Posted by : AksaraProject Wednesday, December 14, 2011

“Pertarungan Para Raja...(This is WAR)”



Bandung Bandawasa beserta 19 orang dengan takdir yang sama, berdiri memandang reruntuhan Candi Baka yang terletak di sebelah timur Jogjakarta dari kaki gunung. Tekad mereka, tujuan mereka, tugas, beserta kewajiban yang mereka emban, sebentar lagi akan dituntaskan. Apa yang dimulai oleh Ajisaka, hari ini, pagi ini, harus diakhiri oleh garis keturunan yang sama. Tahu bahwa dirinya adalah tokoh kunci yang menandai pertempuran klimaks, Bandung menatap satu-persatu orang yang ada disitu bersamanya. Dia memastikan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang ragu-ragu ataupun menyerah sebelum bertarung. Kemudian dia berkata...
“Aku tahu tidak semua dari kalian datang dengan sukarela.” Kata Bandung sambil meninggikan suara, agar semua orang disitu bisa melihat semangat dan wibawa dalam nada bicaranya.
“Beberapa dari kalian ada yang terpaksa datang.” Bandung melihat ke tim 2. “Ada yang sebatas menunaikan tugas turun temurun.” Bandung melirik tim 3. “Dan tentu saja, ada yang datang dengan amarah dan niat untuk balas dendam.” Bandung memandang Ratna. Setelah itu Bandung memejamkan mata sambil menundukkan kepala. “Ketahuilah,... Kita masing-masing punya tujuan yang berbeda. Tapi inti dari semua itu tetap sama. Kita bagai menaiki 20 ekor kuda. Tapi setiap derap kaki kuda itu menuju ke satu tempat.” Bandung membuka mata sambil memandang lurus kedepan. “Hari ini kita akan memenggal Dewata Cengkar, dan Mengakhiri kerusakan yang ditimbulkan olehnya.”
Flame, Handi, Pandu, Dani, dan setiap orang yang mendengar perkataan Bandung, memandang keatas sambil menunjukkan keseriusan untuk mengalahkan Dewata Cengkar. Bandung Bandawasa membalikkan badannya lagi, dan bergerak memasuki kawasan gunung, diikuti oleh seluruh orang yang ada disitu. Agak jauh dari tempat awal mereka, kedua puluh orang itu berpencar menjadi 4 regu. Tim 4 pergi bersama Karis mengikuti jalur sebelah barat gunung. Tim 3 pergi bersama Ratna, mengambil Jalur timur. Tim 2 bersama Ica, memilih jalur memutar sehingga mencapai lokasi dari belakang candi. Sedangkan Handi dan Nanda, menggempur dari arah depan. 15 Menit kemudian, tidak terdengar lagi jejak langkah dari 20 orang itu. yang ada hanya keheningan diselingi gemerisik dedaunan rimbun diantara pohon jati. Pertempuran akan dimulai.
#####
Tim 4, dipimpin oleh Flame, menyusuri rimbunnya akar dan daun jati yang berguguran, perlahan-lahan menuju ke arah Candi Baka dari sisi Barat. Bandung menggandeng Jonggrang. Di sebelah kiri Jonggrang, Sintha memandang sekeliling untuk mengamankan seluruh anggota tim. Mada yang berjalan dibarisan paling belakang bersama Karis, mendiskusikan strategi yang mereka jalankan.
“Oke, Kau ahli strategi disini, tapi kenapa tim 1 harus dipecah? Bukankah akan lebih baik jika kelima orang di tim 1 menggempur Dewata cengkar bersama-sama?” Tanya Karis.
“Amatir, kalau kau menggunakan seluruh sumber dayamu untuk menggempur satu titik dari satu arah, maka tidak butuh energi yang banyak bagi lawan untuk menghempaskanmu.” Mada menoleh ke Karis. “Tahu kenapa? Karena lawan hanya butuh fokus pada satu titik saja....KALIAN.”
“Bukannya kita ada 20 orang, kalian berlima belas bisa menggempurnya dari 3 arah yang lain.” Protes Karis.
“Dan kau akan melupakan anak buahnya?”
“Siapa? Caruga,....mereka tinggal dihajar saja kan?”
“Minak jinggo....” Kata Bandung tanpa menoleh ke belakang.
“Aku dengar Penghuni Gunung Ciremai juga ada disini.” Kata Jonggrang.
“Satu, dua, tiga... Dengan Dewata Cengkar masih ada 3. Berarti 1 tim menganggur. seharusnya kalian bisa menjadikan 1 tim itu sebagai back-up kami.” Kata Karis.
“Aku pikir tidak. Karena aku sudah memebagi rata tugas kita.” Mada berkata sambil tersenyum kecil.
“Apalagi leluconmu? Aku rasa setelah dibangkitkan, sifatmu jadi aneh. Jangan-jangan mereka tidak membangkitkanmu dengan kapasitas otak 100%.” Jawab Karis.
“Bla bla bla....bilang saja kau iri karena aku lebih jenius daripada kau. Begini-begini
aku masih Gajah Mada yang sama dengan yang membantu pemerintahan Hayam Wuruk. Kalau kau tidak yakin dengan apa yang aku rencanakan, dan berfikir bahwa aku lebih idiot karena sudah pernah dikubur sekali, aku katakan padamu hey maho tukang protes... satu-satunya hal yang merubah pola pikir dan tingkah laku ku hingga jadi seperti sekarang ini, adalah kelakuan kalian yang tidak menghargai usaha kerasku mempersatukan Nusa Antara.”
“Aku bukan Maho!! jangan asal ngomong kau.” Karis naik darah.
“Kau keturunannya Kelana Swandana kan?? apalagi yang kau harapkan.”
“Jangan samakan aku dengan dia.”
“Bah,...kalian memang generasi amoral. Bisanya hanya menikmati apa yang ada tanpa menghargai jasa-jasa pendahulu kalian untuk menyediakan semua fasilitas yang kalian nikmati saat ini. Kau pikir menyatukan wilayah sejauh bermil-mil dibawah satu kekaisaran itu mudah hah!!?? Negara macam apa yang mau-maunya menjual pulau dan membiarkan daerah kekuasaannya hancur sedikit demi sedikit?”
“Kau....”
“Kalian bilang negara ini Negara Kesatuan? lebih sejahtera dari masa lalu? rakyatya hidup tentram, sekali lempar batu jadi tanaman, BAH...Jangan buat aku tertawa. Yang aku lihat saat ini hanyalah pemimpin korup yang tidak lebih dari sebuah kotoran dibalut pakaian mahal.”
“Mada, hentikan ocehanmu,...sepertinya kita sudah melangkah ke tahap kedua rencana kita.” Kata Sintha sambil menghentikan langkah dan memandang ke depan. Bandung, Jonggrang, dan Flame juga berhenti. Mada dan Karis mengikuti apa yang dilakukan teman-teman mereka.
Kini keenam orang itu ada di sebuah tanah lapang dengan latar belakang rimbunnya pepohonan. Di hadapan mereka, kini berdiri menghadang, sesosok makhluk buas dengan baju tempur berwarna emas. Karis yang mengetahui siapa makhluk itu, tersulut amarahnya dan bergegas maju untuk menghajar. Tapi Mada menghalangi Karis. Dia merentangkan tangan kirinya untuk menghadang langkah Karis.
“Ini yang aku maksudkan. sekarang kau paham kan, tidak ada satupun tim yang menganggur. Kami punya urusan disini. Jadi kau pergi saja duluan ke Candi. Biarkan kami membereskannya.” Kata Mada.
“Tapi dia adalah masalah keluargaku.” Protes Karis.
“Dan dia adalah masalah umat manusia.” Jawab Bandung tenang.
You hear that boy. So let's swing your damn lazy feet out of here.” Kata Mada. Setelah berfikir sejenak, dengan ogah-ogahan, Karis pergi meninggalkan tim 4.
“Kau cepat belajar rupanya. Sayangnya film yang kau tonton kemarin, tokoh utamanya bukan orang yang kata-katanya patut ditiru.” Kata Flame.
“Maksudmu?”
“Dean Winchester suka ngomong jorok, jadi,....kalau kau ikut-ikutan, kau bakal jadi jorok juga, Ngertos maksudku???” Jawab Flame.
“Nggih Ndoro, Ngertos-ngertos mawon.” Jawab Mada sewot.
“Tidak ku kira kalian yang akan jadi santapanku. Sudah lama aku tidak menikmati menyiksa pendekar sok kuat seperti kalian.” Kata Singo Barong sambil membungkukkan badan.
“Kami ini bukan sok kuat. Tapi memang kuat.” Kata Jonggrang menimpali.
“Kami bahkan sudah mengalahkan ratusan musuh saat kau masih memakai popok.” Tambah Sintha.
“Makin lama dengan kalian, aku jadi makin ingin tertawa.” Kata Flame sambil melangkah ke depan. “Ayo kita mulai pesta ini..... AWAKENING!!!” Flame memakai baju tempurnya, diikuti oleh keempat temannya. Huruf jawa GA, BA, THA, NGA masing-masing terukir dalam baju tempur Mada, Bandung, Sintha, dan Jonggrang.
Bandung dan Jonggrang yang masing-masing ada di kiri dan kanan Flame secepat kilat menghilang. Mada dan Sintha menerjang kearah Singo Barong yang masih mengambil kuda-kuda dihadapan mereka. Singo Barong melepaskan 6 buah bulu merak yang terbuat dari besi, untuk menyerang Mada dan Sintha. Sintha yang kaget, meluncur ke angkasa. Terbang mengindari kejaran 3 bulu merak yang melesat bagai peluru berkecepatan tinggi. Mada, menghancurkan 3 bulu yang lain dengan sambaran halilintar dari kedua tangannya.
Singo Barong yang punya kesempatan selagi Mada dan Sintha sibuk, melesat ke arah Flame, sedetik kemudian Flame sudah dihadang Singo Barong yang bersiap mencakarnya. Tapi detik berikutnya, wajah Singo Barong tiba-tiba ditendang oleh Jonggrang. Singo Barong yang terpental segera menyeimbangkan badan dan mengeluarkan auman yang memekakkan telinga. Jonggrang terpelanting, meninggalkan Flame yang kini menghunus pedang untuk menebas lawannya. Dengan sigap, Barong menghindari tebasan Flame dan menembakkan sinar energi tepat dimuka Flame. Ledakan itu mementalkan Flame dan membuat helmnya rusak. Flame segera membuang Helm itu. Kini tanpa pelindung kepala, Flame kembali menerjang, tapi sekali lagi tebasan Flame bisa dihindari Singo Barong.
Singo Barong tersenyum penuh kemenangan, sebelum akhirnya Bandung, yang tidak terdeteksi oleh Singo Barong, karena sibuk menghadapi Flame dan Jonggrang, melayangkan tinju berkekuatan tinggi di wajah Singo Barong. Singa itu kembali terpental. Tapi kali ini Jonggrang yang sudah sadar, terbang keatas dan menghujani Singo Barong dengan tembakan energi.
Mada yang melihat kesempatan ini, berteriak “WOEY...yang kejar-kejaran diatas, sudah bosan belum??”
“Diam kau.... Aku lagi sibuk.” Jawab Sintha sambil bermanuver menghindari bulu merak.
Setelah menambah jarak, sehingga Sintha bisa sejenak menoleh ke belakang, dia menembakkan energi untuk menghancurkan mesin pengejarnya, tapi hanya mampu menghancurkan 2 buah. Bulu yang terakhir, semakin dekat dengannya. “Wo o....gawat... MADA, SEGEL GERAKAN SINGA KUTUAN ITU!!!!” Teriak Sintha.
“OKKY DOKKY.” Jawab Mada sambil membelenggu tubuh Singo Barong yang masih limbung dengan lingkaran emas yang menyala. “Diam disitu kayak patung ya.”
“GRRRR....Lepaskan aku, monyet.” Raung Singo Barong.
“Bentar lagi kucing...” Kata Mada. “SUDAH BELUM!!!” Teriak Mada tanpa mengalihkan pandangan.
“MINGGIR DARI SITU!!!!” Teriak Sintha yang meluncur dengan kecepatan tinggi kearah Singo Barong. Saat jarak antara mereka berdua makin kecil, Sintha segera merubah arah terbangnya, melesat ke atas sehingga bulu merak yang mengejarnya tidak sempat merubah arah dan meledak karena menabrak Singo Barong. “Kena Kau.” Kata Sintha sambil tersenyum.
#####
“Brengsek kalian!!!!” Singo Barong yang masih diliputi asap karena ledakan barusan, melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, menghajar Jonggrang, Bandung, Flame, Mada, dan akhirnya menarik kaki Sintha di udara dan menghempaskan tubuh Sintha ketanah. Tanpa mengurangi kecepatannya, Singo Barong memukul punggung Flame, dan menghilang kearah yang berlawanan. Melempar Mada, sehingga Flame dan Mada bertabrakan dengan kecepatan tinggi. Bandung ditendang ke udara, lalu Dengan Raungan sekeras ledakan gunung berapi, menghempaskan jonggrang yang ada di kanannya.
Mada yang berdiri dengan susah payah, segera mengunci Singo Barong dari belakang dengan sihirnya. Singo Barong kembali meronta, kali ini lebih kuat sehingga dia harus mengerahkan kekuatannya untuk tetap memepertahankan segel sihirnya.
“AKU MENYEGELNYA, SEKARANG KALIAN HABISI DIA!!!!” Teriak Mada.
“KAPAN???” Jawab Flame.
“TAHUN DEPAN!!! YA SEKARANG LAH!!!”
“OKE.”...
Sintha melayang beberapa meter diatas Singo barong dan dengan pedangnya, menciptakan tebasan angin kencang yang menyayat baju tempur Singo Barong. Bandung dan Jonggrang mengumpulkan energi masing-masing di tangan mereka, lalu secara bersamaan memukul dada Singo Barong dan menghempaskannya sejauh 100 meter. Mada yang sudah melepas segelnya, menciptakan sebuah bola energi seukuran meteor dan menabrakkannya kearah Singo Barong. Dengan sigap sang Singa menahan terjangan energi itu.
“Energimu kurang kuat Mada....” Teriak Bandung.
“Jangan salahkan aku...aku sudah menggunakan kekuatanku untuk menahan gerakannya tadi, dan itu tidak sekali, tapi DUA KALI.” Balas Mada sambil menunjukkan 2 jarinya.
“Serahkan padaku.” Flame berlari kencang kearah Singo Barong yang masih menahan bola energi dari Mada. Singo Barong tidak punya waktu untuk mengalihkan perhatian, sehingga dia kaget ketika tiba-tiba Flame sudah ada di depannya. Dan sambil tersenyum, Flame merentangkan tangan bersiap untuk menebas. “Bon Voyage...Loser.” Flame menebas tubuh Singo Barong, melesat jauh ke depan dan membiarkan dia hancur berkeping-keping terkena ledakan energi yang diciptakan Mada.
BLEGARRRRRR!!!!!!! Serpihan tubuh Singo Barong bertebaran seiring dengan kerasnya suara ledakan, menghempaskan satu-satunya bagian terbesar yang tersisa dari dirinya, helmnya, ke arah Bandung. Helm itu jatuh didepan kaki Bandung diikuti dengan suara kelontangan yang keras.
Bandung melepas helmnya sendiri, kemudian menginjak Helm singo Barong. KRAKK....
Kelima anggota tim 4 itu berdiri dalam diam, mengamati sekeliling mereka, lalu melepas baju tempur mereka masing-masing.
“Tadi itu.......MENJENGKELKAN!!!” Kata Sintha.
No Comment. Lawan kita juga bukan level kacangan kan.” Jawab Flame.
“Paling tidak kita bisa menang dengan kerjasama.” sela Jonggrang.
“Seperti dulu lagi... Kita masih belum kehilangan sentuhan kita.” Kata Bandung.
“Ga rugi kita disebut tim para Raja. heheheheh” Kata Mada sambil tertawa.
“Kamu bukan raja loh....” Kata Sintha.
“Kau juga bukan tuh. Tapi statusku masih lebih wah daripada kau.” Mada menjulurkan lidah.
”Tapi kau mati tua. GENDUT.” Timpal Sintha.
“Bah, itu namanya subur. Hidupku lebih terjamin daripada kau. Cewek galak.”
“Lebih terjamin, tapi jidatmu makin lebar. tau kenapa?? karena jidatmu makin panas,memikirkan urusan kerajaan, hidup lebih lama lagi, dan aku ga heran kau mati botak.”
“Paling tidak aku hidup lebih lama dari kau.”
“Aku mati dalam kondisi masih cantik sedangkan kau.... apa...apa....”
“Kalian ini bangga dengan kematian kalian ya?” Kata Bandung sambil mengehela nafas.
“Daripada kau....” Mada dan Sintha berkata bersamaan.
“Aku kenapa? Aku masih hidup sampai saat ini, segar bugar, masih muda, tampan, apalagi yang kurang? Oh ya, kisahku juga masih dikenang, reruntuhan candiku juga menghasilkan dana besar bagi negara, dan sampai sekarang masih terjaga kelestariannya. Apa....apa...heh”?? Kata Bandung.
Mada dan Sintha menelan ludah, tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku suka dengan style kalian. Mengalahkan satu raja lalim sekelas Singo Barong dengan kerjasama yang baik dan dalam waktu yang singkat. Efektif...juga Efisien.” Terdengar suara seorang laki-laki dari kejauhan. Seluruh anggota Tim 4 menoleh kearah asal suara. Tampak dua orang berjalan kearah Tim 4 saat ini. Satu orang lelaki, dan satu perempuan.
Tim 4 yang samar-samar melihat mereka dari jarak yang cukup jauh, menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas lagi. Mada yang seakan mengenali senjata yang dibawa si lelaki, terperanjat karena kaget.
”Walah dalah....pedang itu...mana mungkin dia masih hidup sampai sekarang?” Kata Gajah Mada.
“Kau kenal dia?” Tanya Jonggrang.
“Kenal,...jangan berncanda, dia legenda, pahlawan majapahit yang bahkan lebih keren daripada Sintha.”
“HAH...jaga mulutmu, atau aku jahit pakai pedangku.” Balas Sintha.
“Aku harap dia bukan lawan yang harus kita hadapi.” Kata Bandung.
“Sialan.....tiap kali dia datang, pasti bawa masalah.” Kata Flame.
“Kau kenal dia juga?” Tanya Mada.
“Aku kira aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi. Teman kalian yang bernama Flame ini sudah mengenalku cukup baik.” Lelaki itu menghentikan langkahnya ketika berada dekat dengan Tim 4. perempuan disebelahnya juga ikut berhenti.
Dihadapan Tim 4 sekarang berdiri seorang lelaki berambut merah, umur kira-kira 22 tahun, yang mengenakan jaket merah panjang, bersenjatakan pedang berbilah melengkung mirip ular dengan gagang pedang terukir kepala naga. Bilah pedang itu terdapat ukiran huruf jawa bertuliskan Naga Puspa. Perempuan yang mendampinginya, umur 18 tahun, berambut hitam panjang dengan model diikat ekor kuda. Perempuan itu mengenakan baju biru muda dengan celana hitam, ditambah selendang kuning yang melingkar di badan dan diikat dipinggul. Di paha kanannya, terdapat 4 kotak dengan berbagai macam warna.
”Rekta Letu. Mau bawa masalah apa lagi sekarang?” Tanya Flame acuh.
“Rekta??? bukannya yang punya pedang itu hanya Arya Kamandanu?” Mada bingung.
“Okelah, dia Kamandanu. Rekta itu hanya nama samaran.” Kata Flame yang diikuti dengan senyum kecil diwajah Rekta.
#####
“Aku lihat sekarang kau sudah punya pengawal pribadi.” Kata Flame.
“Dia...oh maaf, aku belum memperkenalkan keponakan ku.” Kata Rekta sambil memperkenalkan perempuan yang bersamanya. “Dia Timun, Timun mas.”
“OOOOOOO...... Gadis kecil yang mengalahkan Raksaksha dengan bermodal biji ajaib.” Kata Sintha. Aku pikir itu hanya dongeng.
“Memang, lagipula siapa yang akan percaya dengan kekuatan gadis kecil sepertiku.” Kata Timun sambil tersenyum.
“Lalu kenapa kalian masih terlihat muda, padahal ini sudah tahun 2011. Seharusnya kalian sudah...” Jonggrang tidak meneruskan kalimatnya.
“Mati...memang, itu sebabnya kami disini. Kami memberitahu kalian, bahwa ini bukan era kalian. Kecuali kau Flame tentu saja.” Kata Rekta.
“lalu apa yang kau minta, membuat kami mati agar dunia ini tidak terganggu?” Tanya Bandung.
“Tidak... Tapi mengajak kalian untuk hidup ditempat kalian seharusnya.” Jawab Timun.
“Pangaea,...tempat dimana tokoh legenda hidup. Kau pikir kenapa Legenda tidak pernah terbukti kebenarannya? karena mereka memang tidak ada didunia ini. tapi di dunia mereka PANGAEA, negeri atas awan.” Kata Rekta. “Maha Patih Gajah Mada, nona Restu Sintha, kalian tidak seharusnya tinggal di era ini.”
“Bagaimana dengan Bandung dan Jonggrang?” Kata Sintha.
“Mereka memang belum mati. jadi mereka masih bisa hidup disini. Tapi beda dengan kalian. Sejarah mencatat kalian sudah meninggal. Akan jadi kacau kalau sampai orang tahu kalian masih hidup.” Kata Rekta.
“Dan kalau kami berdua menolak?” protes Mada.
“Sayang sekali aku harus membuat kalian mati.....lagi” Jawab Rekta.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger