Archive for 2016

Chapter 025

Sunday, March 27, 2016
Posted by AksaraProject

Ring



Malam itu, kediaman keluarga Sanjaya Ganesha begitu meriah. Suasana keraton Jawa begitu kental dengan penampilan para tamunya, dekorasi, musik latar, serta kuliner khas Jawa Tengah. Para tamu silih berganti, dan setiap saat itu juga, Sanjaya Ganesha, seorang pengusaha dan ayah dari Melani, begitu gembira menjabat setiap tamu yang datang, serta menyambut mereka dengan sukacita. Ruang tengah serbaguna yang lebih cocok disebut ballroom super megah, di sulap menjadi sebuah perayaan yang tidak akan bisa dilupakan. Dan malam itu, Melani menjadi salah satu bintangnya.
Melani yang terdiam, membiarkan periasnya sibuk mendandani dirinya di salah satu ruangan kamar, sungguh tidak bisa menduga. Tiga malam sudah berlalu sejak dirinya menerima telepon dari Teddi Brahmana, ayah Dani, sesaat setelah ia dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan Kaliura di perayaan Imlek. Bagai disambar petir, Melani tak dapat melupakan apa yang disampaikan oleh sahabat karib ayahnya tersebut.
“Melani, kalian tidak terluka?”
“Ah, Paman Teddi.. Iya, kami baik-baik saja, paman. Terima kasih.. Paman mau bicara dengan Dani? Dia ada, kok” Jawab Melani sedikit heran, karena tumben-tumbennya paman Teddi, ayah Dani, menelepon dirinya.
“Ah, nggak.. .Paman tahu, paman tetap memperhatikan kalian dari sini dengan tim. Hanya saja, paman memang ingin bicara dengan kamu. Oh ya, sehabis ini jangan lupa datang ke lab. Kita periksa armor kalian yang terkena jaring itu. Kalian baik-baik saja, kan? Dari sini terlihat jaring itu cukup mengganggu armor kalian”
Melani menggeleng cepat. “Kami baik-baik saja, paman. Memang tadi sedikit berbahaya situasinya, tapi kami bisa mengatasinya. Baik,nanti kami ke lab seperti biasanya.. Oya paman, ada yang mau disampaikan dengan Melani?” Entah kenapa, jantung Melani berdebar tidak seperti biasanya, merespon situasi yang tidak biasa ini.
“Baguslah… Begini… Melani tahu? Paman sudah banyak bicara dengan ayahmu. Kami berdua berdiskusi serius, dan diskusi ini sudah berlangsung lama sebelum paman beritahu Melani malam ini. Kami berdua memutuskan sesuatu, yang penting dan menyangkut kepentingan banyak orang. Termasuk juga kepentingan masa depan Melani…dan keluarga Melani…”
Melani semakin bertanya-tanya apa yang terjadi.
“Aku dan ayahmu memutuskan untuk mentunangkan kau dangan Dani”
Bagai tersambar petir, Melani diam mematung. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sebelumnya.
“Ma...maaf, paman…paman tadi…tadi bilang apa?”
Suara tawa kecil di seberang ,Melani dengar dari Teddi Brahmana.
“Paman akan mentunangkanmu, menjodohkanmu dengan putra Paman, teman baikmu itu. Dani Putra Brahmana”
“Ta...tapi...tapi...Dani sudah tahu hal ini, paman? Kenapa tiba-tiba sekali? ayah tidak pernah memberitahu saya,paman.” Tanya Melani, gugup sambil memain-mainkan ujung rambutnya.
“Dani akan mengerti. Dan dia akan setuju. Urusan Dani nanti sajalah, paman yang atur. Sekarang yang penting, dari Melani sendiri. Apa Melani bersedia menerima Dani sebagai tunanganmu?”
Melani diam. Mendadak, wajahnya memanas, jantungnya berdegup kencang, dan Melani tiba tiba tak dapat berbuat apa-apa.
“Melani,..kamu masih disana?”
“…Uumm. Iya, paman. Melani masih disini..”
“Hahaha... Baguslah… Paman pikir kamu entah kemana tadi. Jadi...apa jawabanmu,nak?”
Melani merasa wajahnya makin memanas. Ia hanya dapat tertunduk malu dan menjadi salah tingkah meskipun ia tahu bahwa Teddi Brahmana tak dapat melihat reaksinya saat ini.
“Ah, pernah ada yang bilang kepada paman, bahwa diamnya seorang perempuan, terutama di masalah jodoh, berarti perempuan itu menerima jodohnya tersebut…begitu, nak?”
Melani semakin tersipu malu,”Ah, paman...”
“Hahahaha… Nak, paman anggap itu jawaban ya dari kamu. Segera pulang, nak. Temui ayahmu...Ia akan menjelaskan segala sesuatunya, ya,nak?”
“Iya,paman” jawab Melani, masih tertunduk malu.
“Hahaha… Baguslah, paman tutup,ya? sekarang paman mau menelepon tunanganmu itu.”
=====
Sebenarnya, hingga beberapa saat acara pertunangan akan diadakanpun, Melani masih tak percaya atas apa yang akan ia hadapi nanti. Pikirannya berlari kesana kemari hingga sering mengacaukan konsentrasinya. Terkadang ia tersenyum sendiri, membayangkan apa yang bisa ia lalui bersama Dani nanti, yang mengakibatkan dirinya malu sendiri. Saat ini, tantangan yang Melani hadapi sebenarnya bukanlah situasi dan kondisi yang cukup mendadak yang menentukan nasibnya di kemudian hari, melainkan tantangan untuk mengatasi dirinya sendiri. Dan sebagai salah satu pengguna armor Aksara, Melani menyadari bahwa ia dipersiapkan pula untuk siap menghadapi situasi paling pelik pun. Namun tidak dengan situasi yang seperti ini.
Keluarga besar berkumpul ke tengah rumah, dimana jamuan besar sudah dipersiapkan. Ragam kuliner dan minuman berciri khas Jawa Tengah, disajikan untuk memanjakan selera tamu yang datang. Teddi Brahmana dan Sanjaya Ganesha, berjabat tangan entah sudah yang keberapa kali. Senyum mereka mengembang tak putus putusnya. Disekelilingnya, keluarga maupun relasi dari kedua keluarga besar nampak larut dalam kebahagiaan tersebut. Namun tidak dengan Dani. Dani yang malam itu berbusana resmi, duduk dengan sikap yang resmi pula. Meskipun wajahnya tersenyum, menyambut setiap ulran tangan yang ditujukan padanya, mengucapkan selamat, namun raut wajahnya menunjukkan sebaliknya. Hal ini setidaknya diketahui para sahabatnya, Arta, Sansan dan Iwan, yang duduk disebelah Dani, menemani sahabatnya tersebut.
Dari ketiganya, nampak Arta yang paling cemas. Berulangkali ia melihat ke arah Dani, ke arah tamu, dan ke arah suasana perhelatan pertunangan tersebut. Iwan yang lama kelamaan merasa terganggu dengan ulah sahabatnya tersebut, menyenggol Arta pelan.
“Psst! Apaan,sih? Kayak cacing kepanasan aja kamu itu”
“Kamu nggak liat Dani, bro? Liat aja mukanya, bayangin apa yang bisa dia lakuin di acara besar kayak gini.”
“Udah...percaya aja sama Dani”
“Itu yang aku takutin, brooo.. Begitu tau Dani sama Melani ditunangin, rasanya gila banget, tau nggak?? Maksudku, waktu tiga hari yang lalu, malem itu kita diberitau, rasanya...gimana ya...jgeeerr! gituu, cetar membahana! Maksudku, Dani sama Melani yang lama kita kenal itu, lhoo.. gitu…”
“….Lebay…” sungut Iwan.
Iwan mengambil nafas panjang. Dalam dirinya sebenarnya mengiyakan kecemasan itu, namun ia tidak mau menunjukkan hal itu ke sahabatnya. Sansan yang nampak paling tenang diantara mereka hanya bisa melihat Iwan dan Arta berbisik-bisik dari tadi. Diam-diam ia berdoa dalam hatinya agar acara malam ini berjalan dengan lancar.
Sanjaya Ganesha berjalan ke tengah panggung kecil yang dipersiapkan di tengah ruangan. Dengan sumringah, ia meminta perhatian kepada seluruh tamu yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Selamat malam, semuanya..saya ucapkan selamat datang kepada seluruh yang hadir malam ini. Malam yang berbahagia… Saya ucapkan selamat datang, kepada keluarga besar sahabat saya yang tercinta, bapak Professor Doktor Insinyur Teddi Brahmana, Msc, Phd. Dan mungkin gelar lain yang sudah beliau tambah tanpa kita ketahui,. ”Para tamu tertawa mendengar gurauan Sanjaya. “Apapun gelar bapak Teddi Brahmana ini, yang saya ketahui betul-betul hanyalah satu,..yaitu gelar sahabat terbaik untuk saya, dari mulai kecil, hingga setua ini” tepuk tangan membahana di ruangan tersebut.
“Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, saya sangat berbahagia malam ini, karena hubungan persaudaraan kami akan masuk ke dalam arti yang sebenarnya… Malam ini, saya dan keluarga besar Ganesha, dengan beliau, dan keluarga besar Brahmana, akan menyatukan putra putri kami ke dalam tali pertunangan.”
Tepuk tangan dan senyum bahagia menyertai sebagian besar orang-orang di dalam ruangan tersebut.
“Semoga TUHAN merestui niat baik kami sekeluarga, dan semoga semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun, hingga pertunangan ini dapat berlanjut ke tahap berikutnya. Bukan begitu, pak Teddi?” Teddi Brahmana tersenyum senang. “Dan tidak memperpanjang waktu, saya panggil putri saya tercinta, Melani Anjani Ganesha..”
Sebuah tirai terbuka. Iring-iringan penari dan pager ayu menyeruak masuk dengan penuh irama. Dengan megahnya, Melani muncul di tengah iring-iringan. Semua mata memandang takjub ke arah Melani yang malam itu tampil menawan, seakan kata cantik, tidak dapat memuat kiasan penampilan Melani malam itu. Melani melangkah pelan, menuju ke atas panggung dimana ayahnya berada. Hingga Melani sampai ke atas panggung, tiada sepatah katapun yang terucap, yang ada hanya tarian dan musik dari para pengiring, yang sayup menghilang kembali ke balik tirai.
Sanjaya Ganesha menyambut Melani dengan pelukan dan kecupan penuh kasih sayang. Dengan memeluk lembut Melani yang ada di sebelahnya, Sanjaya Ganesha membuka tangannya ke arah Dani berada. “Sekarang, kita sambut putra kebanggaan Brahmana, Dani Putra Brahmana...kemarilah, nak”
Dani berdiri, dan melangkah ke arah panggung. Di tengah jalan, ia disambut ayahnya, menggandengnya dengan penuh kebanggaan, menuntunnya ke atas panggung. Dani yang nampak tenang, diam saja ketika disandingkan dengan Melani yang tersipu malu. Berseberangan dengan Dani, kawan-kawannya menahan nafas, berharap sesuatu yang buruk tidak sampai terjadi.
“Nak Dani, silahkan…” Sanjaya Ganesha mempersilahkan Dani untuk melakukan proses selanjutnya. Seorang abdi dalam yang sudah bersiap di pinggir panggung, menyerahkan kotak kecil di atas baki kepada Teddi Brahmana, yang kemudian diserahkan kepada Dani. Dani mengambil kotak tersebut, dan membuka isinya. Sepasang cincin indah ada di dalamnya. Dani mengambil sebuah, dan memasangnya di jari manis kiri Melani, dan kemudian Melani dengan malu-malu yang tak dapat ditahannya, memasangkan cincin lainnya di jari manis kiri milik Dani. Suasana berubah gegap gempita. Sukacita berada di seluruh sudut ruangan tersebut, dan di pojok ruangan, Arta, Iwan dan Sansan menarik nafas lega.
=====
Dani memandang taman yang terbentang di depannya dengan hanya berteman segelas cola. Ia teringat, betapa sudah lamanya ia tak berkunjung ke tempat ini sejak dirinya terluka oleh ulah berandalan di sekolahnya dulu. Suasana pesta di belakanganya tak dihiraukannya. Pandangan mata Dani tajam menatap ke depan, tak menghiraukan keramaian di depannya. Melani yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Dani, hanya bisa menatap punggung Dani dari belakang. Ia ragu untuk menyapa, meskipun Melani merasa bahwa ia perlu untuk segera menciptakan komunikasi yang baik dan dekat, karena bagaimanapun, ia dan Dani kini bukan hanya teman biasa.
...mm...umm..Dani?”
Dani tak bereaksi. Ia tetap saja diam. Menikmati pemandangannya dan minumannya.
Melani menjadi canggung. Sejenak, ia berfikir untuk pergi saja dari situ, dan berbicara dengan Dani di lain waktu, namun diurungkan niatnya, dan Melani menambah jarak dengan Dani, mendekatinya.
“Dani…”
Melani kini ikut bersandar menghadap taman di sebelah Dani. Matanya melirik, mengharapkan respon, namun yang Melani dapatkan hanya ekspresi acuh tak acuh. Melani menarik nafas. Ia memang kecewa, namun ia sudah terlalu mengenal Dani. Ia memutuskan untuk tidak menyerah.
“Jadi...” tukas Melani. “Apa yang kita lakukan selanjutnya, Dan? Apa kita akan terus mencari pengguna armor AKSA yang...” Melani menghentikan pertanyaannya di saat tak sengaja ia melihat ke arah jari manis Dani yang tak mengenakan cincin tunangan lagi.
“...Dani, cincinmu dimana?” tanya Melani hati-hati,.
Dani yang sedari tadi diam tak bereaksi, mengangkat gelasnya, meminumnya sampai habis, dan cincin tunangan miliknya ada di ujung bibirnya.
Melani diam, mencoba memahami maksud Dani melakukan itu.
Dani mengambil cincin itu dari mulutnya, lalu menimang-nimang di dalam telapak tangannya.
“…..Aku hanya mengambil cincin ini, aku taruh di jarimu, terus aku pakai satunya di jariku,.dan semua orang bergembira. Ayahku, paman Sanjaya, dan keluarga kita. Selesai. Hanya sampai itu artinya..”
Melani terpengarah. Sesaat kemudian ia memalingkan wajah, menjauh dari pandangan Dani.
“Terserah apa pandangan kamu, Mel. Tapi harap kamu tahu..aku nggak pernah mencintai kamu, dan nggak akan. Aku hanya melakukan kewajiban sebagai anak, dan nggak lebih. Jadi sebaiknya, kamu juga jangan terlalu berharap, meskipun hari ini kita bertunangan”
Melani diam, namun tak lama ia mengusap air mata yang mulai turun dari sudut matanya..
“Aku tau, aku nggak pernah bisa menggantikan Ratna..”
“Jangan kamu ungkit soal dia!” potong Dani marah. “Itu bukan urusan kamu! Dan memang benar…selamanya, kamu nggak pernah bisa menggantikan dia.. Kamu cuma anak orang kaya yang…”
“CUKUP, DAN!”
Tiba-tiba Iwan masuk di antara Dani dan Melani.
“Sudah cukup! Aku sudah muak dengar kata-katamu tadi! Apa kamu nggak bisa ngertiin perasaan orang lain, hah?! Kamu seenaknya mengatai orang, melihat orang lain di bawah derajat kamu, lama-lama yang aku lihat...kamu nggak beda dengan sampah!”
“Iwan, cukup...” ujar Melani, sesenggukan.
“Hoo? Sampah? kamu nggak punya kaca,ha? siapa aku, mau apa aku, itu urusanku! Badut kelompok macam kamu nggak usah banyak komentar…cukup pake dengkulmu, nggak usah pake otakmu. nih! bersihin sepatuku, gih!”
“BANGSAT!”
Iwan melancarkan sebuah pukulan ke wajah Dani. Dani terpental, menabrak sebuah meja. Arta dan Sansan segera berlari menghampiri keduanya.
“ Wan! Dan!”
Dani terdiam sejenak, sebelum ia bangkit berdiri, membersihkan bajunya yang kotor terkena debu. Darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya dibiarkan begitu saja. Dani lalu memandang sekeliling. Nampak para tamu yang terkejut, Melani yang hanya diam, serta Arta dan Sansan yang mematung. Ia kemudian memandang lurus ke arah orang yang barusan memukulnya. Iwan.
Dani tersenyum. Ia lalu mendekati Iwan dengan santai, lalu berbisik di telinganya, “Ikut aku “
Dani berjalan lebih dahulu, disusul oleh Iwan yang mengikutinya dengan emosi.
“WAN! DAN!” Arta bermaksud mengejar keduanya, namun tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam kencang oleh Melani.
“Arta...temenin aku,..”
Arta bingung, siapa yang harus ia tolong sekarang.
“Ta, temenin Melani. Aku ke Iwan sama Dani dulu” Sansan mengerti kesusahan Arta.
Arta mengangguk cepat, dan seketika Sansan pergi meninggalkan mereka berdua. Sekelebat Sansan pergi, Arta melihat Melani yang berjalan menjauh dari kerumunan, yang kemudian segera ia susul dengan cepat.
=====
Malam itu tak berangin seperti biasanya. Pandu yang lama terenung di halaman joglo kediaman tuan mudanya, diam tak bergeming, memejamkan mata sedari lama. Pandu bermaksud menenangkan fikirannya, yang seperti ombak, berayun kesana kemari. Masih segar dalam ingatannya, pertarungannya yang terakhir melawan Dewata cengkar yang bangkit setengah tahun yang lalu. Masih segar pula ia mengingat, saat tuan mudanya hilang tak berbekas, bersamaan dengan Dewata cengkar yang hilang pula di tengah reruntuhan candi. Air mata Pandu tak terbendung lagi, saat ia mengingat tuan mudanya dengan gagah berani maju ke tengah pertempuran bersama dengan junjungan yang lainnya. Dan sebelum Handi melompat, ia sempat menoleh kearahnya, dan berkata:
“Paman, siapkan gudeg buatan paman setelah ini selesai, ya!”
Handi mengatakan itu dengan riang, dan kemudian apa yang Pandu dapat lihat adalah kelebatan tubuh tuan mudanya, bertempur dengan kecepatan dan kekuatan tinggi melawan Dewata cengkar.
Sampai disini, Pandu tak tahan lagi. Ia tersungkur dan menangis.
“Kangmas Pandu...”
Tanya melayang turun dengan lembut, dan mendekati rekan seperjuangannya tersebut. Hatinya ikut hancur melihat Pandu yang dikenalnya sangat tabah menghadapi apapun, harus bersimpuh menangis tak berdaya.
“Nyimas….maafkan aku...” Pandu menyeka air matanya, berusaha untuk berdiri. Namun, kekuatan hatinya tak cukup, maka kembali ia hampir terjatuh.
“Kangmas, tabahlah…” Suara lembut Yanuar mengagetkan Pandu. Dalam sekejap, Pandu yang hampir jatuh sudah ditangkap oleh Yanuar di sebelah kanan, dan Irwandha di sebelah kiri.
Pandu kemudian di bantu untuk duduk di sebuah kursi, sementara sahabat-sahabatnya tersebut mengelilinginya. Khawatir dengan keadaannya. “Saya sudah tidak apa-apa, kangmas dan nyimas sekalian… terima kasih, maafkan keadaan saya ini”
Yanuar memandang jauh ke depan, sementara Tanya dan Irwandha ikut mematung. Mereka berdua teringat pula kejadian waktu itu.
“Adalah kesalahan kita saat itu, membiarkan tuan muda kita hilang bersama biang malapetaka tersebut..Semoga TUHAN mengampuni kelemahan kita, serta selalu melindungi para tuan muda kita” Ujar Yanuar sembari menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya. Irwandha, Tanya dan Pandu mengikuti Yanuar. Mereka berdoa dengan khusyuk, sampai tiba-tiba mereka merasakan seseorang ada di sekitar mereka.
“Salam kangmas dan nyimas sekalian. Mohon maaf, hamba terlambat”
Jaka, seorang abdi dalem lain yang muncul paling akhir, menangkupkan tangan di depan dadanya sembari bersimpuh di lantai tanda hormat.
Yanuar, Pandu, Irwandha dan Tanya membalas tangkupan tangan Jaka. “Adik…apakah ada berita terbaru setelah kepulangan kami dari masa Dhamma?*”
Jaka berdiri, namun tetap menangkupkan tangan. Lalu pelan-pelan tangannya diturunkan, lalu Jaka mengambil nafas panjang.
“Paduka raja Bandung Bandawasa, paduka ratu Roro Jonggrang, Ni Restu Shinta, dan Mahapatih Gadjah Mada selama setengah tahun ini berusaha membuktikan kecurigaan mereka terhadap kejadian di reruntuhan candi waktu itu”
“Apa yang beliau beliau curigai dari kejadian waktu itu, dik?”
“Tentang keberadaan raden Handi dan roro Ratna. Serta keberadaan tuan Nanda, tuan Karis dan nona Ica”
“Maksud adik??”
“Tim 1 masih hidup..”
Tangan Pandu mengepal kuat.
=====
Dani dan Iwan saling berhadapan. Tampaknya perkelahian akan segera terjadi. Terbukti dengan San2 di tengah mereka yang tak mereka pedulikan.
“STOOOP!!! Apa-apaan kalian??!
“Minggir, San! Biar aku robek mulutnya! Mulut sampah dari orang yang nggak punya hati!” ujar Iwan sebal.
“Heh, ngomong aja kayak banci. Apa memang itu cara kamu? Diam dan maju sini!” jawab Dani sinis.
“Sialan!” Iwan maju merangsek. Ia bersalto melewati Sansan yang bengong dengan perubahan keadaan.
“Heaaaa!”
Iwan melompat ke arah Dani, melancarkan sebuah tendangan. Dani tersenyum. Ia mengelak, dan sempat menyarangkan sebuah pukulan di punggung Iwan.
“Ugh!,..eeaaaaaghh!”
Iwan yang terhuyung ke depan, sempat menyarangkan tendangan ke belakang, yang mengenai dada Dani. Dani terjerembab jatuh ke tanah, sementara Iwan terjatuh di bagian muka.
“Ughh, ayo kita selesaikan ini...” Dani meraih smartphonenya, dan mengusapkan beberapa ke arah layarnya sampai interface smartphone tersebut berubah.
ACCESS START!
“Kamu kira aku nggak bisa pake juga,haa??! Okeeee!!” tukas Iwan marah demi melihat Dani mengeluarkan smartphonenya.
ACCESS START!
“Aku bilang STOP!” Teriak Sansan marah sembari mengeluarkan juga smartphonenya.
COSTUME READY!
COSTUME READY!
COSTUME READY!
“Heeeeeeeeeaaaaaaaaa!”
ACTION!
Cahaya merah tua, ungu dan biru tua, berpendar dengan menyilaukan di saat Dani, Iwan dan Sansan sama melompat, mengeluarkan tendangan yang masing masing diarahkan ke depan.
“HENTIKAAANN!”
Dani, Iwan dan Sansan mengenali suara tersebut. Segera mereka menarik tendangan mereka dan kembali menapak ke tanah.
“Kak Indah...” Dani melihat dari sudut matanya. Dan memang benar, Indah, kakak kandung Dani kini berada tak jauh dari tempat Dani cs berada, bersama dengan seorang laki-laki yang tidak asing untuk Dani.
“Zul??”
Alfaidzul, teman dekat Dani sejak kecil. Ia berasal dari Malaysia, dan sempat tinggal di Jogjakarta. Namun karena satu dan lain hal, setelah tamat SMP, ia kembali ke Malaysia, dan tidak ada lagi kontak dengan Dani sampai hari ini.
Faidzul tersenyum. “Hai, Dan..”
Dani mengangkat tangannya ke depan helm, seketika wajahnya terbuka lebar. “Heeeeeeeeeeiiii,..bahasa Indonesiamu makin bagus! Apa kabar??” sambut Dani sembari mendekati Faidzul.
“Tentu saya bisa bicara bahasa Indonesia yang bagus. Kabarku baik. Kamu? Ah...ini yang disebut armor Aksaranger, ya…” Faidzul mengangguk, mengagumi armor milik Dani.
“Aksaranger? ah..bukan, Oh,ayolah Dzul. Kita ngobrol di tempat lain..” ajak Dani.
“Sure,..ayo kita ngobrol.. tapi,ah..kamu tidak sibuk, Dan?”
“Ahhh,..nggak sama sekali!” Dani me-non-aktifkan armornya.
“Heeeiiii..! kita be lum selesaiii!” potong Iwan marah. Melihat Dani mengacuhkannya dengan melepas armor, Iwan bermaksud maju untuk memberikan pelajaran. Namun dengan sigap, Sansan mencegah. “Jangan” ujar Sansan sambil menggelengkan kepalanya.
Iwan menggeram tak senang.
Sementara, saat Dani akan melintasi Indah, Indah mencegahnya.
“Dan, kak Indah benar-benar kecewa dengan kamu hari ini…benar-benar kecewa!”
“Kak, kakak pasti lihat dari awalnya, aku nggak pernah menyetujui pertunangan ini. Semua ini salah ayah! Ayah tidak mau mendengarku. Apa lagi yang bisa aku lakukan??”
“Banyak. Banyak yang bisa kau lakukan.hanya saja, kamu terlalu takut untuk memulai!” jawab Indah kesal sambil berlalu dari tempat tersebut.
“ Kalau begitu, kak Indah bicaralah dengan ayah, batalkan pertunangan ini,..”
“Kamu berpikiran pendek, Dan. Kamu hanya berpikir dari satu sisi. Pikir lagi, apa manfaat dari pertunangan ini bukan hanya untuk kamu, tapi untuk orang lain juga!”
Dani hanya terdiam menerim setiap kata dari Indah. Ia hanya dapat melihat Indah pergi dari hadapannya, sebelum rasa marah dan kecewa menguasainya.
“Persetan..” Ujar Dani dalam hati. “Dzul, ayo!” ajak Dani.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba Dani merasa kaku. Tubuhnya mengejang, kepala beputar dengan cepat.
“Uughh,..”
Keadaan itu membuat Dani harus berlutut, memegang kepalanya. Sementara Adfaidzul tampak berusaha menolong, Dani seketika memandang ke depan. Matanya melotot. Bayangan seorang perempuan begitu jelas nampak di depannya. Perempuan itu beberapa saat memandang ke arah lain, sebelum ia memandang ke depan, tepat di depan wajah Dani. Lama ia dan Dani saling bertatapan, sampai kemudian ia tersenyum.
Dani mengejang, seluruh tubuhnya kaku. Ia mengenal dengan baik perempuan di depannya itu dalam hitungan detik. Seseorang yang sesungguhnya sangat penting baginya. Seseorang yang ia cintai.
Kemudian, bayang perempuan itu akan beranjak pergi. Bibirnya nampak mengucapkan sesuatu. Namun sebelum Dani mampu memahami ucapannya, tiba-tiba badannya tak kuat. Dani jatuh ke tanah dengan keras. Orang-orang sekitarnya termasuk Indah, berusaha menolong Dani. Di tengah ketidak berdayaan tersebut, kesadaran Dani muncul,..
“,..Ratna???”

Bersambung...........





Chapter 024

Saturday, March 26, 2016
Posted by AksaraProject

Chaos



Mata Arta membelalak tak percaya, ketika 15 orang dengan memakai armor hampir sama dengannya, namun dengan polesan dan garis warna merah darah, membantai perampok-perampok bank tersebut dengan sadis.
“Tolong,..toloong!!” jerit para perampok sambil membuka tangan mereka tanda menyerah. Namun tanpa ampun, mereka satu persatu dibantai tanpa sisa.
“HENTIKAN!” Arta yang tak tahan lagi segera mengaktifkan armornya melalui smartphone yang dibawanya.
COSTUME READY!
Iwan dan Sansan tak tinggal diam, demi melihat kawan mereka maju duluan. Mereka juga menyiapkan smartphone mereka. Melani melirik ke arah Dani. Dani yang memandang tajam ke arah 15 orang asing tersebut, tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan mengaktifkan armornya.
Melani mendengus kesal. Kadang, ia seperti tak mengenal temannya tersebut. Melani meraih samrtphone dari saku jaketnya, dengan usapan tertentu di layarnya, mengakibatkan interfacenya berubah menjadi satu tombol tunggal. Melani menekan tombol tersebut dengan kuat. Tubuhnya segera terselimuti cahaya yang menyilaukan, dan segera saja armor terpasang sempurna di seluruh tubuhnya.
“What the,..? Hey,.is this serious??”
“How could,..?”
Sebelum orang asing dengan armor merah tersebut selesai berbicara, sebuah pukulan tepat menghantam wajahnya, mengakibatkan tubuhnya terjerembab ke belakang. Untung tubuhnya dapat ditahan oleh dua orang dibelakangnya.
“Don’t mess with us, kiddo!”
Salah seorang menyerang Arta yang baru saja mendarat setelah pukulannya berhasil mengenai salah satu dari mereka. Arta yang meskipun tidak dalam posisi sempurna, tetap mampu menahan sebuah tendangan yang mengarah ke kepalanya. Tangan kirinya diangkat ke atas. BLAARR! Dua metal beradu, menimbulkan bunyi yang luar biasa keras.
“Heeaaa!”
Orang asing tersebut tak menunggu Arta untuk menyempurnakan kuda-kudanya. Ia kembali menyerang dengan menarik kembali kaki yang tadinya menyerang wajah Arta, dan lalu menggantinya dengan kaki yang lain. Kali ini ia mengincar rusuk Arta. Arta menurunkan telapak tangannya sedikit ke bawah, lalu dengan memanfaatkan tenaga tendangan tersebut, ia melontarkan tubuhnya ke udara, dan kembali dengan sebuah pukulan ke arah bawah.
“Haaaaaaaaa,..”
“Uuughhh!!”
Pukulan Arta ternyata dapat ditahannya sekalipun tak sempurna. Namun ternyata, orang asing ini memiliki semangat tempur yang tinggi. Ia melancarkan kembali serangan-serangan balasan yang cepat. Arta sempat harus berkelebat dua kali kebelakang sebelum ia membetulkan posisinya, dan kemudian melayani jual beli pukulan oleh lawannya tersebut.
Teman-teman orang asing itupun tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan senapan AK 47 yang sudah dimodifikasi tersebut, dan mengarahkannya ke arah Arta. Namun sebelum peluru berhasil dimuntahkan menuju Arta, serangkaian bonang meliuk indah di antara mereka, lalu meliuk tajam, menghancurkan apapun yang ada di depannya. Kontan, para orang asing yang sedianya sudah siap dengan senapan mereka menjadi kocar kacir, berguling-melompat kesana kemari, menghindari amukan bonang milik Sansan. Memanfaatkan kesempatan tersebut, Melani maju merangsek, membabat lawan didepannya, disertai dengan Iwan yang menari di udara dengan tendangan-tendangan mautnya.
Suasana di dalam bank tersebut bagaikan kapal pecah. Hancur dimana-mana. Dani sedari tadi diam memperhatikan, mempelajari siapa lawannya tersebut. Ia merasa bahwa armor lawannya tersebut terlalu sulit untuk disimpulkan sebagai kebetulan semata. Bentuk, fungsi, kemampuan, semua hampir serupa dengan apa yang Dani kenakan bersama teman temannya ini, meskipun harus diakui, armor lawannya terkesan lebih kasar dan lebih berat buatannya.
Siapa mereka?
“Huft!” Dani mendengus kesal, tak mampu mencari jawaban yang ia cari. “Sudahlah” Dani garuk-garuk kepala. “Aku paksa saja mereka bicara, habis perkara” ujar Dani sambil mengaktifkan armor di smartphone-nya. Segera, cahaya merah menyelimuti tubuhnya, dan begitu cahaya itu memudar, tubuh Dani sudah terbungkus armor dengan sempurna, dengan ukiran huruf DA di helm-nya. Tak buang waktu, Dani segera melompat ke tengah pertempuran.
“DANI! MINGGIR!” tukas Melani kesal karena tiba-tiba Dani merusak ritme tarungnya, dan merebut ke tiga lawan di depannya begitu saja. Dani tak mengindahkan protes Melani, dan tetap saja menyerang ketiga orang asing tersebut.
RATATATATATATATATA
BLAAR! BLAAAAARR!
Rentetan peluru tak mampu menahan laju tubuh Dani, yang terus merangsek maju ke arah penyerangnya. Tubuhnya meliuk, menghindari setiap pola serangan, dan langsung menyerang balik.
Heaaaaaaaaaaaaaaaa!
Serangan demi serangan harus diterima ketiga penyerangnya. Satu persatu rubuh, terjerembab masuk ke dalam lantai. Dani terlalu tangguh untuk mereka.
“HENTIKAN!”
Sinar laser berwarna biru, berkelebat di seluruh ruangan. Bagai misil pencari panas, laser tersebut langsung menuju ke setiap pertempuran di antara Dani cs dengan lawan-lawannya. Namun ternyata, laser tersebut tak menghantam salah satu diantara mereka, melainkan bertujuan untuk memisahkan pertarungan tersebut. Arta melompat mundur, diikuti oleh Iwan, Melani dan Sansan. Sementara Dani hanya diam di tempat, dan menangkis kembali laser yang menuju ke arahnya.
“JANGAN GANGGU AKU!” Teriak Dani marah.
Laser yang tadi ditangkis oleh Dani, kembali ke pemiliknya. Dengan satu tangkapan kecil, laser itu kembali masuk ke sela sela lubang di tangan si penyerang, yang ternyata adalah seseorang yang memakai armor yang hampir sama dengan orang-orang asing tersebut, hanya armor ini lebih sedikit rumit dari desain dan fungsinya, dibanding armor-armor lainnya.
“Siapa lagi iniii?” Dani menggeram.
“Mee,..merah muda,..armor merah mudaa” komen Iwan lebay
Melani menjitak kepala Iwan dengan keras, sementara armor merah muda itu berjalan ke arah Dani cs dan orang-orang asing tersebut.
“Commander!” sigap orang-orang asing tersebut sembari mengambil sikap istirahat di tempat ala militer.
Dani cs nampak terkejut, dan mereka makin penasaran dengan penyerang mereka yang baru saja datang ini.
“Mee,.mereka tunduk sama si merah mudaaa,..” komen Iwan terkejut.
Dan sekali lagi jitakan Melani yang keras itu mampir ke kepala Iwan.
“Mau ikut main juga? ayo sini,..” tantang Dani dingin.
“Dan, sebentar dulu!” cegah Arta.
“Kamu Dani, kan? Dani card,..eh,itu nama panggung kamu,.ehm,..Dani Putra Brahmana,kan?” si armor merah muda angkat bicara,..dengan nada bicara seorang perempuan.
“Meeraah,.muda ituuu pereemm,…” Iwan nggak jadi meneruskan komentarnya saat melihat Melani menyiapkan jitakannya lagi.
Arta kaget setengah mati. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Suara yang bertahun tahun tak didengarnya.
“Kak Indah?”
Iwan menoleh terkejut. “Eh? Ini kak Indah? Bukannya dia di Jepang?”
Si armor pink mengangkat kedua tangannya, membuka helm di kepalanya. Nampak mekanisme rumit berjalan, saat helm tersebut membuka menjadi dua, dan menampilkan seraut wajah cantik di baliknya.
“Kak Indaaaaaahh!” Melani berlari ke arah Indah, langsung memeluk dirinya. Melani bahkan lupa, bahwa ia masih menggunakan armor.
Indah tertawa, dan menyambut pelukan Melani dengan hangat. “Melaniii,..apa kabaar? kamu pasti makin cantik aja sekaraang”
“Ah, Kak Indah tuh yang makin cantik. Rambutnya aja makin panjang, jadi iri,..Kak Indah kapan pulang ke Indonesia?” Melani bergayut ke Indah, seakan tak mau melepaskan pelukannya.
“Satu minggu yang lalu” Jawab Indah sumringah. Indah lalu menoleh ke arah orang asing yang masih istirahat di tempat tersebut. “At ease, boys. They are not enemies”
Kemudian yang terjadi, orang-orang asing itupun melepas helm mereka. Nampak wajah-wajah Eropa, Amerika dan Asia di balik helm tersbut.
“Commander,..sorry to disrupt,.we think they were enemies when they attack us,..”
“They attack you because you were too much!” potong Indah marah. “We are judge, not executioner. Remember that??”
“Yes sir!” orang-orang asing tersebut kembali bersiap.
Indah geleng-geleng kepala melihat situasi di sekitarnya. “Gear up, we’re leaving shortly”
“Yes sir!” orang-orang asing tersebut memberi hormat, dan membereskan bukti bahwa mereka pernah hadir disini, seperti selongsong peluru, cctv, dsbnya.
“Armor apa ini? Bagaimana kakak dan orang-orang ini bisa dapat yang seperti ini??”
Indah kembali geleng-geleng kepala. “Kamu ini,..kakak kandung pulang bukannya nanya yang lain, langsung to the point. Sebenarnya, adik kandungku itu kamu apa Melani,sih?”
“Saya juga adik kandung kakak, lhoo. Ka Indaaaah,..i misss yoouuuughhh” Iwan berlari meniru Melani yang ingin memeluk Indah,namun tak kesampaian karena kaki Melani sudah lebih dulu mampir ke muka Iwan.
Indah tertawa. “Iwan, kamu sehat-sehat aja, baguslah.. yang disebelah sana itu, Sansan,bukan?”
Sansan tersenyum, melambaikan tangannya dari jauh. “Hai,kak. Salam kenal” Sansan sudah sering dengar tentang Indah dari Melani dan Iwan,..namun sedikit yang ia dengar dari Dani.
“Kemudian,..yang disana berarti,.Arta,?”
Arta mengangkat tangannya kedepan helmnya, lalu pelan-pelan helm tersebut memudar, dan tampak wajah Arta yang sedang tersenyum.
“Kak Indah,..apa kabar?”
“Baik,..” jawab Indah sembari tersenyum.
“Kakak belum jawab pertanyaanku, dan Arta, Melani,kenapa kalian buka helm kalian?? lupa dengan peraturan kalau kita tidak boleh tampak di depan umum??!”
Arta hanya tertunduk mendengar semprotan Dani, sedangkan Melani hanya bersungut sebal.
“Dan,..armor ini proyek ayah dengan seorang pengusaha. Proyek AKSA, namanya. Ancient Knight System Armor”
“Ayah?,..jadi ayah bermaksud memperbanyak armor yang aku pakai ini?”
Indah tersenyum, “Secara umum,ya. Namun penggunaannya lebih ke arah eksplorasi ilmu pengetahuan, seperti penelitian di laut dalam atau di perut bumi,..”
“Membunuh perampok seperti yang kakak lakukan ini yang kakak maksud sebagai eksplorasi ilmu pengetahuan??”
Indah menarik nafas, “Bukan Dani, bukan ini yang aku maksud. Ini memang diluar sepengetahuanku. Terus terang, aku langsung kemari setelah dapat pemberitahuan dari HQ, setelah sebelumnya aku sedang di perairan Okinawa, meneliti terumbu karang disana. Asal kamu tahu, aku nggak pernah meminta team ini secara khusus, namun rekanan ayah yang merekomendasikan orang-orang ini sebagai tester armor. Percayalah, Dan. Kakak nggak pernah sengaja bermaksud demikian. Hal ini, akan kakak bicarakan secara khusus sama ayah”
“Tidak usah. Aku yang akan menanyakannya langsung kepada ayah” tukas Dani acuh tak acuh.
Indah geleng kepala pelan, “Terserah kamu,lah” Kemudian Indah menoleh ke arah Melani, Sansan dan Arta. “Ok, sampe ketemu lagi,ya?” Indah sempat mencuri pandang ke arah Arta “Jaga diri kalian baik-baik”
“Allright, team. Move out” Indah memberi perintah, dan dalam sekejab, 15 orang asing dengan armor tersebut melesat pergi, secepat kilat meninggalkan Dani cs. Indah baru saja melangkah sebelum ia menghentikannya dan menoleh ke arah Dani. “Dan,..kakak turut berduka atas apa yang sudah terjadi pada Ratna,..yang sabar,ya..”
Dani hanya diam sembari menunduk.
Indah menarik nafas meliat reaksi adiknya itu. Ia sudah terlalu mengenal Dani. “Oke semuanya,..jya! ”Senyum Indah sebelum wajahnya tertutup kembali oleh helm, dan tubuhnya melesat pergi.
Dani mengeraskan kepalan tangannya.
######################
“Pak Dani,..tunggu sebentar,pak..pak Dani,..”
Seorang petugas resepsionis tergopoh-gopoh, berusaha menahan laju cepat Dani yang mengarah ke kantor ayahnya. Dani yang tak menggubris permohonan resepsionis tersebut tak mengindahkan prosedur penerimaan tamu, karena Dani tidak memerlukan hal tersebut. Ayahnya adalah pemilik perusahaan Brahmana Corp ini, karena itulah semua karyawan disana tak ada yang berani menghentikan tingkah lakunya, meskipun banyak yang menyesalkan sikap Dani tersebut. Namun, kali ini resepsionis tersebut merasa perlu menghalangi Dani, karena saat ini pemilik perusahaan tempat ia bekerja, sedang menemui tamu penting.
“Mas Dani, tolong berhenti sebentar” pinta seorang pria eksekutif paruh baya yang sudah menghadang Dani saat ia masuk ke satu ruangan. “Om Sasmita, minggir” pinta Dani sambil tetap berjalan cepat. Sasmita, salah satu presdir perusahaan dan juga tangan kanan ayah Dani, hanya bisa diam tak berkutik, namun tetap berusaha menghalangi keinginan putra bungsu atasannya tersebut. “Mas Dani, bapak sedang ada tamu. Mas Dani tunggu sebentar di ruang tamu, ya? sebentar saja” Bujuk Sasmita lagi. Dani menghentikan langkahnya. Diam. “Dan apa yang mau aku sampaikan ini lebih penting daripada tamu ayah, jadi tamu ayah itu bisa menunggu” Dani melanjutkan langkahnya, yang hanya bisa diamini oleh Sasmita, dengan memberikan jalan dengan enggan untuk Dani lewati. Ia mengenal Dani sejak kecil, dan cukup tahu bahwa apabila putra bungsu atasannya ini apabila keras kepalanya keluar, maka tak ada yang dapat menghalanginya.
“Ayah, aku mau bicara dengan ayah” Ujar Dani saat ia masuk ke dalam ruangan utama di kantor tersebut.
Teddi Brahmana, seorang ilmuwan dan pengusaha senior, baru saja selesai bercakap dengan tamunya di sofa ruang kerjanya. Dani melihat ke arah tamu ayahnya tersebut. Sosok kakek dengan rambut yang memutih seluruhnya, bersandar ke depan dengan dibantu oleh sebuah tongkat, namun berbusana jas berwarna putih lengkap, mengisyaratkan bahwa dirinya juga adalah seorang pengusaha seperti ayahnya. Di belakangnya, tiga orang bertubuh tegap berbusana safari hitam, serempak melihat Dani dengan pandangan waspada. Teddi melirik ke arah anaknya dengan pandangan kurang suka, dan rupanya ekspresi tersebut ditangkap oleh tamu tersebut.
“ Saya permisi dahulu, pak Teddi. Terima kasih atas waktunya, terima kasih juga atas informasinya. Saya atas nama perusahaan, menyampaikan maaf yang dalam serta rasa malu kami atas kejadian yang tidak kita inginkan tersebut. Akan segera saya evaluasi tim R&D saya, serta tim taktis saya. Mohon sampaikan maaf dan terima kasih saya juga untuk nak Indah”
Dani kaget. Rupanya orang ini terkait dengan munculnya AKSA dan kakaknya tersebut di bank kemarin. Baru saja Dani akan melabrak orang tersebut, ayahnya sudah memberikan sinyal tajam agar Dani tidak melakukannya.
“Pak Panut, saya juga mengucapkan terima kasih atas waktu dan pengertian bapak. Semoga kerjasama kita tidak sampai terganggu karenanya”
Kakek yang dipanggil Panut tersebut tersenyum ramah. “Terima kasih atas pengertian pak Teddi” Setelah cukup lama berjabat tangan, Panut menoleh ke arah Dani. “Ini putra bapak?”
“Ah,.iya. Ini Dani, putra bungsu saya. Dia masih kuliah, mengambil akuntansi. Walau masih kecil, dia sudah bantu saya disini, handle accounting”
“Ah,luar biasa. Pertama nak Indah. Dia rela meninggalkan pekerjaannya di Jepang setelah lulus kuliah, hanya demi menjadi tester armor AKSA. Sekarang, adiknya sudah pegang keuangan perusahaan sebesar Brahmana di usia semuda ini,.luar biasa,.luar biasa” puji Panut sembari manggut-manggut.
“Dani,.kenalkan,.beliau bapak Panut, pimpinan perusahaan Palagan,.tentu kamu sudah tahu, kan?”
Dani mengangguk. Ia memang tidak terlalu peduli dengan situasi luar, namun nama Palagan mampir ke telinganya sebagai salah satu perusahaan multi nasional, yang banyak bergerak di bidang penelitian, eksplorasi, dan sebagainya. Palagan terus berubah dari perusahaan yang tak dikenal, menjadi besar hanya dalam waktu kurang lebih setengah tahun. Waktu yang luar biasa untuk menjadi besar bagi sebuah perusahaan.
Namun apa peduli Dani. Ia hanya ingin segera dapat berdua dengan ayahnya. Maka, segera diraih tangan Panut, dan segera dijabatnya. Dani senyum seperlunya, sewaktu Panut dan rombongan meninggalkan ruang kantor Teddi Brahmana.
“Ayah,..apa maksud dari ini? Armor yang mirip dengan proyek Ashura, lalu kedatangan kak Indah ke Indonesia. Kenapa aku tidak pernah diberitahu??”
Teddi Brahmana berdiri di tepi jendela besar kantornya. Di sela tirai, ia memandang keluar. Tampak kota Jogja yang sibuk beraktivitas.
“Dani,..belum semuanya bisa ayah ceritakan ke kamu. Bukan karena apa-apa,namun ini demi kebaikan kamu juga. Ayah mengakui, kita kecolongan dengan kejadian di bank kemarin. Entah darimana, tentara sewaan, aset dari Palagan, dapat beroperasi tanpa seijin kita. Lalu kejadian selanjutnya kamu tahu sendiri. Untung ada Indah, dan dia dapat datang meski sedikit terlambat”
“Ayah bermaksud membuat pasukan tandingan?”
“Bukan,.ayah bekerjasama dengan Palagan dalam mengembangkan armor AKSA ini, semata-mata karena ayah melihat niat baik Pak Panut yang ingin agar eksplorasi ilmu pengetahuan tidak lagi mengenal batas. Bayangkan, kita dapat mengeksplorasi lautan paling dalam sekalipun, tanpa takut kehabisan oksigen. Atau, kita dapat masuk kedalam perut bumi terdalam sekalipun, tanpa ketakutan hancur terhimpit. Ayah akui, ada beberapa bagian dan konsep dari proyek Ashura yang ayah aplikasikan,.namun tidak semuanya dapat diterapkan di armor AKSA ini”
“TAPI TIDAK DENGAN CARA SEPERTI INI!!” geram Dani sambl menggebrak meja. “Ayah hanya akan menambah masalah dengan adanya armor ini. Ayah harus ingat, aku dan teman-temankku di proyek Ashura di persiapkan karena adanya ancaman Dewata Cengkar, dan ini belum berakhir. Apa jadinya apabila armor ayah dan kak Indah ini akhirnya jadi ancaman buat kita semua, dan mengganggu penyelidikanku tentang Dewata Cengkar? Ancaman itu masih belum berakhir, ayah..belum sampai aku bunuh sendiri Dewata Cengkar di tanganku, beserta si pengecut Minakjinggo itu, dan antek-anteknya yang lain”
“Dewata Cengkar sudah mati sejak pertempuran kalian yang terakhir”
“Tidak,.belum! dia belum mati!”
“Dani,..ayah paham perasaanmu,..tapi jangan kaitkan Ratna dengan pembalasan dendammu”
“Diam,ayah..ini bukan soal Ratna”
“Ini soal Ratna, Dan. Kamu harus belajar untuk mengikhlaskannya dan melanjutkan kembali hidupmu,..”
“DIAM! DIAM! Ayah salah! Aku akan buktikan itu!”
Teddi Brahmana menghempaskan tubuhnya ke kursi mewahnya. Ia kemudian memandang anak bungsunya tersebut. Anak bungsu yang ia pilih untuk mewarisi armor legendaris ini memang masih perlu banyak pelajaran. Ia masih harus banyak ditempa oleh pengalaman.
“Dani,..ayah harap kamu menghormati keputusan ayah. Kamu dengan proyek Ashura tetap berjalan sebagaimana mestinya. Proyek AKSA tidak akan mengganggu tujuan dari proyek Ashura. Ayah minta kamu percaya”
Dani diam. Ia masih membuang pandangannya ke arah luar.
Teddi Brahmana menarik nafas. Ia menarik sebuah koran yang masih terlipat rapi di mejanya, dan menyodorkannya ke aah Dani, “dan ayah harap,.lain kali kamu mesti hati-hati”
Dani melirik enggan ke arah koran yang ditujukan padanya. Sedetik kemudian matanya membelalak. Tangannya langsung menyambar koran tersebut dan dibacanya berita utama di koran tersebut berulang ulang. Membaca judul berita utama di koran tersebut saja, Dan hampir pingsan tak percaya, apalagi ditambah dengan foto yang dipajang besar-besaran di koran tersebut.
MANUSIA BESI MERAMPOK BMI 45, 3 ORANG TEWAS, 2 LUKA BERAT
Dani menyusuri foto yang terpampang di bawahnya. Nampak dirinya sesaat setelah menggunakan armor. Dani beruntung, foto tersebut tidak fokus pengambilan objeknya, sehingga lebih terkesan siluet ketimbang foto. Ditambah pula dengan sinar yang keluar dari tubuh Dani, semakin mengaburkan hasil foto tersebut. Dani cepat membaca ulasan tersebut, dan membanting koran tersebut dengan kesal setelahnya.
“SIAL!”
“Ada lebih dari setengah lusin saksi mata saat itu disana, yang melihat wajah kalian tanpa menggunakan helm. Apa penjelasanmu, Dani?”
“Aku,..aku sudah memperingatkan mereka bahwa,..”
“Dan sekarang kamu menyalahkan orang lain,.bagus,..benar-benar dewasa”
“ITU BUKAN SALAHKU! AKU SUDAH MEMPERINGATKAN MEREKA!”
“ITU SALAHMU! KAU PEMIMPINNYA, PEMIMPIN YANG TIDAK BECUS MEMIMPIN TIMNYA! KAU BAHKAN MENGIJINKAN TIMMU SENDIRI JATUH DALAM MARA BAHAYA, BAGAIMANA KALAU ADA YANG MENGENALI MEREKA? MEREKA DALAM BAHAYA, SADAR TIDAK??!”
Dani tercekat. Keringat dingin keluar dari dahinya.apa yang disampaikan ayahnya merupakan kenyataan yang tak dapat Dani ingkari.”A,.aku,..aku,..aahhh!” Dani akan melangkah keluar ruangan, saat ayahnya menghentikannya.
“Tunggu Dani,..ada lagi yang ingin ayah sampaikan”
Dani menghentikan langkahnya.
“….Tentang Ratna,…tentang pertunanganmu…sudah setengah tahun lebih, ayah kira kamu juga perlu memikirkan kembali tentang ini”
Dani tersenyum sinis. ”Apa yang bisa aku pikirkan? Ayah dan teman ayah yang menentukan nasibku selama ini,kan? Pertunangan Ratna, proyek Ashura, semuanya! lakukan apa yang ayah suka! Lagipula, aku mau bilang apa juga nggak akan ayah dengarkan,kan? Jadi ,permisi. Aku ada banyak kerjaan”
Dani berjalan keluar ruangan ayahnya dengan langkah lebar, menandakan suasana hatinya yang sedang marah. Teddi Brahmana memandang Dani hingga ia benar benar hilang dari ruangannya tersebut. Sekejap suasana menjadi sunyi. Di tengah kesunyian, Teddi Brahmana bertakzim, menutup matanya, serta mengambil nafas dalam dalam..
“Dani,..maafkan ayah,nak..” ujarnya lirih,..
###############################################
Suasana di perkampungan saat perayaan imlek, berarti mata akan dmanjakan oleh berbagai macam dekorasi unik dan indah, serta nuansa merah yang meriah. Untuk lidah dan hidung, harum semerbak shomay, dimsum, dan berbagai kuliner lezat lainnya, memenuhi sudut kampung tersebut, disertai dengan bau harum dupa di kelenteng dan kuil kecil disana. Setiap orang bersuka cita dengan nyanyian, perbincangan hangat, dan meriahnya pertunjukkan barongsai. Kursi-kursi dan meja kecil dipenuhi dengan gelak tawa, dan orang-orang yang ramah. Setiap orang menikmati malam itu, kecuali Dani yang duduk sendirian di salah satu kursi. Bersandar dan bertumpu kaki satu sama lain. Raut mukanya bersungut, sementara matanya berkeliling di sekitar, berusaha mencari sesuatu yang membuatnya tertarik. Namun, suasana penuh kegembiraan itu rupanya tak bisa mengenyahkan rasa gundah yang sedari siang dirasakannya.
“Dan,..jangan merengut kayak gitu,lah..enjoy, ok?” Sansan entah darimana, duduk di sebelah sahabatnya tersebut. Ia lalu menyuguhkan minuman kaleng yang disambut malas-malasan oleh Dani.
“Gimana kalo kamu jalan-jalan ke sebelah sana? ada banyak stand yang bagus. Melani sama Arta barusan ke stand ramai, tuh. Rame banget disana” Sansan berusaha menghibur Dani.
“Haloo,brooo…kok adem ayem aja disini? muter doong, hehehe…” Iwan bersama dengan dua orang perempuan, yang baru saja dikenalnya, langsung ambil tempat di antara Dani dan Sansan. Sansan tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini, sedangkan Dani tetap saja cuek. “Dan, kenalin nih! Ini Santi,.yang ini Rina..mereka barusan dateng dari luar kota, kuliah di Jogja katanya”
“Hai,..” Santi senyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Dani.
Dani mengacuhkannya dengan membuang muka. Suasana jadi sedikit tidak enak, lalu.. “Hahaha! temenku yang ini emang pemalu bangetttt,..maafin ya, say?” kedip Iwan menengahi. Santi dan Rina tersenyum, dan tak lama mereka berdua kembali tertawa tawa bersama Iwan. Sansan yang sesekali ikut tertawa, sedikit khawatir dengan kondisi Dani. Sudah sedari tadi Dani bersikap seperti itu. Kalau sahabatnya bersikap seperti itu, hanya ada dua hal di benaknya : moodnya sedang tidak baik, atau Dani sedang fokus memikirkan sesuatu. Dan sepertinya, kondisi pertama yang sedang dialaminya kini.
Malam semakin larut. Perayaan yang meriah, semakin membuat orang di dalamnya lupa, bahwa bulan sedang menggantikan matahari saat itu. Seseorang berlari tergopoh, menerobos kekerumunan. Sikapnya yang panik, serta badannya yang berlumuran darah dan terluka, segera menarik perhatian.
KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!
Sukacita berubah menjadi malapetaka. Dalam sekejap, suasana berubah drastis. Orang-orang yang takut, segera minggir. Namun bagi orang yang penasaran, bergegas mencari sumber perhatian tersebut, tak terkecuali Dani yang segera melompat dari kursinya, menuju sumber suara. Sansan dan Iwan mengikuti dari beakang dengan cepat. Dani menerobos kerumunan, dan begitu dirinya sudah sampai di pusat perhatian, Dani terkejut saat , melihat sosok yang dikenalinya beberapa waktu lalu. Salah satu orang asing pemakai armor AKSA!
Orang asing tersebut nanar memandang orang-orang yang mengerumuninya. Nafasnya kembang kempis, sembari menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya membelalak saat ia melihat Arta dan Melani yang baru masuk ke kerumunan tersebut. Ia mengenali Arta dan Melani sewaktu peristiwa di Bank beberapa waktu lalu.
”He,..helpp,..help meee,..” ujarnya terbata bata,sembari berusaha menggapai Arta dan Melani.
Arta yang bingung, memandang Dani yang hanya diam, memandang tajam ke arah orang asing tersebut. Merasa tak mendapat jawaban yang diinginkannya, ia kembali memandang si orang asing.
“What happened? why you bleeding like that? where’s your other friends?”
Si orang asing berusaha menjawab, namun tertahan dengan batuk-batuk darahnya. Arta segera maju, menopang tubuh si orang asing.
“We’ve been chasing,.by..some,..monster…I don’t know about my..friends,.but they’re in danger now,.they,..they did something bad with AKSA,..he,..help me…”
“Don’t worry, I’ll help you. First, we go to the hospital right now”
Arta baru saja bersiap untuk memapah si orang asing, sebelum tiba-tiba dirinya terbang ke udara, berputar, dan kemudian dihempaskan dengan keras ke tanah, menghantam salah satu stand makanan disana. Jerit ngeri orang-orang semakin menjadi, mereka panik berlarian kesana kemari, membuat Dani cs kesusahan menuju Arta yang jatuh.
“ARTA!”
Dani melihat ke atas. Nampak si orang asing yang juga secara ajaib terbang, dan melayang menuju seorang wanita bermata merah yang berada di atas pohon. Dani terkejut. “Caruga??!”
Wanita bermata merah tersebut mengangkat tangannya, lalu setelah si orang asing berada di dekatnya, jarinya menunjuk, dan tiba-tiba dari ujung tangannya, menembak jaring yang langsung membungkus tubuh si orang asing dengan sempurna.
“Hee,..heelpp…”
Dani sempat meihat mata si orang asing yang membelalak meminta pertolongan, sebelum kemudian si orang asing menjadi gumpalan mirip kepompong. Kemudian, wanita bermata merah tersebut menjentikkan jarinya, lalu tiba-tiba tiga Caruga sudah berdiri di belakangnya, memandang Dani cs dengan pandangan nanar. “Bawa dia” perintah wanita bermata merah tersebut. Segera, seorang Caruga membopong kepompong tersebut, dan menghilang cepat di kegelapan.
“ARTA!”
“Aku baik-baik aja, Dan” jawab Arta sembari dibopong Iwan dan Sansan. Ia memegang dadanya yang terasa sakit saat terpukul oleh si perempuan bermata merah tersebut. Sampai saat ini, Arta tak tahu apa yang menghantamnya tadi. “Hati-hati, Dan. Gerakannya sangat cepat”
Dani melihat ke kanan dan ke kiri. Kebanyakan orang sudah kabur entah kemana,namun beberapa orang masih bertahan di tempat, atau ketakutan hingga tak dapat berdiri lagi.
“Mel, San..!”
Melani dan Sansan mengangguk cepat. Mereka berdua segera membimbing orang-orang yang masih tersisa untuk dapat segera meninggalkan tempat tersebut. Sementara, Arta dibantu oleh Iwan untuk dapat kembali berdiri.
Dani memandang langsung ke arah perempuan bermata merah tersebut. “Apa yang kalian lakukan terhadap orang asing itu? Apa yang kalian lakukan pada AKSA?”
Perempuan bermata merah tersenyum. Perlahan,tubuhnya turun, berdiri diantara dua Caruga yang sedari tadi sudah bernafsu menyerang.
“Tidak kukira, pekerjaanku jadi bertambah mudah. Tadinya aku hanya mengejar orang asing itu, namun malah bertemu dengan kalian disini. Bagus,..bagus,..aku benar-benar beruntung!” Perempuan bermata merah tersebut menyeringai menyeramkan, kontras dengan wajah cantiknya.
“AKSA semakin mendekatkan kami kepada tujuan mulia kami, yaitu memurnikan kembali tanah Nusantara ke masa jayanya bersama junjungan besar kami. Dalam hal ini, aku seharusnya mengucapkan terima kasih kepada kalian,.”
“Sialan,..kalian memanfaatkan AKSA??!”
“HAHAHAHAHA! memanfaatkan? buat apa memanfaatkan apa yang kami ciptakan sendiri?? Jangan terlalu meninggikan derajat kalian, wahai kaum budak! Kalian cukup tunduk dan duduk di bawah kaki kami!”
“Perempuan sundal!” maki Dani marah.
“Panggil aku yang mulia Kaliura, budak!” potong Kaliura berapi-api.
“Nenek sihir!”
“Makhluk rendah!”
“Nenek keriput!”
“Aku masih muda!”
Dani dan Kaliura saling mengejek. Melani dan Sansan saling lihat satu sama lain. “Mereka cocok, ya” “He em” angguk Sansan,mengiyakan.
“Keblinger! Nggak ada abisnya kalo gini! Nenek lampir, aku kembaliin kamu ke neraka sekarang!”
Dani merogoh smartphone-nya, diikuti teman-temannya di belakang. Beberapa usapan di smartphone merubah interface di smartphone masing-masing.
“Acces START’’
‘’COSTUME READY’
‘’ACTION!!!’
Sejurus kemudian, di tubuh kelimanya bersinar warna merah tua, silver, biru tua, violet dan putih, berbaur menjadi satu, dan diakhir semua itu, kelimanya sudah memakai armor mereka dengan sempurna. Kaliura tersenyum. “BAGUS! Armor kalian akan jadi hadiah terbaik untuk junjungan besar kami nanti. Bersiaplah menyambut kematian kaliaaaaaannn!”
Rambut Kaliura terangkat seluruhnya, disertai tubuh Kaliura yang seolah memudar ke atas, mirip cat lukis yang terangkat oleh air. Wajah Kaliura berubah menakutkan. Kulit mukanya jadi putih pucat, rahangnya memanjang, mata merah tersebut membesar, dan kemudian seiring dengan bertambah lebar wajahnya, empat bintik-bintik kecil merah yang kemudian menjadi mata di wajah Kaliura, membuat mulut Kaliura terbelah ke samping, lalu dua tanduk kecil keluar dari sudut-sudut mulutnya. Empat buah tangan panjang yang berbulu dan berujung runcing, keluar dari punggung Kaliura, sementara kaki Kaliura membengkak tiba-tiba, dan perlahan menyatu menjadi sebuah kantung. Tubuh Kaliura seiring perubahan yang terjadi, perlahan seluruhnya berubah menjadi pucat. Dani cs yang melihat perubahan tersebut, memandang dengan jijik.
“Aku Kaliura,..patih dari neraka yang diakdirkan untuk mengabdi kepada yang mulia prabu Dewata Cengkar, untuk menjadi penguasa di bumi Nusantara!”
“Banyak omong,..ceritakan tentang rencana kalian terhadap AKSA, atau aku buka lagi mulutmu lebih lebar!”
“Hahahahahahaa,..sebaliknya, kalian diam,dan serahkan armor kalian kepadaku!”
Kaliura membuka mulut, menembakkan jarring-jaring berbentuk sulur ke arah Dani dan kawan-kawan. Sulur demi sulur melaju dengan cepat, menimbukan bunyi desingan yang mengerikan dan saling bersahutan. Dani, Iwan, Arta, Sansan dan Melani, berusaha menghindarinya.
“Sial!”
“Cepat sekali,.kita hanya bisa menghindar!” tambah Iwan kesal.
“Nggak bisa begini terus, kita akan kehabisan tenaga” Sansan menambahi.
“Kalau begitu kita hajar langsung penembaknya! Heeeeaaaa!” Melani merangsek maju. Tangan kanannya membuka, dan cahaya putih menyilaukan muncul dari telapak tangannya. Melani lalu menebaskan tombaknya ke kanan dan ke kiri, menghalau sulur demi sulur yang menerjang.
“Santo! Bantu Melani!” perintah Dani.
Sansan meloncat, mengeluarkan Bonang yang kemudian ia ubah menjadi ruyung. “Melani! Kebelakangku!”
Sansan memutar-mutar ruyung yang kemudian menyerupai kipas. Melani melompat ke belakang, berlindung di belakang Sansan.
“Sialan! Serang mereka!” Perintah Kaliura kepada kedua Caruga di belakangnya. Kedua Caruga tersebut berteriak, sebelum dengan serentak memutar menjauhi hujan sulur dari Kaliura, untuk menyerang Dani cs dari samping. Sansan nampak cemas. Kondisinya sekarang kurang memungkinkan untuk berkonsentrasi melawan serangan kedua Caruga tersebut, sedangkan Melani, masih berlindung di belakangnya. Sedetik kemudian, Sansan melihat kedua Caruga tersebut sudah ada di samping kanan dan kirinya. Rahang mereka membuka, siap untuk melahap Sansan dan Melani. “Sial” umpat Sansan. Ia tak punya pilihan, untuk membuang serangan Kaliura dan menerima beberapa serangan sulurnya, untuk kemudian dapat membereskan kedua Caruga tersebut, sebelum mereka berhasil menggigit dirinya dan Melani. Keselamatan sahabatnya lebih penting! Begitu yang Sansan pikir. Maka ia bersiap untuk memutar ruyungnya ke kanan dan kiri. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba dua buah roket melewati Melani dan Sansan, dan lalu menghantam kedua Caruga yang akan menyerangnya.
AAAAAARRRGGHHH!
BLAAAAAAAAAAAARRR! Terdengar suara ledakan yang keras, saat tubuh kedua Caruga terlempar jauh kebelakang, bahkan melewati Kaliura. Kaliura yang terkejut, melonggarkan serangan sulurnya untuk sesaat, dan hal inilah yang dimnfaatkan Melani dan Sansan. “MELANI! SEKARANG!”
Melani melompati Sansan yang menunduk, lalu dengan berpijak pada punggung Sansan, Melani melesat jauh, mendekati Kaliura. Tombaknya berada di tangan kanan Melani, siap untuk diuncurkan.
HEEEEAAAA!
WUUUSSSSSSS!
Melani melempar tombaknya sepenuh tenaga ke arah Kaliura. Secepat kilat, tombak Melani berpilin, berputar cepat diiringi warna putih yang menyilaukan, dan langsung menembus pundak Kaliura yang terkejut dan hanya sempat bergeser sedikit untuk menghindari tombak Melani. Melani yang meluncur turun sedikit kecewa. Seharusnya, jantung Kaliura yang kena saat itu.
“AAAAARRRGGHHH!” jerit Kaliura,kesakitan.
Arta berguling ke depan sekali, lalu kembali mengarahkan kendhang-nya yang diubahnya menjadi Bazzoka melalui Arsenal Mode. “Ha!” Arta menembakkan dua roket lagi sekaligus. Kini ia mengincar tubuh Kaliura. Roket meliuk liuk,mengincar langsung Kaliura.
“SIALAAAAAANN!” Kaliura menjerit, lalu menyabet lengan di punggungnya untuk menghancurkan roket-roket yang datang ke arahnya. BLAM! BLAM! Ledakan membahana, ketika roket-roket Arta berhasil di hancurkan. Kaliura meloncat tinggi dengan lengan panjang di punggungnya, lalu kembali membuka mulutnya. Tampak pusaran jaring berkonsentrasi di mulutnya, lalu dengan satu teriakan panjang, Kaliura memuntahkan jaring yang amat besar, hingga menutupi kelima orang di bawahnya.
“Celaka! Menyingkir!” Sansan berusaha mengingatkan teman-temannya. Namun terlambat. Dani, Arta, dan Iwan tak sempat menyingkir. Ketiganya terkurung di bawah payung jaring Kaliura.
“Aaaagghh,..Aaaaghhh!” Iwan menjerit kesakitan. Jaring itu mengeluarkan hawa panas yang luar biasa. Dani dan Arta pun mengalami keadaan yang sama.
Melani yang berusaha membantu teman-temannya, melompat masuk, bermaksud untuk merobek jaring tersebut. “Melani! AWAS!” Melani yang tak awas dengan keadaan sekitar, tak mengetahui ada sulur lanjutan yang mendorong tubuhnya untuk ikut melekat ke jaring tersebut.
“AAAHH!” Tak berapa lama, Melani terbungkus oleh jaring yang seolah-olah menelannya seketika, saat Melani jatuh ke atasnya. Panas seperti lahar, segera dirasakan oleh Melani. Bahkan, uap panas mulai muncul di armor keempatnya,menandakan bahwa panas yang mereka terima bukan main main.
“HAHAHA! Kini kau sendiri,ha? Bisa apa kau tanpa teman2 -temanmu??” Kaliura tertawa jumawa, mengejek Sansan yang kini sendiri. Sansan kesal, ia menyiapkan ruyungnya, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Matilah, dan aku akan menerima armormu dengan senang hati” Kaliura menerjang maju ke arah Sansan. Keenam tangan Kaliura menyerang dengan ganas. Tiap serangannya, bermaksud membelah tubuh Sansan menjadi dua. Sansan berkelit, menangkis, berusaha untuk tidak terkena sabetan Kaliura yang membahayakan itu. Setiap Sansan menangkis sabetan Kaliura dengan ruyungnya, percikan api tercipta, sehingga sepintas mereka berdua sedang menarikan tarian api yang indah.
“Haa! Haaaaa!”
TRAANG! TRAAANG!
Sansan memutar otak. Ia tahu, apabila ia tetap dengan kondisi seperti ini, ia akan terpojok pada akhirnya. Ia melihat ke arah teman-temannya yang sedang berjuang, lalu sebuah ide terbesit di benaknya.
“Dani! Keluarkan pedangmu! bantu tangan Iwan agar lebih lega untuk mengambil sulingnya!”
“Aku nggak terima perintah dari bawahan!” protes Dani.
“DANI!” Tangkas Melani galak.
“Hufft!”
“Melani! Ambil tombakmu!”
Melani tercekat. Ia kemudian menyadari rencana Sansan. Ia menoleh kepada Dani, Iwan dan Arta yang memahami rencana sahabatnya tersebut.
“Haaaa!” Cahaya merah darah keluar dari tangan Dani yang sempit. “HEEEI! ARAHINYA YANG BENER, CHOY!” Iwan protes saat ujung pedang Dani hampir mengenai badannya.
“Sori-sori” jawab Dani kalem. Ia kini berusaha membebaskan tangan Iwan, meskipun sulit setengah mati.
Sementara itu, Sansan masih berusaha menghindari setiap serangan Kaliura. Namun bedanya, Sansan sudah mampu melihat pola serangan Kaliura, sehingga kini ia dapat membalas serangan Kaliura sesekali.
“Haaaaa! Heaaa!”
“Percuma! Kau akan kalah, lalu teman -temanmu itu akan menjadi abu setelah aku mengambil armormu nanti” Kaliura menyombongkan diri.
“Jangan terlalu berharap!” Sansan memutar tubuhnya,menghindari satu tangan Kaliura, lalu menyarangkan tendangan putar ke kepalanya.
DUUAGH!
“Ahhh! Sialaaan!” ujar Kaliura marah.
“Dapat!” Dani berhasil mengiris jaring yang membelit tangan Iwan. Iwan segera berkonsentrasi, lalu cahaya ungu berkilau menyilaukan dari tangannya, dan tampaklah suling, senjata andalan Iwan.
“Oke,semuanya! Tutup telinga kalian!”
Iwan berkonsentrasi, lalu dengan penuh konsentrasi, ia meniup sulingnya dengan nada-nada kematian. Akibatnya sungguh luar biasa. Tidak hanya Kaliura yang tiba-tiba merasa kesakitan, namun juga Dani, Arta, Melani dan Sansan yang terkena dampaknya. Nada nada itu langsung merasuk ke dalam otak, dan seakan mengobrak abrik di dalamnya, sebelum mulai menghancurkan sisi dalam tubuh.
Sansan di tengah kesakitannya, melempar ruyung ke arah kaliura yang sedang berusaha menutupi telinganya. Tubuh Kaliura terbelit dengan sangat erat,sehinggaz tubuh Kaliura sedikit mengerut karena lilitan super dari ruyung Sansan.
“ME,..MELANIIII,..SEKARAAANGGG!!”
Melani membuka telapaknya, memanggil tombak yang sedari tadi menancap di pundak Kaliura. Kaliura langsung melesat ke arah Melani tanpa bisa berbuat apa-apa. Begitu tombak digenggam Melani, Sansan yang ikut melompat mengikuti Kaliura, menginjak tubuh Kaliura, sehingga tombak Melani semakin melesak masuk menembus tubuh Kaliura.
“AAAARRGGHH!”
Sesuai perkiraan Sansan, jaring Kaliura menipis, karena Kaliura mulai melemah.
“IWAN! CUKUP! DANI! SEKARANG!” teriak Sansan kesakitan. Iwan segera menghentikan permainan sulingnya.
“OKEEEEEYYY!” Dani memutar, menebas pedangnya ke arah jaring-jaring yang menjerat tubuhnya. “HEEEEIII!” Iwan protes sekali lagi saat pedang Dani hampir ikut menebasnya. Dani meloncat ketika tubuhnya sudah benar-benar bebas.
“HEAAA!” sembari melompat, Dani menebas jaring di tubuh Arta, yang langsung melompat mengikuti Dani.
“C’mon,bro!” Arta mengarahkan bazzokanya. WUUZZZ! Sebuah roket menghantam tubuh Kaliura yang membawanya ke atas. Sebelum itu, Dani mendahuluinya dengan melompat tepat di atas Kaliura.
“SAN!”
Sansan menengadahkan tangannya. Ruyung yang tadi membelit tubuh Kaliura, melesat lepas bak ular,dan kembali ke tangan Sansan. “OKE,DAN!”
“HAAAAAAAAAAAAAAA!”
Dani bak elang, melesat turun, membebat pedang kecilnya, membelah tubuh Kaliura. Tepat dari atas ke bawah, tanpa ampun.
“AAAAAAAAAAAAAAAAARRRGGHHH!!!! JAYAA PRABU DEWATAA CENGKAAAAAAAAAAAAARR!!”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRR!
Tubuh Kaliura meledak hebat, karena tebasan pedang Dani dan ledakan roket Arta.
Sekilas, saat itu langit seperti di terangi oleh kembang api termegah yang pernah ada
########################
Sansan merebahkan tubuhnya, mencoba beristirahat. Ia tersenyum melihat Arta dan Melani yang protes ke Iwan akbibat insiden suling barusan.
“Maaaaff! aku lupa kalian pake helm” Iwan menjelaskan sambil tertawa.
Sansan tertawa. Sesaat kemudian, Dani berada di dekatnya.
“San, ayo, kita nggak bisa lama-lama disini”
Sansan mengangguk. Ia kemudian mencoba berdiri, lalu Dani menolong memapahnya berdiri.
“Makasih, Dan”.
Dani mengangguk. Sedetik kemudian pandangannya kosong ke depan.
“Kamu masih memikirkan soal AKSA?”
Dani mengangguk.
“Semoga yang aku takutkan tidak jadi kenyataan” Dani kemudian meraih Smartphonenya. Ia menekan tombol tertentu, dan kemudian mengangkatnya ke telinga kirinya. Tak berapa lama, suara di seberang menjawab telepon Dani.
“Halo? Kak Indah? Kak Indah sedang apa? Oh..dimana armor AKSA? Ditaruh di lab. Baik. . Nggak, nggak ada apa-apa,..nggak,..nggak perlu. Kak Indah tetap saja di Jepang, dan tunggu teleponku. Sudah, nanti aku jelaskan,..aku tutup dulu,ka. Bye,..”
Dani menutup sambungannya. “Kak Indah aman. Sekarang tinggal ayah. Aku langsung ke lab sekarang”
“Aku ikut” Sansan berjalan mengikuti.
“Heeeiii,.nggak usah ditanyaa,..” Iwan dan Arta nyengir berjalan di belakang.
Dani tersenyum. Matanya kemudian mencari Melani yang sedang tercekat diam memandang smartphonenya. Melani kemudian memandang Dani. “Dani,..kamu udah terima telepon om Teddi?”
“Belum. Ada apa?”
Tak berapa lama, smartphonenya berbunyi. Dari ayahnya. Dani segera mengangkatnya.
“Dani?”
“Ayah dimana? kenapa ramai sekali disana?”
“Ayah sedang bersama keluarganya Melani. Kamu bisa kesini sekarang?”
Dalam hatinya Dani lega, ayahnya dalam keadaan baik.
“Ayah, ada yang harus aku bicarakan, penting sekali..ini menyangkut AK,..”
“Kebetulan, ayah juga ada yang ingin dibicarakan denganmu. Kita bicara di rumah Melani dulu, baru nanti kita sambung di rumah, ya?”
Dani menghela nafas.” Oke, ayah. Aku kesana,..ngomong-ngomong ada acara apa,sih? Tumben kumpul-kumpul”
“,..Ini tentang kamu dan Melani,..”
Dani diam mendengarkan penjelasan ayahnya. Lalu, matanya terbelalak tak percaya.
“Apa??! Ayah bercanda??!” Nggak,..nggak mungkin,..apa? tu,.tunggu,,..ayah,..AYAAH! HALO!!!”
Dani merengut kesal. Perasaannya tak karuan. Dani melihat ke arah Iwan, Arta dan Sansan yang melongo tak mengerti apa yang terjadi, sementara sebaliknya, Melani terdiam, menghindari tatapan langsung Dani. Dan dibalik diamnya Melani, ada semburat merah di pipi Melani,..

Bersambung...........





Chapter 023

Friday, March 25, 2016
Posted by AksaraProject

Invasion



Jogjakarta saat itu sedang di selimuti oleh hujan lebat. Awan mendung yang menyertai, serta hujaman air hujan yang keras turun membasahi bumi, seakan melengkapi udara dingin yang begitu menusuk hingga ke ujung tulang. Kebanyakan orang-orang akan berlari menghindari hujan seperti ini, dan berlindung di berbagai tempat. Namun tidak untuk Dani. Ia bersandar di salah satu tembok luar sekolahnya yang baru saja dimasukinya beberap hari yang lalu. Tubuhnya yang babak belur, diperkuat dengan seragam sekolahnya yang kusut, kotor, terkoyak dan basah oleh noda darah dan tanah. Sama dengan keadaan seragamnya, wajah Dani pun nampak babak belur. Di sudut bibir, hidung dan keningnya, nampak darah yang sudah mengering.
Dani duduk bertolak pada kedua paha kakinya, sembari sesekali wajahnya menatap ke atas. Matanya sesekali dipejamkan, merasakan sensasi sakit yang baru saja ia terima.
15 orang....
15 begundal yang tiba-tiba saja mengeroyoknya saat ia pulang sekolah tadi. Ia tahu bahwa ia memang tidak banyak disukai, bahkan semenjak ia masuk di hari pertama. Dani bisa merasakan tatapan mata sinis dan komentar sinis yang menyertai setiap langkahnya di sekolah itu.
“Anak gedongan,. Kesini mau apa dia? paling senang-senang”
“ Orang tuanya kaya, yang punya sekolah Brahmana. Ngapain dia kesini? Pasti abis punya masalah, makanya dia lari kesini! Sampah!”
“Sialan,..dia masuk kesini cuma mau menghina kita. Dasar sombong!!”
Dan seribu cemooh lain yang sudah sering Dani dengarkan. Ini yang selalu Dani terima, dimanapun ia berada. Dani sebenarnya heran, mengapa orang lain selalu menuduhnya secara instan, mengatakan hal-hal yang sebenarnya tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun semua itu akan berlalu apabila Dani diam dan pergi. Ya, biarkan saja orang berkata apa. Yang perlu ia lakukan hanya diam dan pergi. Dan semuanya akan kembali sunyi lagi.
Pukulan demi pukulan Dani terima tanpa perlawanan. Sesekali, perutnya disodok dengan kayu atau pentungan, dan itu membuat perutnya serasa bergejolak. Belum lagi umpatan dan makian yang tidak manusiawi, yang ia terima selama lawan-lawannya menghajarnya dengan keras.
“Hahahaha! Liat nih, playboy kampung, yang ternyata cemen banget nggak bisa apa-apa,..malu lo jadi cowok!”
“Pegangin! Aku pengen praktek tendangan terbangku!” seorang siswa pongah bernafsu ingin menghajar Dani, menyuruh beberapa temannya untuk memegangi Dani.
“Oke, Wor!” sambut salah satu temannya bersemangat.
Dani kemudian dipapah oleh dua orang, di kanan dan kirinya. Semua nampak terkekeh-kekeh melihat ulah si siswa pongah yang kini memasang kuda-kuda ala Bruce Lee di hadapan Dani.
“WUATAAAAAA!!”
BUUGGHH!
Dani menyeringai kesakitan, sambil memegangi perutnya, saat si siswa pongah menendangnya tepat di perut. Perut Dani serasa panas, sementara siswa yang lain makin jumawa, ber-high five, sambil mengelilingi Dani yang kini tersungkur. Kemudian si siswa pongah menjambak rambut Dani, dan mendorong tubuh Dani agar bersandar di tembok sekolah.
“Heh, denger! Jangan kamu kira kamu bisa seenaknya di sekolah ini, ya! Kamu anak orang kaya, nggak bisa macem-macem disini, disini nggak berlaku duit kamu itu, ngerti!! ingat! Mulai sekarang kamu harus nurut apa kataku! Setiap hari, jam istirahat pertama, kamu datang kesini, laporan sama aku. Kalo nggak,..“si siswa pongah mengangkat telapak tangannya..” Aku bikin kamu nyesel sekolah disini! Hahaha! Goblok! ”Si siswa pongah menghantamkan kepala Dani ke tanah, sambil terus tertawa memberi kode ke teman-temannya untuk pergi dari situ, meninggalkan Dani yang tersungkur babak belur.
“Hahaha! Dhewor pancen oyee~” Tawa mereka jumawa sambil berlalu dari tempat itu.
Dani sedikit memiringkan kepalanya ke atas, terlentang, dan kemudian berusaha untuk mengambil oksigen dari hidungnya yang penuh darah. Cukup sulit, namun pelan-pelan ia mulai dapat bernafas normal. Kenapa,..kenapa tidak aku lawan cecunguk itu semua. Aku takut? Aku tidak bisa mengalahkan mereka? Dani tersenyum sinis. Bukan, bukan itu. Kalau aku mau, aku bisa memelintir kepala mereka satu-persatu dari awal. Mereka bukan masalah bagiku. Sejak aku mulai bisa melangkah, ayah sudah melatih aku serasa di neraka, jadi pukulan mereka bukan apa apa buatku. Tapi kemudian seandainya aku kalahkan mereka, setelah itu,..apa? Kalaupun aku bisa mengalahkan mereka sekarang, tidak berarti pandangan mereka terhadapku akan berubah. Dani si anak kaya yang sombong, akan tetap menjadi anak kaya yang sombong di mata mereka, bagaimanapun juga. Berfikir seperti itu, membuat Dani tertawa,..”Sialan.,pengen ketawa saja perih sekali”, Dani tertawa sendiri.
“Uugghh,..”, Dani berusaha untuk duduk bersandar di tembok sekolahnya, meski rasanya sakit di sekujur badan. Di tengah kesakitannya, Dani terdiam. Ia memejamkan mata sejanak, dan kemudian matanya memandang jauh,..
“Kapan,..kapan akan ada orang yang bisa melihat aku apa adanya,..atau memang nggak akan ada orang seperti itu…” Gumam Dani.
Tak berapa lama, hujan pun turun,.
“Aaahh,..kanjeng Gusti,..terima kasih atas nikmatMU ini,..” Dani menengadahkan wajahnya ke atas, tersenyum menyambut setiap titik hujan yang membasahi wajahnya,..
######################################################################
‘’DAN!”
Dani menoleh ke kanan. Dilihatnya para sahabatnya, orang-orang yang selalu menemaninya selama ini. Iwan, Arta dan San san, tergopoh gopoh melompat dari mobil dan berlari mendekatinya. Nampak kecemasan di raut wajah mereka.
“Aku nggak apa-apa,.” Potong Dani sebelum yang lain menanyakan keadaannya.
“Kamu kenapa nggak hubungi kami, Dan? Padahal barusan aja aku nelepon kamu” Ujar Iwan sambil membantu Dani untuk duduk bersandar.
Arta memeriksa keadaan Dani. Matanya juga menelusuri kondisi tubuh Dani.
“Kamu benar-benar dihajar habis, Dan” Komentar Arta sambil membuka tutup botol air mineral, dan kemudian disodorkannya ke mulut Dani. “Pelan-pelan” Arta membantu agar Dani bisa minum dari bibirnya yang pecah.
San san yang sedari tadi diam, tiba-tiba berteriak kesal.
“AAAHH! Kamu kenapa diam aja, Dan??! Kecoak macam mereka seharusnya bukan masalah buat kamu. Kenapa kamu diam??!” teriak San san sambil menendang kesal tanah dibawahnya.
Dani terkekeh, “Sama dengan alasan kamu diam saja, diganggu kecoak macam mereka waktu pertama kali aku ketemu kamu, San”
San san terdiam. Batinnya paham, bahwa Dani bersikap diam bukan semata-mata karena Dani tidak mampu melawan, dan hal ini yang membuat Santo tambah kesal.
“SIAALAAAAAAAAAANN!! ”San san meninju udara dengan kesal.
Suasana jadi sedikit canggung. San san berusaha menahan emosinya,.
“Dan,..kamu tau, siapa yang mukulin kamu kayak gini?”
“Hehee,..mau ngapain emangnya?”
“UDAH! JAWAB AJA!”
Sambil kembali terkekeh, Dani geleng-geleng kepala melihat reaksi sahabatnya yang satu ini. “Entahlah,..tadi ada yang namanya Dhewor,..atau siapalah,..”
San san diam mendengarkan.
“Sudah,..ayo kita antar dulu Dani berobat ke rumah sakit” Iwan memapah Dani untuk berdiri.
“Nggak usah, aku baik-baik aja. Nggak usah ke dokter atau ke rumah sakit. Aku nggak suka rumah sakit”
“Tapi, Dan..” Protes Iwan
Dani menggelengkan kepala cepat. Iwan diam, ia tahu bahwa percuma melawan pendapat Dani kalau ia sudah keras kepala seperti ini.
“Kalau begitu, kita ke rumah Melani aja. Oke kan, Dan?” timpal Arta menengahi.
Dani mengangguk menyerah. Maka, Arta dibantu Iwan, membantu memapah Dani untuk bisa berjalan menuju mobil mereka,..sementara San san berjalan menuju mobil, sambil mengeluarkan HP dari saku celananya, dan mulai mengetikkan sesuatu.
………………………….
“Ya ampun, Dani…ayo cepat, masuk kesini!” Melani tergopoh-gopoh menyambut Dani dan kawan-kawan begitu mereka masuk ke rumah Melani.
“Bawa masuk ke kamar tamu. Sebelah sini” Melani berjalan di depan kawan-kawannya tersebut, menunjukkan arah ke ruang tamu. San san yang terakhir masuk rumah, setengah berlari menyusul rombongan. Ia tidak mau lagi tersesat di rumah Melani seperti yang terakhir kali. Memang, rumah keluarga Melani yang masih mempertahankan arsitektur keraton, sering membuat bingung orang-orang yang jarang atau baru pertama kali berkunjung ke rumah Melani. Lorong-lorong dan paviliun yang terpisah, membuat rumah Melani lebih tepat disebut sebagai kerajaan daripada rumah.
“Ni rumah po labirin,..mbingungi” komentar San san dalam hati.
Tak berapa lama, Dani sudah dibaringkan di atas dipan empuk di tengah kamar tamu yang ternyata berupa paviliun tersebut. Nampak di dalamnya, Melani sudah menyiapkan kebutuhan untuk membersihkan dan mengobati luka-luka Dani. Segera saja Melani bekerja, dimulai dengan membersihkan luka-luka Dani.
“Buka baju kamu”
Dani mengerling nakal.“ Nggak,ah. Nanti kalo kamu nafsu, gimana” Cengir Dani.
“Mau aku tambah luka-luka di badan kamu itu?” Pelotot Melani galak.
Dani tertawa. Pelan-pelan ia membuka bajunya, dan kembali akan tiduran.
“Duduk! Susah tau, kalo mbersihin luka sambil kamu tiduran!”
Dani nurut. Ia kemudian duduk, sementara Melani mulai menyiapkan air hangat untuk membersihkan luka. Sementara itu, Iwan dan Arta melihat saja tak jauh dari Dani, sebelum San san diam-diam beringsut diantara mereka, dan member kode untuk mengikutinya. Iwan dan Arta paham.
“Eh,Mel. Kita tunggu di luar aja, ya?” Ijin Iwan.
“Titip monyet satu itu ya, Mel” tambah Arta.
Melani tersenyum dan kemudian mengangguk. Ia kemudian melanjutkan membersihkan luka-luka Dani.
Iwan dan Arta berjalan di belakang San san yang nampak gusar.
“Siapa pelakunya, San” Tanya Arta.
“Irwan, atau panggilannya Dhewor. Anak kelas 3 sekolah kita, dan dari awal Dani masuk, dia emang udah ngincer Dani” jawab San san.
“Naksir,dia?” timpal Iwan sambil bercanda.
San san mengacuhkan pertanyaan Iwan. “ Dhewor bukan masalah, dia cuma cecunguk. Yang jadi sedikit masalah adalah orang-orang di belakangnya. Aku baru dapet kabar dari anak buahku, katanya ada cecunguk-cecunguk yang bicaranya besar di tempatnya, dan itu kaitannya dengan “menghajar anak kaya”. Udah pasti yang mereka maksud itu Dani. Yang ngeroyok Dani juga bukan cuma dari sekolah kita, tapi ada preman-preman yang ngebantu mereka. Mereka niat banget sampe makein seragam sekolah buat preman-preman itu, heh,.sialan.. Nggak cuma itu, si Dhewor ini anggota geng Kelabang Ireng. Geng ini makin lama emang makin besar di Jogja, makanya mungkin ini salah satu cara mereka buat nunjukkin bahwa anak kaya macam Dani pun bukan masalah bagi mereka” jelas San san geram.
“Dan selanjutnya, anak kaya macam Dani pun berikutnya bakal jadi dompet buat mereka, kan?” tambah Arta.
“Betul” tungkas San san.
Iwan tertawa. ”Cuma, kali ini mereka berurusan dengan orang yang salah”
“Kamu udah siapin semuanya, San? Kita berangkat sekarang?” Tanya Arta.
San san mengangguk.”Semuanya sudah aku atur. Kamu dan Iwan pergi dulu ke tempat Dhewor dan anak buahnya mangkal. Sementara aku urus preman-preman itu dulu. Nanti, kita ketemuan sebelum berangkat ke Kelabang Ireng. Kita abisin mereka hari ini”
“Beres”
“Siap”
“Dan kamu bener Wan.. mereka berurusan dengan orang yang salah,..sangat salah..” Seringai San san sebelum berpisah dengan Iwan dan Arta di halaman rumah Melani, dengan anak buah San san yang sudah menunggu.
…………………………………………..
Dani sudah memakai kaos bersih, pinjaman dari Melani. Wajah dan tubuhnya sudah bersih dari luka, dan beberapa perban nampak menutupi luka-luka tersebut. Dani harus mengakui bahwa Melani cukup trampil dalam hal seperti ini.
“Kamu ada gunanya juga ternyata,.” komentar Dani.
Melani tetap melanjutkan pekerjaannya membersihkan baju kotor serta bekas perban di atas meja.
“Susah ya, kalo cuma bilang terima kasih?”
Dani tertawa. “Aaahh,..” Ia kemudian bersandar di bantal empuk dipan tersebut, mencoba untuk berisitirahat.
“Dan,..”
“Hmm,..” jawab Dani, acuh tak acuh.
“Aku,..”
Melani berhenti, tidak melanjutkan apa yang tadi ingin ia katakan.
“….Apa, meeell?” Intip Dani dari ujung matanya.
Melani tersenyum. Ia menggeleng cepat. Lalu cepat cepat pula beberes.
“Kamu utang sama aku, lho.. jangan dilupain!”
“Halahh” Dani kembali acuh tak acuh, dan kembali tidur.
Melani beranjak keluar kamar begitu semua pakaian dan perban kotor sudah ia bawa. Ketika ia hampir melewati pintu kamar,..
“Mel..”
Langkah Melani terhenti.
“,…Terima kasih, ya..”
Melani tersenyum,.dan ia pun beranjak pergi meninggalkan kamar tamu.
“Oya, Dan,.Ratna sebentar lagi kesini. Aku udah kasih tau dia tadi”
Dani terhenyak. “Ya ampun, Melanii..ngapain kamu ngasih tau dia??”
Melani mengangkat bahu. “Daripada aku yang kena semprot sama ratu bawel macam dia…nggak deh, makasih” jawab Melani sembari cekikikan. Dalam hitungan detik, Melani sudah kabur entah kemana, meninggalkan Dani yang menepuk jidatnya.
…………………………………………………………………..
Iwan baru saja selesai membebat tangannya dengan kain, saat Arta memberi kode padanya. “Si Dhewor udah dateng, Wan.”
Iwan mengintip dari sisi dalam mobil yang mereka tumpangi. Ia melihat Dhewor dan kawan-kawannya tertawa bergerombol. Tak berapa lama, tampak mereka mulai terbuai dengan botol-botol minuman keras yang entah darimana muncul. Gelak tawa makin tak terukur, padahal lokasi yang mereka gunakan untuk berkumpul termasuk lingkungan padat penduduk.
“Peang gitu tampangnya. Tapi perlu diabisin bener-bener tu mereka “Ujar Arta geram, sembari memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, serta menggenggam alat perubahnya.
Iwan yang melihat itu tertawa sembari menepuk pundak sahabatnya itu.
“Ampun deh, Ta. Nggak perlu yang begituan kali, buat ngatasin macam mereka. Mereka bukan reptil”
Arta hanya tersenyum kecil.
“Yuk? Aku ada kencan jam 7 nanti. Jadi, kalo kamu mau lama-lama di sini sih, monggo saja.” Iwan beranjak keluar dari mobil.
“Makasih, deh” Tawa Arta sambil ikut keluar mengikuti Iwan.
Anak buah San san yang sedari tadi menemani Iwan dan Arta juga akan beranjak mengikuti mereka, namun dicegah.
“Nggak usah, mas. Tunggu di mobil saja” cegah Iwan.
“Tapi, kami sudah disuruh bos buat bantu mas sekalian” ujar salah satu dari mereka.
Arta menggeleng. “Terima kasih, tapi biar kami saja yang menyampaikan salam dari teman kami. Tolong diliat aja, jangan sampe ada yang bisa kabur dari sini ya, mas.” pinta Arta.
Anak buah San san mengangguk mantap, sementara Iwan dan Arta berjalan mendekati rombongan tersebut.
“Hei” Arta melambai-lambaikankan tangannya ke arah Dhewor dan kawan-kawannya. Dhewor memandang tak suka, begitu juga dengan yang lainnya.
“Yang mana yang namanya Dhewor, ya?” Tanya Arta santai.
Dhewor melihat dengan enteng, lalu menjawab dengan nada menantang. “Aku,..kenapa?”
Seketika itu juga, Arta langsung menghantam wajah Dhewor, yang mengakibatkan Dhewor limbung dan terjatuh dengan keras. Suasana pun berubah dengan cepat. Teriakan-teriakan penuh ancaman dan makian menggema dimana mana. Hal itu tidak menyurutkan serangan bertubi-tubi dari Iwan dan Arta. Iwan melancarkan beberapa tendangan kearah lawan-lawannya. Sesekali ia melayang di udara, sembari membabat kakinya yang seakan-akan menari-nari itu. Satu persatu lawannya tumbang, sementara itu Arta terus memburu Dhewor yang kelabakan menerima pukulan-pukulan Arta.
Dhewor dengan panik menyuruh anak buahnya menghadapi Arta, sementara ia berusaha mundur dari arena pertarungan, cari selamat. “Mau kemana kamu, pengecut!” teriak Arta marah.
“Heaaaaaaaa!!”
Serangan-serangan anak buah Dhewor tidak berarti apa-apa untuk Arta. Tubuh Arta meliuk-liuk menghindari setiap serangan yang ditujukan kearah dirinya, sementara itu setiap tinju maupun tendangannya, tajam menohok wajah, rusuk, ulu hati, maupun perut penyerang-penyerangnya. Arta tidak mau buang waktu. Setiap ia menghindar, saat itu pula serangannya masuk. Maka dalam waktu cepat, satu persatu anak buah Dhewor tumbang. Perlahan, Arta mendekati Dhewor yang kini sendirian dan ketakutan setengah mati.
“Beres?” Iwan mendekati Arta. Rupanya ia juga sudah membereskan pengganggunya. Wajahnya Nampak sedikit bengap, beberapa pukulan dari lawannya sempat masuk,namun tidak berarti banyak untuk Iwan.
“Beres.Tinggal satu ini” Jawab Arta sambil mencengkeram kerah Dhewor.
“Too,,tolong boss…ampuunn”
“Kamu kenal Dani, kan? Anak kelas 1 yang barusan kamu hajar? Itu temenku,sialan! Enak aja kamu minta ampun sekarang!” Ancam Arta.
“Oohh,..itu,, aku disuruh orang, boss..ampuunnn..”
“Siapa? Geng kelabang ireng? Udah diberesin sama temenku, jangan bohong kamu!”Timpal Iwan gregetan. Nggak sabar, Iwan melayangkan sebuah pukulan lurus, tepat ke arah mulut Dhewor. Kepala Dhewor terjerembab ke belakang. Mulut Dhewor kini penuh dengan darah, disusul dengan hidungnya yang nampak bengkok.
“Aaarrrrhhh,..aaaaaahhhhh”
Rupanya pukulan Iwan begitu telak mengenai Dhewor. Dhewor mengaduh aduh kesakitan.
“Mau lagi?”
Dhewor menggeleng-gelengkan kepalanya.
“A,..ampuunn…aku ngaku, aku memang ga suka sama anak itu. Tadinya takut, tapi dijanjiin sama Bana, kalo aku bakal dibeking sama geng kelabang ireng”
“Bana? Siapa Bana?”
“Bos,..dia bos di kelabang ireng, pak.eh,mas..dia hebat banget,bisa sihir. Tangannya bisa keluar api, makanya aku berani ngerjain Dani, mas…”
Arta dan Iwan saling berpandangan.
“ Kamu nggak bohong,kan??!” Arta mengangkat tinggi badan Dhewor sambil tetap mencengkeram kerahnya.
“Su,..sumpaahh! aku,.eh,saya ndak bohong,mas..!sumpaahhh!” Dhewor ketakutan.
“Huh!” Arta lalu melempar tubuh Dhewor, sehingga Dhewor bertabrakan dengan tubuh anak buahnya yang tergeletak di jalanan.
“Dengar! Sekali lagi kamu berani ganggu temenku,.. aku bakal dateng lagi ke kamu,..ngerti maksudku??!” Ancam Arta.
Dhewor kembali menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
Arta lalu memberi isyarat kepada Iwan untuk segera pergi dari situ. Mereka kemudian naik mobil dan langsung meningalkan tempat itu, dengan Dhewor dan anak-anak buahnya yang bergelimpangan di jalanan.
“Kalau memang bener yang dibicarain, berarti masalah ini lebih serius dari kelihatannya.” Ujar Arta. Arta lalu mengambil Smartphone dari saku jaketnya, lalu menekan tombol di atasnya. Tak berapa lama, terdengar suara San san diseberang.
“Halo”
“San! Kamu udah tau tentang Bana di kelabang Ireng?”Arta langsung bertanya sesaat setelah San san mengangkat teleponnya.
San san mendesah.”Iya, udah.Aku juga barusan dapet info dari anak buahnya tadi. Sayangnya, dia nggak ada disini”
“Aku lega dia nggak ada disana, San. Kamu tau kalau si Bana itu,..”
“..Bisa sihir api, ya, aku udah tau,Ta..”
“Kira - kira,..apa si Bana ini termasuk,..”
“..Caruga..Aku juga berfikir gitu, Ta. Dani masih di rumah Melani?”
“Aku kira dia masih disana”
“Kita ketemu disana sekarang. Iwan masih sama kamu, kan?”
“Iya, dia sama aku, kok. Disana beres,San?”
“,..Uum,, iya, beres, Ta. Jangan khawatir..”
“,…Nggak ada yang mati,kan?”
“……Uumm,..mudah-mudahan…”
Arta menepuk jidatnya.” Ya udah,..kita ketemu di rumah Melani sekarang..”
“Oke”
San san menutup hpnya. Ia menatap kosong ke depan, berfikir kira-kira dimana akar masalah ini dan Bana berada. Ia lalu mengedarkan pandangannya.
“Kita cabut sekarang”
San san beranjak pergi meninggalkan tempat itu, bersama anak buahnya. Sementara disekitar San san, nampak rumah yang sudah porak poranda, tubuh-tubuh preman yang begelimpangan disana sini. Seakan-akan, rumah itu baru saja disapu oleh badai besar yang datang entah darimana.
………………………………………
Dani baru saja berpakaian dan membasuh wajahnya ketika Ratna datang tergopoh-gopoh, masuk ke kamar dimana Dani berada. Dani maupun Ratna sama-sama terkejut, namun sekejap mereka kembali dapat mengontrol diri mereka, mengganggap bahwa semua baik-baik saja.
“Aku nggak apa-apa, kok.. ”Ujar Dani sambil terus membasuh wajahnya, sembari membelakangai Ratna.
Ratna hanya diam di tempatnya. Matanya tajam mengawasi kondisi Dani, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dani beranjak ke sofa, setelah ia selesai membasuh wajahnya. Ia lalu duduk, berusaha terlihat santai. Dani lalu memandang Ratna yang masih saja diam mematung di tempatnya.
“Kenapa? Udah liat kan, aku baik-baik aja?”
Ratna berjalan mendekati Dani, dan berhenti tidak terlalu dekat dengan Dani. Rupanya Ratna menjaga jaraknya.
“Kenapa kamu diam saja?”
Dani mendesah. Ia sudah mengira pertanyaan ini akan keluar.
“Jawab,.kenapa kamu diam saja? Padahal kamu bisa saja ngelawan mereka,kan?”
Dani merasa tidak perlu menjawab. Ia diam saja mengacuhkan pertanyaan Ratna.
Ratna mulai kesal.“ Jawab! Kenapa kamu nggak lawan balik?!!Oohh,..atau jangan-jangan, ini memang sifat asli kamu,? Pengecut, sok-sokan kuat,..kalau sama temen-temen kamu berani, tapi kalau sendirian jandi banci gitu, ya? Pengecut!”
“AKU BUKAN PENGECUT!” Bentak Dani sambil menggebrak meja. Ia tersinggung disebut seorang pengecut.
“Kalau gitu jawab, kenapa kamu..”
“Suka-suka aku mau kayak gimana,.. ngapain kamu urusin? Bukan urusan kamu,kan? Toh, kamu nggak pernah peduli sama aku. Kita tunangan itu paksaan, kan? Kalau bukan paksaaan, apa kamu tetep mau sama aku? Kamu nggak ada hubungannya sama aku, jadi jangan sok akrab! Lagian, nggak perlu aku kasih tau kamu alasan kenapa aku diam,..aku nggak wajib ngasih tau ke kamu!” Cecar Dani.
Ratna diam, namun matanya tetap menatap tajam kearah Dani. “Aku tau, aku memang nggak sebaik cewek-cewek kebanyakan. Tapi kamu salah ngeliat aku..Kamu salah..ternyata itu yang kamu pikirkan selama ini,..Oke,..aku ikutin permainan kamu..” Ratna berbalik cepat ke arah pintu keluar.
“Tunggu”
Ratna menghentikan langkahnya, dengan tetap membelakangi Dani.
Dani mengambil sesuat dari tasnya. Sebuah HP.
“Ini,..tangkap”
Dani melemparkan HP tersebut kepada Ratna, yang kemudian ditangkap oleh Ratna. Ratna melihat ke arah HP yang barusan ia terima dari Dani. Tidak seperti HP lainnya, HP ini didesain minimalis, namun tetap terlihat tangguh. Nampaknya HP ini memang didesain untuk kebutuhan khusus, tidak seperti HP komersial lainnya. Nampak logo Brahmana Corp terpampang di HP tersebut.
“Aku disuruh ayah untuk menyerahkan HP itu padamu. Sebenarnya udah cukup lama, tapi aku belum nemuin waktu yang pas buat ngasih ke kamu.. Ayahku ngasih HP itu ke kamu,..supaya kamu dan aku bisa kontak-kontakan lebih sering, karena di HP itu cuma ada nomorku, begitu juga HP satunya yang aku bawa,.. Dasar Ayah,ada-ada aja.. ”Rengut Dani kesal. “Jangan salah sangka,..aku kasih HP itu ke kamu,..itu,..Cuma karena,..aku disuruh ayahku aja,..lagipula, HP itu bisa untuk deteksi aura, terutama aura Caruga,..iya! itu fungsinya! jadi jangan salah sangka,…”
Ratna menukas, ”Dan juga jangan salah sangka. Aku terima HP ini juga karena kewajiban aku sebagai keturunan Ajisaka, dan rasa hormatku kepada paman,..sama sekali bukan karena kamu”
Dani diam. ”Cukup adil,..”
Ratna berbalik kembali membelakangi Dani.
“Aku kira,..kamu berbeda,…”
Dani mendengar tanpa menolehkan wajahnya kearah Ratna.
“Aku kira,..kamu berbeda dengan yang lainnya.. yang cuma bisa lihat aku dari satu sisi saja, sisi kekeratonanku,..”
“Tapi ternyata,. kamu sama saja..aku memang bodoh,..udah berharap banyak dari hubungan ini,..” Suara Ratna bergetar.
“Kita jalan saja apa yang dimaui orangtua kita. Tapi selebihnya, kita masing-masing tau, apa yang sebenarnya ada di antara kita berdua..”Ratna menaruh bungkusan yang sedari tadi dipegangnya, di atas kasur.
Dani terkesiap. Kamu nggak berbeda dengan aku, Na! Kamu seorang diri diantara jutaan orang, sama seperti aku!
Dani hanya diam. Ia bingung bagaimana harus bersikap, sedangkan seribu kalimat menyeruak di dalam hatinya, minta untuk diungkapkan. Namun ego dan sikap sarkastisnya mencegah hal itu terjadi, sehingga ia hanya bisa melihat Ratna yang setengah berlari keluar dari ruangan.
Dani menundukkan wajahnya. Perasaannya campur aduk saat ini.
Ah. Persetan! Persetan semuanya!
Tak bersemangat, Dani berdiri dari sofa, kemudian melangkah ke arah bungkusan tersebut.Ia sempat ragu untuk membukanya, namun suatu kekuatan berhasil menyuruhnya membuka bungkusan tersebut. Dani pelan membuka bungkusan tersebut. Ternyata, alat dan handuk bersih untuk mengompres luka. Dani hanya terdiam melihat benda-benda tersebut di atas tangannya. Ia menyingkarkan alat kompres, kemudian mengambil handuk kecil tersebut, lalu ia bekapkan di wajahnya. Dani lalu mengambil nafas panjang, dan sejurus kemudian ia tersenyum.
Wangi,..lembut.,..
Dan seketika jantung Dani terasa sakit.
,……………………………………………………………………
“….Um,.Dan?...” Melani ragu-ragu memanggil Dani. Ia, Arta, Iwan dan San san sebenarnya sudah ada di depan kamar Dani, dan memutuskan untuk tidak masuk karena mendengar suara ribut dari dalam kamar tersebut. Mereka tahu, bahwa situasinya tidak tepat apabila mereka masuk dan menyapa Dani serta Ratna di dalam, maka dari itu, mereka hanya bisa menunggu dari luar kamar. Dan betapa mereka, terutama Melani, terkejut saat mereka berpapasan dengan Ratna yang setengah menangis, keluar dari kamar itu. Dan tanpa banyak bicara, Ratna meninggalkan mereka berempat, yang juga hanya bisa diam tanpa kata-kata.
Kini, setelah dirasa situasi mungkin sudah mereda, mereka memutuskan untuk mencoba masuk ke kamar, melihat kondisi Dani, dan terpaksa membiarkan Ratna pergi, entah mungkin ia langsung kembali ke rumahnya saat itu juga. Melani mengintip ke dalam kamar dari sisi pintu. Ia melihat Dani yang sedang diam mematung, dengan sebuah handuk kecil di tangannya.
“..Uum,.Dan? Kita boleh masuk?” Melani ragu-ragu..
Dani diam sesaat, untuk kemudian melirik dari ujung matanya. “Heii,..masuk sini, ngapain di luar”
Ekspresi Dani yang tiba-tiba berubah seperti biasa, memang membuat Melani jadi sedikit tidak enak, namun ia tetap memutuskan untuk masuk kamar, diikuti oleh Arta, Iwan dan San san.
Dani tersenyum.
“Gimana, San?” Tanya Dani.
San san tersenyum. Ia sudah paham sahabatnya ini. “ Tadi aku mampir kasih salam sama geng kelabang irengnya,. sedangkan Arta sama Iwan mampir ketemu temenmu, Dhewor”
Dani terkekeh. “Benernya nggak usah,..orang besok mau aku beresin kok.. tapi ya udah, orang udah diberesin sama kalian” Dani kembali tidur di sofa, bermalas-malasan.
“Si San San tuh,bikin stori. Liat deh besok,mesti di koran ada” Arta tersenyum.
“Ah,..itu bisa diatur. Pokoknya aman”
“Dasaaarr” Iwan menambahi sambil tertawa.
“Tapi, Dan..ternyata hal ini lebih serius dari yang kita kira,..ini melibatkan Caruga” Arta memotong, langsung ke pokok permasalahan.
Dani menengok ke arah Arta, lalu memperbaiki posisi duduknya.“Maksudmu?”
“Ketua geng kelabang ireng, dan orang yang bekingin si Dhewor, namanya Bana. Baik dari si Dhewor maupun geng kelabang ireng, kita dapet informasi kalau si Bana ini bisa ‘sulap’ “ terang Arta sambil menekankan kata sulap dengan isyarat jarinya.
“Katanya, si Bana ini bisa mengeluarkan api di tangannya, Dan.. Kita tadi berusaha nyari dia, tapi dia menghilang. Kayaknya dia tau kalau kita mau nyambangin dia, kali”
Dani diam, mendengarkan kata teman-temannya. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum, “Okelaaahh,..nggak usah terlalu dipikirin”
Dani beranjak mendekati ke empat temannya tersebut, lalu duduk lebih dekat bersama mereka. “Yang tadi biar berlalu aja, kita pikir nanti. Sekarang, buat ngerayain sembuhnya aku, sama buat mengakrabkan aku sama temen-temenku di sekolah, kita adain party,yok. Ta, Wan, Mel, San,..besok kalian ikut, ya. Abis pulang sekolah, kita senang-senang! Hehehe,..” Ujar Dani santai.
Arta dan yang lainnya saling berpandangan. “Dan,..maksudnya?”
“Maksudku,..kita refreshing dulu…udaahh,..tenang aja, deh..yok, aku tolong anterin pulang..Mel, makasih buat semuanya yaa…Bye” Dani beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil barang-barangnya, dan pergi ke arah keluar. Teman-temannya yang bingung, hanya bisa mengikuti Dani dari belakang.
“Dan,…Ratna besok dikasih tau, nggak?” Tanya Melani, hati-hati.
Dani menghentikan langkahnya sejenak.
“Nggak usah,..jangan undang dia besok,.”
…………………………………………………………………………….
Suasana sore itu, benar-benar ramai. Bertempat di salah satu klub yang hype di kota Jogja, hari itu seluruh area tertutup untuk undangan, dan hanya orang-orang yang diundang oleh Dani cs yang boleh masuk. Tempat penuh sesak oleh muda mudi yang nampak senang menghadiri acara sore itu. Lounge, dance floor, tidak ada space yang tersisa. Musik-musik yang menghentak, diiringi riuhnya tepuk tangan, semakin membuat Arta bersemangat memainkan turn tablenya. Rupanya, Arta cukup jago memainkannya. Sementara, di sudut ruang lainnya, nampak Iwan dan Santo bermain billiard, ditemani pula oleh teman-teman mereka yang lain. Dani lebih memilih duduk di salah satu meja, bermain solitaire, dan sesekali memperhatikan teman-temannya yang sedang bersenang-senang.
Lihat mereka. Sebagian besar dari mereka tidak aku kenal. Mereka tertawa, tersenyum, bergembira, tapi entah mana yang tulus, entah mana yang tidak. Semuanya demi kepentingan orang lain..munafik
“ Hai, Dan!”
Dani melihat ke arah penyapanya. Melani sore itu tampak cantik, dan sangat casual. Dengan kaos dan celana jeansnya, Melani jauh dari kesan seorang putri keraton, namun menurut Dani, itu adalah daya tarik Melani.
“Sendirian?” Melani duduk di sebelah Dani, sambil menjaga gelasnya agar tidak tumpah.
“Yap..makanya, permainan ini dinamain Solitaire” jawab Dani acuh.
Melani diam. Matanya tertuju pada Dani.
Dani pada mulanya tidak memperdulikannya, sampai lama-lama ia merasa jengah diperhatikan seperti itu.
“Apa, Meel?”
“Nggak biasanya kamu kayak gini. Dani yang aku tau, bakal jauh-jauh dari hura-hura kayak gini, dan langsung nyari targetnya, dalam hal ini Bana, si ketua geng itu.”
Dani tersenyum. “Ada kalanya seperti itu,,ada kalanya nggak…”
“Maksudnya?”
Dani menghela nafas. Ia lalu menghentikan permainan kartunya.
“Pertama,..aku perlu menginvasi sekolahku ini. Perlu menunjukkan siapa bosnya disini”
“Nggak pake cara seperti biasanya? Cari pentolan sekolah, hajar, jadiin anak buah?”
Dani tersenyum. “Mel, mel..itu berlaku sama anak-anak yang bisanya pake otot doang. Gimana dengan yang lain, yang bisanya nongkrong di mall atau di perpus? Jumlah mereka lebih banyak, kan? jadi kuasai dulu mayoritas, baru ke minoritasnya. ”Jawab Dani sambil mengambil gelas, dan menenggak coke-nya.
Melani manggut-manggut. ”Terus yang kedua? ada alasan kedua, kan?”
Dani tersenyum. ”Kedua,..karena si Bana katanya ngincer aku, maka nggak diundangpun, dia pasti bakal dateng kesini,..tuh, dia ada di lounge sekarang,. sekitar 30 menit yang lalu”
Melani kaget. Ia kemudian cepat-cepat melihat ke arah lounge, dan memang nampak beberapa orang berpakaian hitam yang nampak mencolok. Sudah jelas, mereka tidak berasal dari lingkungan sekolah.
“Lho,..sekuriti yang kamu sewa professional, kan? kok bisa tembus? padahal mau masuk juga pake ID sekolah, kan?
Dani menghabiskan minumannya. “Itu berarti mereka bukan cuma manusia biasa, kan? Perlu orang hebat buat nembus di tempat ini, sama sekuriti yang aku sengaja sewa terpisah,..ayo, Mel. Saatnya pesta”
Dani melangkah tengah dance floor. Melani mengikuti dari belakang. Sementara, orang-orang berpakaian hitam tersebut kini jelas-jelas memperhatikan Dani yang mendekati tempat mereka. Untuk mencapai lounge dari tempat Dani minum-minum tadi, Dani harus melewati dance floor terlebih dahulu.
Sesampainya di tengah dance floor, Dani mengangkat tangannya. Lalu ia menoleh ke arah Arta. Arta yang melihat hal tersebut, menghentikan permainannya.
Dani tersenyum.“ Teman-teman semuaaa,..terima kasih atas kedatangannya, dan aku ucapkan terima kaaasssiiiihhh,..” Pidato awal Dani disambut gemuruh riuh teman-temannya. Iwan dan San san yang melihat euphoria tersebut, menghentikan permainan billiardnya.
“Kalian senang semua?? Oke, aku harap begitu,yaa..aku harap, aku bisa membuat kalian senaaaang terus menerus, selama aku disini,….sebagai gantinya,. selama aku membuat kalian senang, yah, aku kira nggak salah kalau aku minta kalian bikin aku seneng juga. Fair kaaann??”
Tepuk tangan masih membahana setelah itu.
“Hahaha,..ya,.ya,..ya,.terima kasih,..terima kasihh,.buat semua yang udah kalian apresiasi ke aku, sungguh, aku ngehargain banget meskipun aku masih inget betapa pandangan kalian, omongan kalian,,..sebagian besar dari kalian nggak seperti ini ke aku waktu aku pertama masuk sekolah.. aku masih inget dan denger gimana mata, tangan kalian, lidah kalian ngeliat aku saat itu,..hehehe..”
Suasana berubah menjadi awkward.
“Tapi heeii,..jangan salah sangka,..aku paham kok,..paham betul seperti itu,..udaahh,,.tenang,aku udah biasa diliat kayak gitu, jadi kalian yang mau nggak ngelakuin kayak gitu lagi mulai besok aku masuk sekolah,.aku ngucapin terima kasih,.bagi kalian yang mau nerusin ngeliat aku sama seperti sebelumnya, juga silahkan aja,..tapii,. tentu aku nggak akan seramah kayak gini lagi,..sama kayak nggak semua orang yang bisa masuk dan bersenang senang, seperti kalian saat ini..
Melany, Iwan, Arta dan Santo terdiam. Mereka paham apa yang ingin disampaikan oleh Dani. Tak sadar, air mata menetes di sudut mata mereka.
“Yaahh,..untuk hari ini dan selamanya,,.aku angkat gelas untuk kalian semua,..selamat bersenang senang temanku semua,..pleeeaase,..bersenang-senanglah..”
Suasana masih canggung.
“Ooh,.dan tolong maafkan saya, apabila ada kata-kata saya yang tidak pantas, sehingga membuat susasana tadi nggak menyenangkan,..saya minta maaf…dan untuk menebus kesalahan saya ini, silahkan teman-teman sekarang pindah ke gedung sebelah, dimana pesta yang lebih besar dari ini udah menunggu.. dan ada hadiah langsung buat teman-teman disini. Hitung-hitunglah, sebagai tanda perkenalan dari saya..Uum,.sebuah AIPhone 6 untuk kalian semua udah lumayan cukup, kan? Nanti disana masih banyaaaakk kejutan lagi buat kalian,.oya,kalo AIPhone-nya udah diterima, jangan lupa telepon-telepon saya nanti,yaa..”
Suasana berubah menjadi histeris. Dani mengayunkan tangannya sebagai isyarat, dan kemudian sebuah pintu terbuka. Di luar sudah menunggu sebuah bus eksekutif yang akan membawa mereka ke gedung tempat pesta akan diadakan selanjutnya. Melani, Iwan, Arta dan San san terkejut dengan kejutan yang dilakukan Dani saat ini. Mereka kemudian memandang Dani yang tetap mematung di tengah dance floor, begitu pula dengan orang-orang berpakaian hitam di seberangnya. Dalam sekejap, mereka paham rencana Dani. Mereka berempat lalu beranjak mendekati Dani yang diam tersenyum ke arah orang-orang berpakaian hitam tersebut.
“Yang mana yang namanya Bana?” Tanya Dani setelah tidak ada seorangpun selain mereka berlima dan orang-orang berpakaian hitam. San san menghitung, total ada empat orang, dan salah satu di antara mereka melangkah maju.
“Ahahahahaha,…kamu sengaja bikin pesta ini, karena kamu tau kalau aku bakal nyari kamu, kan..dan sengaja juga kamu kosongkan tempat ini, supaya nggak ada korban selain selain kalian berlima, kan?” Ujar seseorang yang bernama Bana, sambil membuka tutup kepala yang sedari tadi digunakannya.
Dani tersenyum. “Yah,..kalau nggak seperti ini, gimana bisa kita mulai pesta sebenarnya?”
“Apa mau kalian? ”Dani bertanya serius, tiba-tiba merubah raut wajahnya.
“Serahkan Smartphone kalian., Kami perlu teknologi kalian” jawab Bana menjulurkan tangannya.
“Menyerahkan ke kacung sama reptil macam kalian? Kalian pikir kami gila? Melani menimpali.
“Hehehe,..kita tau itu nggak mungkin terjadi, kan?” Arta mengacungkan tinjunya.
“Sama sekali nggak akan terjadi” Iwan tersenyum dari sudut bibirnya. RRRAAAAAGGHHHH!!
Ketiga orang di belakang Bana mengerang, dan kemudian terjadi perubahan pada tubuh mereka. Tubuh mereka mengeluarkan lendir yang pelan-pelan merubah struktur tubuh mereka menyerupai reptile. Bau menyengat serta geraman-geraman mengerikan membahana di ruangan tersebut, menebarkan ancaman dan kematian.
“Hahaha! Kalian sudah membuat mereka marah. Tampaknya sudah tidak sabar ingin segera mengunyah tubuh kalian” Bana tertawa jumawa.
“Grr,..kamu pikir kami siapa,hah?” tangkas San san geram.
Bana tertawa lebih keras “Hahaha,..percuma saja,. kalian bukan kami,..sekarang, serahkan.,…BUUUAAAAGGGHHH!”
Sebelum Bana menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan secepat kilat menghantam wajah Bana, sehingga ia terjungkir, melayang cukup jauh, lalu menghantam dengan keras dinding lounge. Meja, kursi yang terhantam tubuh Bana, hancur berkeping-keping. Diatas lantai tempat Bana tadi berpijak, tampak Dani berdiri, menyempurnakan kuda-kudanya. Rupanya tadi Dani yang menyarangkan sebuah tendangan terbang ke arah wajah Bana.
Di sudut matanya, Dani berdiri sambil berkomentar sinis, ”Sampai kapan kamu mau bicara, hah? Powermu itu di mulut doang, toh? menyedihkan”.
Bana perlahan bangkit dari puing-puing meja dan kursi. Raut wajahnya menyeringai menyeramkan. Tampak bekas tendangan Dani, mengelupas sebagian wajahnya, dan dari bagian yang terkepulas tersebut, mulai muncul api yang memijar. “Tampaknya, aku harus membunuh kalian untuk mengambil benda itu dari kalian”
“Hmmph” Dani tertawa sinis.“Kami tidak pernah memberi. Kami selalu mengambil..Hari ini,..kami ambil nyawamu untuk semua dosamu!” ujar Dani sambil menunjuk langsung ke arah Bana.
Bana tertawa.“ Kalian akan menyesal berhadapan dengan aku. Patih penguasa api neraka, ..BANASSSPAAATIIII,.!!!”
Tubuh Bana mengelupas satu demi satu dengan cara yang mengerikan. Api bermunculan dari bagian-bagian yang terkelupas tersebut. Tidak hanya berpijar, api itu menjilat, menghancurkan apa saja yang disentuhnya,. Kondisi itu berlangsung , sehingga api dengan sempurna menyelimuti tubuh Bana, dan dengan satu pijaran kilat,.menampakkan wujud asli Banaspati.
Seluruh tubuhnya hitam legam, berbalut dengan urat-urat yang menjijikkan, menyelimuti seluruh tubuhnya, kecuali telapak tangan, telapak kaki serta kepalanya. Wajah Banaspati Nampak mengerikan, terbakar oleh jilatan api, namun kedua matanya seakan terbuat dari Kristal, tajam lurus menatap Dani dan kawan kawannya.
“Hweehweeheee,..Sekarang,mati kalian!” Banaspati memperlihatkan taring apinya yang mengerikan, mengancam siapapun yang berada di hadapannya.
Dani tersenyum. Ia kemudian mengambil Smartphone dari saku celananya.
“Mati? Nanti-nanti aja, deh..kamu duluan,ya?” Arta mengambil Smartphone dari saku jaketnya.
“Hahaha! Kita anter mereka mati duluan gimana, bro?” Iwan nyengir, serta sambil merangkul Dani, sahabatnya, ia juga sudah menggenggam Smartphone di tangannya.
“Setuju,..” San san maju sambil mengenggam Smartphone-nya.
“Hancurkan monster jelek di depan kita inii,..aaarrghhh!” geram Melani galak.
Teman-temannya sempat kaget melihat reaksi Melani, tapi kemudian mereka malah tertawa.
“Apaan,sih?” balas Melani sebal.
“Hahaha,..habis,kamu sih,Mel.. Nah,sekarang saatnya..Nggak salah juga mengorbankan ikan teri, dan bersabar untuk kemudian dapat ikan kakapnya” Tangkas Dani.
Iwan dan Arta sempat tersadar, “Hei, Dan..Berarti memang sengaja kamu biarin kita ngurusin Dhewor, supaya kamu bisa dapet bosnya,ya? Kita ngurusin teri,dong??”
Dani tertawa, lalu mengedipkan matanya.
“DAAAAAAAAAAAAAAANNN!!”
San san menimpali, ”Mau teri mau kakap,itu kerja tim. Harusnya memang begitu”
“Hahaha! Yah,..maaf ya, teman-teman…nanti protesnya dilanjutkan habis kita menjamu kangmas Banaspati ini, ya..”
“Dan,..hati-hati,, Banaspati ini kayaknya berbahaya banget” Ujar Melani khawatir,
Dani tersenyum ke arah Melani. “Jangan bercanda, Mel”
“BUNUH MEREKAAAAAAA!!” Perintah Bana garang.
GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGHHHHH!! Para Caruga pun maju serentak.
“Teman-teman,..” Dani tersenyum sampil men swipe beberapa kali layar Smartphone dengan beberapa pola usapan tertentu, dan hal ini pun dilakukan juga oleh teman-temannya. Usapan pola tersebut ternyata kode, karena begitu selesai, interface Smartphone tersebut berubah drastis, dan terdapat sebuah tombol aktivasi secara digital.
Dani dan teman-temannya menekan tombol tersebut secara bersama-sama.
COSTUME READY!
GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGHHHH!!!!
Sesaat para Caruga menerjang Dani dan kawan-kawannya, pijaran cahaya yang sangat menyilaukan menyelimuti tubuh mereka.
TA!
“Heaaahhhh!” Seekor Caruga terpental terkena pukulan dari Arta.
SA!
“SSsssssaaaHHH!” Caruga yang lain jatuh terjerembab, terinjak kaki San san yang menapak dalam ke tanah.
WA!
Caruga berikutnya terpental ke udara, terkena tendangan di udara dari Iwan
LA!
Dalam sekejab, Melani melesat ke udara, menyambut Caruga yang tadi di tendang oleh Iwan, dan kemudian menghantamkannya kembali ke bawah dengan sebuah sikutan.
“Heaaaaa!!!!”
Banaspati tercengang. Diantara kebingungan mengenai begitu cepatnya semua terjadi, tiba-tiba Banaspati melihat sekelebat cahaya berwarna merah melesat ke arahnya. Dani!
DA!
“Ini pembayaran hutangku atas semua yang sudah kamu lakukan kepada kami” ujar Dani saat ia sudah ada tepat di depan Banaspati yang tidak dapat melakukan apapun.
Dalam hitungan detik, Banaspati sudah dihujani pukulan dan tendang bertubi-tubi dari Dani, dan berakhir dengan sebuah tendangan putar tepat di wajah Banaspati yang kembali terjerembab ke sisi lain ruang lounge.
UAAAAAAAAAAAAGGHHH!!
Dari keping-keping ruangan yang mulai hancur disana sini,..tampak lima sosok berdiri dengan gagahnya. Kostum mereka terpasang rapat, dengan ke khasan huruf Jawa Da, Ta, Sa, Wa, La, terukir indah di helm mereka masing-masing.
“Teman-teman,..mari kita selesaikan ini” Dani memberi komando.
“SIAP!”
Serentak, mereka berkelebat menuju sasaran masing-masing. Iwan meloncat tinggi, menyambut Caruga yang akan menyerang dari udara. Ia dan Caruga itupun bertukar pukulan di udara.
“HYaaaaahhh!! Hyaaaaahhh!!”
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAGGHHH!!”
San san meloncat tinggi di udara, dan menukik tajam ke bawah, bermaksud untuk menyarangkan pukulan terakhir kepada Caruga yang terlebih dahulu melesak ke dalam tanah. Namun, Caruga tersebut berhasil melarikan diri, sehingga serangan San san sia-sia. Saat akan menyerang balik San san, Melani mengirimkan sebuah tendangan tepat di tulang iga Caruga.
“AAAAAAAAAAAARRRRGGHH!!!””
Caruga tersebut memekik kesakitan, dan meluncur menghantam dinding dengan keras. Debu-debu beterbangan, dan sebelum semua itu usai, San san yang sudah kembali siap, meluncur mengejar Caruga tersebut, dan melesakkan tinjunya ke arah kepala Caruga.
“Heeeeeeeeeeeeeeeeeaaaaaa!!”
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”
Tinju San san menghantam tepat di tengah mulut Caruga, melesak masuk hingga menembus kepala belakang Caruga tersebut yang mengakibatkan hancurnya dinding di belakang mereka. San san meraih tangannya dan mundur, karena di belakangnya, Melani sudah ikut meluncur, dengan sebuah tendangan tepat di dada Caruga malang tersebut.
KRAAAAAKK!!
Terdengar bunyi tulang dada yang remuk begitu keras di udara. Caruga tersebut tewas di tempat.
Caruga yang ada di dekatnya, tampak ketakutan. Ia berusaha mencari jalan untuk melarikan diri. Namun malang, sebelum ia bisa bergerak, sebuah pukulan keras diterimanya dari belakang, menghantam tepat belakang kepalanya. Dani yang melakukannya.
“Ta! Buat kamu!”
Caruga tersebut melayang ke arah Arta, sementara Arta bersiap-siap dengan kuda-kudannya.
“Heeeeeaaaaaaaaattt!”
Arta menebas sekuat tenaga ke arah kepala Caruga tersebut, dan terus hingga seluruh tubuhnya terbelah menjadi dua. Jeritan pilu Caruga tersebut, tak menghentikan Arta yang tanpa ampun menebas hingga tuntas.
Banaspati yang melihat kondisi itu, meloncat tinggi, bermaksud untuk mengepung Iwan yang masih bertarung dengan seekor Caruga di udara. Banaspati menyiapkan pijaran api ditangannya.
“Makan ini!”
Banaspati menyerbu Iwan dengan pijaran-pijaran bola api, yang mengejar Iwan. Iwan yang terdesak, terpaksa menyudahi pertarungannya dengan Caruga tersebut, dan mulai berkonsentrasi menghadapi bola-bola api Banaspati.
“Arrgghh!” Iwan mengaduh kesakitan saat sebuah bola api menghantam tubuh sebelah kirinya.
Caruga di bawahnya tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia lalu memutar ekornya, dan membelit leher Iwan.
“SSSSSHHHAAAAAAAAAAAAAA!”
Caruga dengan Iwan di belitan ekornya, menukik turun menghantam tanah di bawahnya.
“Ughh!”
Iwan terjerembab dengan keras di bawah. Banaspati yang masih diatas, berkonsentrasi di tangan kirinya. Pijaran api yang menjilat, mulai membentuk sebuah cambuk.
“Maaaattiiiiiiii!!”
Banaspati melontarkan cambuknya ke arah Iwan. Jilatan panas bahkan sudah terasa dari jarak yang jauh. Sebelum cambuk Banaspati sempat menyentuh Iwan, Arta lebih dahulu menerjang masuk, dan mengambil tubuh Iwan menghindari sasaran tembak cambuk Banaspati.
Arta berhasil,namun..
“Aaahhh!!”
Arta sedikit berguling ke kanan, karena punggungnya sempat terkena cambuk Banaspati.
“Iwan!”
“Sialaaann! Sekali lagi!”
Banaspati mengangkat cambuknya, dan kembali menghantamkannya ke arah Iwan dan Arta.
San san melesak masuk. Ia menghantam wajah Caruga tersebut, dan kemudian memeluk sisa ekor yang masih membelit leher Iwan.
“HAAAAAAAAA!”
San san sekuat tenaga mengangkat tubuh Caruga tersebut melalui ekornya, dan mengarahkannya ke lintasan cambuk Banaspati.
“KIIIIEWWWWWWWWWWW!!”
Tubuh Caruga terbelah dua begitu disabet cambuk api Caruga. Jeritan dan ceceran tubuh Caruga memenuhi udara.
“Sialaaaannn!!” Banaspati kesal, karena serangannya tak berhasil mengenai musuhnya, malah membunuh Caruga yang dibawanya.
“BANASPATIIIIIIII!”
Dari kejauhan, Banaspati melihat Dani melesat maju dengan penuh amarah.
Banaspati terpaksa menyabet ke samping cambuknya. Sesaat sebelum cambuk tersebut menyentuh tubuh Dani, Dan mengangakat tangannya, dan dengan pijaran cahaya kecil dari tangannya, keluarlah Rebab yang digunakan untuk menangkis dan menangkap cambuk Banaspati. Banaspati yang kaget, tak sempat berbuat apa-apa ketika ujung Rebab Dani menusuk tepat di jantungnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGGHH!!”
“HEEEEEEEEEAAAAAAAAAAA!!!”
Dani kemudian memegang Rebab dengan kedua tangannya, melempar tubuh Banaspati kebawah dengan sekuat-kuatnya. Tubuh Banaspati menghantam tanah dengan kerasnya, sehingga membentuk kawah kecil dibawahnya. Dani mengikuti Banaspati dan mendarat diatas tubuh Banaspati.
“Banaspatii,..berani benar kau melukai teman-temanku,..TIDAK KUMAAFKAN!”
Banaspati yang sudah sekarat, terkekeh-kekeh,..
“Bergembiralah untuk sesaat, prajurit.. Karena sebentar lagi, bangsa kami akan menggantikan setiap dari kalian di bumi yang makmur ini,..dan aku, akan berbahagia melihat itu di kahyangan nanti,hahaha….”
“Itu menurutmu,..ketahui ini,..selama aku ada,..takkan kubiarkan kalian menang.. Itu sumpahku”
Dani mengeluarkan panah ditangan kirinya, dan mulai menaruhnya di senar Rebabnya.
“Untuk kamu di alam sana, hadiah pengantar.Pergi ke neraka, dan terkutuklah kamu selamanya disana!”
“DANI!” Melani yang melihat keadaan itu, langsung menutup kedua tangannya ditelinganya.
“IWAN! SANSAN! ARTA!” Melani memperingatkan ketiga temannya yang lain,yang segera dilakukan oleh ketiganya, menutup telinganya.
“Hrrrrrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,..”
Dani mulai memainkan panah di senar Rebabnya. Ibaratnya badai, di ruangan itu menjelma menjadi pusat badai yang semakin lama, semakin menghebat. Nada-nada yang dihasilkan dari setiap gesekannya, merupakan nada yang tak dapat terbayangkan, mengerikan, penuh dengan ajakan kematian. Nada-nada yang tidak akan diharapkan seorang atau seekor makhluk hidup pun untuk didengarkan. Mata Banaspati melotot, tubuhnya mengejang, nampak sedang mengalami kesakitan yang menghujam tajam tanpa ampun disetiap sel tubuhnya, membuat ia berharap untuk tidak pernah dilahirkan demi berakhir mendengarkan nada demi nada. Sementara wajah Dani menengadah, matanya bersinar menghadap langsung ke langit, seakan sedang menerima mandat kematian langsung dari sisi gelap kahyangan.
“DANIIII! HENTIKAAANN!” Melani memberanikan diri untuk menerjang mendekat ke arah Dani, karena nada ini akan menghancurkan siapapun yang mendengarnya, tidak peduli kawan atau lawan. Dani memang belum bisa mengendalikan kekuatan ini.
“DANIIIIIIII!!” Melani menjerit dalam hati, dan ajaib! Tiba-tiba Dani tersadar, menghentikan permainannya. Ia lalu meloncat, membuang Rebab yang sedari tadi di pegangnya, lalu duduk terjatuh meringkuk ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, seiring dengan dilihatnya tubuh Banaspati yang perlahan melepuh, dan menerbangkan sisanya ke udara dengan tarian darah yang tersebar ke segala arah. Pemandangan yang mengerikan.
Melani segera melompat, memeluk tubuh Dani yang ketakutan.
“Sudah, Dani..sudah..semua sudah selesai,..aku, Iwan, Arta dan San san sudah tidak apa-apa,..sudah,..sudah,..” Bujuk Melany menenangkan.
Sementara itu, Iwan, San san dan Arta mendekati Dani yang masih ketakutan memeluk erat tubuh Melani..
……………………………………
…………………………………….
“Bagaimana, kangmas? Untung saja, kita tidak perlu turun tangan”
“Iya,..saya sempat cemas, kangmas. Barusan den Dani hampir tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Ini sangat berbahaya.”
“Saya kira, ini tanggung jawabmu, kangmas.. Tolong jaga Raden dengan baik. Kangmas bilang, harus pelan-pelan,..tapi kalau melihat hari ini, saya berpendapat sebaliknya. Mohon agar kangmas segera memperhatikan hal ini”
“…Saya mengerti, nyimas..Saya akan lebih awas lagi”
Seorang yang terlihat berwibawa, dan berumur di atas yang lainnya terdiam melihat Dani dan kawan-kawannya dari jauh. Sudah dari awal, mereka berlima mengawasi perkembangan demi perkembangan peristiwa hari ini. Ia kemudian mengelus-elus jenggotnya.
“Masih banyak yang harus dipersiapkan.. Mari, saudara semuanya, kita kembali ke tugas masing-masing”
Keempatnya memberikan salam dengan menakupkan kedua tangan di depan wajah masing,.. lalu satu persatu menghilang di semilirnya angin malam itu.

Bersambung...........





Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger