Posted by : AksaraProject Thursday, March 24, 2016

Crimefighters (Vigilantes)



Setelah mengalami kejadian tadi sore, Dani dan Arta berkunjung ke laboratorium yang berada di Brahmana. Laboratorium itu berukuran lima kali lima meter, dengan empat buah pilar putih yang dilapisi oleh tegel berwarna serupa. dindingnya pun seluruhnya berlapis tegel, menampilkan kesan mewah skaligus misterius. Puluhan tabung eksperimen berjajar rapi di rak besi yang menjulang bak menara pengawas disudut ruangan. Sekitar enam meja kayu yang panjang, mengisi ruangan, dengan formasi tiga kali dua, menyisakan satu jalan besar ditengah ruangan.
Arta mengecek pilar kedua disebelah kiri, mengetuknya dengan irama lagu "lir-ilir, lir- ilir tandure wis sumilir" dan memicu tembok di bagian belakang laboratorium untuk membuka. Menampakkan sebuah pintu besi berdaun dua, yang akan mengantarkan Dani dan Arta keruang rahasia di sekolah itu.
"Lama sekali kalian"! Kata seorang lelaki paruh baya dengan memakai setelan jas hitam, yang menunggu Dani dan Arta di dalam ruang rahasia.
"Ayahmu cerewet ya? Kita baru datang, malah dibentak". Kata Arta setengah berbisik.
"Diam". Jawab Dani singkat.
Setelah kira-kira satu menit tanpa sepatah katapun yang keluar, Ayah Dani memulai pembicaraan.
"Aku tidak akan banyak basa-basi. Ini adalah ruangan untuk klub kalian berlima."
"Berli...."? Arta akan memotong pembicaraan, tapi mulutnya tiba-tiba ditutup oleh tangan Dani, sehingga sisa kata yang keluar hanyalah gumamamn tidak jelas. Ayah Dani melanjutkan lagi penjelasannya.
"Disini, kalian akan dilatih untuk menggunakan kekuatan, yang nantinya bisa kalian manfaatkan untuk membasmi kejahatan. Kalian mungkin pernah mendengar urban legend mengenai keturunan Ajisaka yang berjuang diam-diam demi menjaga tanah Jawa ini, lebih tepatnya JOGJAKARTA". Ayah Dani berhenti sejenak. "Itu benar,...mereka memang ada. Dan kalian berlima,...ditakdirkan untuk mendapatkan kekuatan mereka". Dani ingin protes atas teka-teki yang dilontarkan ayahnya, tapi sebelum dia sempat buka mulut, ayahnya mengacungkan telunjuk kanannya untuk mencegah Dani. Kemudian ayahnya melanjutkan lagi. "Aneh kan? tutup mulut kalian, dan jangan biarkan liur kalian mengalir setelah melihat ini". Ayah Dani berjalan menjauh menuju suatu ruangan, sebelum dia menghilang, dia menjentikkan tangan, dan membuat ruangan yang memiliki penerangan samar-samar itu menjadi terang-benderang. menampilkan peralatan canggih dimana-mana.
Sebuah layar proyektor berukuran raksasa, menampilkan sebuah baju tempur dalam bentuk cetak biru. Dibawahnya berpuluh-puluh komputer yang digerakkan masing-masing oleh seorang staff lab, menunjukkan perhitungan dan analisis dalam tampilan yang berbeda. Dani masih terkagum-kagum dengan apa yang ada di depan matanya, saat Arta tiba-tiba berteriak.
"Apa maksudnya dengan kami berlima. Jelas-jelas cuman ada Aku dan Dani. bisa ngehitung apa enggak sih"!?
"Mulutmu seberisik bebek, dan sifatmu sekikir paman Gober". Jawab sebuah suara yang berasal dari kanan tempat Arta berdiri. Disana terdapat sebuah sofa panjang berwarna cokelat, yang saat ini diduduki oleh tiga orang. Dua orang cowok, dan seorang cewek.
"What the....apa-apaan ini"? Arta kaget.
"Kenapa? muka mu kayak lihat hantu keluar dari kuburan". Jawab Iwan yang sedang asyik duduk sambil minum wine di gelas panjang yang ada di tangan kanannya.
"Playboy sok ganteng, putri sekolah, dan.....umm, siapa namamu? cowok yang tadi pagi di bully rame-rame"? Arta menunjuk satu persatu sambil menyebutkan identitas ketiga orang tadi.
"San san". Jawab pemuda Cina yang tadi siang ditolong Dani.
"Bwahhahahahaahhah.... San San....ppfffttt" Arta menahan tawa.
"Tertawa sesukamu, sebelum mulutmu aku tarik". Jawab San san.
"Jadi kita berlima yang ada disini memang anggota klub yang nantinya akan mendapatkan kekuatan dari keturunan Ajisaka"? Kata Dani tegas.
"Benar, dan untuk informasi, ini adalah proyek gabungan dari keluarga kita berlima". melany berkata sambil melirik ke kaca yang terdapat di tiga lantai diatas mereka. "orang-tua kita ada disana".
"Cih, sepertinya kita akan dijadikan kelinci percobaan". Kata Dani.
"Mungkin, tapi siapa yanng nolak kalau dikasih kesempatan jadi superhero". Kata Iwan.
"Lalu mana produk yang akan kita coba malam ini? aku dengar katanya ini uji coba pertama kan"? Tanya Dani.
"Sayangnya produk yang ada dan bisa diujikan hanya dua, untuk saat ini". Seorang lelaki berkacamata yang mengenajakan jas putih panjang, datang dan memberikan dua smartphone pada Dani dan Arta. "Kalian berdua yang akan mencobanya".
"Heeee"??? Arta berteriak.
"Tunggu apalagi, ayo pergi!". Dani mencengkeram jaket Arta dan menyeret temannya itu keluar ruangan. Kepergian mereka disaksikan oleh seluruh orang yang ada disitu.
Tak berapa lama setelahnya, layar monitor utama menampilkan pandangan dari seseorang. Ini menandakan Dani sudah memakai baju tempurnya, sehingga apa yang dilihat Dani, bisa dilihat oleh orang klub. Awalnya, Dani dan Arta terlihat menghampiri segerombolan geng motor yang berprofesi sebagai preman. Tanpa pikir panjang, Dani langsung menghajar orang yang paling dekat dengannya. Situasi tenang, berubah menjadi kericuhan saat kamera menjadi tidak fokus, yang disebabkan perkelahian sengit antara Dani dengan gerombolan itu. Suara pukulan dan tendangan terdengar memekakkan telinga. Orang-orang yang berada di klub melihat hal itu sambil memberi komentar dan spekulasi. Sebelum akhirnya layar monitor menjadi rusak dan hanya menampilkan gambar hitam.
Satu jam berlalu dengan kecemasan yang melanda bagai gelombang air. Mereka tidak mengetahui nasib Dani dan tidak bisa mengontaknya, baik melalui smartphone yang dia bawa, ataupun dari cellphone miliknya. Setelah usaha sia-sia yang dilakukan oleh seluruh Staff, Pintu klub terbuka, dan Dani serta Arta terlihat memasuki ruangan dengan kondisi baju tempur yang compang-camping, bekas lebam di muka, dan helm rusak yang ditenteng di tangan kanan.
"Lumayan,...kami berhasil membunuh gerombolan itu. Hanya saja, alat ini masih punya banyak kekurangan, termasuk dalam hal daya tahan". Kalimat itu meluncur dari mulut Dani saat dirinya berjalan menyeberangi ruangan, ketempat dimana tiga temannya yang lain berada.
Diatas ruangan mereka, tempat dimana orang tua dari kelima orang anggota utama klub itu berada, Ayah Dani terlihat berdiskusi dengan beberapa lelaki yang lain, meneliti blue print dari baju tempur buatan mereka, sambil menunjukkan beberapa kekurangan disana-sini. Akhirnya pembicaraan itu ditutup oleh ayah Dani dengan kalimat "Kita masih butuh tambahan kekuatan".
#####
Inovasi dan perbaikan, membuat baju tempur Dani dan keempat kawannya menjadi bertambah kuat seiring perjalanan klub mereka. Kini kelima orang sudah bisa menggunakan kekuatan baju tempur itu, mereka juga telah dilangkapi dengan senjata yang menyerupai alat musik gamelan, yang nantinya bisa membantu mereka untuk menjalankan tugas sebagai vigilante. Dani dan keempat kawannya juga jadi lebih sering berkomunikasi, menjadikan hubungan mereka menjadi dekat dan terjalin sebuah solidaritas antar anggota yang lain. Pekerjaan rahasia mereka berlima, juga secara tidak langsung menjadikan kota Jogja menjadi lebih aman, walaupun mungkin tiap hari selalu saja ada berita penjahat yang ditemukan tewas dengan kondisi tubuh yang tidak bisa dikenali. Tapi hal ini justru membuat siapapun yang mendengarnya menjadi senang. Bagaimana tidak, sampah masyarakat memang harus dibasmi kan.
Suatu pagi, saat Dani selesai latihan dalam klub, dan akan mencoba kembali baju tempurnya, Ayah Dani berjalan menghampiri, sambil membawa catatan proyek. Saat sudah berada kira-kira satu meter dari Dani, sang ayah mnutup catatan itu dan memandang Dani.
"Mulai besok, Ayah berharap kamu bisa membantu ayah dikantor".
"Maksudnya"? Balas Dani.
"Ayah membutuhkan seorang auditor keuangan untuk memantau arus kas yang terjadi. Kebetulan, kamu berada di jurusan Akuntansi di Brahmana, Jadi ayah Harap kamu bisa membantu pekerjaan ayah".
Dani yang tidak tahu menahu akan maksud ayahnya, dengan tenang meng iya kan. Menurutnya, tidak ada salahnya mencoba pekerjaan di kantor, karena bisa jadi pengalaman untuk mengaplikasikan ilmu akuntansi yang didapatnya di kelas 10-Ak(Akuntansi)-2. Maka mulai keesokan harinya, dimulailah rutinitas Dani yang meliputi sekolahnya, pekerjaannya di perusahaan sang ayah, dan pekerjaan rahasianya sebagai pemilik kekuatan Ajisaka.
Saat menjalani rutinitas itulah, secara tidak sengaja Dani mendengar pembicaraan ayahnya dengan seorang teman kerja, mengenai rencana pertunangan antar anak mereka. Mulanya Dani merahasiakan hal ini karena berfikir bahwa urusan pribadi tidak bisa dicampur adukkan dengan urusan pekerjaan, sehingga tiap kali keempat temannya mempertanyakan sikap Dani yang tiba-tiba menjadi makin kasar dalam membasmi penjahat, Dani hanya menjawab seperlunya sambil memasang muka garang, untuk mencegah temanya mempertanyakan hal itu lebih lanjut. Tapi bagaikan api yang melahap sekam kering, emosi Dani tidak bisa ditahan saat dirinya menjalankan tugas di suatu malam, tepatnya dua bulan semenjak dirinya mendengar perbincangan ayahnya itu.
Saat itu Dani dan keempat temannya ditugaskan untuk menggempur sebuah bandar narkoba di daerah kota baru. Bandar itu sudah lama meresahkan kepolisian. Dan sudah mencetak beberapa korban, termasuk diantaranya siswa pelajar di sekolah negeri Jogja. Seandainya Dani bisa mengontrol emosi, penyergapan dalam gudang itu mungkin bisa berjalan lancar dan kelima orang pengguna baju tempur itu bisa dengan mudah membunuh penghuni gudang. Tapi karena Dani sedang naik pitam, dengan terang-terangan dia memasuki gudang, berteriak memanggil sang bandar narkoba, dan tiba-tiba melesat seketika sambil menempelkan laras bazooka dimuka bandar itu. Kejadian selanjutnya berlangsung secepat rally Moto GP. Dani tanpa ragu-ragu menekan pemicu dan meledakkan kepala Bandar itu di tengah-tengah kerumunan penghuni gudang, kemudian meremukkan satu persatu kepala orang yang datang menghantam dirinya, dengan hanya menggunakan tangan kanan. Keempat temannya yang belum sempat berbuat apa-apa berlari menghampiri dan mengeluarkan amarah mereka.
"Kau pikir siapa dirimu!? Kita punya instruksi. Ga asal maen hajar"!! Teriak San san.
"San, diem.. Biarkan Dani ngomong". Tahan Melany.
"Ngomong apa!!? Udah dua bulan ini dia jadi makin liar. Kita yang temannya aja ga pernah di kasih tau masalahnya dia. Mana mau dia buka mulut sekarang"!? balas San san.
"Dan, kamu ngapain sih? udah bosan hidup ya"? Tanya Arta.
"Ini pasti gara-gara cewek". Kata Iwan tiba-tiba, yang membuat ketiga temannya melongo memandangnya.
"Kalau iya kenapa!!? Memangnya kalian bisa bantu aku mbatalin pertunanganku dengan cewek iblis itu"!!? Tiba-tiba Dani berteriak diantara mayat-mayat yang bergelimpangan di gudang itu.
"Cewek ibils"??? Keempat temannya bertanya secara bersamaan.
"Aaahhh sudah deh, percuma aku bilang ke kalian. Ini masalahku. Aku yang bakal nyelesaiin sendiri". Kata Dani sambil melepas baju tempurnya dan berjalan meninggalkan keempat temannya yang dipenuhi tanda tanya besar diatas kepala.
"Apa maksudnya cewek iblis"? Tanya Iwan ke Arta.
"Kok mandang aku"? Kata Arta sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Aku dengar tadi siang dirumah Dani ada pertemuan keluarga". Jawab Melany tiba-tiba.
"Kau dapat info gitu kenapa ga bilang ke kita"? protes Arta.
"Mana aku tau coba. La wong yang aku dengar cuman keluarganya Bu Ratih datang kerumah Dani doank".
"Ratih.....kayaknya pernah denger deh. hmmm, siapa ya"? Arta berusaha mengingat-ingat.
"Bukan Ratih yang itu kan"? San san yang diam tiba-tiba bertanya ke Arta.
"Yang mana"? Tanya Arta.
"Yang itu....ingat ga? lima orang,...UFO, baju tempur, Ajisaka...?"
"Yang itu ya...Wha???? MASAK SIH"?
"Apa yang kalian omongkan"? Tanya Iwan.
"Kalau benar begini, ini masalah Gawat". Kata San san.
"Nama Ratih kan Umum". Jawab Iwan.
"Tapi Ratih yang kenal dengan keluarganya Dani cuman satu orang". Timpal Melany.
"Mampus lah". Arta berkata sambil menepuk jidat.
#####
"Ayah harap perkenalanmu dengan Ratna menciptakan kesan awal yang bagus". Kata Ayah Dani disuatu pagi tak lama setelah tugas akhir Dani di gudang narkoba itu.
"Iya, kesan diancam cewek pertama kali". Balas Dani tak acuh.
"Hahahaha"
"Jangan tertawa seperti itu, kalau saja dia bukan cewek, sudah aku bungkam mulutnya dengan tanganku".
"Ayah tidak mengahrapkan yang lebih baik lagi. Darah suami Suhita mengalir di nadimu".
"Maksud ayah"?
"Itu cerita lain kali, Sekarang ayah akan memberimu satu tugas khusus".
"Terakhir kali ayah memberiku tugas khusus, hidupku berakhir dengan proses lamaran".
"Kurang lebih begitu, dan ini juga masih ada hubungannya dengan Ratna".
"Masih kurang puas ya menyiksaku dengan prosesi tidak berguna itu"?
"Jaga mulutmu. Rencana pernikahan kalian bukan hal sepele seperti pernikahan rakyat biasa".
"Tapi itu bukan berarti aku harus menikah sedini ini kan"?
"Siapa yang akan menikahkanmu di usia kepala satu? Kami mungkin orang tua, tapi kami tidak bodoh. Kamu masih terlalu muda untuk memiluk tanggung jawab keluarga".
"Lalu apa hubungannya dengan tugas khusus yang ayah katakan barusan"?
"Hmmm, Kamu tahu kan kalau ayah, sebagai pemilik Brahmana corp, sekaligus pemilik sekolah Brahmana, juga punya saham terbesar di sekolah-sekolah yang lain"?
"Tau, itu sudah bukan rahasia lagi. Keluarga kita adalah keluarga yang menggerakkan pendidikan swasta terbesar di kota ini".
"Dan kamu juga pernah dengar soal Sekolah elit milik keluarga Ratna kan"?
"Menurutku itu bukan sekolah elit. Dibandingkan Brahmana, sekolah itu tidak lebih tinggi derajatnya dari SMA biasa".
"Besok kamu pindah kesana".
"Oh" Dani diam sejenak. "HEEEEE!!!!??? Ayah gila ya? kenapa aku harus pindah dari Brahmana ke sekolah elit-yang sebenarnya rendahan, milik keluarganya Ratna"!?
"Pertama, adalah untuk membuat kalian berdua lebih dekat tentunya". Ayah Dani menjawab dengan tenang sambil minum kopi. "Kedua, untuk membantu kinerja proyek rahasia kita. Kau tahu kan kalau ibu nya Ratna adalah pengguna baju tempur, dan merupakan keturunan Ajisaka yang sebenarnya".
"Dan dari dirinya pulalah, kita mendapatkan sumber informasi dan kekuatan untuk menciptakan baju tempur yang baru bla bla bla,..itu cerita usang".
"Bantuan informasi yang didapat dari abdi dalem keluarga ini, paman Irwandha, ternyata masih belum cukup untuk menyempurnakan baju tempur kalian. Dan Ayah akan menugaskanmu untuk mengumpulkan informasi, langsung dari mulut keturunan Ajisaka".
"Hanya aku yang pindah sekolah"?
"Hanya kamu".
"Gantung saja leherku di tiang bendera".
"Apa maksudmu"?
"Aku tidak tahan dengan semua ini. Awalnya aku ditunangkan, lalu aku diancam, dan sekarang aku diminta jadi pecundang".
"Jaga perkataanmu. Itu bukan kalimat yang seharusnya keluar dari pewaris darah Majapahit".
"Dan apa untungnya menjadi pewaris Majapahit saat diriku harus dikekang oleh kepentingan orang tua".
"Kepentingan kerajaan".
"Jangan mencari kambing hitam dengan menggunakan nama kerajaan".
"Seperti majapahit yang menanamkan kekuatannya di kerajaan lain dengan cara kerjasama, sehingga membuat Majapahit menjadi kerajaan besar yang kekuasaanya meliputi wilayah Nusantara, Seperti itulah Brahmana corporation akan menancapkan kekuatanya di seluruh instansi swasta di Jogjakarta, yang nantinya akan membuat Brahmana corp, menjadi pengendali tunggal dan penguasa sektor swasta di Jogja. Lakukan tugasmu, Jangan banyak tanya. Kita tidak mentoleransi bantahan".
#####
Dan seperti itulah, Dani pindah dari SMK jurusan Akuntansi disekolah ternama, yaitu Brahmana, menjadi siswa disekolah elit milik keluarga. Yaitu sekolah milik keluarga Ratna. Disekolah itupun, Dani mengalami perlakuan yang semena-mena, mengingat statusnya yang merupakan anak konglongmerat. Sesuai dengan sifat Dani, awalnya dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, hanya berfokus pada investigasinye ke Ratna. Menyelesaikan tugas keluarga, tidak lebih. Tapi ancaman, gempuran, dan bahkan makian yang dilontarkan oleh penghuni sekolah, lama-kelamaan membuatnya naik pitam juga. Sadar bahwa dirinya hanya seorang diri di tanah asing itu, Dani tidak pernah mau mencari gara-gara, dan lebih memilih untuk menghindari keramaian.
Suatu hari, Dani dihadang oleh beberapa siswa saat pulang sekolah. Dirinya dipojokkan dan hujatan serta ancaman menggelegar bagai lahar gunung meletus. Dani tidak menawab sepatahpun kata dari lawannya, dan ini membuat gerombolan itu merasa diremehkan. Saat salah seorang dari mereka menonjok muka Dani. Dengan reflek, Dani menghindar dan memegang tangan kanan lelaki itu, lalu menggunakan lutut kanan untuk mematahkan pergelangan lawannya itu dari arah bawah. Siswa yang lain, kontan segera mengeroyok dan menghajar Dani bertubi-tubi. Bagaimanapun kuatnya Dani, tanpa baju tempurnya, dia hanya manusia biasa. Menghadapi satu orang atau tiga orang sekaligus masih bisa ditolerir, tapi lima belas orang secara bersamaan? bahkan lelaki sekuat Dani pun akan bertekuk lutut cium tanah.
Pukulan dan tendangan yang diterima tubuh Dani seakan berlangsung selama berhari-hari. dirinya hanya melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Matanya tidak bisa fokus menatap apa yang ada didepannya. Dani hanya tahu bahwa saat ini darah segar mengalir dari pelipis kiri, dan bibirnya sobek serta tempurung lututnya retak. Tapi seakan indera perasanya sudah mati, Dani sama sekali tidak merasakan sakit. Hanya saja dirinya tidak bisa berdiri dan berlindung dengan punggung menghadap keatas. Saat keriuhan yang awalnya didengarnya seiring dengan siksaan dari gerombolan siswa amoral itu tiba-tiba hilang, dan digantikan dengan teriakan tidak jelas dari arah sekelilingnya, Dani berani melepaskan tangan yang melingkupi tempurung kepalanya dan menengadah keatas.
Cahaya matahari di sore hari mengaburkan pandangannya selama beberapa saat, hingga pada menit berikutnya, tampak siluet empat orang berdiri ditengah kerumunan orang-orang yang pingsan dan luka-luka. Dani memicingkan mata untuk mengidentifikasi secara lebih jelas siapa orang yang bertanggung jawab atas situasi ini, saat tiba-tiba sebuah tangan terulur untuk membantunya berdiri.
"Tak kusangka aku yang akan menolong pangeran menyedihkan ini dari kematian". Kata San san seraya menarik tangan Dani, dan memapahnya.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger