Posted by : AksaraProject Saturday, March 26, 2016

Chaos



Mata Arta membelalak tak percaya, ketika 15 orang dengan memakai armor hampir sama dengannya, namun dengan polesan dan garis warna merah darah, membantai perampok-perampok bank tersebut dengan sadis.
“Tolong,..toloong!!” jerit para perampok sambil membuka tangan mereka tanda menyerah. Namun tanpa ampun, mereka satu persatu dibantai tanpa sisa.
“HENTIKAN!” Arta yang tak tahan lagi segera mengaktifkan armornya melalui smartphone yang dibawanya.
COSTUME READY!
Iwan dan Sansan tak tinggal diam, demi melihat kawan mereka maju duluan. Mereka juga menyiapkan smartphone mereka. Melani melirik ke arah Dani. Dani yang memandang tajam ke arah 15 orang asing tersebut, tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan mengaktifkan armornya.
Melani mendengus kesal. Kadang, ia seperti tak mengenal temannya tersebut. Melani meraih samrtphone dari saku jaketnya, dengan usapan tertentu di layarnya, mengakibatkan interfacenya berubah menjadi satu tombol tunggal. Melani menekan tombol tersebut dengan kuat. Tubuhnya segera terselimuti cahaya yang menyilaukan, dan segera saja armor terpasang sempurna di seluruh tubuhnya.
“What the,..? Hey,.is this serious??”
“How could,..?”
Sebelum orang asing dengan armor merah tersebut selesai berbicara, sebuah pukulan tepat menghantam wajahnya, mengakibatkan tubuhnya terjerembab ke belakang. Untung tubuhnya dapat ditahan oleh dua orang dibelakangnya.
“Don’t mess with us, kiddo!”
Salah seorang menyerang Arta yang baru saja mendarat setelah pukulannya berhasil mengenai salah satu dari mereka. Arta yang meskipun tidak dalam posisi sempurna, tetap mampu menahan sebuah tendangan yang mengarah ke kepalanya. Tangan kirinya diangkat ke atas. BLAARR! Dua metal beradu, menimbulkan bunyi yang luar biasa keras.
“Heeaaa!”
Orang asing tersebut tak menunggu Arta untuk menyempurnakan kuda-kudanya. Ia kembali menyerang dengan menarik kembali kaki yang tadinya menyerang wajah Arta, dan lalu menggantinya dengan kaki yang lain. Kali ini ia mengincar rusuk Arta. Arta menurunkan telapak tangannya sedikit ke bawah, lalu dengan memanfaatkan tenaga tendangan tersebut, ia melontarkan tubuhnya ke udara, dan kembali dengan sebuah pukulan ke arah bawah.
“Haaaaaaaaa,..”
“Uuughhh!!”
Pukulan Arta ternyata dapat ditahannya sekalipun tak sempurna. Namun ternyata, orang asing ini memiliki semangat tempur yang tinggi. Ia melancarkan kembali serangan-serangan balasan yang cepat. Arta sempat harus berkelebat dua kali kebelakang sebelum ia membetulkan posisinya, dan kemudian melayani jual beli pukulan oleh lawannya tersebut.
Teman-teman orang asing itupun tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan senapan AK 47 yang sudah dimodifikasi tersebut, dan mengarahkannya ke arah Arta. Namun sebelum peluru berhasil dimuntahkan menuju Arta, serangkaian bonang meliuk indah di antara mereka, lalu meliuk tajam, menghancurkan apapun yang ada di depannya. Kontan, para orang asing yang sedianya sudah siap dengan senapan mereka menjadi kocar kacir, berguling-melompat kesana kemari, menghindari amukan bonang milik Sansan. Memanfaatkan kesempatan tersebut, Melani maju merangsek, membabat lawan didepannya, disertai dengan Iwan yang menari di udara dengan tendangan-tendangan mautnya.
Suasana di dalam bank tersebut bagaikan kapal pecah. Hancur dimana-mana. Dani sedari tadi diam memperhatikan, mempelajari siapa lawannya tersebut. Ia merasa bahwa armor lawannya tersebut terlalu sulit untuk disimpulkan sebagai kebetulan semata. Bentuk, fungsi, kemampuan, semua hampir serupa dengan apa yang Dani kenakan bersama teman temannya ini, meskipun harus diakui, armor lawannya terkesan lebih kasar dan lebih berat buatannya.
Siapa mereka?
“Huft!” Dani mendengus kesal, tak mampu mencari jawaban yang ia cari. “Sudahlah” Dani garuk-garuk kepala. “Aku paksa saja mereka bicara, habis perkara” ujar Dani sambil mengaktifkan armor di smartphone-nya. Segera, cahaya merah menyelimuti tubuhnya, dan begitu cahaya itu memudar, tubuh Dani sudah terbungkus armor dengan sempurna, dengan ukiran huruf DA di helm-nya. Tak buang waktu, Dani segera melompat ke tengah pertempuran.
“DANI! MINGGIR!” tukas Melani kesal karena tiba-tiba Dani merusak ritme tarungnya, dan merebut ke tiga lawan di depannya begitu saja. Dani tak mengindahkan protes Melani, dan tetap saja menyerang ketiga orang asing tersebut.
RATATATATATATATATA
BLAAR! BLAAAAARR!
Rentetan peluru tak mampu menahan laju tubuh Dani, yang terus merangsek maju ke arah penyerangnya. Tubuhnya meliuk, menghindari setiap pola serangan, dan langsung menyerang balik.
Heaaaaaaaaaaaaaaaa!
Serangan demi serangan harus diterima ketiga penyerangnya. Satu persatu rubuh, terjerembab masuk ke dalam lantai. Dani terlalu tangguh untuk mereka.
“HENTIKAN!”
Sinar laser berwarna biru, berkelebat di seluruh ruangan. Bagai misil pencari panas, laser tersebut langsung menuju ke setiap pertempuran di antara Dani cs dengan lawan-lawannya. Namun ternyata, laser tersebut tak menghantam salah satu diantara mereka, melainkan bertujuan untuk memisahkan pertarungan tersebut. Arta melompat mundur, diikuti oleh Iwan, Melani dan Sansan. Sementara Dani hanya diam di tempat, dan menangkis kembali laser yang menuju ke arahnya.
“JANGAN GANGGU AKU!” Teriak Dani marah.
Laser yang tadi ditangkis oleh Dani, kembali ke pemiliknya. Dengan satu tangkapan kecil, laser itu kembali masuk ke sela sela lubang di tangan si penyerang, yang ternyata adalah seseorang yang memakai armor yang hampir sama dengan orang-orang asing tersebut, hanya armor ini lebih sedikit rumit dari desain dan fungsinya, dibanding armor-armor lainnya.
“Siapa lagi iniii?” Dani menggeram.
“Mee,..merah muda,..armor merah mudaa” komen Iwan lebay
Melani menjitak kepala Iwan dengan keras, sementara armor merah muda itu berjalan ke arah Dani cs dan orang-orang asing tersebut.
“Commander!” sigap orang-orang asing tersebut sembari mengambil sikap istirahat di tempat ala militer.
Dani cs nampak terkejut, dan mereka makin penasaran dengan penyerang mereka yang baru saja datang ini.
“Mee,.mereka tunduk sama si merah mudaaa,..” komen Iwan terkejut.
Dan sekali lagi jitakan Melani yang keras itu mampir ke kepala Iwan.
“Mau ikut main juga? ayo sini,..” tantang Dani dingin.
“Dan, sebentar dulu!” cegah Arta.
“Kamu Dani, kan? Dani card,..eh,itu nama panggung kamu,.ehm,..Dani Putra Brahmana,kan?” si armor merah muda angkat bicara,..dengan nada bicara seorang perempuan.
“Meeraah,.muda ituuu pereemm,…” Iwan nggak jadi meneruskan komentarnya saat melihat Melani menyiapkan jitakannya lagi.
Arta kaget setengah mati. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Suara yang bertahun tahun tak didengarnya.
“Kak Indah?”
Iwan menoleh terkejut. “Eh? Ini kak Indah? Bukannya dia di Jepang?”
Si armor pink mengangkat kedua tangannya, membuka helm di kepalanya. Nampak mekanisme rumit berjalan, saat helm tersebut membuka menjadi dua, dan menampilkan seraut wajah cantik di baliknya.
“Kak Indaaaaaahh!” Melani berlari ke arah Indah, langsung memeluk dirinya. Melani bahkan lupa, bahwa ia masih menggunakan armor.
Indah tertawa, dan menyambut pelukan Melani dengan hangat. “Melaniii,..apa kabaar? kamu pasti makin cantik aja sekaraang”
“Ah, Kak Indah tuh yang makin cantik. Rambutnya aja makin panjang, jadi iri,..Kak Indah kapan pulang ke Indonesia?” Melani bergayut ke Indah, seakan tak mau melepaskan pelukannya.
“Satu minggu yang lalu” Jawab Indah sumringah. Indah lalu menoleh ke arah orang asing yang masih istirahat di tempat tersebut. “At ease, boys. They are not enemies”
Kemudian yang terjadi, orang-orang asing itupun melepas helm mereka. Nampak wajah-wajah Eropa, Amerika dan Asia di balik helm tersbut.
“Commander,..sorry to disrupt,.we think they were enemies when they attack us,..”
“They attack you because you were too much!” potong Indah marah. “We are judge, not executioner. Remember that??”
“Yes sir!” orang-orang asing tersebut kembali bersiap.
Indah geleng-geleng kepala melihat situasi di sekitarnya. “Gear up, we’re leaving shortly”
“Yes sir!” orang-orang asing tersebut memberi hormat, dan membereskan bukti bahwa mereka pernah hadir disini, seperti selongsong peluru, cctv, dsbnya.
“Armor apa ini? Bagaimana kakak dan orang-orang ini bisa dapat yang seperti ini??”
Indah kembali geleng-geleng kepala. “Kamu ini,..kakak kandung pulang bukannya nanya yang lain, langsung to the point. Sebenarnya, adik kandungku itu kamu apa Melani,sih?”
“Saya juga adik kandung kakak, lhoo. Ka Indaaaah,..i misss yoouuuughhh” Iwan berlari meniru Melani yang ingin memeluk Indah,namun tak kesampaian karena kaki Melani sudah lebih dulu mampir ke muka Iwan.
Indah tertawa. “Iwan, kamu sehat-sehat aja, baguslah.. yang disebelah sana itu, Sansan,bukan?”
Sansan tersenyum, melambaikan tangannya dari jauh. “Hai,kak. Salam kenal” Sansan sudah sering dengar tentang Indah dari Melani dan Iwan,..namun sedikit yang ia dengar dari Dani.
“Kemudian,..yang disana berarti,.Arta,?”
Arta mengangkat tangannya kedepan helmnya, lalu pelan-pelan helm tersebut memudar, dan tampak wajah Arta yang sedang tersenyum.
“Kak Indah,..apa kabar?”
“Baik,..” jawab Indah sembari tersenyum.
“Kakak belum jawab pertanyaanku, dan Arta, Melani,kenapa kalian buka helm kalian?? lupa dengan peraturan kalau kita tidak boleh tampak di depan umum??!”
Arta hanya tertunduk mendengar semprotan Dani, sedangkan Melani hanya bersungut sebal.
“Dan,..armor ini proyek ayah dengan seorang pengusaha. Proyek AKSA, namanya. Ancient Knight System Armor”
“Ayah?,..jadi ayah bermaksud memperbanyak armor yang aku pakai ini?”
Indah tersenyum, “Secara umum,ya. Namun penggunaannya lebih ke arah eksplorasi ilmu pengetahuan, seperti penelitian di laut dalam atau di perut bumi,..”
“Membunuh perampok seperti yang kakak lakukan ini yang kakak maksud sebagai eksplorasi ilmu pengetahuan??”
Indah menarik nafas, “Bukan Dani, bukan ini yang aku maksud. Ini memang diluar sepengetahuanku. Terus terang, aku langsung kemari setelah dapat pemberitahuan dari HQ, setelah sebelumnya aku sedang di perairan Okinawa, meneliti terumbu karang disana. Asal kamu tahu, aku nggak pernah meminta team ini secara khusus, namun rekanan ayah yang merekomendasikan orang-orang ini sebagai tester armor. Percayalah, Dan. Kakak nggak pernah sengaja bermaksud demikian. Hal ini, akan kakak bicarakan secara khusus sama ayah”
“Tidak usah. Aku yang akan menanyakannya langsung kepada ayah” tukas Dani acuh tak acuh.
Indah geleng kepala pelan, “Terserah kamu,lah” Kemudian Indah menoleh ke arah Melani, Sansan dan Arta. “Ok, sampe ketemu lagi,ya?” Indah sempat mencuri pandang ke arah Arta “Jaga diri kalian baik-baik”
“Allright, team. Move out” Indah memberi perintah, dan dalam sekejab, 15 orang asing dengan armor tersebut melesat pergi, secepat kilat meninggalkan Dani cs. Indah baru saja melangkah sebelum ia menghentikannya dan menoleh ke arah Dani. “Dan,..kakak turut berduka atas apa yang sudah terjadi pada Ratna,..yang sabar,ya..”
Dani hanya diam sembari menunduk.
Indah menarik nafas meliat reaksi adiknya itu. Ia sudah terlalu mengenal Dani. “Oke semuanya,..jya! ”Senyum Indah sebelum wajahnya tertutup kembali oleh helm, dan tubuhnya melesat pergi.
Dani mengeraskan kepalan tangannya.
######################
“Pak Dani,..tunggu sebentar,pak..pak Dani,..”
Seorang petugas resepsionis tergopoh-gopoh, berusaha menahan laju cepat Dani yang mengarah ke kantor ayahnya. Dani yang tak menggubris permohonan resepsionis tersebut tak mengindahkan prosedur penerimaan tamu, karena Dani tidak memerlukan hal tersebut. Ayahnya adalah pemilik perusahaan Brahmana Corp ini, karena itulah semua karyawan disana tak ada yang berani menghentikan tingkah lakunya, meskipun banyak yang menyesalkan sikap Dani tersebut. Namun, kali ini resepsionis tersebut merasa perlu menghalangi Dani, karena saat ini pemilik perusahaan tempat ia bekerja, sedang menemui tamu penting.
“Mas Dani, tolong berhenti sebentar” pinta seorang pria eksekutif paruh baya yang sudah menghadang Dani saat ia masuk ke satu ruangan. “Om Sasmita, minggir” pinta Dani sambil tetap berjalan cepat. Sasmita, salah satu presdir perusahaan dan juga tangan kanan ayah Dani, hanya bisa diam tak berkutik, namun tetap berusaha menghalangi keinginan putra bungsu atasannya tersebut. “Mas Dani, bapak sedang ada tamu. Mas Dani tunggu sebentar di ruang tamu, ya? sebentar saja” Bujuk Sasmita lagi. Dani menghentikan langkahnya. Diam. “Dan apa yang mau aku sampaikan ini lebih penting daripada tamu ayah, jadi tamu ayah itu bisa menunggu” Dani melanjutkan langkahnya, yang hanya bisa diamini oleh Sasmita, dengan memberikan jalan dengan enggan untuk Dani lewati. Ia mengenal Dani sejak kecil, dan cukup tahu bahwa apabila putra bungsu atasannya ini apabila keras kepalanya keluar, maka tak ada yang dapat menghalanginya.
“Ayah, aku mau bicara dengan ayah” Ujar Dani saat ia masuk ke dalam ruangan utama di kantor tersebut.
Teddi Brahmana, seorang ilmuwan dan pengusaha senior, baru saja selesai bercakap dengan tamunya di sofa ruang kerjanya. Dani melihat ke arah tamu ayahnya tersebut. Sosok kakek dengan rambut yang memutih seluruhnya, bersandar ke depan dengan dibantu oleh sebuah tongkat, namun berbusana jas berwarna putih lengkap, mengisyaratkan bahwa dirinya juga adalah seorang pengusaha seperti ayahnya. Di belakangnya, tiga orang bertubuh tegap berbusana safari hitam, serempak melihat Dani dengan pandangan waspada. Teddi melirik ke arah anaknya dengan pandangan kurang suka, dan rupanya ekspresi tersebut ditangkap oleh tamu tersebut.
“ Saya permisi dahulu, pak Teddi. Terima kasih atas waktunya, terima kasih juga atas informasinya. Saya atas nama perusahaan, menyampaikan maaf yang dalam serta rasa malu kami atas kejadian yang tidak kita inginkan tersebut. Akan segera saya evaluasi tim R&D saya, serta tim taktis saya. Mohon sampaikan maaf dan terima kasih saya juga untuk nak Indah”
Dani kaget. Rupanya orang ini terkait dengan munculnya AKSA dan kakaknya tersebut di bank kemarin. Baru saja Dani akan melabrak orang tersebut, ayahnya sudah memberikan sinyal tajam agar Dani tidak melakukannya.
“Pak Panut, saya juga mengucapkan terima kasih atas waktu dan pengertian bapak. Semoga kerjasama kita tidak sampai terganggu karenanya”
Kakek yang dipanggil Panut tersebut tersenyum ramah. “Terima kasih atas pengertian pak Teddi” Setelah cukup lama berjabat tangan, Panut menoleh ke arah Dani. “Ini putra bapak?”
“Ah,.iya. Ini Dani, putra bungsu saya. Dia masih kuliah, mengambil akuntansi. Walau masih kecil, dia sudah bantu saya disini, handle accounting”
“Ah,luar biasa. Pertama nak Indah. Dia rela meninggalkan pekerjaannya di Jepang setelah lulus kuliah, hanya demi menjadi tester armor AKSA. Sekarang, adiknya sudah pegang keuangan perusahaan sebesar Brahmana di usia semuda ini,.luar biasa,.luar biasa” puji Panut sembari manggut-manggut.
“Dani,.kenalkan,.beliau bapak Panut, pimpinan perusahaan Palagan,.tentu kamu sudah tahu, kan?”
Dani mengangguk. Ia memang tidak terlalu peduli dengan situasi luar, namun nama Palagan mampir ke telinganya sebagai salah satu perusahaan multi nasional, yang banyak bergerak di bidang penelitian, eksplorasi, dan sebagainya. Palagan terus berubah dari perusahaan yang tak dikenal, menjadi besar hanya dalam waktu kurang lebih setengah tahun. Waktu yang luar biasa untuk menjadi besar bagi sebuah perusahaan.
Namun apa peduli Dani. Ia hanya ingin segera dapat berdua dengan ayahnya. Maka, segera diraih tangan Panut, dan segera dijabatnya. Dani senyum seperlunya, sewaktu Panut dan rombongan meninggalkan ruang kantor Teddi Brahmana.
“Ayah,..apa maksud dari ini? Armor yang mirip dengan proyek Ashura, lalu kedatangan kak Indah ke Indonesia. Kenapa aku tidak pernah diberitahu??”
Teddi Brahmana berdiri di tepi jendela besar kantornya. Di sela tirai, ia memandang keluar. Tampak kota Jogja yang sibuk beraktivitas.
“Dani,..belum semuanya bisa ayah ceritakan ke kamu. Bukan karena apa-apa,namun ini demi kebaikan kamu juga. Ayah mengakui, kita kecolongan dengan kejadian di bank kemarin. Entah darimana, tentara sewaan, aset dari Palagan, dapat beroperasi tanpa seijin kita. Lalu kejadian selanjutnya kamu tahu sendiri. Untung ada Indah, dan dia dapat datang meski sedikit terlambat”
“Ayah bermaksud membuat pasukan tandingan?”
“Bukan,.ayah bekerjasama dengan Palagan dalam mengembangkan armor AKSA ini, semata-mata karena ayah melihat niat baik Pak Panut yang ingin agar eksplorasi ilmu pengetahuan tidak lagi mengenal batas. Bayangkan, kita dapat mengeksplorasi lautan paling dalam sekalipun, tanpa takut kehabisan oksigen. Atau, kita dapat masuk kedalam perut bumi terdalam sekalipun, tanpa ketakutan hancur terhimpit. Ayah akui, ada beberapa bagian dan konsep dari proyek Ashura yang ayah aplikasikan,.namun tidak semuanya dapat diterapkan di armor AKSA ini”
“TAPI TIDAK DENGAN CARA SEPERTI INI!!” geram Dani sambl menggebrak meja. “Ayah hanya akan menambah masalah dengan adanya armor ini. Ayah harus ingat, aku dan teman-temankku di proyek Ashura di persiapkan karena adanya ancaman Dewata Cengkar, dan ini belum berakhir. Apa jadinya apabila armor ayah dan kak Indah ini akhirnya jadi ancaman buat kita semua, dan mengganggu penyelidikanku tentang Dewata Cengkar? Ancaman itu masih belum berakhir, ayah..belum sampai aku bunuh sendiri Dewata Cengkar di tanganku, beserta si pengecut Minakjinggo itu, dan antek-anteknya yang lain”
“Dewata Cengkar sudah mati sejak pertempuran kalian yang terakhir”
“Tidak,.belum! dia belum mati!”
“Dani,..ayah paham perasaanmu,..tapi jangan kaitkan Ratna dengan pembalasan dendammu”
“Diam,ayah..ini bukan soal Ratna”
“Ini soal Ratna, Dan. Kamu harus belajar untuk mengikhlaskannya dan melanjutkan kembali hidupmu,..”
“DIAM! DIAM! Ayah salah! Aku akan buktikan itu!”
Teddi Brahmana menghempaskan tubuhnya ke kursi mewahnya. Ia kemudian memandang anak bungsunya tersebut. Anak bungsu yang ia pilih untuk mewarisi armor legendaris ini memang masih perlu banyak pelajaran. Ia masih harus banyak ditempa oleh pengalaman.
“Dani,..ayah harap kamu menghormati keputusan ayah. Kamu dengan proyek Ashura tetap berjalan sebagaimana mestinya. Proyek AKSA tidak akan mengganggu tujuan dari proyek Ashura. Ayah minta kamu percaya”
Dani diam. Ia masih membuang pandangannya ke arah luar.
Teddi Brahmana menarik nafas. Ia menarik sebuah koran yang masih terlipat rapi di mejanya, dan menyodorkannya ke aah Dani, “dan ayah harap,.lain kali kamu mesti hati-hati”
Dani melirik enggan ke arah koran yang ditujukan padanya. Sedetik kemudian matanya membelalak. Tangannya langsung menyambar koran tersebut dan dibacanya berita utama di koran tersebut berulang ulang. Membaca judul berita utama di koran tersebut saja, Dan hampir pingsan tak percaya, apalagi ditambah dengan foto yang dipajang besar-besaran di koran tersebut.
MANUSIA BESI MERAMPOK BMI 45, 3 ORANG TEWAS, 2 LUKA BERAT
Dani menyusuri foto yang terpampang di bawahnya. Nampak dirinya sesaat setelah menggunakan armor. Dani beruntung, foto tersebut tidak fokus pengambilan objeknya, sehingga lebih terkesan siluet ketimbang foto. Ditambah pula dengan sinar yang keluar dari tubuh Dani, semakin mengaburkan hasil foto tersebut. Dani cepat membaca ulasan tersebut, dan membanting koran tersebut dengan kesal setelahnya.
“SIAL!”
“Ada lebih dari setengah lusin saksi mata saat itu disana, yang melihat wajah kalian tanpa menggunakan helm. Apa penjelasanmu, Dani?”
“Aku,..aku sudah memperingatkan mereka bahwa,..”
“Dan sekarang kamu menyalahkan orang lain,.bagus,..benar-benar dewasa”
“ITU BUKAN SALAHKU! AKU SUDAH MEMPERINGATKAN MEREKA!”
“ITU SALAHMU! KAU PEMIMPINNYA, PEMIMPIN YANG TIDAK BECUS MEMIMPIN TIMNYA! KAU BAHKAN MENGIJINKAN TIMMU SENDIRI JATUH DALAM MARA BAHAYA, BAGAIMANA KALAU ADA YANG MENGENALI MEREKA? MEREKA DALAM BAHAYA, SADAR TIDAK??!”
Dani tercekat. Keringat dingin keluar dari dahinya.apa yang disampaikan ayahnya merupakan kenyataan yang tak dapat Dani ingkari.”A,.aku,..aku,..aahhh!” Dani akan melangkah keluar ruangan, saat ayahnya menghentikannya.
“Tunggu Dani,..ada lagi yang ingin ayah sampaikan”
Dani menghentikan langkahnya.
“….Tentang Ratna,…tentang pertunanganmu…sudah setengah tahun lebih, ayah kira kamu juga perlu memikirkan kembali tentang ini”
Dani tersenyum sinis. ”Apa yang bisa aku pikirkan? Ayah dan teman ayah yang menentukan nasibku selama ini,kan? Pertunangan Ratna, proyek Ashura, semuanya! lakukan apa yang ayah suka! Lagipula, aku mau bilang apa juga nggak akan ayah dengarkan,kan? Jadi ,permisi. Aku ada banyak kerjaan”
Dani berjalan keluar ruangan ayahnya dengan langkah lebar, menandakan suasana hatinya yang sedang marah. Teddi Brahmana memandang Dani hingga ia benar benar hilang dari ruangannya tersebut. Sekejap suasana menjadi sunyi. Di tengah kesunyian, Teddi Brahmana bertakzim, menutup matanya, serta mengambil nafas dalam dalam..
“Dani,..maafkan ayah,nak..” ujarnya lirih,..
###############################################
Suasana di perkampungan saat perayaan imlek, berarti mata akan dmanjakan oleh berbagai macam dekorasi unik dan indah, serta nuansa merah yang meriah. Untuk lidah dan hidung, harum semerbak shomay, dimsum, dan berbagai kuliner lezat lainnya, memenuhi sudut kampung tersebut, disertai dengan bau harum dupa di kelenteng dan kuil kecil disana. Setiap orang bersuka cita dengan nyanyian, perbincangan hangat, dan meriahnya pertunjukkan barongsai. Kursi-kursi dan meja kecil dipenuhi dengan gelak tawa, dan orang-orang yang ramah. Setiap orang menikmati malam itu, kecuali Dani yang duduk sendirian di salah satu kursi. Bersandar dan bertumpu kaki satu sama lain. Raut mukanya bersungut, sementara matanya berkeliling di sekitar, berusaha mencari sesuatu yang membuatnya tertarik. Namun, suasana penuh kegembiraan itu rupanya tak bisa mengenyahkan rasa gundah yang sedari siang dirasakannya.
“Dan,..jangan merengut kayak gitu,lah..enjoy, ok?” Sansan entah darimana, duduk di sebelah sahabatnya tersebut. Ia lalu menyuguhkan minuman kaleng yang disambut malas-malasan oleh Dani.
“Gimana kalo kamu jalan-jalan ke sebelah sana? ada banyak stand yang bagus. Melani sama Arta barusan ke stand ramai, tuh. Rame banget disana” Sansan berusaha menghibur Dani.
“Haloo,brooo…kok adem ayem aja disini? muter doong, hehehe…” Iwan bersama dengan dua orang perempuan, yang baru saja dikenalnya, langsung ambil tempat di antara Dani dan Sansan. Sansan tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini, sedangkan Dani tetap saja cuek. “Dan, kenalin nih! Ini Santi,.yang ini Rina..mereka barusan dateng dari luar kota, kuliah di Jogja katanya”
“Hai,..” Santi senyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Dani.
Dani mengacuhkannya dengan membuang muka. Suasana jadi sedikit tidak enak, lalu.. “Hahaha! temenku yang ini emang pemalu bangetttt,..maafin ya, say?” kedip Iwan menengahi. Santi dan Rina tersenyum, dan tak lama mereka berdua kembali tertawa tawa bersama Iwan. Sansan yang sesekali ikut tertawa, sedikit khawatir dengan kondisi Dani. Sudah sedari tadi Dani bersikap seperti itu. Kalau sahabatnya bersikap seperti itu, hanya ada dua hal di benaknya : moodnya sedang tidak baik, atau Dani sedang fokus memikirkan sesuatu. Dan sepertinya, kondisi pertama yang sedang dialaminya kini.
Malam semakin larut. Perayaan yang meriah, semakin membuat orang di dalamnya lupa, bahwa bulan sedang menggantikan matahari saat itu. Seseorang berlari tergopoh, menerobos kekerumunan. Sikapnya yang panik, serta badannya yang berlumuran darah dan terluka, segera menarik perhatian.
KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!
Sukacita berubah menjadi malapetaka. Dalam sekejap, suasana berubah drastis. Orang-orang yang takut, segera minggir. Namun bagi orang yang penasaran, bergegas mencari sumber perhatian tersebut, tak terkecuali Dani yang segera melompat dari kursinya, menuju sumber suara. Sansan dan Iwan mengikuti dari beakang dengan cepat. Dani menerobos kerumunan, dan begitu dirinya sudah sampai di pusat perhatian, Dani terkejut saat , melihat sosok yang dikenalinya beberapa waktu lalu. Salah satu orang asing pemakai armor AKSA!
Orang asing tersebut nanar memandang orang-orang yang mengerumuninya. Nafasnya kembang kempis, sembari menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya membelalak saat ia melihat Arta dan Melani yang baru masuk ke kerumunan tersebut. Ia mengenali Arta dan Melani sewaktu peristiwa di Bank beberapa waktu lalu.
”He,..helpp,..help meee,..” ujarnya terbata bata,sembari berusaha menggapai Arta dan Melani.
Arta yang bingung, memandang Dani yang hanya diam, memandang tajam ke arah orang asing tersebut. Merasa tak mendapat jawaban yang diinginkannya, ia kembali memandang si orang asing.
“What happened? why you bleeding like that? where’s your other friends?”
Si orang asing berusaha menjawab, namun tertahan dengan batuk-batuk darahnya. Arta segera maju, menopang tubuh si orang asing.
“We’ve been chasing,.by..some,..monster…I don’t know about my..friends,.but they’re in danger now,.they,..they did something bad with AKSA,..he,..help me…”
“Don’t worry, I’ll help you. First, we go to the hospital right now”
Arta baru saja bersiap untuk memapah si orang asing, sebelum tiba-tiba dirinya terbang ke udara, berputar, dan kemudian dihempaskan dengan keras ke tanah, menghantam salah satu stand makanan disana. Jerit ngeri orang-orang semakin menjadi, mereka panik berlarian kesana kemari, membuat Dani cs kesusahan menuju Arta yang jatuh.
“ARTA!”
Dani melihat ke atas. Nampak si orang asing yang juga secara ajaib terbang, dan melayang menuju seorang wanita bermata merah yang berada di atas pohon. Dani terkejut. “Caruga??!”
Wanita bermata merah tersebut mengangkat tangannya, lalu setelah si orang asing berada di dekatnya, jarinya menunjuk, dan tiba-tiba dari ujung tangannya, menembak jaring yang langsung membungkus tubuh si orang asing dengan sempurna.
“Hee,..heelpp…”
Dani sempat meihat mata si orang asing yang membelalak meminta pertolongan, sebelum kemudian si orang asing menjadi gumpalan mirip kepompong. Kemudian, wanita bermata merah tersebut menjentikkan jarinya, lalu tiba-tiba tiga Caruga sudah berdiri di belakangnya, memandang Dani cs dengan pandangan nanar. “Bawa dia” perintah wanita bermata merah tersebut. Segera, seorang Caruga membopong kepompong tersebut, dan menghilang cepat di kegelapan.
“ARTA!”
“Aku baik-baik aja, Dan” jawab Arta sembari dibopong Iwan dan Sansan. Ia memegang dadanya yang terasa sakit saat terpukul oleh si perempuan bermata merah tersebut. Sampai saat ini, Arta tak tahu apa yang menghantamnya tadi. “Hati-hati, Dan. Gerakannya sangat cepat”
Dani melihat ke kanan dan ke kiri. Kebanyakan orang sudah kabur entah kemana,namun beberapa orang masih bertahan di tempat, atau ketakutan hingga tak dapat berdiri lagi.
“Mel, San..!”
Melani dan Sansan mengangguk cepat. Mereka berdua segera membimbing orang-orang yang masih tersisa untuk dapat segera meninggalkan tempat tersebut. Sementara, Arta dibantu oleh Iwan untuk dapat kembali berdiri.
Dani memandang langsung ke arah perempuan bermata merah tersebut. “Apa yang kalian lakukan terhadap orang asing itu? Apa yang kalian lakukan pada AKSA?”
Perempuan bermata merah tersenyum. Perlahan,tubuhnya turun, berdiri diantara dua Caruga yang sedari tadi sudah bernafsu menyerang.
“Tidak kukira, pekerjaanku jadi bertambah mudah. Tadinya aku hanya mengejar orang asing itu, namun malah bertemu dengan kalian disini. Bagus,..bagus,..aku benar-benar beruntung!” Perempuan bermata merah tersebut menyeringai menyeramkan, kontras dengan wajah cantiknya.
“AKSA semakin mendekatkan kami kepada tujuan mulia kami, yaitu memurnikan kembali tanah Nusantara ke masa jayanya bersama junjungan besar kami. Dalam hal ini, aku seharusnya mengucapkan terima kasih kepada kalian,.”
“Sialan,..kalian memanfaatkan AKSA??!”
“HAHAHAHAHA! memanfaatkan? buat apa memanfaatkan apa yang kami ciptakan sendiri?? Jangan terlalu meninggikan derajat kalian, wahai kaum budak! Kalian cukup tunduk dan duduk di bawah kaki kami!”
“Perempuan sundal!” maki Dani marah.
“Panggil aku yang mulia Kaliura, budak!” potong Kaliura berapi-api.
“Nenek sihir!”
“Makhluk rendah!”
“Nenek keriput!”
“Aku masih muda!”
Dani dan Kaliura saling mengejek. Melani dan Sansan saling lihat satu sama lain. “Mereka cocok, ya” “He em” angguk Sansan,mengiyakan.
“Keblinger! Nggak ada abisnya kalo gini! Nenek lampir, aku kembaliin kamu ke neraka sekarang!”
Dani merogoh smartphone-nya, diikuti teman-temannya di belakang. Beberapa usapan di smartphone merubah interface di smartphone masing-masing.
“Acces START’’
‘’COSTUME READY’
‘’ACTION!!!’
Sejurus kemudian, di tubuh kelimanya bersinar warna merah tua, silver, biru tua, violet dan putih, berbaur menjadi satu, dan diakhir semua itu, kelimanya sudah memakai armor mereka dengan sempurna. Kaliura tersenyum. “BAGUS! Armor kalian akan jadi hadiah terbaik untuk junjungan besar kami nanti. Bersiaplah menyambut kematian kaliaaaaaannn!”
Rambut Kaliura terangkat seluruhnya, disertai tubuh Kaliura yang seolah memudar ke atas, mirip cat lukis yang terangkat oleh air. Wajah Kaliura berubah menakutkan. Kulit mukanya jadi putih pucat, rahangnya memanjang, mata merah tersebut membesar, dan kemudian seiring dengan bertambah lebar wajahnya, empat bintik-bintik kecil merah yang kemudian menjadi mata di wajah Kaliura, membuat mulut Kaliura terbelah ke samping, lalu dua tanduk kecil keluar dari sudut-sudut mulutnya. Empat buah tangan panjang yang berbulu dan berujung runcing, keluar dari punggung Kaliura, sementara kaki Kaliura membengkak tiba-tiba, dan perlahan menyatu menjadi sebuah kantung. Tubuh Kaliura seiring perubahan yang terjadi, perlahan seluruhnya berubah menjadi pucat. Dani cs yang melihat perubahan tersebut, memandang dengan jijik.
“Aku Kaliura,..patih dari neraka yang diakdirkan untuk mengabdi kepada yang mulia prabu Dewata Cengkar, untuk menjadi penguasa di bumi Nusantara!”
“Banyak omong,..ceritakan tentang rencana kalian terhadap AKSA, atau aku buka lagi mulutmu lebih lebar!”
“Hahahahahahaa,..sebaliknya, kalian diam,dan serahkan armor kalian kepadaku!”
Kaliura membuka mulut, menembakkan jarring-jaring berbentuk sulur ke arah Dani dan kawan-kawan. Sulur demi sulur melaju dengan cepat, menimbukan bunyi desingan yang mengerikan dan saling bersahutan. Dani, Iwan, Arta, Sansan dan Melani, berusaha menghindarinya.
“Sial!”
“Cepat sekali,.kita hanya bisa menghindar!” tambah Iwan kesal.
“Nggak bisa begini terus, kita akan kehabisan tenaga” Sansan menambahi.
“Kalau begitu kita hajar langsung penembaknya! Heeeeaaaa!” Melani merangsek maju. Tangan kanannya membuka, dan cahaya putih menyilaukan muncul dari telapak tangannya. Melani lalu menebaskan tombaknya ke kanan dan ke kiri, menghalau sulur demi sulur yang menerjang.
“Santo! Bantu Melani!” perintah Dani.
Sansan meloncat, mengeluarkan Bonang yang kemudian ia ubah menjadi ruyung. “Melani! Kebelakangku!”
Sansan memutar-mutar ruyung yang kemudian menyerupai kipas. Melani melompat ke belakang, berlindung di belakang Sansan.
“Sialan! Serang mereka!” Perintah Kaliura kepada kedua Caruga di belakangnya. Kedua Caruga tersebut berteriak, sebelum dengan serentak memutar menjauhi hujan sulur dari Kaliura, untuk menyerang Dani cs dari samping. Sansan nampak cemas. Kondisinya sekarang kurang memungkinkan untuk berkonsentrasi melawan serangan kedua Caruga tersebut, sedangkan Melani, masih berlindung di belakangnya. Sedetik kemudian, Sansan melihat kedua Caruga tersebut sudah ada di samping kanan dan kirinya. Rahang mereka membuka, siap untuk melahap Sansan dan Melani. “Sial” umpat Sansan. Ia tak punya pilihan, untuk membuang serangan Kaliura dan menerima beberapa serangan sulurnya, untuk kemudian dapat membereskan kedua Caruga tersebut, sebelum mereka berhasil menggigit dirinya dan Melani. Keselamatan sahabatnya lebih penting! Begitu yang Sansan pikir. Maka ia bersiap untuk memutar ruyungnya ke kanan dan kiri. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba dua buah roket melewati Melani dan Sansan, dan lalu menghantam kedua Caruga yang akan menyerangnya.
AAAAAARRRGGHHH!
BLAAAAAAAAAAAARRR! Terdengar suara ledakan yang keras, saat tubuh kedua Caruga terlempar jauh kebelakang, bahkan melewati Kaliura. Kaliura yang terkejut, melonggarkan serangan sulurnya untuk sesaat, dan hal inilah yang dimnfaatkan Melani dan Sansan. “MELANI! SEKARANG!”
Melani melompati Sansan yang menunduk, lalu dengan berpijak pada punggung Sansan, Melani melesat jauh, mendekati Kaliura. Tombaknya berada di tangan kanan Melani, siap untuk diuncurkan.
HEEEEAAAA!
WUUUSSSSSSS!
Melani melempar tombaknya sepenuh tenaga ke arah Kaliura. Secepat kilat, tombak Melani berpilin, berputar cepat diiringi warna putih yang menyilaukan, dan langsung menembus pundak Kaliura yang terkejut dan hanya sempat bergeser sedikit untuk menghindari tombak Melani. Melani yang meluncur turun sedikit kecewa. Seharusnya, jantung Kaliura yang kena saat itu.
“AAAAARRRGGHHH!” jerit Kaliura,kesakitan.
Arta berguling ke depan sekali, lalu kembali mengarahkan kendhang-nya yang diubahnya menjadi Bazzoka melalui Arsenal Mode. “Ha!” Arta menembakkan dua roket lagi sekaligus. Kini ia mengincar tubuh Kaliura. Roket meliuk liuk,mengincar langsung Kaliura.
“SIALAAAAAANN!” Kaliura menjerit, lalu menyabet lengan di punggungnya untuk menghancurkan roket-roket yang datang ke arahnya. BLAM! BLAM! Ledakan membahana, ketika roket-roket Arta berhasil di hancurkan. Kaliura meloncat tinggi dengan lengan panjang di punggungnya, lalu kembali membuka mulutnya. Tampak pusaran jaring berkonsentrasi di mulutnya, lalu dengan satu teriakan panjang, Kaliura memuntahkan jaring yang amat besar, hingga menutupi kelima orang di bawahnya.
“Celaka! Menyingkir!” Sansan berusaha mengingatkan teman-temannya. Namun terlambat. Dani, Arta, dan Iwan tak sempat menyingkir. Ketiganya terkurung di bawah payung jaring Kaliura.
“Aaaagghh,..Aaaaghhh!” Iwan menjerit kesakitan. Jaring itu mengeluarkan hawa panas yang luar biasa. Dani dan Arta pun mengalami keadaan yang sama.
Melani yang berusaha membantu teman-temannya, melompat masuk, bermaksud untuk merobek jaring tersebut. “Melani! AWAS!” Melani yang tak awas dengan keadaan sekitar, tak mengetahui ada sulur lanjutan yang mendorong tubuhnya untuk ikut melekat ke jaring tersebut.
“AAAHH!” Tak berapa lama, Melani terbungkus oleh jaring yang seolah-olah menelannya seketika, saat Melani jatuh ke atasnya. Panas seperti lahar, segera dirasakan oleh Melani. Bahkan, uap panas mulai muncul di armor keempatnya,menandakan bahwa panas yang mereka terima bukan main main.
“HAHAHA! Kini kau sendiri,ha? Bisa apa kau tanpa teman2 -temanmu??” Kaliura tertawa jumawa, mengejek Sansan yang kini sendiri. Sansan kesal, ia menyiapkan ruyungnya, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Matilah, dan aku akan menerima armormu dengan senang hati” Kaliura menerjang maju ke arah Sansan. Keenam tangan Kaliura menyerang dengan ganas. Tiap serangannya, bermaksud membelah tubuh Sansan menjadi dua. Sansan berkelit, menangkis, berusaha untuk tidak terkena sabetan Kaliura yang membahayakan itu. Setiap Sansan menangkis sabetan Kaliura dengan ruyungnya, percikan api tercipta, sehingga sepintas mereka berdua sedang menarikan tarian api yang indah.
“Haa! Haaaaa!”
TRAANG! TRAAANG!
Sansan memutar otak. Ia tahu, apabila ia tetap dengan kondisi seperti ini, ia akan terpojok pada akhirnya. Ia melihat ke arah teman-temannya yang sedang berjuang, lalu sebuah ide terbesit di benaknya.
“Dani! Keluarkan pedangmu! bantu tangan Iwan agar lebih lega untuk mengambil sulingnya!”
“Aku nggak terima perintah dari bawahan!” protes Dani.
“DANI!” Tangkas Melani galak.
“Hufft!”
“Melani! Ambil tombakmu!”
Melani tercekat. Ia kemudian menyadari rencana Sansan. Ia menoleh kepada Dani, Iwan dan Arta yang memahami rencana sahabatnya tersebut.
“Haaaa!” Cahaya merah darah keluar dari tangan Dani yang sempit. “HEEEI! ARAHINYA YANG BENER, CHOY!” Iwan protes saat ujung pedang Dani hampir mengenai badannya.
“Sori-sori” jawab Dani kalem. Ia kini berusaha membebaskan tangan Iwan, meskipun sulit setengah mati.
Sementara itu, Sansan masih berusaha menghindari setiap serangan Kaliura. Namun bedanya, Sansan sudah mampu melihat pola serangan Kaliura, sehingga kini ia dapat membalas serangan Kaliura sesekali.
“Haaaaa! Heaaa!”
“Percuma! Kau akan kalah, lalu teman -temanmu itu akan menjadi abu setelah aku mengambil armormu nanti” Kaliura menyombongkan diri.
“Jangan terlalu berharap!” Sansan memutar tubuhnya,menghindari satu tangan Kaliura, lalu menyarangkan tendangan putar ke kepalanya.
DUUAGH!
“Ahhh! Sialaaan!” ujar Kaliura marah.
“Dapat!” Dani berhasil mengiris jaring yang membelit tangan Iwan. Iwan segera berkonsentrasi, lalu cahaya ungu berkilau menyilaukan dari tangannya, dan tampaklah suling, senjata andalan Iwan.
“Oke,semuanya! Tutup telinga kalian!”
Iwan berkonsentrasi, lalu dengan penuh konsentrasi, ia meniup sulingnya dengan nada-nada kematian. Akibatnya sungguh luar biasa. Tidak hanya Kaliura yang tiba-tiba merasa kesakitan, namun juga Dani, Arta, Melani dan Sansan yang terkena dampaknya. Nada nada itu langsung merasuk ke dalam otak, dan seakan mengobrak abrik di dalamnya, sebelum mulai menghancurkan sisi dalam tubuh.
Sansan di tengah kesakitannya, melempar ruyung ke arah kaliura yang sedang berusaha menutupi telinganya. Tubuh Kaliura terbelit dengan sangat erat,sehinggaz tubuh Kaliura sedikit mengerut karena lilitan super dari ruyung Sansan.
“ME,..MELANIIII,..SEKARAAANGGG!!”
Melani membuka telapaknya, memanggil tombak yang sedari tadi menancap di pundak Kaliura. Kaliura langsung melesat ke arah Melani tanpa bisa berbuat apa-apa. Begitu tombak digenggam Melani, Sansan yang ikut melompat mengikuti Kaliura, menginjak tubuh Kaliura, sehingga tombak Melani semakin melesak masuk menembus tubuh Kaliura.
“AAAARRGGHH!”
Sesuai perkiraan Sansan, jaring Kaliura menipis, karena Kaliura mulai melemah.
“IWAN! CUKUP! DANI! SEKARANG!” teriak Sansan kesakitan. Iwan segera menghentikan permainan sulingnya.
“OKEEEEEYYY!” Dani memutar, menebas pedangnya ke arah jaring-jaring yang menjerat tubuhnya. “HEEEEIII!” Iwan protes sekali lagi saat pedang Dani hampir ikut menebasnya. Dani meloncat ketika tubuhnya sudah benar-benar bebas.
“HEAAA!” sembari melompat, Dani menebas jaring di tubuh Arta, yang langsung melompat mengikuti Dani.
“C’mon,bro!” Arta mengarahkan bazzokanya. WUUZZZ! Sebuah roket menghantam tubuh Kaliura yang membawanya ke atas. Sebelum itu, Dani mendahuluinya dengan melompat tepat di atas Kaliura.
“SAN!”
Sansan menengadahkan tangannya. Ruyung yang tadi membelit tubuh Kaliura, melesat lepas bak ular,dan kembali ke tangan Sansan. “OKE,DAN!”
“HAAAAAAAAAAAAAAA!”
Dani bak elang, melesat turun, membebat pedang kecilnya, membelah tubuh Kaliura. Tepat dari atas ke bawah, tanpa ampun.
“AAAAAAAAAAAAAAAAARRRGGHHH!!!! JAYAA PRABU DEWATAA CENGKAAAAAAAAAAAAARR!!”
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRR!
Tubuh Kaliura meledak hebat, karena tebasan pedang Dani dan ledakan roket Arta.
Sekilas, saat itu langit seperti di terangi oleh kembang api termegah yang pernah ada
########################
Sansan merebahkan tubuhnya, mencoba beristirahat. Ia tersenyum melihat Arta dan Melani yang protes ke Iwan akbibat insiden suling barusan.
“Maaaaff! aku lupa kalian pake helm” Iwan menjelaskan sambil tertawa.
Sansan tertawa. Sesaat kemudian, Dani berada di dekatnya.
“San, ayo, kita nggak bisa lama-lama disini”
Sansan mengangguk. Ia kemudian mencoba berdiri, lalu Dani menolong memapahnya berdiri.
“Makasih, Dan”.
Dani mengangguk. Sedetik kemudian pandangannya kosong ke depan.
“Kamu masih memikirkan soal AKSA?”
Dani mengangguk.
“Semoga yang aku takutkan tidak jadi kenyataan” Dani kemudian meraih Smartphonenya. Ia menekan tombol tertentu, dan kemudian mengangkatnya ke telinga kirinya. Tak berapa lama, suara di seberang menjawab telepon Dani.
“Halo? Kak Indah? Kak Indah sedang apa? Oh..dimana armor AKSA? Ditaruh di lab. Baik. . Nggak, nggak ada apa-apa,..nggak,..nggak perlu. Kak Indah tetap saja di Jepang, dan tunggu teleponku. Sudah, nanti aku jelaskan,..aku tutup dulu,ka. Bye,..”
Dani menutup sambungannya. “Kak Indah aman. Sekarang tinggal ayah. Aku langsung ke lab sekarang”
“Aku ikut” Sansan berjalan mengikuti.
“Heeeiii,.nggak usah ditanyaa,..” Iwan dan Arta nyengir berjalan di belakang.
Dani tersenyum. Matanya kemudian mencari Melani yang sedang tercekat diam memandang smartphonenya. Melani kemudian memandang Dani. “Dani,..kamu udah terima telepon om Teddi?”
“Belum. Ada apa?”
Tak berapa lama, smartphonenya berbunyi. Dari ayahnya. Dani segera mengangkatnya.
“Dani?”
“Ayah dimana? kenapa ramai sekali disana?”
“Ayah sedang bersama keluarganya Melani. Kamu bisa kesini sekarang?”
Dalam hatinya Dani lega, ayahnya dalam keadaan baik.
“Ayah, ada yang harus aku bicarakan, penting sekali..ini menyangkut AK,..”
“Kebetulan, ayah juga ada yang ingin dibicarakan denganmu. Kita bicara di rumah Melani dulu, baru nanti kita sambung di rumah, ya?”
Dani menghela nafas.” Oke, ayah. Aku kesana,..ngomong-ngomong ada acara apa,sih? Tumben kumpul-kumpul”
“,..Ini tentang kamu dan Melani,..”
Dani diam mendengarkan penjelasan ayahnya. Lalu, matanya terbelalak tak percaya.
“Apa??! Ayah bercanda??!” Nggak,..nggak mungkin,..apa? tu,.tunggu,,..ayah,..AYAAH! HALO!!!”
Dani merengut kesal. Perasaannya tak karuan. Dani melihat ke arah Iwan, Arta dan Sansan yang melongo tak mengerti apa yang terjadi, sementara sebaliknya, Melani terdiam, menghindari tatapan langsung Dani. Dan dibalik diamnya Melani, ada semburat merah di pipi Melani,..

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger