Posted by : AksaraProject Friday, March 25, 2016

Invasion



Jogjakarta saat itu sedang di selimuti oleh hujan lebat. Awan mendung yang menyertai, serta hujaman air hujan yang keras turun membasahi bumi, seakan melengkapi udara dingin yang begitu menusuk hingga ke ujung tulang. Kebanyakan orang-orang akan berlari menghindari hujan seperti ini, dan berlindung di berbagai tempat. Namun tidak untuk Dani. Ia bersandar di salah satu tembok luar sekolahnya yang baru saja dimasukinya beberap hari yang lalu. Tubuhnya yang babak belur, diperkuat dengan seragam sekolahnya yang kusut, kotor, terkoyak dan basah oleh noda darah dan tanah. Sama dengan keadaan seragamnya, wajah Dani pun nampak babak belur. Di sudut bibir, hidung dan keningnya, nampak darah yang sudah mengering.
Dani duduk bertolak pada kedua paha kakinya, sembari sesekali wajahnya menatap ke atas. Matanya sesekali dipejamkan, merasakan sensasi sakit yang baru saja ia terima.
15 orang....
15 begundal yang tiba-tiba saja mengeroyoknya saat ia pulang sekolah tadi. Ia tahu bahwa ia memang tidak banyak disukai, bahkan semenjak ia masuk di hari pertama. Dani bisa merasakan tatapan mata sinis dan komentar sinis yang menyertai setiap langkahnya di sekolah itu.
“Anak gedongan,. Kesini mau apa dia? paling senang-senang”
“ Orang tuanya kaya, yang punya sekolah Brahmana. Ngapain dia kesini? Pasti abis punya masalah, makanya dia lari kesini! Sampah!”
“Sialan,..dia masuk kesini cuma mau menghina kita. Dasar sombong!!”
Dan seribu cemooh lain yang sudah sering Dani dengarkan. Ini yang selalu Dani terima, dimanapun ia berada. Dani sebenarnya heran, mengapa orang lain selalu menuduhnya secara instan, mengatakan hal-hal yang sebenarnya tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun semua itu akan berlalu apabila Dani diam dan pergi. Ya, biarkan saja orang berkata apa. Yang perlu ia lakukan hanya diam dan pergi. Dan semuanya akan kembali sunyi lagi.
Pukulan demi pukulan Dani terima tanpa perlawanan. Sesekali, perutnya disodok dengan kayu atau pentungan, dan itu membuat perutnya serasa bergejolak. Belum lagi umpatan dan makian yang tidak manusiawi, yang ia terima selama lawan-lawannya menghajarnya dengan keras.
“Hahahaha! Liat nih, playboy kampung, yang ternyata cemen banget nggak bisa apa-apa,..malu lo jadi cowok!”
“Pegangin! Aku pengen praktek tendangan terbangku!” seorang siswa pongah bernafsu ingin menghajar Dani, menyuruh beberapa temannya untuk memegangi Dani.
“Oke, Wor!” sambut salah satu temannya bersemangat.
Dani kemudian dipapah oleh dua orang, di kanan dan kirinya. Semua nampak terkekeh-kekeh melihat ulah si siswa pongah yang kini memasang kuda-kuda ala Bruce Lee di hadapan Dani.
“WUATAAAAAA!!”
BUUGGHH!
Dani menyeringai kesakitan, sambil memegangi perutnya, saat si siswa pongah menendangnya tepat di perut. Perut Dani serasa panas, sementara siswa yang lain makin jumawa, ber-high five, sambil mengelilingi Dani yang kini tersungkur. Kemudian si siswa pongah menjambak rambut Dani, dan mendorong tubuh Dani agar bersandar di tembok sekolah.
“Heh, denger! Jangan kamu kira kamu bisa seenaknya di sekolah ini, ya! Kamu anak orang kaya, nggak bisa macem-macem disini, disini nggak berlaku duit kamu itu, ngerti!! ingat! Mulai sekarang kamu harus nurut apa kataku! Setiap hari, jam istirahat pertama, kamu datang kesini, laporan sama aku. Kalo nggak,..“si siswa pongah mengangkat telapak tangannya..” Aku bikin kamu nyesel sekolah disini! Hahaha! Goblok! ”Si siswa pongah menghantamkan kepala Dani ke tanah, sambil terus tertawa memberi kode ke teman-temannya untuk pergi dari situ, meninggalkan Dani yang tersungkur babak belur.
“Hahaha! Dhewor pancen oyee~” Tawa mereka jumawa sambil berlalu dari tempat itu.
Dani sedikit memiringkan kepalanya ke atas, terlentang, dan kemudian berusaha untuk mengambil oksigen dari hidungnya yang penuh darah. Cukup sulit, namun pelan-pelan ia mulai dapat bernafas normal. Kenapa,..kenapa tidak aku lawan cecunguk itu semua. Aku takut? Aku tidak bisa mengalahkan mereka? Dani tersenyum sinis. Bukan, bukan itu. Kalau aku mau, aku bisa memelintir kepala mereka satu-persatu dari awal. Mereka bukan masalah bagiku. Sejak aku mulai bisa melangkah, ayah sudah melatih aku serasa di neraka, jadi pukulan mereka bukan apa apa buatku. Tapi kemudian seandainya aku kalahkan mereka, setelah itu,..apa? Kalaupun aku bisa mengalahkan mereka sekarang, tidak berarti pandangan mereka terhadapku akan berubah. Dani si anak kaya yang sombong, akan tetap menjadi anak kaya yang sombong di mata mereka, bagaimanapun juga. Berfikir seperti itu, membuat Dani tertawa,..”Sialan.,pengen ketawa saja perih sekali”, Dani tertawa sendiri.
“Uugghh,..”, Dani berusaha untuk duduk bersandar di tembok sekolahnya, meski rasanya sakit di sekujur badan. Di tengah kesakitannya, Dani terdiam. Ia memejamkan mata sejanak, dan kemudian matanya memandang jauh,..
“Kapan,..kapan akan ada orang yang bisa melihat aku apa adanya,..atau memang nggak akan ada orang seperti itu…” Gumam Dani.
Tak berapa lama, hujan pun turun,.
“Aaahh,..kanjeng Gusti,..terima kasih atas nikmatMU ini,..” Dani menengadahkan wajahnya ke atas, tersenyum menyambut setiap titik hujan yang membasahi wajahnya,..
######################################################################
‘’DAN!”
Dani menoleh ke kanan. Dilihatnya para sahabatnya, orang-orang yang selalu menemaninya selama ini. Iwan, Arta dan San san, tergopoh gopoh melompat dari mobil dan berlari mendekatinya. Nampak kecemasan di raut wajah mereka.
“Aku nggak apa-apa,.” Potong Dani sebelum yang lain menanyakan keadaannya.
“Kamu kenapa nggak hubungi kami, Dan? Padahal barusan aja aku nelepon kamu” Ujar Iwan sambil membantu Dani untuk duduk bersandar.
Arta memeriksa keadaan Dani. Matanya juga menelusuri kondisi tubuh Dani.
“Kamu benar-benar dihajar habis, Dan” Komentar Arta sambil membuka tutup botol air mineral, dan kemudian disodorkannya ke mulut Dani. “Pelan-pelan” Arta membantu agar Dani bisa minum dari bibirnya yang pecah.
San san yang sedari tadi diam, tiba-tiba berteriak kesal.
“AAAHH! Kamu kenapa diam aja, Dan??! Kecoak macam mereka seharusnya bukan masalah buat kamu. Kenapa kamu diam??!” teriak San san sambil menendang kesal tanah dibawahnya.
Dani terkekeh, “Sama dengan alasan kamu diam saja, diganggu kecoak macam mereka waktu pertama kali aku ketemu kamu, San”
San san terdiam. Batinnya paham, bahwa Dani bersikap diam bukan semata-mata karena Dani tidak mampu melawan, dan hal ini yang membuat Santo tambah kesal.
“SIAALAAAAAAAAAANN!! ”San san meninju udara dengan kesal.
Suasana jadi sedikit canggung. San san berusaha menahan emosinya,.
“Dan,..kamu tau, siapa yang mukulin kamu kayak gini?”
“Hehee,..mau ngapain emangnya?”
“UDAH! JAWAB AJA!”
Sambil kembali terkekeh, Dani geleng-geleng kepala melihat reaksi sahabatnya yang satu ini. “Entahlah,..tadi ada yang namanya Dhewor,..atau siapalah,..”
San san diam mendengarkan.
“Sudah,..ayo kita antar dulu Dani berobat ke rumah sakit” Iwan memapah Dani untuk berdiri.
“Nggak usah, aku baik-baik aja. Nggak usah ke dokter atau ke rumah sakit. Aku nggak suka rumah sakit”
“Tapi, Dan..” Protes Iwan
Dani menggelengkan kepala cepat. Iwan diam, ia tahu bahwa percuma melawan pendapat Dani kalau ia sudah keras kepala seperti ini.
“Kalau begitu, kita ke rumah Melani aja. Oke kan, Dan?” timpal Arta menengahi.
Dani mengangguk menyerah. Maka, Arta dibantu Iwan, membantu memapah Dani untuk bisa berjalan menuju mobil mereka,..sementara San san berjalan menuju mobil, sambil mengeluarkan HP dari saku celananya, dan mulai mengetikkan sesuatu.
………………………….
“Ya ampun, Dani…ayo cepat, masuk kesini!” Melani tergopoh-gopoh menyambut Dani dan kawan-kawan begitu mereka masuk ke rumah Melani.
“Bawa masuk ke kamar tamu. Sebelah sini” Melani berjalan di depan kawan-kawannya tersebut, menunjukkan arah ke ruang tamu. San san yang terakhir masuk rumah, setengah berlari menyusul rombongan. Ia tidak mau lagi tersesat di rumah Melani seperti yang terakhir kali. Memang, rumah keluarga Melani yang masih mempertahankan arsitektur keraton, sering membuat bingung orang-orang yang jarang atau baru pertama kali berkunjung ke rumah Melani. Lorong-lorong dan paviliun yang terpisah, membuat rumah Melani lebih tepat disebut sebagai kerajaan daripada rumah.
“Ni rumah po labirin,..mbingungi” komentar San san dalam hati.
Tak berapa lama, Dani sudah dibaringkan di atas dipan empuk di tengah kamar tamu yang ternyata berupa paviliun tersebut. Nampak di dalamnya, Melani sudah menyiapkan kebutuhan untuk membersihkan dan mengobati luka-luka Dani. Segera saja Melani bekerja, dimulai dengan membersihkan luka-luka Dani.
“Buka baju kamu”
Dani mengerling nakal.“ Nggak,ah. Nanti kalo kamu nafsu, gimana” Cengir Dani.
“Mau aku tambah luka-luka di badan kamu itu?” Pelotot Melani galak.
Dani tertawa. Pelan-pelan ia membuka bajunya, dan kembali akan tiduran.
“Duduk! Susah tau, kalo mbersihin luka sambil kamu tiduran!”
Dani nurut. Ia kemudian duduk, sementara Melani mulai menyiapkan air hangat untuk membersihkan luka. Sementara itu, Iwan dan Arta melihat saja tak jauh dari Dani, sebelum San san diam-diam beringsut diantara mereka, dan member kode untuk mengikutinya. Iwan dan Arta paham.
“Eh,Mel. Kita tunggu di luar aja, ya?” Ijin Iwan.
“Titip monyet satu itu ya, Mel” tambah Arta.
Melani tersenyum dan kemudian mengangguk. Ia kemudian melanjutkan membersihkan luka-luka Dani.
Iwan dan Arta berjalan di belakang San san yang nampak gusar.
“Siapa pelakunya, San” Tanya Arta.
“Irwan, atau panggilannya Dhewor. Anak kelas 3 sekolah kita, dan dari awal Dani masuk, dia emang udah ngincer Dani” jawab San san.
“Naksir,dia?” timpal Iwan sambil bercanda.
San san mengacuhkan pertanyaan Iwan. “ Dhewor bukan masalah, dia cuma cecunguk. Yang jadi sedikit masalah adalah orang-orang di belakangnya. Aku baru dapet kabar dari anak buahku, katanya ada cecunguk-cecunguk yang bicaranya besar di tempatnya, dan itu kaitannya dengan “menghajar anak kaya”. Udah pasti yang mereka maksud itu Dani. Yang ngeroyok Dani juga bukan cuma dari sekolah kita, tapi ada preman-preman yang ngebantu mereka. Mereka niat banget sampe makein seragam sekolah buat preman-preman itu, heh,.sialan.. Nggak cuma itu, si Dhewor ini anggota geng Kelabang Ireng. Geng ini makin lama emang makin besar di Jogja, makanya mungkin ini salah satu cara mereka buat nunjukkin bahwa anak kaya macam Dani pun bukan masalah bagi mereka” jelas San san geram.
“Dan selanjutnya, anak kaya macam Dani pun berikutnya bakal jadi dompet buat mereka, kan?” tambah Arta.
“Betul” tungkas San san.
Iwan tertawa. ”Cuma, kali ini mereka berurusan dengan orang yang salah”
“Kamu udah siapin semuanya, San? Kita berangkat sekarang?” Tanya Arta.
San san mengangguk.”Semuanya sudah aku atur. Kamu dan Iwan pergi dulu ke tempat Dhewor dan anak buahnya mangkal. Sementara aku urus preman-preman itu dulu. Nanti, kita ketemuan sebelum berangkat ke Kelabang Ireng. Kita abisin mereka hari ini”
“Beres”
“Siap”
“Dan kamu bener Wan.. mereka berurusan dengan orang yang salah,..sangat salah..” Seringai San san sebelum berpisah dengan Iwan dan Arta di halaman rumah Melani, dengan anak buah San san yang sudah menunggu.
…………………………………………..
Dani sudah memakai kaos bersih, pinjaman dari Melani. Wajah dan tubuhnya sudah bersih dari luka, dan beberapa perban nampak menutupi luka-luka tersebut. Dani harus mengakui bahwa Melani cukup trampil dalam hal seperti ini.
“Kamu ada gunanya juga ternyata,.” komentar Dani.
Melani tetap melanjutkan pekerjaannya membersihkan baju kotor serta bekas perban di atas meja.
“Susah ya, kalo cuma bilang terima kasih?”
Dani tertawa. “Aaahh,..” Ia kemudian bersandar di bantal empuk dipan tersebut, mencoba untuk berisitirahat.
“Dan,..”
“Hmm,..” jawab Dani, acuh tak acuh.
“Aku,..”
Melani berhenti, tidak melanjutkan apa yang tadi ingin ia katakan.
“….Apa, meeell?” Intip Dani dari ujung matanya.
Melani tersenyum. Ia menggeleng cepat. Lalu cepat cepat pula beberes.
“Kamu utang sama aku, lho.. jangan dilupain!”
“Halahh” Dani kembali acuh tak acuh, dan kembali tidur.
Melani beranjak keluar kamar begitu semua pakaian dan perban kotor sudah ia bawa. Ketika ia hampir melewati pintu kamar,..
“Mel..”
Langkah Melani terhenti.
“,…Terima kasih, ya..”
Melani tersenyum,.dan ia pun beranjak pergi meninggalkan kamar tamu.
“Oya, Dan,.Ratna sebentar lagi kesini. Aku udah kasih tau dia tadi”
Dani terhenyak. “Ya ampun, Melanii..ngapain kamu ngasih tau dia??”
Melani mengangkat bahu. “Daripada aku yang kena semprot sama ratu bawel macam dia…nggak deh, makasih” jawab Melani sembari cekikikan. Dalam hitungan detik, Melani sudah kabur entah kemana, meninggalkan Dani yang menepuk jidatnya.
…………………………………………………………………..
Iwan baru saja selesai membebat tangannya dengan kain, saat Arta memberi kode padanya. “Si Dhewor udah dateng, Wan.”
Iwan mengintip dari sisi dalam mobil yang mereka tumpangi. Ia melihat Dhewor dan kawan-kawannya tertawa bergerombol. Tak berapa lama, tampak mereka mulai terbuai dengan botol-botol minuman keras yang entah darimana muncul. Gelak tawa makin tak terukur, padahal lokasi yang mereka gunakan untuk berkumpul termasuk lingkungan padat penduduk.
“Peang gitu tampangnya. Tapi perlu diabisin bener-bener tu mereka “Ujar Arta geram, sembari memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, serta menggenggam alat perubahnya.
Iwan yang melihat itu tertawa sembari menepuk pundak sahabatnya itu.
“Ampun deh, Ta. Nggak perlu yang begituan kali, buat ngatasin macam mereka. Mereka bukan reptil”
Arta hanya tersenyum kecil.
“Yuk? Aku ada kencan jam 7 nanti. Jadi, kalo kamu mau lama-lama di sini sih, monggo saja.” Iwan beranjak keluar dari mobil.
“Makasih, deh” Tawa Arta sambil ikut keluar mengikuti Iwan.
Anak buah San san yang sedari tadi menemani Iwan dan Arta juga akan beranjak mengikuti mereka, namun dicegah.
“Nggak usah, mas. Tunggu di mobil saja” cegah Iwan.
“Tapi, kami sudah disuruh bos buat bantu mas sekalian” ujar salah satu dari mereka.
Arta menggeleng. “Terima kasih, tapi biar kami saja yang menyampaikan salam dari teman kami. Tolong diliat aja, jangan sampe ada yang bisa kabur dari sini ya, mas.” pinta Arta.
Anak buah San san mengangguk mantap, sementara Iwan dan Arta berjalan mendekati rombongan tersebut.
“Hei” Arta melambai-lambaikankan tangannya ke arah Dhewor dan kawan-kawannya. Dhewor memandang tak suka, begitu juga dengan yang lainnya.
“Yang mana yang namanya Dhewor, ya?” Tanya Arta santai.
Dhewor melihat dengan enteng, lalu menjawab dengan nada menantang. “Aku,..kenapa?”
Seketika itu juga, Arta langsung menghantam wajah Dhewor, yang mengakibatkan Dhewor limbung dan terjatuh dengan keras. Suasana pun berubah dengan cepat. Teriakan-teriakan penuh ancaman dan makian menggema dimana mana. Hal itu tidak menyurutkan serangan bertubi-tubi dari Iwan dan Arta. Iwan melancarkan beberapa tendangan kearah lawan-lawannya. Sesekali ia melayang di udara, sembari membabat kakinya yang seakan-akan menari-nari itu. Satu persatu lawannya tumbang, sementara itu Arta terus memburu Dhewor yang kelabakan menerima pukulan-pukulan Arta.
Dhewor dengan panik menyuruh anak buahnya menghadapi Arta, sementara ia berusaha mundur dari arena pertarungan, cari selamat. “Mau kemana kamu, pengecut!” teriak Arta marah.
“Heaaaaaaaa!!”
Serangan-serangan anak buah Dhewor tidak berarti apa-apa untuk Arta. Tubuh Arta meliuk-liuk menghindari setiap serangan yang ditujukan kearah dirinya, sementara itu setiap tinju maupun tendangannya, tajam menohok wajah, rusuk, ulu hati, maupun perut penyerang-penyerangnya. Arta tidak mau buang waktu. Setiap ia menghindar, saat itu pula serangannya masuk. Maka dalam waktu cepat, satu persatu anak buah Dhewor tumbang. Perlahan, Arta mendekati Dhewor yang kini sendirian dan ketakutan setengah mati.
“Beres?” Iwan mendekati Arta. Rupanya ia juga sudah membereskan pengganggunya. Wajahnya Nampak sedikit bengap, beberapa pukulan dari lawannya sempat masuk,namun tidak berarti banyak untuk Iwan.
“Beres.Tinggal satu ini” Jawab Arta sambil mencengkeram kerah Dhewor.
“Too,,tolong boss…ampuunn”
“Kamu kenal Dani, kan? Anak kelas 1 yang barusan kamu hajar? Itu temenku,sialan! Enak aja kamu minta ampun sekarang!” Ancam Arta.
“Oohh,..itu,, aku disuruh orang, boss..ampuunnn..”
“Siapa? Geng kelabang ireng? Udah diberesin sama temenku, jangan bohong kamu!”Timpal Iwan gregetan. Nggak sabar, Iwan melayangkan sebuah pukulan lurus, tepat ke arah mulut Dhewor. Kepala Dhewor terjerembab ke belakang. Mulut Dhewor kini penuh dengan darah, disusul dengan hidungnya yang nampak bengkok.
“Aaarrrrhhh,..aaaaaahhhhh”
Rupanya pukulan Iwan begitu telak mengenai Dhewor. Dhewor mengaduh aduh kesakitan.
“Mau lagi?”
Dhewor menggeleng-gelengkan kepalanya.
“A,..ampuunn…aku ngaku, aku memang ga suka sama anak itu. Tadinya takut, tapi dijanjiin sama Bana, kalo aku bakal dibeking sama geng kelabang ireng”
“Bana? Siapa Bana?”
“Bos,..dia bos di kelabang ireng, pak.eh,mas..dia hebat banget,bisa sihir. Tangannya bisa keluar api, makanya aku berani ngerjain Dani, mas…”
Arta dan Iwan saling berpandangan.
“ Kamu nggak bohong,kan??!” Arta mengangkat tinggi badan Dhewor sambil tetap mencengkeram kerahnya.
“Su,..sumpaahh! aku,.eh,saya ndak bohong,mas..!sumpaahhh!” Dhewor ketakutan.
“Huh!” Arta lalu melempar tubuh Dhewor, sehingga Dhewor bertabrakan dengan tubuh anak buahnya yang tergeletak di jalanan.
“Dengar! Sekali lagi kamu berani ganggu temenku,.. aku bakal dateng lagi ke kamu,..ngerti maksudku??!” Ancam Arta.
Dhewor kembali menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
Arta lalu memberi isyarat kepada Iwan untuk segera pergi dari situ. Mereka kemudian naik mobil dan langsung meningalkan tempat itu, dengan Dhewor dan anak-anak buahnya yang bergelimpangan di jalanan.
“Kalau memang bener yang dibicarain, berarti masalah ini lebih serius dari kelihatannya.” Ujar Arta. Arta lalu mengambil Smartphone dari saku jaketnya, lalu menekan tombol di atasnya. Tak berapa lama, terdengar suara San san diseberang.
“Halo”
“San! Kamu udah tau tentang Bana di kelabang Ireng?”Arta langsung bertanya sesaat setelah San san mengangkat teleponnya.
San san mendesah.”Iya, udah.Aku juga barusan dapet info dari anak buahnya tadi. Sayangnya, dia nggak ada disini”
“Aku lega dia nggak ada disana, San. Kamu tau kalau si Bana itu,..”
“..Bisa sihir api, ya, aku udah tau,Ta..”
“Kira - kira,..apa si Bana ini termasuk,..”
“..Caruga..Aku juga berfikir gitu, Ta. Dani masih di rumah Melani?”
“Aku kira dia masih disana”
“Kita ketemu disana sekarang. Iwan masih sama kamu, kan?”
“Iya, dia sama aku, kok. Disana beres,San?”
“,..Uum,, iya, beres, Ta. Jangan khawatir..”
“,…Nggak ada yang mati,kan?”
“……Uumm,..mudah-mudahan…”
Arta menepuk jidatnya.” Ya udah,..kita ketemu di rumah Melani sekarang..”
“Oke”
San san menutup hpnya. Ia menatap kosong ke depan, berfikir kira-kira dimana akar masalah ini dan Bana berada. Ia lalu mengedarkan pandangannya.
“Kita cabut sekarang”
San san beranjak pergi meninggalkan tempat itu, bersama anak buahnya. Sementara disekitar San san, nampak rumah yang sudah porak poranda, tubuh-tubuh preman yang begelimpangan disana sini. Seakan-akan, rumah itu baru saja disapu oleh badai besar yang datang entah darimana.
………………………………………
Dani baru saja berpakaian dan membasuh wajahnya ketika Ratna datang tergopoh-gopoh, masuk ke kamar dimana Dani berada. Dani maupun Ratna sama-sama terkejut, namun sekejap mereka kembali dapat mengontrol diri mereka, mengganggap bahwa semua baik-baik saja.
“Aku nggak apa-apa, kok.. ”Ujar Dani sambil terus membasuh wajahnya, sembari membelakangai Ratna.
Ratna hanya diam di tempatnya. Matanya tajam mengawasi kondisi Dani, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dani beranjak ke sofa, setelah ia selesai membasuh wajahnya. Ia lalu duduk, berusaha terlihat santai. Dani lalu memandang Ratna yang masih saja diam mematung di tempatnya.
“Kenapa? Udah liat kan, aku baik-baik aja?”
Ratna berjalan mendekati Dani, dan berhenti tidak terlalu dekat dengan Dani. Rupanya Ratna menjaga jaraknya.
“Kenapa kamu diam saja?”
Dani mendesah. Ia sudah mengira pertanyaan ini akan keluar.
“Jawab,.kenapa kamu diam saja? Padahal kamu bisa saja ngelawan mereka,kan?”
Dani merasa tidak perlu menjawab. Ia diam saja mengacuhkan pertanyaan Ratna.
Ratna mulai kesal.“ Jawab! Kenapa kamu nggak lawan balik?!!Oohh,..atau jangan-jangan, ini memang sifat asli kamu,? Pengecut, sok-sokan kuat,..kalau sama temen-temen kamu berani, tapi kalau sendirian jandi banci gitu, ya? Pengecut!”
“AKU BUKAN PENGECUT!” Bentak Dani sambil menggebrak meja. Ia tersinggung disebut seorang pengecut.
“Kalau gitu jawab, kenapa kamu..”
“Suka-suka aku mau kayak gimana,.. ngapain kamu urusin? Bukan urusan kamu,kan? Toh, kamu nggak pernah peduli sama aku. Kita tunangan itu paksaan, kan? Kalau bukan paksaaan, apa kamu tetep mau sama aku? Kamu nggak ada hubungannya sama aku, jadi jangan sok akrab! Lagian, nggak perlu aku kasih tau kamu alasan kenapa aku diam,..aku nggak wajib ngasih tau ke kamu!” Cecar Dani.
Ratna diam, namun matanya tetap menatap tajam kearah Dani. “Aku tau, aku memang nggak sebaik cewek-cewek kebanyakan. Tapi kamu salah ngeliat aku..Kamu salah..ternyata itu yang kamu pikirkan selama ini,..Oke,..aku ikutin permainan kamu..” Ratna berbalik cepat ke arah pintu keluar.
“Tunggu”
Ratna menghentikan langkahnya, dengan tetap membelakangi Dani.
Dani mengambil sesuat dari tasnya. Sebuah HP.
“Ini,..tangkap”
Dani melemparkan HP tersebut kepada Ratna, yang kemudian ditangkap oleh Ratna. Ratna melihat ke arah HP yang barusan ia terima dari Dani. Tidak seperti HP lainnya, HP ini didesain minimalis, namun tetap terlihat tangguh. Nampaknya HP ini memang didesain untuk kebutuhan khusus, tidak seperti HP komersial lainnya. Nampak logo Brahmana Corp terpampang di HP tersebut.
“Aku disuruh ayah untuk menyerahkan HP itu padamu. Sebenarnya udah cukup lama, tapi aku belum nemuin waktu yang pas buat ngasih ke kamu.. Ayahku ngasih HP itu ke kamu,..supaya kamu dan aku bisa kontak-kontakan lebih sering, karena di HP itu cuma ada nomorku, begitu juga HP satunya yang aku bawa,.. Dasar Ayah,ada-ada aja.. ”Rengut Dani kesal. “Jangan salah sangka,..aku kasih HP itu ke kamu,..itu,..Cuma karena,..aku disuruh ayahku aja,..lagipula, HP itu bisa untuk deteksi aura, terutama aura Caruga,..iya! itu fungsinya! jadi jangan salah sangka,…”
Ratna menukas, ”Dan juga jangan salah sangka. Aku terima HP ini juga karena kewajiban aku sebagai keturunan Ajisaka, dan rasa hormatku kepada paman,..sama sekali bukan karena kamu”
Dani diam. ”Cukup adil,..”
Ratna berbalik kembali membelakangi Dani.
“Aku kira,..kamu berbeda,…”
Dani mendengar tanpa menolehkan wajahnya kearah Ratna.
“Aku kira,..kamu berbeda dengan yang lainnya.. yang cuma bisa lihat aku dari satu sisi saja, sisi kekeratonanku,..”
“Tapi ternyata,. kamu sama saja..aku memang bodoh,..udah berharap banyak dari hubungan ini,..” Suara Ratna bergetar.
“Kita jalan saja apa yang dimaui orangtua kita. Tapi selebihnya, kita masing-masing tau, apa yang sebenarnya ada di antara kita berdua..”Ratna menaruh bungkusan yang sedari tadi dipegangnya, di atas kasur.
Dani terkesiap. Kamu nggak berbeda dengan aku, Na! Kamu seorang diri diantara jutaan orang, sama seperti aku!
Dani hanya diam. Ia bingung bagaimana harus bersikap, sedangkan seribu kalimat menyeruak di dalam hatinya, minta untuk diungkapkan. Namun ego dan sikap sarkastisnya mencegah hal itu terjadi, sehingga ia hanya bisa melihat Ratna yang setengah berlari keluar dari ruangan.
Dani menundukkan wajahnya. Perasaannya campur aduk saat ini.
Ah. Persetan! Persetan semuanya!
Tak bersemangat, Dani berdiri dari sofa, kemudian melangkah ke arah bungkusan tersebut.Ia sempat ragu untuk membukanya, namun suatu kekuatan berhasil menyuruhnya membuka bungkusan tersebut. Dani pelan membuka bungkusan tersebut. Ternyata, alat dan handuk bersih untuk mengompres luka. Dani hanya terdiam melihat benda-benda tersebut di atas tangannya. Ia menyingkarkan alat kompres, kemudian mengambil handuk kecil tersebut, lalu ia bekapkan di wajahnya. Dani lalu mengambil nafas panjang, dan sejurus kemudian ia tersenyum.
Wangi,..lembut.,..
Dan seketika jantung Dani terasa sakit.
,……………………………………………………………………
“….Um,.Dan?...” Melani ragu-ragu memanggil Dani. Ia, Arta, Iwan dan San san sebenarnya sudah ada di depan kamar Dani, dan memutuskan untuk tidak masuk karena mendengar suara ribut dari dalam kamar tersebut. Mereka tahu, bahwa situasinya tidak tepat apabila mereka masuk dan menyapa Dani serta Ratna di dalam, maka dari itu, mereka hanya bisa menunggu dari luar kamar. Dan betapa mereka, terutama Melani, terkejut saat mereka berpapasan dengan Ratna yang setengah menangis, keluar dari kamar itu. Dan tanpa banyak bicara, Ratna meninggalkan mereka berempat, yang juga hanya bisa diam tanpa kata-kata.
Kini, setelah dirasa situasi mungkin sudah mereda, mereka memutuskan untuk mencoba masuk ke kamar, melihat kondisi Dani, dan terpaksa membiarkan Ratna pergi, entah mungkin ia langsung kembali ke rumahnya saat itu juga. Melani mengintip ke dalam kamar dari sisi pintu. Ia melihat Dani yang sedang diam mematung, dengan sebuah handuk kecil di tangannya.
“..Uum,.Dan? Kita boleh masuk?” Melani ragu-ragu..
Dani diam sesaat, untuk kemudian melirik dari ujung matanya. “Heii,..masuk sini, ngapain di luar”
Ekspresi Dani yang tiba-tiba berubah seperti biasa, memang membuat Melani jadi sedikit tidak enak, namun ia tetap memutuskan untuk masuk kamar, diikuti oleh Arta, Iwan dan San san.
Dani tersenyum.
“Gimana, San?” Tanya Dani.
San san tersenyum. Ia sudah paham sahabatnya ini. “ Tadi aku mampir kasih salam sama geng kelabang irengnya,. sedangkan Arta sama Iwan mampir ketemu temenmu, Dhewor”
Dani terkekeh. “Benernya nggak usah,..orang besok mau aku beresin kok.. tapi ya udah, orang udah diberesin sama kalian” Dani kembali tidur di sofa, bermalas-malasan.
“Si San San tuh,bikin stori. Liat deh besok,mesti di koran ada” Arta tersenyum.
“Ah,..itu bisa diatur. Pokoknya aman”
“Dasaaarr” Iwan menambahi sambil tertawa.
“Tapi, Dan..ternyata hal ini lebih serius dari yang kita kira,..ini melibatkan Caruga” Arta memotong, langsung ke pokok permasalahan.
Dani menengok ke arah Arta, lalu memperbaiki posisi duduknya.“Maksudmu?”
“Ketua geng kelabang ireng, dan orang yang bekingin si Dhewor, namanya Bana. Baik dari si Dhewor maupun geng kelabang ireng, kita dapet informasi kalau si Bana ini bisa ‘sulap’ “ terang Arta sambil menekankan kata sulap dengan isyarat jarinya.
“Katanya, si Bana ini bisa mengeluarkan api di tangannya, Dan.. Kita tadi berusaha nyari dia, tapi dia menghilang. Kayaknya dia tau kalau kita mau nyambangin dia, kali”
Dani diam, mendengarkan kata teman-temannya. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum, “Okelaaahh,..nggak usah terlalu dipikirin”
Dani beranjak mendekati ke empat temannya tersebut, lalu duduk lebih dekat bersama mereka. “Yang tadi biar berlalu aja, kita pikir nanti. Sekarang, buat ngerayain sembuhnya aku, sama buat mengakrabkan aku sama temen-temenku di sekolah, kita adain party,yok. Ta, Wan, Mel, San,..besok kalian ikut, ya. Abis pulang sekolah, kita senang-senang! Hehehe,..” Ujar Dani santai.
Arta dan yang lainnya saling berpandangan. “Dan,..maksudnya?”
“Maksudku,..kita refreshing dulu…udaahh,..tenang aja, deh..yok, aku tolong anterin pulang..Mel, makasih buat semuanya yaa…Bye” Dani beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil barang-barangnya, dan pergi ke arah keluar. Teman-temannya yang bingung, hanya bisa mengikuti Dani dari belakang.
“Dan,…Ratna besok dikasih tau, nggak?” Tanya Melani, hati-hati.
Dani menghentikan langkahnya sejenak.
“Nggak usah,..jangan undang dia besok,.”
…………………………………………………………………………….
Suasana sore itu, benar-benar ramai. Bertempat di salah satu klub yang hype di kota Jogja, hari itu seluruh area tertutup untuk undangan, dan hanya orang-orang yang diundang oleh Dani cs yang boleh masuk. Tempat penuh sesak oleh muda mudi yang nampak senang menghadiri acara sore itu. Lounge, dance floor, tidak ada space yang tersisa. Musik-musik yang menghentak, diiringi riuhnya tepuk tangan, semakin membuat Arta bersemangat memainkan turn tablenya. Rupanya, Arta cukup jago memainkannya. Sementara, di sudut ruang lainnya, nampak Iwan dan Santo bermain billiard, ditemani pula oleh teman-teman mereka yang lain. Dani lebih memilih duduk di salah satu meja, bermain solitaire, dan sesekali memperhatikan teman-temannya yang sedang bersenang-senang.
Lihat mereka. Sebagian besar dari mereka tidak aku kenal. Mereka tertawa, tersenyum, bergembira, tapi entah mana yang tulus, entah mana yang tidak. Semuanya demi kepentingan orang lain..munafik
“ Hai, Dan!”
Dani melihat ke arah penyapanya. Melani sore itu tampak cantik, dan sangat casual. Dengan kaos dan celana jeansnya, Melani jauh dari kesan seorang putri keraton, namun menurut Dani, itu adalah daya tarik Melani.
“Sendirian?” Melani duduk di sebelah Dani, sambil menjaga gelasnya agar tidak tumpah.
“Yap..makanya, permainan ini dinamain Solitaire” jawab Dani acuh.
Melani diam. Matanya tertuju pada Dani.
Dani pada mulanya tidak memperdulikannya, sampai lama-lama ia merasa jengah diperhatikan seperti itu.
“Apa, Meel?”
“Nggak biasanya kamu kayak gini. Dani yang aku tau, bakal jauh-jauh dari hura-hura kayak gini, dan langsung nyari targetnya, dalam hal ini Bana, si ketua geng itu.”
Dani tersenyum. “Ada kalanya seperti itu,,ada kalanya nggak…”
“Maksudnya?”
Dani menghela nafas. Ia lalu menghentikan permainan kartunya.
“Pertama,..aku perlu menginvasi sekolahku ini. Perlu menunjukkan siapa bosnya disini”
“Nggak pake cara seperti biasanya? Cari pentolan sekolah, hajar, jadiin anak buah?”
Dani tersenyum. “Mel, mel..itu berlaku sama anak-anak yang bisanya pake otot doang. Gimana dengan yang lain, yang bisanya nongkrong di mall atau di perpus? Jumlah mereka lebih banyak, kan? jadi kuasai dulu mayoritas, baru ke minoritasnya. ”Jawab Dani sambil mengambil gelas, dan menenggak coke-nya.
Melani manggut-manggut. ”Terus yang kedua? ada alasan kedua, kan?”
Dani tersenyum. ”Kedua,..karena si Bana katanya ngincer aku, maka nggak diundangpun, dia pasti bakal dateng kesini,..tuh, dia ada di lounge sekarang,. sekitar 30 menit yang lalu”
Melani kaget. Ia kemudian cepat-cepat melihat ke arah lounge, dan memang nampak beberapa orang berpakaian hitam yang nampak mencolok. Sudah jelas, mereka tidak berasal dari lingkungan sekolah.
“Lho,..sekuriti yang kamu sewa professional, kan? kok bisa tembus? padahal mau masuk juga pake ID sekolah, kan?
Dani menghabiskan minumannya. “Itu berarti mereka bukan cuma manusia biasa, kan? Perlu orang hebat buat nembus di tempat ini, sama sekuriti yang aku sengaja sewa terpisah,..ayo, Mel. Saatnya pesta”
Dani melangkah tengah dance floor. Melani mengikuti dari belakang. Sementara, orang-orang berpakaian hitam tersebut kini jelas-jelas memperhatikan Dani yang mendekati tempat mereka. Untuk mencapai lounge dari tempat Dani minum-minum tadi, Dani harus melewati dance floor terlebih dahulu.
Sesampainya di tengah dance floor, Dani mengangkat tangannya. Lalu ia menoleh ke arah Arta. Arta yang melihat hal tersebut, menghentikan permainannya.
Dani tersenyum.“ Teman-teman semuaaa,..terima kasih atas kedatangannya, dan aku ucapkan terima kaaasssiiiihhh,..” Pidato awal Dani disambut gemuruh riuh teman-temannya. Iwan dan San san yang melihat euphoria tersebut, menghentikan permainan billiardnya.
“Kalian senang semua?? Oke, aku harap begitu,yaa..aku harap, aku bisa membuat kalian senaaaang terus menerus, selama aku disini,….sebagai gantinya,. selama aku membuat kalian senang, yah, aku kira nggak salah kalau aku minta kalian bikin aku seneng juga. Fair kaaann??”
Tepuk tangan masih membahana setelah itu.
“Hahaha,..ya,.ya,..ya,.terima kasih,..terima kasihh,.buat semua yang udah kalian apresiasi ke aku, sungguh, aku ngehargain banget meskipun aku masih inget betapa pandangan kalian, omongan kalian,,..sebagian besar dari kalian nggak seperti ini ke aku waktu aku pertama masuk sekolah.. aku masih inget dan denger gimana mata, tangan kalian, lidah kalian ngeliat aku saat itu,..hehehe..”
Suasana berubah menjadi awkward.
“Tapi heeii,..jangan salah sangka,..aku paham kok,..paham betul seperti itu,..udaahh,,.tenang,aku udah biasa diliat kayak gitu, jadi kalian yang mau nggak ngelakuin kayak gitu lagi mulai besok aku masuk sekolah,.aku ngucapin terima kasih,.bagi kalian yang mau nerusin ngeliat aku sama seperti sebelumnya, juga silahkan aja,..tapii,. tentu aku nggak akan seramah kayak gini lagi,..sama kayak nggak semua orang yang bisa masuk dan bersenang senang, seperti kalian saat ini..
Melany, Iwan, Arta dan Santo terdiam. Mereka paham apa yang ingin disampaikan oleh Dani. Tak sadar, air mata menetes di sudut mata mereka.
“Yaahh,..untuk hari ini dan selamanya,,.aku angkat gelas untuk kalian semua,..selamat bersenang senang temanku semua,..pleeeaase,..bersenang-senanglah..”
Suasana masih canggung.
“Ooh,.dan tolong maafkan saya, apabila ada kata-kata saya yang tidak pantas, sehingga membuat susasana tadi nggak menyenangkan,..saya minta maaf…dan untuk menebus kesalahan saya ini, silahkan teman-teman sekarang pindah ke gedung sebelah, dimana pesta yang lebih besar dari ini udah menunggu.. dan ada hadiah langsung buat teman-teman disini. Hitung-hitunglah, sebagai tanda perkenalan dari saya..Uum,.sebuah AIPhone 6 untuk kalian semua udah lumayan cukup, kan? Nanti disana masih banyaaaakk kejutan lagi buat kalian,.oya,kalo AIPhone-nya udah diterima, jangan lupa telepon-telepon saya nanti,yaa..”
Suasana berubah menjadi histeris. Dani mengayunkan tangannya sebagai isyarat, dan kemudian sebuah pintu terbuka. Di luar sudah menunggu sebuah bus eksekutif yang akan membawa mereka ke gedung tempat pesta akan diadakan selanjutnya. Melani, Iwan, Arta dan San san terkejut dengan kejutan yang dilakukan Dani saat ini. Mereka kemudian memandang Dani yang tetap mematung di tengah dance floor, begitu pula dengan orang-orang berpakaian hitam di seberangnya. Dalam sekejap, mereka paham rencana Dani. Mereka berempat lalu beranjak mendekati Dani yang diam tersenyum ke arah orang-orang berpakaian hitam tersebut.
“Yang mana yang namanya Bana?” Tanya Dani setelah tidak ada seorangpun selain mereka berlima dan orang-orang berpakaian hitam. San san menghitung, total ada empat orang, dan salah satu di antara mereka melangkah maju.
“Ahahahahaha,…kamu sengaja bikin pesta ini, karena kamu tau kalau aku bakal nyari kamu, kan..dan sengaja juga kamu kosongkan tempat ini, supaya nggak ada korban selain selain kalian berlima, kan?” Ujar seseorang yang bernama Bana, sambil membuka tutup kepala yang sedari tadi digunakannya.
Dani tersenyum. “Yah,..kalau nggak seperti ini, gimana bisa kita mulai pesta sebenarnya?”
“Apa mau kalian? ”Dani bertanya serius, tiba-tiba merubah raut wajahnya.
“Serahkan Smartphone kalian., Kami perlu teknologi kalian” jawab Bana menjulurkan tangannya.
“Menyerahkan ke kacung sama reptil macam kalian? Kalian pikir kami gila? Melani menimpali.
“Hehehe,..kita tau itu nggak mungkin terjadi, kan?” Arta mengacungkan tinjunya.
“Sama sekali nggak akan terjadi” Iwan tersenyum dari sudut bibirnya. RRRAAAAAGGHHHH!!
Ketiga orang di belakang Bana mengerang, dan kemudian terjadi perubahan pada tubuh mereka. Tubuh mereka mengeluarkan lendir yang pelan-pelan merubah struktur tubuh mereka menyerupai reptile. Bau menyengat serta geraman-geraman mengerikan membahana di ruangan tersebut, menebarkan ancaman dan kematian.
“Hahaha! Kalian sudah membuat mereka marah. Tampaknya sudah tidak sabar ingin segera mengunyah tubuh kalian” Bana tertawa jumawa.
“Grr,..kamu pikir kami siapa,hah?” tangkas San san geram.
Bana tertawa lebih keras “Hahaha,..percuma saja,. kalian bukan kami,..sekarang, serahkan.,…BUUUAAAAGGGHHH!”
Sebelum Bana menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan secepat kilat menghantam wajah Bana, sehingga ia terjungkir, melayang cukup jauh, lalu menghantam dengan keras dinding lounge. Meja, kursi yang terhantam tubuh Bana, hancur berkeping-keping. Diatas lantai tempat Bana tadi berpijak, tampak Dani berdiri, menyempurnakan kuda-kudanya. Rupanya tadi Dani yang menyarangkan sebuah tendangan terbang ke arah wajah Bana.
Di sudut matanya, Dani berdiri sambil berkomentar sinis, ”Sampai kapan kamu mau bicara, hah? Powermu itu di mulut doang, toh? menyedihkan”.
Bana perlahan bangkit dari puing-puing meja dan kursi. Raut wajahnya menyeringai menyeramkan. Tampak bekas tendangan Dani, mengelupas sebagian wajahnya, dan dari bagian yang terkepulas tersebut, mulai muncul api yang memijar. “Tampaknya, aku harus membunuh kalian untuk mengambil benda itu dari kalian”
“Hmmph” Dani tertawa sinis.“Kami tidak pernah memberi. Kami selalu mengambil..Hari ini,..kami ambil nyawamu untuk semua dosamu!” ujar Dani sambil menunjuk langsung ke arah Bana.
Bana tertawa.“ Kalian akan menyesal berhadapan dengan aku. Patih penguasa api neraka, ..BANASSSPAAATIIII,.!!!”
Tubuh Bana mengelupas satu demi satu dengan cara yang mengerikan. Api bermunculan dari bagian-bagian yang terkelupas tersebut. Tidak hanya berpijar, api itu menjilat, menghancurkan apa saja yang disentuhnya,. Kondisi itu berlangsung , sehingga api dengan sempurna menyelimuti tubuh Bana, dan dengan satu pijaran kilat,.menampakkan wujud asli Banaspati.
Seluruh tubuhnya hitam legam, berbalut dengan urat-urat yang menjijikkan, menyelimuti seluruh tubuhnya, kecuali telapak tangan, telapak kaki serta kepalanya. Wajah Banaspati Nampak mengerikan, terbakar oleh jilatan api, namun kedua matanya seakan terbuat dari Kristal, tajam lurus menatap Dani dan kawan kawannya.
“Hweehweeheee,..Sekarang,mati kalian!” Banaspati memperlihatkan taring apinya yang mengerikan, mengancam siapapun yang berada di hadapannya.
Dani tersenyum. Ia kemudian mengambil Smartphone dari saku celananya.
“Mati? Nanti-nanti aja, deh..kamu duluan,ya?” Arta mengambil Smartphone dari saku jaketnya.
“Hahaha! Kita anter mereka mati duluan gimana, bro?” Iwan nyengir, serta sambil merangkul Dani, sahabatnya, ia juga sudah menggenggam Smartphone di tangannya.
“Setuju,..” San san maju sambil mengenggam Smartphone-nya.
“Hancurkan monster jelek di depan kita inii,..aaarrghhh!” geram Melani galak.
Teman-temannya sempat kaget melihat reaksi Melani, tapi kemudian mereka malah tertawa.
“Apaan,sih?” balas Melani sebal.
“Hahaha,..habis,kamu sih,Mel.. Nah,sekarang saatnya..Nggak salah juga mengorbankan ikan teri, dan bersabar untuk kemudian dapat ikan kakapnya” Tangkas Dani.
Iwan dan Arta sempat tersadar, “Hei, Dan..Berarti memang sengaja kamu biarin kita ngurusin Dhewor, supaya kamu bisa dapet bosnya,ya? Kita ngurusin teri,dong??”
Dani tertawa, lalu mengedipkan matanya.
“DAAAAAAAAAAAAAAANNN!!”
San san menimpali, ”Mau teri mau kakap,itu kerja tim. Harusnya memang begitu”
“Hahaha! Yah,..maaf ya, teman-teman…nanti protesnya dilanjutkan habis kita menjamu kangmas Banaspati ini, ya..”
“Dan,..hati-hati,, Banaspati ini kayaknya berbahaya banget” Ujar Melani khawatir,
Dani tersenyum ke arah Melani. “Jangan bercanda, Mel”
“BUNUH MEREKAAAAAAA!!” Perintah Bana garang.
GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGHHHHH!! Para Caruga pun maju serentak.
“Teman-teman,..” Dani tersenyum sampil men swipe beberapa kali layar Smartphone dengan beberapa pola usapan tertentu, dan hal ini pun dilakukan juga oleh teman-temannya. Usapan pola tersebut ternyata kode, karena begitu selesai, interface Smartphone tersebut berubah drastis, dan terdapat sebuah tombol aktivasi secara digital.
Dani dan teman-temannya menekan tombol tersebut secara bersama-sama.
COSTUME READY!
GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGHHHH!!!!
Sesaat para Caruga menerjang Dani dan kawan-kawannya, pijaran cahaya yang sangat menyilaukan menyelimuti tubuh mereka.
TA!
“Heaaahhhh!” Seekor Caruga terpental terkena pukulan dari Arta.
SA!
“SSsssssaaaHHH!” Caruga yang lain jatuh terjerembab, terinjak kaki San san yang menapak dalam ke tanah.
WA!
Caruga berikutnya terpental ke udara, terkena tendangan di udara dari Iwan
LA!
Dalam sekejab, Melani melesat ke udara, menyambut Caruga yang tadi di tendang oleh Iwan, dan kemudian menghantamkannya kembali ke bawah dengan sebuah sikutan.
“Heaaaaa!!!!”
Banaspati tercengang. Diantara kebingungan mengenai begitu cepatnya semua terjadi, tiba-tiba Banaspati melihat sekelebat cahaya berwarna merah melesat ke arahnya. Dani!
DA!
“Ini pembayaran hutangku atas semua yang sudah kamu lakukan kepada kami” ujar Dani saat ia sudah ada tepat di depan Banaspati yang tidak dapat melakukan apapun.
Dalam hitungan detik, Banaspati sudah dihujani pukulan dan tendang bertubi-tubi dari Dani, dan berakhir dengan sebuah tendangan putar tepat di wajah Banaspati yang kembali terjerembab ke sisi lain ruang lounge.
UAAAAAAAAAAAAGGHHH!!
Dari keping-keping ruangan yang mulai hancur disana sini,..tampak lima sosok berdiri dengan gagahnya. Kostum mereka terpasang rapat, dengan ke khasan huruf Jawa Da, Ta, Sa, Wa, La, terukir indah di helm mereka masing-masing.
“Teman-teman,..mari kita selesaikan ini” Dani memberi komando.
“SIAP!”
Serentak, mereka berkelebat menuju sasaran masing-masing. Iwan meloncat tinggi, menyambut Caruga yang akan menyerang dari udara. Ia dan Caruga itupun bertukar pukulan di udara.
“HYaaaaahhh!! Hyaaaaahhh!!”
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAGGHHH!!”
San san meloncat tinggi di udara, dan menukik tajam ke bawah, bermaksud untuk menyarangkan pukulan terakhir kepada Caruga yang terlebih dahulu melesak ke dalam tanah. Namun, Caruga tersebut berhasil melarikan diri, sehingga serangan San san sia-sia. Saat akan menyerang balik San san, Melani mengirimkan sebuah tendangan tepat di tulang iga Caruga.
“AAAAAAAAAAAARRRRGGHH!!!””
Caruga tersebut memekik kesakitan, dan meluncur menghantam dinding dengan keras. Debu-debu beterbangan, dan sebelum semua itu usai, San san yang sudah kembali siap, meluncur mengejar Caruga tersebut, dan melesakkan tinjunya ke arah kepala Caruga.
“Heeeeeeeeeeeeeeeeeaaaaaa!!”
“GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”
Tinju San san menghantam tepat di tengah mulut Caruga, melesak masuk hingga menembus kepala belakang Caruga tersebut yang mengakibatkan hancurnya dinding di belakang mereka. San san meraih tangannya dan mundur, karena di belakangnya, Melani sudah ikut meluncur, dengan sebuah tendangan tepat di dada Caruga malang tersebut.
KRAAAAAKK!!
Terdengar bunyi tulang dada yang remuk begitu keras di udara. Caruga tersebut tewas di tempat.
Caruga yang ada di dekatnya, tampak ketakutan. Ia berusaha mencari jalan untuk melarikan diri. Namun malang, sebelum ia bisa bergerak, sebuah pukulan keras diterimanya dari belakang, menghantam tepat belakang kepalanya. Dani yang melakukannya.
“Ta! Buat kamu!”
Caruga tersebut melayang ke arah Arta, sementara Arta bersiap-siap dengan kuda-kudannya.
“Heeeeeaaaaaaaaattt!”
Arta menebas sekuat tenaga ke arah kepala Caruga tersebut, dan terus hingga seluruh tubuhnya terbelah menjadi dua. Jeritan pilu Caruga tersebut, tak menghentikan Arta yang tanpa ampun menebas hingga tuntas.
Banaspati yang melihat kondisi itu, meloncat tinggi, bermaksud untuk mengepung Iwan yang masih bertarung dengan seekor Caruga di udara. Banaspati menyiapkan pijaran api ditangannya.
“Makan ini!”
Banaspati menyerbu Iwan dengan pijaran-pijaran bola api, yang mengejar Iwan. Iwan yang terdesak, terpaksa menyudahi pertarungannya dengan Caruga tersebut, dan mulai berkonsentrasi menghadapi bola-bola api Banaspati.
“Arrgghh!” Iwan mengaduh kesakitan saat sebuah bola api menghantam tubuh sebelah kirinya.
Caruga di bawahnya tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia lalu memutar ekornya, dan membelit leher Iwan.
“SSSSSHHHAAAAAAAAAAAAAA!”
Caruga dengan Iwan di belitan ekornya, menukik turun menghantam tanah di bawahnya.
“Ughh!”
Iwan terjerembab dengan keras di bawah. Banaspati yang masih diatas, berkonsentrasi di tangan kirinya. Pijaran api yang menjilat, mulai membentuk sebuah cambuk.
“Maaaattiiiiiiii!!”
Banaspati melontarkan cambuknya ke arah Iwan. Jilatan panas bahkan sudah terasa dari jarak yang jauh. Sebelum cambuk Banaspati sempat menyentuh Iwan, Arta lebih dahulu menerjang masuk, dan mengambil tubuh Iwan menghindari sasaran tembak cambuk Banaspati.
Arta berhasil,namun..
“Aaahhh!!”
Arta sedikit berguling ke kanan, karena punggungnya sempat terkena cambuk Banaspati.
“Iwan!”
“Sialaaann! Sekali lagi!”
Banaspati mengangkat cambuknya, dan kembali menghantamkannya ke arah Iwan dan Arta.
San san melesak masuk. Ia menghantam wajah Caruga tersebut, dan kemudian memeluk sisa ekor yang masih membelit leher Iwan.
“HAAAAAAAAA!”
San san sekuat tenaga mengangkat tubuh Caruga tersebut melalui ekornya, dan mengarahkannya ke lintasan cambuk Banaspati.
“KIIIIEWWWWWWWWWWW!!”
Tubuh Caruga terbelah dua begitu disabet cambuk api Caruga. Jeritan dan ceceran tubuh Caruga memenuhi udara.
“Sialaaaannn!!” Banaspati kesal, karena serangannya tak berhasil mengenai musuhnya, malah membunuh Caruga yang dibawanya.
“BANASPATIIIIIIII!”
Dari kejauhan, Banaspati melihat Dani melesat maju dengan penuh amarah.
Banaspati terpaksa menyabet ke samping cambuknya. Sesaat sebelum cambuk tersebut menyentuh tubuh Dani, Dan mengangakat tangannya, dan dengan pijaran cahaya kecil dari tangannya, keluarlah Rebab yang digunakan untuk menangkis dan menangkap cambuk Banaspati. Banaspati yang kaget, tak sempat berbuat apa-apa ketika ujung Rebab Dani menusuk tepat di jantungnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGGHH!!”
“HEEEEEEEEEAAAAAAAAAAA!!!”
Dani kemudian memegang Rebab dengan kedua tangannya, melempar tubuh Banaspati kebawah dengan sekuat-kuatnya. Tubuh Banaspati menghantam tanah dengan kerasnya, sehingga membentuk kawah kecil dibawahnya. Dani mengikuti Banaspati dan mendarat diatas tubuh Banaspati.
“Banaspatii,..berani benar kau melukai teman-temanku,..TIDAK KUMAAFKAN!”
Banaspati yang sudah sekarat, terkekeh-kekeh,..
“Bergembiralah untuk sesaat, prajurit.. Karena sebentar lagi, bangsa kami akan menggantikan setiap dari kalian di bumi yang makmur ini,..dan aku, akan berbahagia melihat itu di kahyangan nanti,hahaha….”
“Itu menurutmu,..ketahui ini,..selama aku ada,..takkan kubiarkan kalian menang.. Itu sumpahku”
Dani mengeluarkan panah ditangan kirinya, dan mulai menaruhnya di senar Rebabnya.
“Untuk kamu di alam sana, hadiah pengantar.Pergi ke neraka, dan terkutuklah kamu selamanya disana!”
“DANI!” Melani yang melihat keadaan itu, langsung menutup kedua tangannya ditelinganya.
“IWAN! SANSAN! ARTA!” Melani memperingatkan ketiga temannya yang lain,yang segera dilakukan oleh ketiganya, menutup telinganya.
“Hrrrrrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,..”
Dani mulai memainkan panah di senar Rebabnya. Ibaratnya badai, di ruangan itu menjelma menjadi pusat badai yang semakin lama, semakin menghebat. Nada-nada yang dihasilkan dari setiap gesekannya, merupakan nada yang tak dapat terbayangkan, mengerikan, penuh dengan ajakan kematian. Nada-nada yang tidak akan diharapkan seorang atau seekor makhluk hidup pun untuk didengarkan. Mata Banaspati melotot, tubuhnya mengejang, nampak sedang mengalami kesakitan yang menghujam tajam tanpa ampun disetiap sel tubuhnya, membuat ia berharap untuk tidak pernah dilahirkan demi berakhir mendengarkan nada demi nada. Sementara wajah Dani menengadah, matanya bersinar menghadap langsung ke langit, seakan sedang menerima mandat kematian langsung dari sisi gelap kahyangan.
“DANIIII! HENTIKAAANN!” Melani memberanikan diri untuk menerjang mendekat ke arah Dani, karena nada ini akan menghancurkan siapapun yang mendengarnya, tidak peduli kawan atau lawan. Dani memang belum bisa mengendalikan kekuatan ini.
“DANIIIIIIII!!” Melani menjerit dalam hati, dan ajaib! Tiba-tiba Dani tersadar, menghentikan permainannya. Ia lalu meloncat, membuang Rebab yang sedari tadi di pegangnya, lalu duduk terjatuh meringkuk ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, seiring dengan dilihatnya tubuh Banaspati yang perlahan melepuh, dan menerbangkan sisanya ke udara dengan tarian darah yang tersebar ke segala arah. Pemandangan yang mengerikan.
Melani segera melompat, memeluk tubuh Dani yang ketakutan.
“Sudah, Dani..sudah..semua sudah selesai,..aku, Iwan, Arta dan San san sudah tidak apa-apa,..sudah,..sudah,..” Bujuk Melany menenangkan.
Sementara itu, Iwan, San san dan Arta mendekati Dani yang masih ketakutan memeluk erat tubuh Melani..
……………………………………
…………………………………….
“Bagaimana, kangmas? Untung saja, kita tidak perlu turun tangan”
“Iya,..saya sempat cemas, kangmas. Barusan den Dani hampir tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Ini sangat berbahaya.”
“Saya kira, ini tanggung jawabmu, kangmas.. Tolong jaga Raden dengan baik. Kangmas bilang, harus pelan-pelan,..tapi kalau melihat hari ini, saya berpendapat sebaliknya. Mohon agar kangmas segera memperhatikan hal ini”
“…Saya mengerti, nyimas..Saya akan lebih awas lagi”
Seorang yang terlihat berwibawa, dan berumur di atas yang lainnya terdiam melihat Dani dan kawan-kawannya dari jauh. Sudah dari awal, mereka berlima mengawasi perkembangan demi perkembangan peristiwa hari ini. Ia kemudian mengelus-elus jenggotnya.
“Masih banyak yang harus dipersiapkan.. Mari, saudara semuanya, kita kembali ke tugas masing-masing”
Keempatnya memberikan salam dengan menakupkan kedua tangan di depan wajah masing,.. lalu satu persatu menghilang di semilirnya angin malam itu.

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger