulang lagi. Janji". Mada berkata sambil menggaruk-garuk kepala. "Oke, jadi begini rencana kita. Pertama, kita harus memisahkan ketiga penjahat itu dari Dewata Cengkar. Karena kalau tidak, mereka hanya akan mengganggu saat kita melawan Si Buaya Raksasa".
"Setuju, lanjutkan". Kata Handi sambil mengangguk.
"Singo Barong akan kami hadapi. Dia Raja, dan kami adalah lawan yang tepat. Ratu Gunung Ciremai akan dihadapi oleh tim 3". Kata Mada.
"Tunggu Mada, kau menyodorkan tugas melawan Ratu itu, pada tim yang isinya adalah sekumpulan manula". Jonggrang mengoreksi perkataan Mada.
"Manula yang memiliki kebijaksanaan lebih banyak daripada kita". Jawab Mada. "Aku tidak berharap mereka akan bertarung. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan adu kekuatan". Mada memandang Jonggrang. "Percaya padaku".
"Okay, dua musuh sudah ada pasangannya. Tinggal tim 2 dan tim 1". Kata
Sintha.
"Kalau buat mereka, aku tidak perlu banyak penjelasan. Tim 1 tentu saja akan melawan Dewata Cengkar. Dan tim 2, melawan sisanya. Minakjinggo". Kata Mada, sambil memandang Handi. "Untuk tim kalian, jangan macam-macam sebelum ketiga tim yang lain datang membantu".
"Macam-macam bagaimana"?
"Jangan melakukan tindakan bodoh. Jaga jarak dan jangan serang dia. Kalian bisa mati kalau melakukannya hanya dengan lima orang". Jawab Flame.
"Aku malah berfikir untuk menghadapinya berdua dengan Nanda". Kata Handi santai.
"APA KATAMU"!? Mada membentak, karena mendengar perkataan Handi.
"Tenang dulu, hey... Ada beberapa hal yang kalian lupa. Ketiga lawan kita, selain Dewata Cengkar, punya urusan dengan anggota kami. Aku hanya berfikir untuk memancing mereka keluar, dan meninggalkan mereka untuk kalian". Kata Handi.
"Jangan bilang kalau kau mau mengorbankan teman-temanmu". Kata Bandung.
"Tidak, aku hanya meminta mereka untuk memancing lawan kita keluar. setelah itu, mereka akan menyusulku, dan membiarkan kalian membereskan tugas kalian masing-masing".
"Dan siapa yang akan kau jadikan umpan"? Tanya Jonggrang.
"Singo Barong, dia punya masalah dengan Karis. Jadi, Karis akan ikut kalian. Ratu Gunung Ciremai, tempat tinggalnya dirusak oleh Ratna dan Ica. Dalam hal ini, aku tidak mau Ratna ikut dengan Tim 2". Handi diam sejenak. "Oke, Ratna akan ikut tim 3. Ada Yanuar dan Pandu yang bisa menjaganya. Ica ikut tim 2. No comment lah, hanya dia yang tersisa sih. Dan aku, bersama Nanda akan menghadapi Dew....uph....Ngkar".
"Kau sakit perut ya"? Tanya Sintha.
"Jangan Tanya". Jawab Handi sewot.
"Kami tidak akan mengambil resiko, membiarkan kalian berdua, menandatangani kontrak dengan reaper". Kata Flame sambil agak marah.
"Reaper"? Mada Bingung.
"Pencabut Nyawa". Jawab Flame.
"Kami hanya akan memprovokasi. Tenang saja". Kata Handi tenang.
"Bagaimana kami bisa percaya padamu"? Tanya Bandung.
"Nope, kalian tidak bisa". Jawab Handi sambil tersenyum.
#####
Situasi di arena pertarungan makin tidak terkendali. Tim 2 dan tim 3 bersama Flame, dan Bandung menghajar Dewata Cengkar dari berbagai arah. Sabetan pedang, keris, aliran Energi, batu raksasa yang beterbangan, alat gamelan virtual, dan membaurnya cuaca menjadi pengiring setiap serangan dan tangkisan yang dilakukan oleh mereka semua.
Dewata Cengkar disambar petir dari arah belakang, selagi dirinya menghancurkan kendang dan tombak virtual. Belum sempat memalingkan muka, paha buaya ini ditebas oleh katana milik Flame, dan rebab milik Dani. Bandung mengangkat lima buah batu besar dengan kekuatannya dan melemparkan satu-persatu kearah Dewata Cengkar, sebelum akhirnya dibakar oleh Pandu dan ditendang dengan kecepatan tinggi oleh Yanuar. Semua orang yang melawan satu musuh terakhir dan terkuat dari semua lawan yang hari ini mereka hadapi, mau tidak mau harus saling membantu, menyingkirkan perbedaan yang ada diantara mereka.
Irwandha, mengeluarkan gulungan ombak entah darimana, Kemudian Jaka membuka lebar-lebar tanah yang dipijak oleh Dewata Cengkar, sehingga tubuh buaya itu tergencet dan dilahap oleh deburan ombak. Tetapi walau dengan usaha yang susah-payah mereka lakukan, Dewata Cengkar tetap bangkit seakan tidak menerima satu serangan pun.
"MADA!!!!! BAGAIMANA KONDISI MEREKA"!!? Flame berteriak pada Mada yang berada agak jauh dari lokasi pertarungan.
"BERI AKU WAKTU SEDIKIT LAGI"!! Sahut Mada. Dirinya saat ini sedang berkonsentrasi menyembuhkan luka yang diderita oleh Nanda. Aliran cahaya berwarna hijau menjalar dari kedua tangannya, keseluruh aliran darah Nanda.
"Ratna sudah terselamatkan. Tapi kondisi Handi paling parah". Jonggrang memeriksa keadaan Handi setelah selesai menyembuhkan Ratna.
"Karis sudah aman, aku lihat Ica juga sudah disembuhkan Mada". Tambah Sintha.
"Tetap saja, yang satu ini lehernya patah. Butuh energi ekstra untuk menyambungnya kembali". Kata Jonggrang. "Waktu kita tidak banyak. Bandung tidak akan bertahan lama melawan Dewata Cengkar".
"Sudah selesai, aku sudah menangani Nanda. Sekarang kita satukan kekuatan kita untuk menyembuhkan Handi. Semoga saja masih sempat". Mada bergerak kearah Jonggrang dan ikut memeriksa keadaan leher Handi.
Sementara itu, angin di arena pertarungan kini berhembus kearah yang berlawanan. Tampak semua lawan Dewata Cengkar sudah kelelahan, sementara Dewata Cengkar sendiri masih segar bugar. Semua yang ada disitu, tak luput dari pukulan, tendangan, dan sabetan ekor dari si Buaya. Melihat semua lawannya kualahan, Dewata Cengkar makin membabi buta, dia berniat membunuh semua orang yang berani melawannya. Teringat kekalahannya dari Ajisaka yang dibantu oleh lima orang tidak dikenal. Membuat dirinya makin marah dan ingin melampiaskan dengan membalasnya pada keturunan Ajisaka.
"Kali ini aku yang akan berkuasa di tanah Jawa ini, Dan tidak akan ada Ajisaka kedua yang bisa mengalahkan dan menggagalkan ambisiku." Dewata Cengkar mengaum sambil menghempaskan Santo, Dani, Irwandha, Tania, Jaka, Yanuar, Flame, dan Bandung sekaligus. "Apa yang sudah menjadi hak ku, akan aku rebut kembali". Kali ini Dewata Cengkar membakar tanah disekeliling dengan bara api yang keluar dari nafasnya.
"Semuanya!!!! Salurkan tenaga kalian ke tim 1"!!! Teriak Mada dari kejauhan.
Semua orang yang mendengar perkataan Mada, menoleh kearah asal suara, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hanya Flame, dan Bandung, yang mengerti apa yang bisa Mada, Jonggrang, dan Sintha lakukan, tampak tidak terkejut sama sekali. Senyum lebar tercipta diwajah mereka. Harapan baru telah datang, bagaikan sinar fajar yang menghempaskan gelap malam. menggantinya dengan kehangatan cahaya matahari.
"Bandung.... Babak akhir dari pertarungan ini sudah tiba. Kita bisa menang". Kata Flame sambil menepuk pundak kanan Bandung.
"Kau Benar Temanku... Kita bisa menang, Kita PASTI menang". Jawab Bandung.
Tampak Handi, Nanda, Ica, Ratna, dan Karis berjalan beriringan, menuju ke arena pertarungan didepan mereka. Luka-luka yang tadi diderita, kini sudah menghilang. Mereka berlima tampak lebih kuat dan lebih berkarisma daripada sebelumnya. Diikuti oleh 15 cahaya yang menyelimuti tubuh mereka. Handi, beserta keempat temannya, Mengeluarkan Daun Lontar mereka masing-masing. Dan membaca mantra untuk memakai baju tempur. Tapi perbedaannya, dengan adanya tambahan kekuatan dari 15 orang lainnya, Mantra yang dibaca oleh tim 1 bukanlah syair yang biasa mereka baca. Tapi mantra lain, syair lain, yang memiliki kekuatan lebih besar daripada yang mereka tahu. Syair yang akan merubah masa depan tanah Jawa.
#####
HANACARAKA
DATASAWALA
PADHAJAYANYA
MAGABATHANGA
Tim 1 diselimuti oleh cahaya emas dari tiap huruf jawa yang baru saja mereka baca. Baju tempur dengan warna dominan emas dan putih, menyelimuti tubuh mereka. Motifnya adalah gabungan dari motif baju tempur mereka, dengan motif dari 3 tim yang lain. Pundak dan bagian dada, mirip dengan tim 4, Bagian pergelangan tangan, mirip tim 3, sedangankan bagian kaki, mirip tim 2.
Setelah seluruh baju tempur menempel dan dipakai, kedua puluh Huruf jawa yang masih bersinar, kini membagi menjadi 5, dan berubah menjadi helm bagi masing-masing anggota tim 1. HA, DA, PA, MA menjadi helm Handi. NA, TA, DHA, GA, menjadi helm Nanda. CA, SA , JA, BA menjadi helm Ica. RA, WA, YA, THA, menjadi helm Ratna. Dan terakhir KA , LA, NYA, NGA, menjadi helm Karis. Tim 1 dengan kekuatan penuh telah hadir untuk mengalahkan Dewata Cengkar. Keturunan Ajisaka, akan menuntaskan tugas yang belum terselesaikan oleh leluhur mereka.
Let's the Battle begin!!!!
Dewata Cengkar membakar Handi, Tetapi api yang dilontarnya, tidak mempan dan justru menambah kekuatan Handi. Dengan tambahan kekuatan yang ada, Handi mengeluarkan pedang Garuda merahnya, mengisinya dengan api yang menggelegak bagai magma, dan menebaskannya ketubuh Dewata Cengkar. Raungan penuh kesakitan, tercipta memekakkan telinga. Dari arah kiri dan kanan, Dewata Cengkar diserang oleh Ratna dan Ica yang masing-masing menggunakan pedang dan kipas besi, yang kini sudah makin kuat merobek tiap senti daging yang masih menempel pada tulang putihnya. Karism memanah lawannya dengan menggunakan Busur emas dari rahang singa, dan anak panah dari bulu merak yang dialiri oleh listrik. Melepaskan hujan anak panah yang ketika menancap ditubuh Dewata Cengkar, membuat buaya itu di sambar petir berkekuatan tinggi. Nanda membuat semua jarak pandang Dewata Cengkar menjadi gelap, dan menyerang dengan menggunakan cakar macan kumbangnya yang kini berwarna emas dan makin kuat.
Diserang dengan kekuatan yang berlipat ganda, Dewata Cengkar kini jadi lumpuh. Banjir darah menggenang ditanah. Setiap luka di tubuhnya tak henti mewarnai arena pertempuran dengan warna merah. Matanya makin kabur, kekuatannya terkuras. Untuk menyangga berat tubuhnya saja dia tidak kuat, sehingga harus bertumpu pada satu tangan dan lutut yang ditekuk, menempel ke tanah. Raja tanah Jawa yang dikenal dengan kekuatan dan kebuasannya, kini tak lebih dari seekor buaya putih tak berdaya yang menunggu ajal. Dewata Cengkar, memandang kelangit. Di kepalanya terlintas semua hal, semua keberhasilan, dan kegagalan yang selama ini silih berganti menimpa dirinya. Diantara setiap kelebatan bayangan itu, terdapat satu bayangan. Bayangan seseorang yang menjadi musuh besar, dan mengalahkan sekaligus menyegelnya. Dan kini, Dewata Cengkar harus mengakui kekalahan ditangan keturunan musuh besarnya tersebut.
"Aku tidak akan kalah semudah ini... Kalaupun aku harus mati....aku tidak akan mati sendirian"!!!! Dewata Cengkar mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengamuk dan menghempaskan 15 orang yang kini sudah tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawannya. Meninggalkan dirinya dengan tim 1 yang terlihat selesai memperkuat senjata mereka dengan energi maksimal, dan akan menyerang Dewata Cengkar dengan serangan akhir yang akan membunuhnya.
"Celaka!! dia akan membunuh tim 1"!! Teriak Mada.
"Ratna!!! PERGI DARI SITU!!! SELAMATKAN DIRIMU"!!! Dani berteriak putus asa.
"MINNA"!!!! Flame berteriak sambil berusaha mengangkat tubuhnya untuk berlari menyelamatkan tim 1. Tapi gagal, tubuhnya tidak mau merespon karena terlalu banyak kehilangan tenaga.
Dewata Cengkar Tersenyum sambil mengucapkan kembali syair legendaris milik Ajisaka. Sambil setiap detik, tim 1 makin mendekat untuk mencabut nyawanya.
"HANA CARAKA... Utusan yang dikirim oleh Ajisaka, keturunan yang akan menuntaskan tugasnya". Kata Dewata Cengkar. Tim 1 mulai berlari, mengangkat senjatanya masing-masing, mengarahkannya pada sasaran didepan. Pandu, Jaka, Tania, Berteriak memperingatkan Handi untuk menyingkir dari situ.
"DATA SAWALA... Saling berselisih, Aku dipihak kejahatan, dan kalian dipihak kebenaran". Dewata Cengkar melanjutkan kalimatnya. Jonggrang, Sintha, Melani, berlinang air mata melihat Ica, dengan penuh keteguhan dan pantang mundur, berlari makin dekat dengan kematiannya.
"PADA JAYANYA....Setidaknya diawal, aku sama kuatnya dengan kalian". Dewata Cengkar Hampir selesai berbicara. Flame, Bandung, Irwandha Mengumpulkan tenaga untuk bergerak, menggapai-gapai tanah didepannya agar bisa menggeser tubuh mereka satu inchi kedepan. Dan menolong Nanda dan Karis.
"MAGA BATHANGA... Inilah akhir nasib kita". Dewata Cengkar tersenyum lebar dan memandang ke udara. Dani, Iwan, Santo, Arta, Yanuar, Mada Berteriak sekuat tenaga, berharap agar suara mereka dapat didengar oleh tim 1.
Saat keputus-asaan menelan 15 orang yang tidak bisa menyelamatkan tim 1, Flame melihat sekilas, Ratna, menoleh kebelakang, melepaskan helmnya, terseyum dan berkata "Terima kasih". Kontan Flame Terkejut dan berteriak makin kencang untuk mencegah mereka. Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Dewata Cengkar beradu kekuatan terakhir dengan tim 1. Sebelum berteriak....
"TAKDIR SUDAH TERPENUHI"!!!
BLEGARRRRRRRRRRRRRRRRR
Ledakan dahsyat menelan mereka berenam. Ledakan itu menggelapkan udara, menutupi sinar matahari. Membuat awan cerah berubah menjadi mendung, dan hujan lebat menyirami kegersangan area Candi, dan mengguyur perasaan kelima belas orang disana.
#####
Isak tangis mengiringi kepergian tim 1. Ledakan besar barusan, tidak menyisakan satu bagian tubuh pun dari mereka. Menelan mereka hingga ke bagian terkecil. Dani memukul-mukul tanah, air mata menggenang, pikirannya kacau. Tunanganya yang selama ini menjadi tujuan dirinya merubah sifat, tewas didepan matanya untuk yang kedua kali. Para abdi dalem tim 1 kehilangan tuan mereka. Terlunta-lunta antara ketidak percayaan terhadap apa yang telah terjadi. Pandu mesih terngangga, dia belum mampu menelan kenyataan bahwa Handi telah tiada. Yanuar shock berat, matanya tidak fokus, denyut jantungnya tidak beraturan. Arta, Santo, Iwan, dan Melany tidak mampu berkata apa-apa. Jantung mereka tercabik kenyataan bahwa rival mereka telah pergi mendahului. Irwandha, dan Tania menatap langit yang diselingi derasnya air hujan, berharap akan ada suatu keajaiban yang akan merubah apa yang telah terjadi. Jaka tidak mampu berkata apa-apa. Sintha dan Jonggrang menangis tiada henti. Bandung menenangkan Jonggrang yang menangis dipundaknya sambil memandang sekeliling. Melihat hasil pertarungan. Mada melepaskan kacamata dan meremukkannya sebagai pelampiasan atas kegagalan menyelamatkan nyawa 5 orang teman seperjuangan.
"Tidak mungkin....Uso da....USO DA"!!!!!! Flame berteriak histeris, masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
Tak lama setelah teriakan Flame terdengar mengema dalam kesunyian area Candi, Terdapat tak kurang dari 10 Cahaya putih mucul secara hampir bersamaan. 8 orang yang datang dari cahaya itu memakai jaket hitam dengan perbedaan warna pada garis di pundak dan pergelangan tangan. Wajah mereka tertutup tudung jaket berwarna hitam. Di lengan kesembilan orang bertudung itu, terdapat angka romawi berurutan dari angka 3 sampai 11, minus angka 10. Mereka adalah 8 orang yang ada di foto yang terdapat pada ruang rapat di rumah Flame. Dua cahaya lagi, Memunculkan Rekta dan Timun. Kesepuluh orang ini menuju kearah Flame beserta teman-temannya yang saat ini tergolek tidak berdaya dan penuh penyesalan.
"ANATA, apa yang terjadi"? Cream berkata sambil membuka tudung kepalanya. Dia adalah orang yang memakai jaket hitam dengan garis krim di pundak, dan angka romawi 11 di lengan. Flame menatap Cream tanpa berkata apa-apa. Wajahnya masih menunjukkan amarah bercampur ketidak berdayaan.
"Chi.. Kita tidak punya waktu! Angkat kakakmu, dan pergi dari sini"! Kata seorang perempuan yang memakai jaket hitam dengan garis ungu di pundak, dan angka romawi 8 di lengan.
"Tapi kak Violet"..bantah Cream.
"Jangan banyak tanya, kita urus nanti belakangan". Jawab Violet.
"Kalian boleh membawa semua orang disini, tapi Gajah Mada dan Restu Sintha tetap ikut kami". Kata Rekta sambil tersenyum. Dia menggandeng Mada, sedangkan Timun memapah Sintha, kemudian mereka berdua menghilang ditelan cahaya yang bersinar diantara gelapnya cuaca.
"Urusanmu, kami punya masalah sendiri". Kata seorang cowok yang memakai jaket hitam dengan garis kuning di pundak, dan angka romawi 5 di lengan.
"Flame, Order punya masalah. Pillar harus berkumpul dan menuntaskannya". Kata Violet. "Chi, Bawa Dia".
"Violet, You can move five old people there, Me and my brother will take care the rest". Kata seorang wanita yang memakai jaket hitam, dengan garis ungu anggur dan angka romawi 3 di bahu.
"Oke, Erick, Wahyu, Bernard, bantu aku". Kata Violet pada 3 orang dibelakangnya yang memakai jaket hitam dengan garis putih, hijau, dan biru laut, dengan angka romawi 6, 9, dan 7. Keempat orang ini bergerak dan memindahkan tim 3. Cream dan Flame, beserta Bandung dan Jonggrang juga pergi dari situ. Sedetik kemudian, hanya tinggal tim 2 beserta 2 orang berjaket hitam.
"Sasuke, I bring this three people with me, you go with the other please". Kata wanita tadi sambil membuka tudung jaketnya. Memperlihatkan rambut panjang yang tergerai diantara wajah orientalnya.
"Leave it to me". Jawab Pemuda yang memakai jaket hitam dengan garis biru gelap di pundak dan angka romawi 4 di lengan.
Arta yang melihat wanita itu, berfikir keras sambil menutup mata, seolah- olah mereka pernah bertemu sebelumnya. kemudian dia berteriak "Airi noga..."
"Thats only on TV". Kata wanita itu menyela perkataan Arta sambil tersenyum. Arta pingsan sambil menyelesaikan kalimatnya. "..mi". Sedetik kemudian, tim 2 sudah di teleportasi ke rumah sakit Condong Catur yang terletak di Jogja bagian Utara.
#####
Satu Minggu setelah kejadian di Candi Baka, masih belum ada kabar mengenai tim 4 dan beberapa orang tim 3. Tapi Irwandha dan Tania jelas tidak mengalami luka yang serius. Begitu pula dengan tim 2. Tetapi walau hari sudah berganti, rasa sakit dan kegagalan yang besar, masih juga menetap di perasaan mereka. Terlebih lagi Dani, sebagi ketua tim 2 dan sekaligus sebagai tunangan Ratna. Dia melampiaskan amarahnya dengan melakukan kekerasan pada setiap pejahat yang ditemuinya. Bahkan saat Tim 2 sudah berfikir bahwa cara mereka membasmi kejahatan sudah terlalu kejam dan melampai batas, Dani bisa melakukan hal yang lebih sadis daripada itu.
Suatu hari, saat Dani berserta Arta, Santo, Iwan, dan Melani sedang bersantai di salah satu cafe di Jogjakarta, mereka mendengar berita mengenai perampokan bank yang terjadi di salah satu sudut kota itu. Tanpa pikir panjang, mereka berlima segera menaiki motor mereka dan meluncur ke lokasi kejadian.
Dilokasi, mereka sudah melihat enam orang perampok, keluar dari bank sambil membawa berkarung-karung uang tunai. Mobil polisi yang masih terparkir diluar, tidak memperlihatkan pengemudinya. Dani mencari kesana-kemari penegak keamanaan yang seharusnya ada disana untuk mencegah perampokan, tapi yang ditemuinya hanyalah mayat petugas polisi yang tergeletak tidak karuan dengan baju tertembus berpuluh-puluh peluru. Dani memberi isyarat kepada keempat temannya untuk berkumpul dan menghadang para perampok itu. Keempat temannya mendekat dan memperseiapkan alat untuk memanggil baju tempur yang mereka miliki.
"Semuanya siap. Kita bisa bersenang-senang malam ini". Kata Dani sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tentu donk. Sudah beberapa hari ga ngurusin kasus gedhe". Jawab Iwan.
"Bayaran kecil ga masalah, yang penting kesenangannya". Timpal Arta.
"Kalian semua bisa diam ga? Kita datang, hajar, bunuh. Selesai". Kata Santo.
"Aku ikut kata Dani saja, kalau bilang bunuh, ya bunuh". Melani mengakhiri perbincangan.
Kelima orang itu bersiap untuk memakai baju tempur mereka. Tapi sebelum mereka sempat mengucapkan kata sandi, ratusan peluru bertebaran dari arah belakang, menembus tubuh keenam perampok tadi. Membuat mereka mati seketika. Dani dan teman-temannya menoleh kebelakang, dan mendapati bahwa kini, di lokasi itu sudah muncul 15 orang dengan baju tempur yang mirip dengan milik mereka, hanya saja warnanya hitam, masing-masing memegang senapan AK-47, dan dipimpin oleh seseorang dengan baju tempur berwarna emas yang sepertinya mengkoordinir semua tindakan pasukan itu. Dani beserta keempat temannya tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.
"Baju tempur kita...."? Kata Arta.
"Diproduksi massal.."Lanjut Iwan.
"Dan, Sepertinya ada yang ga beres". Kata Santo.
"Dani....ada apa ini"? Tanya Melany.
"Kalian tanya aku, aku tanya siapa"? Timpal Dani kebingungan.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger