Posted by : AksaraProject Thursday, December 15, 2011

“SHAKTI...(Itu nama senjata pusakanya Karna, Bukan KUNTA)”



“Sekarang apa yang kita lakukan?” Tanya Ratna pada Jaka yang berjalan dengan tenang dihadapannya.
“Tidak ada,...saya rasa kita memang harus menunggu.” Jawab Jaka sambil terus melanjutkan perjalanan.
“Menunggu...APA?”
“Kamu ini masih muda tapi cerewetnya minta ampun ya? Heran aku.” Kata Tania sambil menggeleng. Dia berjalan di sebelah kanan Jaka. “Sekali-sekali, jangan banyak komentar, ikuti saja apa yang sudah direncanakan”.
“Maaf ya, tapi sepertinya kamu yang tidak bisa membedakan antara cerewet, dengan kritis.” Timpal Ratna sambil berkacak pinggang.
“Anak jaman sekarang.....”
“Tania... biarkan saja. Kita akan berkonsentrasi pada target kita. Sampai pada tempat yang ditentukan nanti, aku harap kamu bisa sabar.” Kata Irwandha meredam perseteruan. Dia berjalan di barisan paling depan, bersama Yanuar dan Pandu disisi kiri dan kanannya.
“Hmph.....” Jawab Tania.
“Nona Ratna, jika memang anda tidak mau repot-repot melakukan perjalanan dengan kami, anda boleh bergegas menyusul teman-teman anda. Kami tidak akan menghalangi.” Kata Irwandha kepada Ratna.
“Bukan begitu maksudku. Hanya saja, semua ini seakan ditutup-tutupi. Rencana yang dibuat Gajah Mada terlalu banyak cacatnya. Dengan membagi Tim 1 menjadi 4 dan membiarkan Handi serta Nanda untuk maju menghadapi Dewata Cengkar..... Itu namanya bunuh diri.” Jawab Ratna.
“Kelihatannya memang seperti itu, tapi apakah anda pernah berpikir, mungkin memang Tuan Gajah Mada ingin musuh berfikiran seperti apa yang anda baru saja katakan, sehingga itu akan memudahkan kita mengetahui strategi mereka?” Kata Pandu.
“Sepertinya kau bisa membaca pikiranku kali ini Pandu.” Kata Jaka menyetujui.
“Lagipula, Tuan Gajah Mada sudah tidak usah diragukan lagi pengalamannya dalam mengatur strategi.” Tambah Irwandha.
“Seakan-akan kalian sudah bersekongkol dengan Mada dalam semua ini.” Kata Ratna sambil menoleh ke kanan.
“Oke, kita anggap ini adalah perangkap. Tapi lihat, jikalau benar semua yang kalian katakan, kenapa sisa Tim 1 harus ikut dengan 3 tim yang lain? Kenapa tidak dipecah jadi 2 saja? 2 orang Tim 1 pergi ke garis depan, sedangkan sisanya menyergap dari belakang. 3 tim yang lain menghadapi 3 anak buah utama dari Dewata Cengkar. Bukankah itu lebih masuk akal?”
“Aku selesai denganmu!!!!” Tania membalikkan badannya, sehingga saat ini dirinya memandang lurus kearah Ratna.
“Kau benar-benar kebablasan. Bukan saja kau berakata sok kritis dengan segala strategi dan arah peperangan ini, tapi kau juga sok kuasa atas apa yang terjadi. Sial, seandainya kedudukanku lebih tinggi dari ini, akan aku sumpal mulutmu pakai tangan. Gatal telingaku mendengar ucapan sok pintar darimu.”
Muka Tania merah padam, tapi dia tetap menahan emosinya.
“Itu perbedaan generasi kita. Aku.....generasi wanita yang lebih muda, lebih pintar, kritis, dan berpandangan luas dalam menganalisa masalah. Tidak seperti kamu, generasi yang lebih tua,... kerjanya hanya 3M, Mangan masak manak, tambah 1, macak.”
“Kau bangga mengakui dirimu sebagai wanita generasi muda, wanita jaman sekarang. Dan dengan semua argumenmu,....Kau bangga mengakui bahwa wanita generasi sekarang adalah kaum wanita yang sudah lupa akan kewajibannya, dan hanya menuntut HAK secara membabi buta.”
“Maksudmu.....”
“Sudah jelas kan? Tadi kau dengan sok, mengatakan bahwa wanita generasi tua hanya bisa 3M+1. Kau memandang hal itu seolah-olah sesuatu hal yang hina.”
“Tania, jangan teruskan kalimatmu. Bagaimanapun juga dia punya darah keraton.” Kata Yanuar mencegah Tania.
“Jangan....biarkan saja, mungkin ini memang saatnya Nona Ratna menjadi lebih berwawasan dan bijaksana.” Kata Pandu menghentikan Yanuar.
“Tapi Pandu....”
“Semua ada waktunya. Bukankah itu yang selalu kamu katakan pada kami semua.” Pandu tersenyum tenang.
“Kau... Aku tidak akan berargumen denganmu masalah persamaan hak antara wanita dan pria, tapi tanpa persamaan KEWAJIBAN antara keduanya.” Tania mengambil gaya tanda kutip di kata-kata kewajiban untuk memperjelas.
“Aku juga tidak akan berdebat kusir denganmu soal kenapa wanita sekarang minta melakukan semua pekerjaan pria, tapi wanita tidak mau pria melakukan pekerjaan wanita, DAN.....aku tidak akan mengajakmu adu mulut soal kenapa dengan konyolnya, wanita jaman SEKARANG.... mengeluh bak bayi baru lahir karena banyaknya pekerjaan yang harus mereka tangani (well, salah mereka juga, kenapa minta persamaan hak), sedangkan mereka tidak suka melihat pria berleha-leha dirumah.”
“Hey,.....wanita tidak butuh solusi. Wanita butuh ngomong…mb..” Tiba-tiba Jaka yang berteriak, ditutup mulutnya oleh Irwandha. Jaka melirik Irwandha dan melihat pria tua itu menggeleng-gelengkan kepala.
“Banyak omong.” Jawab Ratna singkat.
“Terserah, Aku hanya ingin kamu, sebagai wanita yang berpendidikan, melihat apa yang ada dibalik semua kewajiban dan hak wanita. Kewajiban dan Hak wanita yang sebenarnya.” Kata Tania.
“Sudah,…biasa saja tuh. Tidak ada yang istimewa. Hanya perbudakan dan perendahan derajat. Makanya kami memnita persamaan derajat dan HAK.” Bentak Ratna.
“Lihat, dan pahami kewajiban dan hak wanita. Jika kamu memang benar-benar wanita terpelajar dan bijaksana, kamu akan menemukan maksud tersembunyi yang justru membuktikan bahwa pada masa lalu, derajat wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Revolusi maniak yang kalian lakukan saat ini, justru secara gamblang memproklamirkan bahwa wanita dengan sukarela ingin diturunkan derajatnya menjadi sama rata dengan pria.”
“Omong kosong. Itu hal yang biasa diucapkan wanita tidak berpendidikan.”
“Seperti yang aku bilang. Hanya wanita yang berpendidikan dan bijaksana yang mampu menemukan maksud tersembunyi dari semua hal tadi.” Senyum mulai tersungging di bibir tipis Tania. “Hanya unggul di salah satu bidang di atas, bijaksana saja, ataupun hanya berpendidikan saja, tidak akan cukup untuk menelusuri kebenaran.”
Ratna membuka mulutnya, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
“Mungkin bagi orang lain, kamu terlihat pintar dan berwawasan luas. Tapi bagiku,....kau hanya seorang gadis kecil yang memiliki segudang pengetahuan tanpa diikuti oleh kuatnya Iman. Hanya robot tanpa jiwa. Kosong mlompong seperti tong sampah.” Kata Tania sambil berlalu meninggalkan Ratna yang terdiam.
“Walah dalah....baru sekali ini aku lihat ada yang bisa menskak Nona Ratna. Hebat loh ternyata kamu.” Kata Jaka berlari mengejar Tania.
“Siapa bilang. Aku hanya kebetulan saja tahu lebih banyak dari dia.” Jawab Tania.
“Wow wow wow,...waktu curhat sudah selesai....sekarang giliranku. Serahkan gadis yang sudah merusak rumahku di Ciremai.” Kata sebuah suara perempuan diantara rimbunnya dedaunan.
“Pandu, Yanuar, jalankan rencana kita. Nona Ratna, anda segeralah pergi menyusul Tim 1, kami berlima yang akan menghadang perempuan itu.” Kata Irwandha mengatur siasat.
Ratna yang masih agak kaget dengan kenyataan yang baru saja diterimanya, kini tanpa pikir panjang segera berlari menjauh dari situ. Meninggalkan tim 3 yang saat ini sudah berjajar dalam 1 barisan, bersiap menghadapi lawan mereka.

###########

“Kabeh wis siap to? Ayoh mulai...” Irwandha memberi aba-aba.
“SHAKTI”… Pandu, Irwandha, Yanuar, dan Tania meneriakkan kata-kata manthra itu secara bersamaan, kecuali Jaka yang berteriak…..
“KUNTA!!!”
“UNTA!!!” Teriak Irwandha kaget.
“UNTUMU. Beh Jak, awakmu iki kok senengane nggawe kisruh. Karek mbengok SHAKTI ae malah ngomong UNTA. Ngomong sak udhel e dhewe.” Kata Yanuar jengkel.
“Lah lak yo bener to. Shakti kuwi senjatane Karna versi India, la lak nak Indonesia kan jenenge Kunta. Wong Indonesia lak seneng nggonta-ngganti sembarang-mbarang sak penak udhel e dhewe. Aku ki yo wong Indonesia, dadine….”
“Rasah kakean omong. Awakmu ngomong SHAKTI opo ngomong karo tanganku iki?” Yanuar makin jengkel mendengar jawaban Jaka.
“Oke oke….SHAKTI”!!!!
Seluruh tubuh tim 3 seketika itu terselimuti oleh 5 elemen yang berbeda. Api untuk Pandu, Angin untuk Yanuar, Air untuk Irwandha, Tanah untuk Jaka, dan Halilintar untuk Tania. Kemudian huruf jawa kuno PA, YA, DHA, JA, dan NYA menjadi helm ynag melindungi kepala mereka.
Setelah mereka memakai baju tempur masing-masing, tampak sesosok perempuan, memakai pakaian layaknya wanita bangsawan pada jaman kerajaan majapahit, lengkap dengan selendang ungu yang melingkar di pundak, bagaikan sayap. Perempuan itu berambut hitam panjang sepunggung, dengan hiasan bunga melati tersebar di lembaran helai rambutnya. Wajah cantiknya menjadi paduan sempurna antara menawan dan sadis. Perempuan itu melayang beberapa sentimeter diatas tanah, berhadapan dengan kelima orang Tim 3.
Pandu menyerang perempuan itu dengan api yang tercipta dari kedua tangannya, membentuk naga yang melayang keudara menuju arah sasaran tetapi ditangkis hanya oleh selendang lawannya. Perempuan itu memukul dada pandu berkali kali tapi dengan irama yang mengalir bagai alunan musik, sehingga Pandu sulit untuk memblokir serangan. Jaka yang menggunakan ajian Bandung Bandawasa, memperkuat dirinya dan mengangkat bongkahan tanah selebar 5 meter kemudian melemparkannya kearah perempuan itu. Yanuar, melompat ke udara, dan berkat ajian sepi angin yang dimilikinya (yang levelnya lebih tinggi dari Ratna), bisa dengan mudah menendang bongkahan tanah tadi sehingga kecepatannya menjadi setara roket. Tapi perempuan itu ternyata tidak selemah yang mereka kira, dengan menggabungkan selendangnya, dia mampu membelah bongkahan tanah tadi hanya dengan 1 tebasan, kemudian menghempaskan Pandu kearah Jaka.
Irwandha dan Tania mengepung lawan mereka dari 2 arah, Tania mengeluarkan sambaran kilat menggelegar yang membuat laju gerak perempuan itu menjadi terbatas, sedangkan Irwandha menciptakan gelombang air pasang yang menutupi mata kaki lawannya sehingga arus listrik akan menyengat lawannya sampai hangus. Tapi lagi-lagi perempuan itu lebih cerdik, dia melilitkan selendangnya ke leher Tania, dan menarik Tania kearahnya, lalu menginjak Tania dan menggunakan tubuh gadis itu sebagai pijakan untuk meloloskan diri dari perangkap. Perempuan itu berdiri di sebatang pohon sambil tersenyum.
“Hanya seperti inikah kemampuan yang kalian miliki?” Tanya perempuan itu.
“Kita baru saja dihajar oleh seorang misterius yang mengincar leher nona Ratna. Aku tidak percaya.” Omel Jaka.
“Percayalah.” Jawab Pandu sambil memegangi dadanya yang masih sakit.
“Aku kenal selendang itu. Hanya ada satu orang dengan kesaktian yang begitu tinggi, yang selalu mengenakan selendang ungu serperti itu.” Kata Irwandha.
“Itu selendang Janda.....ungu kan warna janda. Jadi tidak dipungkiri lagi....lawan kita adalah JANDA!!!! Haduh,...jadi makin susah dipercaya, kita baru saja dihajar janda.” Jaka menepuk jidatnya.
“Bukan janda. Itu hanya ungkapan tidak masuk akal. Dia bukanlah lawan yang seharusnya kita hadapi.” Kata Yanuar.
“Kat kapan awak e dhewe ngomong nggawe boso Indonesia pas nglumpuk bareng?” Tania keheranan mendengar keempat temannya bercakap-cakap.
“Sejak kita dipecundangi hanya dengan selembar selendang.” Jawab Pandu tak acuh.
“Sudah, malas aku berdebat, bahasa ini lebih mudah dimengerti, lagipula lawan kita bukan orang jawa tengah, dia berasal dari Ciremai, Cirebon. Dia tidak tau bahasa jawa, taunya bahasa ngapak.” Kata Irwandha.
“Inyong kencot.” Kata Jaka sekenannya.
“Hus...ngomong sak enak udhelmu.” Kata Tania.
“Jadi siapa dia? Dari tadi kau tidak bilang namanya.” Kata pandu kearah Yanuar. Sambil sesekali mengawasi gerakan lawannya. Bersiap jika setiap waktu lawannya beralih posisi dari batang pohon dihadapan mereka.
“jangan bilang kamu tidak tahu siapa yang berdiam di Gunung Ciremai, Ndu...” Kata yanuar dengan wajah tidak percaya.
“Itu.....itu.....HEH.......Yakin kamu?”
“Banget.”
“Ini salah, kalau memang dia adalah orang itu,....melawannya sama saja dengan bunuh diri levelnya setara raja.”
“Dan aku yakin Tuan Gajah Mada mengirim kita untuk berhadapan dengannya, bukan untuk mati konyol, melainkan menyelesaikan cara ini dengan seni lama.” Kata Irwandha.
“Musyawarah.” Tambah Tania.
“Tepat Sekali, karena Tim 4 sudah melawan Raja Singo Barong, hanya tim kita yang dinilai lebih dewasa dari kedua tim yang lain.” Kata Irwandha.
“Akhirnya.... Aku pikir butuh waktu lama bagi kalian untuk menyadari semua itu. Sengaja aku tidak memberitahukan namaku, agar kalian menyadari sendiri, siapa yang kalian hadapi.” Perempuan itu turun dari batang pohon, kemudian berjalan perlahan dengan gaya melengok bak penari kearah Tim 3.
“Semua hal bisa diselesaikan baik-baik kan?” Tanya Yanuar.
“Itu yang aku suka. Lagipula aku ini perempuan, masak aku dikeroyok 5 orang? Itu tidak adil.” Kata Perempuan itu.
“Baiklah, kita akan bahas jalan keluar dari persoalan anda dengan nona Ratna. Tania, tolong kamu awasi Jaka, kalau dia menunjukkan tanda-tanda mau ngomong, tonjok dia. Aku takut setiap kata yang keluar dari mulutnya akan menghancurkan musyawarah ini.” Irwandha memandang Tania, yang dibalas dengan tawa kecil dan isyarat mengepalkan tangan dari Tania. Jaka yang mendengar itu segera meletakkan tangan menutupi mulutnya.

###############

“Jadi bagaimana asal muasal masalah anda dengan nona Ratna?” Tanya Yanuar.
“Aku sebenarnya tidak ada urusan dengan mereka berdua.” Jawab perempuan itu.
“Berdua? Maksud anda?”
“Mereka datang berdua, gadis bangsawan itu dengan temannya yang lebih kecil dan cerewet.”
“Hmmm….sepertinya itu nona Ica.”
“Jadi....aku tidak kenal siapa mereka, juga tidak tahu apa kepentingan mereka, tiba-tiba saja mereka berdua mengobrak-abrik rumahku dan menghancurkan propertiku.”
“Tunggu, Nona Ratna bukan tipe perempuan seperti itu. Pasti ada alasan kenapa dia sampai melakukan hal separah itu di kediaman Anda.”
“Itu yang aku ingin tahu. Aku tidak pernah punya salah dengan mereka. Kenapa mereka cari gara-gara denganku?”
“Hmmm.....Nona Ica ya....beberapa hari yang lalu, Nona Ica dan Nona Ratna sempat berkunjung ke sanggar dimana Nona Ica pernah diajari menari. Dan dari gaya bicara mereka saat mereka sudah pulang, sepertinya ada yang aneh dengan sanggar itu. Dan kalau saya boleh menebak, itu berhubungan dengan anda, jadi.....”
“Ilmu pelet? Hal itu lagi? Ya ampun.....aku sudah pensiun. Bisnis itu tidak menguntungkan. Sudah lama aku meninggalkannya. Yah walaupun aku tahu kalau masih ada saja orang yang menggunakan ilmu itu. Tapi itu bukan dari aku. Aku sudah keluar, tidak berurusan dengan hal-hal semacam itu lagi.”
“Tapi anda tetap dihubung-hubungkan dengan hal itu hingga saat ini. Jika ada urusan ilmu seperti itu, pasti merujuknya ke nama anda.”
“Itu sialnya....orang yang jualan ikan, akan berbau amis walau dia sudah meninggalkan toko ikannya. Begitupun juga aku.”
“Menurut anda, apakah tindakan Nona Ratna dan Nona Ica salah? Oke, yang dalam konteks mengobrk-abrik kediaman orang, itu memang salah. Tapi alasan mereka, karena sebenarnya mereka hanya ingin menghilangkan pengaruh buruk yang melekat pada tarian kuno yang notabene identik dengan kemenyan dan bla bla bla.”
“Tapi ya jangan rumahku.”
“Ya mana kami tahu? Kan yang jadi rujukan itu anda.”
“Kan masih banyak sumber ilmu yang lain selain aku?”
“Mungkin saja yang satu itu sumbernya memang dari anda.”
“Ribet.”
“Memang... Anda bisa mencoba mengecek ilmu apa yang digunakan oleh sanggar Nona Ica, sehingga anda bisa yakin, apakah itu secara tidak langsung adalah salah anda, atau bukan.”
“Sebentar.” Perempuan itu memejamkan mata berkonsentrasi sambil menebarkan auranya yang berwarna ungu kesegala arah. Beberapa saat kemudian, dia membuka matanya. “Sial....mereka menggunakannya.”
“Jadi?”
“Apa? Oke itu dari ku, lalu....”
“Anda bisa bertanggung jawab? Karena alasan Nona Ratna dan Nona Ica mendatangi kediaman anda, adalah agar ilmu yang digunakan orang-orang sanggar menjadi tidak berguna atau lenyap.”
“Seperti yang aku bilang, aku sudah tidak berurusan dengan bisnis ini lagi.”
“Tapi mereka masih menggunakannya bahkan setelah anda tidak berurusan dengan mereka.”
“Itu salah mereka.”
“Memang, tapi kembali lagi, asal muasal ilmu itu dari anda. Setidaknya anda bisa menghilangkan efek, atau bahkan memusnahkan ilmu itu sebagai bentuk pengunduran diri anda. Tidak ada ruginya kan? Anda juga tidak akan kehilangan kekuatan.”
Perempuan itu mencibir sedikit. “Oke, akan aku lakukan, tapi kalian harus berjanji, tidak akan mengusikku lagi untuk selamanya.”
“Itu bisa diatur.” Jawab Yanuar sambil tersenyum.
Perempuan itu menepukkan kedua tangganya ke udara 3 kali. Pada tepukan ketiga, tercipta bola energi berwarna putih yang menyerap cahaya-cahaya ungu dari segala arah. Setelah beberapa saat, bola energi itu lenyap. “Sudah selesai, semua orang yang menggunakan ilmu ku akan mendapati kalau ilmu itu sudah tidak berguna.”
“Bisakah kami mempercayai anda?”
“Tidak bisa,....kecuali kalian membaca surat kabar besok pagi dan menghitung jumlah perceraian mendadak yang diberitakan disana.”
“Baiklah, jalan keluar sudah didapat. Kami berjanji tidak akan mengganggu anda lagi.”
“Oke....aku pegang kata-katamu.” Perempuan itu menghilang diikuti semilir angin yang menegakkan bulu kuduk. Saat Yanuar akan berpaling ke teman-temannya, Tiba-tiba Perempuan itu muncul mendadak dihadapannya. “Awas lo kalau bohong.” Dan Perempuan itu menghilang lagi.
“Kaget aku....” Kata Yanuar sambil mengelus dada. “Urusan kita sudah selesai disini, kita bisa membantu Tim 1 sekarang.” Kata Yanuar ke arah empat temannya.
“Baiklah, kita berangkat kearah Candi Baka.” Kata Irwandha memimpin.
“Aku tidak akan komentar.” Kata Pandu sambil tersenyum kecil.
“Musyawarah kita berjalan lancar seperti seharusnya. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.” Kata Tania.
“Besok pasti bakalan banyak berita keren.” Kata Jaka cekikikan.
“Hus... ngomong sak enak udhelmu.” Teriak keempat teman Jaka yang lain secara bersamaan.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger