Posted by : AksaraProject Wednesday, March 23, 2016

Coincidence (Kebetulan)



In every Truth, There always be lies.
In every Glory, There always be Defeat.
In every Light, There always be shadows.
In every Power, There always be Weakness.
In every Original, There always be Imitation.

Jogjakarta, Agustus, 2004

Sepasang kaki melangkahkan kakinya melewati gerbang yang terbuat dari batu pualam. Diatas gerbang itu, terpampang plakat yang terbuat dari emas. Menampilkan tulisannya yang terpapar sinar matahari, mengkilap dan menunjukkan kemegahan. BRAHMANA... Nama yang terukir di plakat itu, diikuti dengan ukiran huruf jawa dibawahnya. Huruf jawa itu jika dibaca, sebenarnya juga bertuliskan Brahmana, hanya saja, sudah jadi kebiasaan di Jogjakarta, menuliskan dengan huruf latin dan huruf jawa.
Brahmana adalah sebuah sekolah menengah elit, yang dikelola oleh swasta. Hal yang menarik dari sekolah ini, adalah seleksi pemilihan siswa dan siswinya. Tidak seperti sekolah lain yang menggunakan tes tulis dan NEM untuk mendaftar, calon siswa dan siswi di Brahmana, diseleksi berdasarkan aura dan golongan darah mereka.
Ada dua jalan agar bisa diterima menjadi siswa Brahmana. seperti yang disebutkan diatas, cara pertama adalah dengan lolos tes Aura. Kita akan lolos seleksi, hanya jika aura kita berwarna UNGU, ya... ungu. Dengan kata lain, kita Indigo. Dengan lolos seleksi pertama ini, kita akan ditempatkan dikelas S dalam setiap jurusan, dan mendapatkan fasilitas seperti gratis biaya sekolah, gratis biaya melanjutkan studi diluar negeri, jaminan mendapatkan pekerjaan di sepuluh perusahaan swasta terkemuka di Indonesia, dan yang tidak kalah mengherankan, mendapatkan uang pensiun setelah lanjut usia. Semua ini terdapat pada surat perjanjian yang nantinya akan kita bawa sebagai tanda bukti untuk mengklaim hak kita.
Jika bukan seorang indigo, jangan ucapkan sayonara dulu, karena masih ada jalan kedua. Yaitu dengan seleksi golongan darah. Di seleksi inipun sebenarnya juga tidak mudah. Karena yang diterima, hanyalah siswa-siswi bergolongan darah A. Tidak ada toleransi. Selain golongan darah A, sesegera mungkin akan didepak. Namun tidak seperti jalan pertama, siswa yang lulus tes golongan darah, akan diperlakukan seperti siswa di sekolah lainnya. Hal ini mungkin membuat kita berkecil hati, tetapi perlu diingat... Brahmana adalah sekolah Elit. Bukan sembarang sekolah. Brahmana, malah bisa disejajarkan dengan UPH, dan PETRA jika kita bicara soal fasilitas dan tenaga pengajarnya. Diperlakukan seperti siswa dan siswi sekolah menengah lain, tapi dengan fasilitas sekelas universitas elit bukan hal yang buruk tentunya.
Tapi diantara kebaikan, pastilah ada keburukan. Diantara kedua cara itu, sebenarnya masih ada satu cara ilegal untuk bisa bersekolah disini. Yaitu dengan uang, dalam hal ini yang dimaksud dengan uang adalah, jika kita adalah anak orang super kaya, ataupun anak orang berpengaruh, tidak perlu ikut kedua jalan diatas, otomatis kita bisa diterima. Dan hal inilah yang dialami oleh anak dari pemilik Brahmana yang bernama Dani.
#####
Baru menginjakkan kaki didepan taman sekolah, Dani sudah merasakan hal yang ganjil di sekelilingnya. Puluhan pasang mata memandangnya dengan curiga. Laki-laki, perempuan, melemparkan tatapan jijik dan menghina. Seolah-olah mereka melihat aib berjalan. Dani sudah bisa menduga sambutan seperti apa yang akan dia dapatkan. Kabar mengenai anak dari pemilik sekolah yang bisa dengan mudah masuk sebagai siswa tanpa harus mengikuti tes, menyebar sepertis T-virus yang dijilat tikus. Dalam pandangan Dani, siswa-siswi Brahmana terlihat seperti zombie yang akan memakannya hidup-hidup. Dan berhubung dirinya adalah salah satu penggemar Resident Evil, Dani tidak perlu pikir panjang untuk menempuh jarak terpendek dalam rangka menyelamatkan diri dari penduduk kelaparan itu.
"Beruntung aku hanya dapat tatapan iblis. Jika disekolah lain, mungkin Celanaku sudah digantung ditiang bendera". Kata Dani dalam hati sambil berjalan kearah kelasnya, seraya menghindari kontak mata dengan semua orang yang ada didekatnya. "Rencana hari ini. Masuk kelas, ikuti pelajaran, pulang. Dan satu hal... TETAP DIAM. apapun yang terjadi".
"Hey Bro.... Haw Da ya!!!?" Teriak seseorang mengagetkan Dani.
"Arta,.. mau ikutan meneriaki ku seperti orang-orang didepan?" Balas Dani tak acuh.
"Jangan gitu lah Mamen, Santai bae lah... mereka cuman iri, envy, dengki. Ga usah diurusin." Jawab Arta sambil memberikan jalan bagi Dani untuk masuk kelas. "Tempat dudukku di barisan belakang. Dikananku ada bangku kosong. Duduk saja disana kalau mau".
"Tidak makasih, aku benci duduk belakang".
"Oke oke....hmmm, kalau ga dibelakang, berarti mau ga mau kau bakal duduk di barisan pertama. dekat meja presentasi".
"Itu lebih baik".
"Lebih baik....hum hum....." Arta berhenti sejenak menelaah perkataan Dani. "Lebih baik
GUNDULMU. Kau mau bunuh diri ya? Seseorang yang harga kepalanya terpampang seperti buronan, dengan senang hati menampakkan diri di barisan paling DEPAN. wowowowo..."
"Diam... Kau tau kan aku benci ketinggian".
"Benci atau takut?"
"Terserah".
Dani meletakkan tasnya di meja yang berada di bangku barisan terdepan dikelas itu. Setelah duduk sejenak, dan melihat Arta juga sudah duduk dimejanya yang berada di posisi paling atas, yang berarti paling belakang, Dani menghela nafas sejenak.
"Kelas 10-AK-2 ya... ga buruk juga". Kata Dani sambil melihat papan kelas berplakat emas yang terpampang di atas proyektor. "jalankan semuanya sesuai rencana, dan aku tidak perlu repot - repot melepaskan diriku dari masalah di sekolah ini".
Jam pelajaran berlalu seperti pasir yang tertup angin. Bel istirahat menandakan waktu sudah mencapai pukul sepuluh pagi. Dani terlihat berjalan mengikuti Arta yang berjanji mengajak Dani keliling sekolah untuk mengenalkan situasi tempat belajarnya dihari pertama ini.
"Ada beberapa hal yang perlu KAU tau sebelum mulai berkuasa disini".
"Jaga mulutmu. Kau pikir aku ini apa".
"Hehehehe....bercanda. La kau kan anaknya yang punya sekolah ini. Jadi bisa dibilang ini sekolah MU". Arta berfikir sejenak. "Ya,..ini sekolah MU. Milik MU".
"Bunuh ayahku dulu sebelum sekolah ini jadi milikku".
"Wahahaha.... oke oke. Hal pertama. seperti yang kau tau, disekolah ini, siswa nya sudah dijuruskan sejak kelas 10. Jangan tanya aku. Tanya ayahmu aja. Aku ga atu apa yang dipikirkannya dengan njurusin sejak kelas 10".
"Got it. Lalu apa maslahnya dengan hal itu"?
"Bukan di penjurusannya sih, cuman... aturan pertama. Catet or ingat-ingatlah. Jangan pernah masuk ke semua tempat yang ada tulisannya kelas 1. Mulai dari kelas, kantin, stadium olahraga, sampai tempat parkir".
"Memangnya kenapa? Aneh..."
"Itu tempat keramat. Semua siswa Indigo ada disana. Setiap jurusan dengan nomor kelas 1, adalah kelas dengan level S. kita sebagai penduduk golongan kedua..."
"Golongan ketiga. Aku tau kau juga ga punya golongan darah A." Kata dani mencibir.
"Apalah itu.... pokoknya, golongan kedua, ketiga, keempat, ga boleh masuk kedunia golongan satu".
"Hmmm....sepertinya aku pernah dengar cerita soal penggolongan kasta di kelas".
"Baka to test".
"Apa"?
"Baka to test. Anime ecchi favoritku". Jawab Arta.
"Makan tu anime. Bukan itu yang aku maksud. Ini lebih seperti kasta para Dewa...."
"...India. Aku tau, aku tau. Namanya juga Brahmana. Bau bau india gitu deh".
"Tunggu,...Tadi kau sempat bilang golongan keempat. Memangnya ada lagi golongan lain selain ketiga golongan yang ada di sekolah ini?"
"Ummm itu...... Itu urusan nanti. Ikut list aja ya peraturannya. ehehehehhe"
"Kau mencurigakan".
"Heeee.....oke, nomor dua. Disini ada 3 cewek cantik yang jadi incaran semua orang. sebenarnya dulu cuman dua sih. Yang ketiga ini barengan sama kita. Tapi gara-gara kau masuk satu bulan lebih lambat daripada aku. Maka kau pasti ga tau".
"Aku ga tertarik sama cewek. Tujuan ku kesini buat belajar, bukan mbojes alias mbojo."
"Maho loe".
"APA KATAMU!!!!???"
"Enggak...enggak....hmmm aku skip aja lah aturan nomor dua. Kayaknya kau ga bakalan ikut perang ngerebutin 3 cewek itu". Kata Arta tidak acuh.
"Cih..."
"Aturan ketiga. Jangan masuk ke salah satu klub di sekolah ini".
"WHY!!?"
"Karena kita punya klub sendiri". Arta berkata sambil mendekatkan wajahnya kearah Dani, dan memelankan suaranya.
"Oh itu, gampanglah. Aku dengar juga baru kita yang masuk".
"Kurang tiga kan...hmmm itu biar diurusi orang-orang tua. Dan ingat,..jangan bicarakan
sepatah katapun soal klub kita. Itu pantangan."
"Kurang kerjaan amat aku koar-koar klub tempat kita".
"Sapa tau lidahmu kepeleset kulit pisang".
"Itu kan lidahmu". Jawab Dani.
Saat mereka sedang beradu argumen, tiba-tiba mereka melihat seorang siswa yang disudutkan tiga orang berpakaian serba putih dengan garis emas dan emblem angka satu di pakaian mereka. Dani dan Arta memperhatikan dari jauh saat ketiga orang itu menghajar satu orang tadi bertubi-tubi. Melihat hal ini, Dani merasa risih dan naik pitam. Dia tidak suka dengan yang namanya ketidakadilan dan tindakan semena-mena. Darahnya mendidih, matanya menatap dengan tatapan membunuh. Tangannya mengepal siap melayangkan tinju. Kaki kanannya bersiap untuk meluncurkan tubuhnya kearah tiga orang brengsek itu. Saat dirinya sudah menumpukan semua berat tubuhnya ke depan, Arta menghalangi dengan mendorong tubuh Dani ke tembok.
"Ngapain kau ini!!!?"
"Dan, ingat aturan pertama!!"
"Masa bodoh dengan aturan pertama. Kau ga lihat ya!!! mereka ngeroyok satu orang sampe babak belur gitu!!"
"Mereka itu dari kelas satu".
"Lalu apa!!! Mbiarin mereka mbunuh anak itu disiang bolong gini!!?"
"Kau ingat, tadi kau nanyain golongan keempat disekolah ini kan.... Anak itu golongan keempat".
"Maksudmu..!!?"
"Lihat, apa yang beda dari anak itu". Arta Memberikan ruang pada Dani untuk kembali melihat kejadian didepan.
"Ga ada bedanya tuh!!"
"Lihat lagi."
"Ga ad....tunggu....dia itu..."
"Cina. Iya... dia Cina. Itu golongan keempat, dan kasta paling rendah disini."
"Grrrr.....Habis sudah".
Dani menginjak kaki Arta, membuat Arta seketika melonjak kesakitan. Hal ini segera dimanfaatkan Dani untuk melesat kearah TKP secepat angin. Dalam satu hempasan, dirinya sudah dekat dengan orang pertama yang akan jadi sasarannya. Tangan Dani sekuat tenaga menonjok muka orang itu. Saking kerasnya, hingga kalau dijadikan slow motion, maka bisa terlihat rahang atas dan tulang pipi bagian kanan orang itu retak. Suara tulang patah mengiringi tubuh orang itu yang terlempar menabrak tembok. Orang kedua dan ketiga tidak sempat untuk menghindar dan menyadari apa yang terjadi. Dani sudah berada dibelakang mereka dan menjegal kaki mereka. Hanya saja, bukannya dengan pantat dulu yang menyentuh tanah, Dani menekankan kedua tangannya ke pundak kedua orang itu sehingga mereka jatuh dengan posisi kaki lurus mengangkang. Hal ini membuat tulang yang ada di persendian kaki mereka patah.
"Haduh biyung..... baru pertama masuk sudah bikin heboh gini". Kata Arta sambil mengelus dada.
"KALIAN SEMUA!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!??? KALIAN HANYA DIAM SAJA MELIHAT TEMAN KALIAN DISIKSA SEPERTI INI!!!" Teriak Dani kearah semua orang yang ada disitu. Siswa-siswi yang berada di lokasi, hanya terdiam melihat tindakan Dani barusan. mereka tidak melayangkan balasan, makian, ataupun jawaban. Hanya keheningan yang menyambut kalimat Dani. "HANYA KARENA DIA CINA...."
"...itu kata keramat...jangan diucapin". Kata Arta, tapi tidak bisa didengar Dani.
"HANYA KARENA DIA CINA, LALU KALIAN MEMPERLAKUKANNYA SEPERTI INI!!?? TEMPAT MACAM APA INI!!"
"Sekolahmu..." Jawab seorang perempuan yang tiba-tiba berjalan kearah Dani. "Ini sekolahmu, sekolahku, dan sekolah semua orang disini. Kau mempertanyakan kenapa hal ini bisa terjadi, tanyakan pada mereka. Apa yang mereka perbuat pada tanah Jawa ini".
"Jangan ngomong berbelit-belit. Langsung to the point mbak". Balas Dani.
"Mereka menginvasi tanah ini, mengklaim tanah ini. mereka pantas mendapatkan hal itu". Jawab perempuan tadi.
"Ida.. Jaga bicaramu. Kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa". Seorang wanita lain ketempat itu.
"Anak golongan dua yang sok cantik sudah mulai berani motong omongan ternyata". Jawab Ida.
"Mati....Dua cewek itu sudah ada disini, Dani ga akan slamet". Kata Arta.
"Aku tidak peduli dengan ocehanmu barusan. Masa lalu ga bisa dijadikan patokan akan sifat orang pada masa sekarang. Jadi jika kau membenarkan tindakan teman-teman segolonganmu barusan. Dengan senang hati aku akan melemparkanmu ke kolam di samping". Kata Dani pada Ida.
"Kau pikir siapa dirimu bicara seperti itu padaku!!?" Bentak Ida.
"Dia anak pemilik sekolah ini." Jawab perempuan kedua.
"DIAM KAU MELANY. JANGAN IKUT CAMPUR". Kini Ida membentak kearah Melany.
"Kalau kau bisa menggunakan alasanmu untuk membenarkan perbuatan temanmu barusan, aku juga bisa menggunakan kedudukanku untuk membenarkan tindakanku pada mereka". Kata Dani tenang pada Ida.
"Kau pikir bisa lepas dengan mudah setelah melukai tiga orang dari golongan satu. Jangan
harap hidupmu disekolah ini bisa aman". Ancam Ida.
"Banyak omong". Dani mengangkat tubuh Ida dan segera melemparkannya ke kolam. Semua siswa yang ada disitu melongo melihat tindakan Dani. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. "Ada sukarelawan lain yang mau minum air kolam"? Tantang Dani. Semua orang yang ada disitu tidak mengatakan apa-apa. "Bagus.... Aku lihat disekolah ini dipakai sistem Kasta. Dengan kata lain, kalian dengan kasta yang tinggi bisa menganiaya kasta yang lemah." Dani berjalan kearah Arta. "Kalau kalian main kasar, aku juga bisa. MULAI SEKARANG. AKU... DANI, ANAK PEMILIK SEKOLAH INI, MEMILIKI KASTA TERTINGGI DISINI. AKU...BISA MENUNJUK ORANG-ORANG YANG AKU RASA PERLU, UNTUK MENDAPATKAN DERAJAT YANG SAMA DENGANKU. DAN ITU BERARTI, TERSERAH AKU MAU MENGANGKAT MEREKA DARI GOLONGAN MANA. BEGITU MEREKA TERPILIH, KASTA MEREKA AKAN SETARA DENGANKU. ANIAYA MEREKA JIKA KALIAN BERANI."
Arta segera berlari kearah Dani dan menarik tangan kanan Dani untuk meninggalkan tempat itu. Tapi Dani tidak bergerak dari tempatnya. Malahan dia menghampiri orang cina yang dihajar tadi dan menyuruh Arta untuk membantunya membopong tubuh pemuda itu ke UKS. Tapi pemuda itu menolak ajakan Dani dan berjalan sendiri ke UKS. Dani dan Arta kemudian pergi dari tepat itu, meninggalkan kerumunan orang yang berbisik-bisik resah membicarakan apa yang baru saja terjadi. Seorang pemuda berjalan menghampiri Dani. Dia berjalan dengan menggandeng dua orang perempuan. Pemuda itu berhenti tepat di depan Dani.
"Kau tadi berani sekali, jangan-jangan kau anggota Order of Heaven ya?" Tanya pemuda itu.
"Order apa?" Arta balik tanya.
"Bukan, aku bahkan tidak tau dengan organisasi itu." Jawab Dani.
"Oh,...aku kira." Jawab pemuda itu.
"Order of apa sih"? Tanya Arta.
"Order of Heaven. Organisasi yang bertujuan memberikan Karma. Tindakan tiga orang barusan memang selama ini sudah bikin resah. Aku sampai harus mengajak dua pacarku ini untuk menghindar tiap kali berpapasan dengan golongan satu". Kata pemuda itu tenang, Kedua perempuan di kiri dan kanannya tersenyum.
"Heh, Wan. Kau tu kalau playboy ya playboy aja. Jangan sok elegan." Kata Arta.
"Hmmmm terserah kamu lah, yang penting. Kedua pacarku ini mengucapkan terimakasih pada temanmu ini, atas tindakan heroiknya barusan. Sepertinya suasana sekolah ini akan berubah gara - gara dia". Iwan tersenyum pada Dani dan Arta, kemudian pergi kearah kantin.
"Siapa orang itu"? Tanya Dani.
"Casanova Brahmana". Kata Arta sambil menjulurkan lidah mau muntah.
#####
Sisa hari di sekolah itu berjalan dalam keadaan yang membosankan. Tidak ada kejadian istimewa lain yang menarik untuk disimak, tidak juga dengan keadaan yang menimpa Dani. Pelajaran berlangsung sebagaimana mestinya. Jam makan siang juga dilalui Dani dengan aman dan tenteram. Mungkin satu-satunya pengganggu adalah suara bisik-bisik yang keluar dari segala arah tiap kali Dani menampakkan dirinya ditengah kerumunan. Tapi hal itu tidak dipedulikan oleh Dani.
Jam pulang sekolah sudah tiba. Dani dan Arta lomba balap lari sampai keluar gerbang. Lomba lari ini dimenangkan Arta yang memang jago dalam urusan kabur. Ditengah jalan, saat mereka berdua sedang asyik melantunkan lagu Ignition yang dinyanyikan oleh TM Revolution, dengan nada keras hingga membuat orang lain yang mendengar akan mengira itu jeritan, mereka berdua melihat seorang siswa golongan satu dari Brahmana lari dari kejaran seekor makhluk mirip Laba-laba yang seluruh tubuhnya dibalut sejenis gas berwarna hitam keunguan. Mahluk itu berjalan, lebih tepatnya berlari dengan dua kaki, sedangkan di punggungnya, terdapat enam tombak yang menancap bagaikan kaki laba-laba.
"Wey wey wey.... Apa itu !?" Teriak Arta.
"Itu anak sekolah kita kan"? Jawab Dani.
"Bukan yang dikejar, tapi yang NGEJAR!?" Teriak Arta.
"Pencopet, pembunuh, pemerkosa, Maho, apa bedanya? Kita ga bisa diam disini aja kan".
"Maksudmu....??"
"Selametin dia lah".
"JANGAN GILA!!".
"Banyak omong".
Dani melesat kearah pemuda yang dikejar makhluk mirip laba-laba itu, memegang pundaknya, kemudian menggunakan momentum itu untuk menambah kecepatan dan menendang makhluk yang ada di belakang pemuda itu. Diluar dugaan, kaki Dani tidak membuat makhluk itu mundur. Kaki kanan Dani yang menempel di wajah makhluk itu, malah dicengkeram dan dihempaskan ke aspal. Dani meraung kesakitan. Arta yang ingin membantu temannya, memukul makhluk itu bertubi-tubi. Tapi sama saja, usahanya berakhir sebagaimana tendangan Dani. Dan Arta pun juga dihempaskan ke aspal. Saat itu, ada mobil sedan warna putih yang melintas, hampir saja menabrak Dani dan Arta. Mobil itu berhenti, dan dari dalamnya keluar pemuda Cina yang tadi siang ditolong oleh Dani. Pemuda itu melihat kondisi dua orang didepannya, lalu satu orang yang masih saja dikejar makhluk tak dikenal.
"UFO, Unindetified Fucking Object". Kata Pemuda itu sambil membanting pintu mobil dan memindahkan tubuh Dani dan Arta yang penuh luka lecet kearah tiang listrik disisi jalan.
"Ehehe...makasih ya. Udah mau nolongin." Kata Arta.
"Jangan salah sangka, Aku hanya mau balas budi atas apa yang diperbuat temanmu tadi siang". Jawab Pemuda itu.
"Jangan pedulikan aku. Kau segera amankan anak culun yang dikejar itu." Kata Dani sambil meringis memegangi pundaknya yang masih memar.
"Kenapa aku musti nolong dia? Dia dari golongan satu kan. Biarin aja. Itu bukan urusanku". Kata pemuda itu ketus.
"Bah... Kalau kau ga mau. aku aja yang kesana". Kata Dani.
"Jangan gila kau". Kata pemuda itu.
"Biarin lah, dia memang gila". Timpal Arta yang dibalas pelototan tajam dari mata Dani.
"Haiya...kau bosan hidup ya? suka ikut campur urusan orang lain". Kata Pemuda itu.
"Aku cuman ga suka lihat orang lain dianiyaya. Wajar kan"? Jawab Dani.
"Dengan berlagak sok jagoan"?
Saat mereka bertiga sedang sibuk mendebatkan ideologi mereka, tiba-tiba sebuah suara tebasan terdengar dari arah makhluk tadi. Dani, Arta, dan pemuda cina itu melihat tubuh makhluk itu terbelah jadi dua, tapi kemudian menyatu lagi.
"Umbra memang susah dibunuh. Kita harus menghancurkan tubuhnya hingga tidak bersisa." Kata Seseorang dari arah yang berlawanan. Dia memakai baju tempur berwarna merah dengan lambang garuda berada di pundak kanannya. Dari helmnya, terdapat aksara jawa HA.
"Praha Benar, Kita tidak mungkin membunuhnya hanya dengan tebasan kecil". Jawab seorang wanita yang memakai baju tempur berwarna orange, dengan lambang ikan mas di pundak kanan dan huruf jawa CA di helmnya.
"Cantika, Aku pikir tadi kamu yang menebas duluan". Kata Pemuda yang memakai baju tempur berwarna hitam, dengan lambang kepala macan di pundak kanan dan huruf Jawa NA di Helm.
"Sudah, sudah, kalian jangan ribut. Selalu saja begini tiap kali Isna dan kau ketemu". Kata wanita yang mengenakan baju tempur berwarna putih dengan lambang burung belibis dipundak kanan dan huruf jawa RA di helm, pada Cantika.
"Aku mungkin yang paling muda disini. Tapi aku yang paling paham dengan sifat kalian berempat. Paman Praha yang selalu datang belakangan dan kabur duluan, Bibi Ratih yang pendiam, tapi kalau sekali bicara nadanya langsung pedas, dan Kak Isna serta kak Cantika yang suka adu mulut. Jadi tolong,....fokus pada tugas please." Kata seorang perempuan menghentikan perdebatan keempat orang itu. Perempuan itu memakai baju tempur warna cokelat, dengan lambang singa di pundak kanan, dan huruf jawa KA di helmnya.
"Iya Dhika....udah, jangan manyun gitu. Sekarang kita basmi Umbra sialan didepan". Kata Cantika sambil kembali menebas makhluk itu dengan kipas besinya.
Pertarungan antara Umbra dengan kelima orang berpakaian tempur itu disaksikan oleh Dani, Arta, dan pemuda Cina tadi. Mereka bertiga hanya terdiam, tidak percaya atas apa yang mereka lihat. Mereka pikir mata mereka menipu, atau mungkin memang hari itu sedang ada cosplay cabaret. Tapi luka yang menyengat disekujur tubuh Dani dan Arta mengingatkan mereka kalau serangan yang mereka terima tadi bukan main-main.
"Dan,...cerita itu benar..." Kata Arta tanpa memalingkan muka.
"Lima orang keturunan Ajisaka. Mereka benar-benar ada". Kata Dani.
"Kalian ngomong apa sih? ajisaka, cerita, ga jelas ginu". Timpal si pemuda cina.
"Aku ingin punya kekuatan seperti mereka". Kata Dani sambil mengepalkan tangan.
Dani menghantamkan tangannya ke aspal, meratapi ketidak berdayaannya karena tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh makhluk itu. Gigi geraham Dani saling beradu. Kemarahan memenuhi jantungnya. Dengan tenaga terakhir, Dani berteriak sekeras mungkin. Tak lama kemudian, sebuah sinar putih yang menyilaukan mata memenuhi area pertarungan itu. Menghempaskan Dani dan kedua temannya hingga menabrak tembok dan pingsan. Disisi lain, kelima orang misterius tadi berhasil menghancurkan Umbra hingga tak bersisa.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger