Posted by : AksaraProject Sunday, March 27, 2016

Ring



Malam itu, kediaman keluarga Sanjaya Ganesha begitu meriah. Suasana keraton Jawa begitu kental dengan penampilan para tamunya, dekorasi, musik latar, serta kuliner khas Jawa Tengah. Para tamu silih berganti, dan setiap saat itu juga, Sanjaya Ganesha, seorang pengusaha dan ayah dari Melani, begitu gembira menjabat setiap tamu yang datang, serta menyambut mereka dengan sukacita. Ruang tengah serbaguna yang lebih cocok disebut ballroom super megah, di sulap menjadi sebuah perayaan yang tidak akan bisa dilupakan. Dan malam itu, Melani menjadi salah satu bintangnya.
Melani yang terdiam, membiarkan periasnya sibuk mendandani dirinya di salah satu ruangan kamar, sungguh tidak bisa menduga. Tiga malam sudah berlalu sejak dirinya menerima telepon dari Teddi Brahmana, ayah Dani, sesaat setelah ia dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan Kaliura di perayaan Imlek. Bagai disambar petir, Melani tak dapat melupakan apa yang disampaikan oleh sahabat karib ayahnya tersebut.
“Melani, kalian tidak terluka?”
“Ah, Paman Teddi.. Iya, kami baik-baik saja, paman. Terima kasih.. Paman mau bicara dengan Dani? Dia ada, kok” Jawab Melani sedikit heran, karena tumben-tumbennya paman Teddi, ayah Dani, menelepon dirinya.
“Ah, nggak.. .Paman tahu, paman tetap memperhatikan kalian dari sini dengan tim. Hanya saja, paman memang ingin bicara dengan kamu. Oh ya, sehabis ini jangan lupa datang ke lab. Kita periksa armor kalian yang terkena jaring itu. Kalian baik-baik saja, kan? Dari sini terlihat jaring itu cukup mengganggu armor kalian”
Melani menggeleng cepat. “Kami baik-baik saja, paman. Memang tadi sedikit berbahaya situasinya, tapi kami bisa mengatasinya. Baik,nanti kami ke lab seperti biasanya.. Oya paman, ada yang mau disampaikan dengan Melani?” Entah kenapa, jantung Melani berdebar tidak seperti biasanya, merespon situasi yang tidak biasa ini.
“Baguslah… Begini… Melani tahu? Paman sudah banyak bicara dengan ayahmu. Kami berdua berdiskusi serius, dan diskusi ini sudah berlangsung lama sebelum paman beritahu Melani malam ini. Kami berdua memutuskan sesuatu, yang penting dan menyangkut kepentingan banyak orang. Termasuk juga kepentingan masa depan Melani…dan keluarga Melani…”
Melani semakin bertanya-tanya apa yang terjadi.
“Aku dan ayahmu memutuskan untuk mentunangkan kau dangan Dani”
Bagai tersambar petir, Melani diam mematung. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sebelumnya.
“Ma...maaf, paman…paman tadi…tadi bilang apa?”
Suara tawa kecil di seberang ,Melani dengar dari Teddi Brahmana.
“Paman akan mentunangkanmu, menjodohkanmu dengan putra Paman, teman baikmu itu. Dani Putra Brahmana”
“Ta...tapi...tapi...Dani sudah tahu hal ini, paman? Kenapa tiba-tiba sekali? ayah tidak pernah memberitahu saya,paman.” Tanya Melani, gugup sambil memain-mainkan ujung rambutnya.
“Dani akan mengerti. Dan dia akan setuju. Urusan Dani nanti sajalah, paman yang atur. Sekarang yang penting, dari Melani sendiri. Apa Melani bersedia menerima Dani sebagai tunanganmu?”
Melani diam. Mendadak, wajahnya memanas, jantungnya berdegup kencang, dan Melani tiba tiba tak dapat berbuat apa-apa.
“Melani,..kamu masih disana?”
“…Uumm. Iya, paman. Melani masih disini..”
“Hahaha... Baguslah… Paman pikir kamu entah kemana tadi. Jadi...apa jawabanmu,nak?”
Melani merasa wajahnya makin memanas. Ia hanya dapat tertunduk malu dan menjadi salah tingkah meskipun ia tahu bahwa Teddi Brahmana tak dapat melihat reaksinya saat ini.
“Ah, pernah ada yang bilang kepada paman, bahwa diamnya seorang perempuan, terutama di masalah jodoh, berarti perempuan itu menerima jodohnya tersebut…begitu, nak?”
Melani semakin tersipu malu,”Ah, paman...”
“Hahahaha… Nak, paman anggap itu jawaban ya dari kamu. Segera pulang, nak. Temui ayahmu...Ia akan menjelaskan segala sesuatunya, ya,nak?”
“Iya,paman” jawab Melani, masih tertunduk malu.
“Hahaha… Baguslah, paman tutup,ya? sekarang paman mau menelepon tunanganmu itu.”
=====
Sebenarnya, hingga beberapa saat acara pertunangan akan diadakanpun, Melani masih tak percaya atas apa yang akan ia hadapi nanti. Pikirannya berlari kesana kemari hingga sering mengacaukan konsentrasinya. Terkadang ia tersenyum sendiri, membayangkan apa yang bisa ia lalui bersama Dani nanti, yang mengakibatkan dirinya malu sendiri. Saat ini, tantangan yang Melani hadapi sebenarnya bukanlah situasi dan kondisi yang cukup mendadak yang menentukan nasibnya di kemudian hari, melainkan tantangan untuk mengatasi dirinya sendiri. Dan sebagai salah satu pengguna armor Aksara, Melani menyadari bahwa ia dipersiapkan pula untuk siap menghadapi situasi paling pelik pun. Namun tidak dengan situasi yang seperti ini.
Keluarga besar berkumpul ke tengah rumah, dimana jamuan besar sudah dipersiapkan. Ragam kuliner dan minuman berciri khas Jawa Tengah, disajikan untuk memanjakan selera tamu yang datang. Teddi Brahmana dan Sanjaya Ganesha, berjabat tangan entah sudah yang keberapa kali. Senyum mereka mengembang tak putus putusnya. Disekelilingnya, keluarga maupun relasi dari kedua keluarga besar nampak larut dalam kebahagiaan tersebut. Namun tidak dengan Dani. Dani yang malam itu berbusana resmi, duduk dengan sikap yang resmi pula. Meskipun wajahnya tersenyum, menyambut setiap ulran tangan yang ditujukan padanya, mengucapkan selamat, namun raut wajahnya menunjukkan sebaliknya. Hal ini setidaknya diketahui para sahabatnya, Arta, Sansan dan Iwan, yang duduk disebelah Dani, menemani sahabatnya tersebut.
Dari ketiganya, nampak Arta yang paling cemas. Berulangkali ia melihat ke arah Dani, ke arah tamu, dan ke arah suasana perhelatan pertunangan tersebut. Iwan yang lama kelamaan merasa terganggu dengan ulah sahabatnya tersebut, menyenggol Arta pelan.
“Psst! Apaan,sih? Kayak cacing kepanasan aja kamu itu”
“Kamu nggak liat Dani, bro? Liat aja mukanya, bayangin apa yang bisa dia lakuin di acara besar kayak gini.”
“Udah...percaya aja sama Dani”
“Itu yang aku takutin, brooo.. Begitu tau Dani sama Melani ditunangin, rasanya gila banget, tau nggak?? Maksudku, waktu tiga hari yang lalu, malem itu kita diberitau, rasanya...gimana ya...jgeeerr! gituu, cetar membahana! Maksudku, Dani sama Melani yang lama kita kenal itu, lhoo.. gitu…”
“….Lebay…” sungut Iwan.
Iwan mengambil nafas panjang. Dalam dirinya sebenarnya mengiyakan kecemasan itu, namun ia tidak mau menunjukkan hal itu ke sahabatnya. Sansan yang nampak paling tenang diantara mereka hanya bisa melihat Iwan dan Arta berbisik-bisik dari tadi. Diam-diam ia berdoa dalam hatinya agar acara malam ini berjalan dengan lancar.
Sanjaya Ganesha berjalan ke tengah panggung kecil yang dipersiapkan di tengah ruangan. Dengan sumringah, ia meminta perhatian kepada seluruh tamu yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Selamat malam, semuanya..saya ucapkan selamat datang kepada seluruh yang hadir malam ini. Malam yang berbahagia… Saya ucapkan selamat datang, kepada keluarga besar sahabat saya yang tercinta, bapak Professor Doktor Insinyur Teddi Brahmana, Msc, Phd. Dan mungkin gelar lain yang sudah beliau tambah tanpa kita ketahui,. ”Para tamu tertawa mendengar gurauan Sanjaya. “Apapun gelar bapak Teddi Brahmana ini, yang saya ketahui betul-betul hanyalah satu,..yaitu gelar sahabat terbaik untuk saya, dari mulai kecil, hingga setua ini” tepuk tangan membahana di ruangan tersebut.
“Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, saya sangat berbahagia malam ini, karena hubungan persaudaraan kami akan masuk ke dalam arti yang sebenarnya… Malam ini, saya dan keluarga besar Ganesha, dengan beliau, dan keluarga besar Brahmana, akan menyatukan putra putri kami ke dalam tali pertunangan.”
Tepuk tangan dan senyum bahagia menyertai sebagian besar orang-orang di dalam ruangan tersebut.
“Semoga TUHAN merestui niat baik kami sekeluarga, dan semoga semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun, hingga pertunangan ini dapat berlanjut ke tahap berikutnya. Bukan begitu, pak Teddi?” Teddi Brahmana tersenyum senang. “Dan tidak memperpanjang waktu, saya panggil putri saya tercinta, Melani Anjani Ganesha..”
Sebuah tirai terbuka. Iring-iringan penari dan pager ayu menyeruak masuk dengan penuh irama. Dengan megahnya, Melani muncul di tengah iring-iringan. Semua mata memandang takjub ke arah Melani yang malam itu tampil menawan, seakan kata cantik, tidak dapat memuat kiasan penampilan Melani malam itu. Melani melangkah pelan, menuju ke atas panggung dimana ayahnya berada. Hingga Melani sampai ke atas panggung, tiada sepatah katapun yang terucap, yang ada hanya tarian dan musik dari para pengiring, yang sayup menghilang kembali ke balik tirai.
Sanjaya Ganesha menyambut Melani dengan pelukan dan kecupan penuh kasih sayang. Dengan memeluk lembut Melani yang ada di sebelahnya, Sanjaya Ganesha membuka tangannya ke arah Dani berada. “Sekarang, kita sambut putra kebanggaan Brahmana, Dani Putra Brahmana...kemarilah, nak”
Dani berdiri, dan melangkah ke arah panggung. Di tengah jalan, ia disambut ayahnya, menggandengnya dengan penuh kebanggaan, menuntunnya ke atas panggung. Dani yang nampak tenang, diam saja ketika disandingkan dengan Melani yang tersipu malu. Berseberangan dengan Dani, kawan-kawannya menahan nafas, berharap sesuatu yang buruk tidak sampai terjadi.
“Nak Dani, silahkan…” Sanjaya Ganesha mempersilahkan Dani untuk melakukan proses selanjutnya. Seorang abdi dalam yang sudah bersiap di pinggir panggung, menyerahkan kotak kecil di atas baki kepada Teddi Brahmana, yang kemudian diserahkan kepada Dani. Dani mengambil kotak tersebut, dan membuka isinya. Sepasang cincin indah ada di dalamnya. Dani mengambil sebuah, dan memasangnya di jari manis kiri Melani, dan kemudian Melani dengan malu-malu yang tak dapat ditahannya, memasangkan cincin lainnya di jari manis kiri milik Dani. Suasana berubah gegap gempita. Sukacita berada di seluruh sudut ruangan tersebut, dan di pojok ruangan, Arta, Iwan dan Sansan menarik nafas lega.
=====
Dani memandang taman yang terbentang di depannya dengan hanya berteman segelas cola. Ia teringat, betapa sudah lamanya ia tak berkunjung ke tempat ini sejak dirinya terluka oleh ulah berandalan di sekolahnya dulu. Suasana pesta di belakanganya tak dihiraukannya. Pandangan mata Dani tajam menatap ke depan, tak menghiraukan keramaian di depannya. Melani yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Dani, hanya bisa menatap punggung Dani dari belakang. Ia ragu untuk menyapa, meskipun Melani merasa bahwa ia perlu untuk segera menciptakan komunikasi yang baik dan dekat, karena bagaimanapun, ia dan Dani kini bukan hanya teman biasa.
...mm...umm..Dani?”
Dani tak bereaksi. Ia tetap saja diam. Menikmati pemandangannya dan minumannya.
Melani menjadi canggung. Sejenak, ia berfikir untuk pergi saja dari situ, dan berbicara dengan Dani di lain waktu, namun diurungkan niatnya, dan Melani menambah jarak dengan Dani, mendekatinya.
“Dani…”
Melani kini ikut bersandar menghadap taman di sebelah Dani. Matanya melirik, mengharapkan respon, namun yang Melani dapatkan hanya ekspresi acuh tak acuh. Melani menarik nafas. Ia memang kecewa, namun ia sudah terlalu mengenal Dani. Ia memutuskan untuk tidak menyerah.
“Jadi...” tukas Melani. “Apa yang kita lakukan selanjutnya, Dan? Apa kita akan terus mencari pengguna armor AKSA yang...” Melani menghentikan pertanyaannya di saat tak sengaja ia melihat ke arah jari manis Dani yang tak mengenakan cincin tunangan lagi.
“...Dani, cincinmu dimana?” tanya Melani hati-hati,.
Dani yang sedari tadi diam tak bereaksi, mengangkat gelasnya, meminumnya sampai habis, dan cincin tunangan miliknya ada di ujung bibirnya.
Melani diam, mencoba memahami maksud Dani melakukan itu.
Dani mengambil cincin itu dari mulutnya, lalu menimang-nimang di dalam telapak tangannya.
“…..Aku hanya mengambil cincin ini, aku taruh di jarimu, terus aku pakai satunya di jariku,.dan semua orang bergembira. Ayahku, paman Sanjaya, dan keluarga kita. Selesai. Hanya sampai itu artinya..”
Melani terpengarah. Sesaat kemudian ia memalingkan wajah, menjauh dari pandangan Dani.
“Terserah apa pandangan kamu, Mel. Tapi harap kamu tahu..aku nggak pernah mencintai kamu, dan nggak akan. Aku hanya melakukan kewajiban sebagai anak, dan nggak lebih. Jadi sebaiknya, kamu juga jangan terlalu berharap, meskipun hari ini kita bertunangan”
Melani diam, namun tak lama ia mengusap air mata yang mulai turun dari sudut matanya..
“Aku tau, aku nggak pernah bisa menggantikan Ratna..”
“Jangan kamu ungkit soal dia!” potong Dani marah. “Itu bukan urusan kamu! Dan memang benar…selamanya, kamu nggak pernah bisa menggantikan dia.. Kamu cuma anak orang kaya yang…”
“CUKUP, DAN!”
Tiba-tiba Iwan masuk di antara Dani dan Melani.
“Sudah cukup! Aku sudah muak dengar kata-katamu tadi! Apa kamu nggak bisa ngertiin perasaan orang lain, hah?! Kamu seenaknya mengatai orang, melihat orang lain di bawah derajat kamu, lama-lama yang aku lihat...kamu nggak beda dengan sampah!”
“Iwan, cukup...” ujar Melani, sesenggukan.
“Hoo? Sampah? kamu nggak punya kaca,ha? siapa aku, mau apa aku, itu urusanku! Badut kelompok macam kamu nggak usah banyak komentar…cukup pake dengkulmu, nggak usah pake otakmu. nih! bersihin sepatuku, gih!”
“BANGSAT!”
Iwan melancarkan sebuah pukulan ke wajah Dani. Dani terpental, menabrak sebuah meja. Arta dan Sansan segera berlari menghampiri keduanya.
“ Wan! Dan!”
Dani terdiam sejenak, sebelum ia bangkit berdiri, membersihkan bajunya yang kotor terkena debu. Darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya dibiarkan begitu saja. Dani lalu memandang sekeliling. Nampak para tamu yang terkejut, Melani yang hanya diam, serta Arta dan Sansan yang mematung. Ia kemudian memandang lurus ke arah orang yang barusan memukulnya. Iwan.
Dani tersenyum. Ia lalu mendekati Iwan dengan santai, lalu berbisik di telinganya, “Ikut aku “
Dani berjalan lebih dahulu, disusul oleh Iwan yang mengikutinya dengan emosi.
“WAN! DAN!” Arta bermaksud mengejar keduanya, namun tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam kencang oleh Melani.
“Arta...temenin aku,..”
Arta bingung, siapa yang harus ia tolong sekarang.
“Ta, temenin Melani. Aku ke Iwan sama Dani dulu” Sansan mengerti kesusahan Arta.
Arta mengangguk cepat, dan seketika Sansan pergi meninggalkan mereka berdua. Sekelebat Sansan pergi, Arta melihat Melani yang berjalan menjauh dari kerumunan, yang kemudian segera ia susul dengan cepat.
=====
Malam itu tak berangin seperti biasanya. Pandu yang lama terenung di halaman joglo kediaman tuan mudanya, diam tak bergeming, memejamkan mata sedari lama. Pandu bermaksud menenangkan fikirannya, yang seperti ombak, berayun kesana kemari. Masih segar dalam ingatannya, pertarungannya yang terakhir melawan Dewata cengkar yang bangkit setengah tahun yang lalu. Masih segar pula ia mengingat, saat tuan mudanya hilang tak berbekas, bersamaan dengan Dewata cengkar yang hilang pula di tengah reruntuhan candi. Air mata Pandu tak terbendung lagi, saat ia mengingat tuan mudanya dengan gagah berani maju ke tengah pertempuran bersama dengan junjungan yang lainnya. Dan sebelum Handi melompat, ia sempat menoleh kearahnya, dan berkata:
“Paman, siapkan gudeg buatan paman setelah ini selesai, ya!”
Handi mengatakan itu dengan riang, dan kemudian apa yang Pandu dapat lihat adalah kelebatan tubuh tuan mudanya, bertempur dengan kecepatan dan kekuatan tinggi melawan Dewata cengkar.
Sampai disini, Pandu tak tahan lagi. Ia tersungkur dan menangis.
“Kangmas Pandu...”
Tanya melayang turun dengan lembut, dan mendekati rekan seperjuangannya tersebut. Hatinya ikut hancur melihat Pandu yang dikenalnya sangat tabah menghadapi apapun, harus bersimpuh menangis tak berdaya.
“Nyimas….maafkan aku...” Pandu menyeka air matanya, berusaha untuk berdiri. Namun, kekuatan hatinya tak cukup, maka kembali ia hampir terjatuh.
“Kangmas, tabahlah…” Suara lembut Yanuar mengagetkan Pandu. Dalam sekejap, Pandu yang hampir jatuh sudah ditangkap oleh Yanuar di sebelah kanan, dan Irwandha di sebelah kiri.
Pandu kemudian di bantu untuk duduk di sebuah kursi, sementara sahabat-sahabatnya tersebut mengelilinginya. Khawatir dengan keadaannya. “Saya sudah tidak apa-apa, kangmas dan nyimas sekalian… terima kasih, maafkan keadaan saya ini”
Yanuar memandang jauh ke depan, sementara Tanya dan Irwandha ikut mematung. Mereka berdua teringat pula kejadian waktu itu.
“Adalah kesalahan kita saat itu, membiarkan tuan muda kita hilang bersama biang malapetaka tersebut..Semoga TUHAN mengampuni kelemahan kita, serta selalu melindungi para tuan muda kita” Ujar Yanuar sembari menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya. Irwandha, Tanya dan Pandu mengikuti Yanuar. Mereka berdoa dengan khusyuk, sampai tiba-tiba mereka merasakan seseorang ada di sekitar mereka.
“Salam kangmas dan nyimas sekalian. Mohon maaf, hamba terlambat”
Jaka, seorang abdi dalem lain yang muncul paling akhir, menangkupkan tangan di depan dadanya sembari bersimpuh di lantai tanda hormat.
Yanuar, Pandu, Irwandha dan Tanya membalas tangkupan tangan Jaka. “Adik…apakah ada berita terbaru setelah kepulangan kami dari masa Dhamma?*”
Jaka berdiri, namun tetap menangkupkan tangan. Lalu pelan-pelan tangannya diturunkan, lalu Jaka mengambil nafas panjang.
“Paduka raja Bandung Bandawasa, paduka ratu Roro Jonggrang, Ni Restu Shinta, dan Mahapatih Gadjah Mada selama setengah tahun ini berusaha membuktikan kecurigaan mereka terhadap kejadian di reruntuhan candi waktu itu”
“Apa yang beliau beliau curigai dari kejadian waktu itu, dik?”
“Tentang keberadaan raden Handi dan roro Ratna. Serta keberadaan tuan Nanda, tuan Karis dan nona Ica”
“Maksud adik??”
“Tim 1 masih hidup..”
Tangan Pandu mengepal kuat.
=====
Dani dan Iwan saling berhadapan. Tampaknya perkelahian akan segera terjadi. Terbukti dengan San2 di tengah mereka yang tak mereka pedulikan.
“STOOOP!!! Apa-apaan kalian??!
“Minggir, San! Biar aku robek mulutnya! Mulut sampah dari orang yang nggak punya hati!” ujar Iwan sebal.
“Heh, ngomong aja kayak banci. Apa memang itu cara kamu? Diam dan maju sini!” jawab Dani sinis.
“Sialan!” Iwan maju merangsek. Ia bersalto melewati Sansan yang bengong dengan perubahan keadaan.
“Heaaaa!”
Iwan melompat ke arah Dani, melancarkan sebuah tendangan. Dani tersenyum. Ia mengelak, dan sempat menyarangkan sebuah pukulan di punggung Iwan.
“Ugh!,..eeaaaaaghh!”
Iwan yang terhuyung ke depan, sempat menyarangkan tendangan ke belakang, yang mengenai dada Dani. Dani terjerembab jatuh ke tanah, sementara Iwan terjatuh di bagian muka.
“Ughh, ayo kita selesaikan ini...” Dani meraih smartphonenya, dan mengusapkan beberapa ke arah layarnya sampai interface smartphone tersebut berubah.
ACCESS START!
“Kamu kira aku nggak bisa pake juga,haa??! Okeeee!!” tukas Iwan marah demi melihat Dani mengeluarkan smartphonenya.
ACCESS START!
“Aku bilang STOP!” Teriak Sansan marah sembari mengeluarkan juga smartphonenya.
COSTUME READY!
COSTUME READY!
COSTUME READY!
“Heeeeeeeeeaaaaaaaaa!”
ACTION!
Cahaya merah tua, ungu dan biru tua, berpendar dengan menyilaukan di saat Dani, Iwan dan Sansan sama melompat, mengeluarkan tendangan yang masing masing diarahkan ke depan.
“HENTIKAAANN!”
Dani, Iwan dan Sansan mengenali suara tersebut. Segera mereka menarik tendangan mereka dan kembali menapak ke tanah.
“Kak Indah...” Dani melihat dari sudut matanya. Dan memang benar, Indah, kakak kandung Dani kini berada tak jauh dari tempat Dani cs berada, bersama dengan seorang laki-laki yang tidak asing untuk Dani.
“Zul??”
Alfaidzul, teman dekat Dani sejak kecil. Ia berasal dari Malaysia, dan sempat tinggal di Jogjakarta. Namun karena satu dan lain hal, setelah tamat SMP, ia kembali ke Malaysia, dan tidak ada lagi kontak dengan Dani sampai hari ini.
Faidzul tersenyum. “Hai, Dan..”
Dani mengangkat tangannya ke depan helm, seketika wajahnya terbuka lebar. “Heeeeeeeeeeiiii,..bahasa Indonesiamu makin bagus! Apa kabar??” sambut Dani sembari mendekati Faidzul.
“Tentu saya bisa bicara bahasa Indonesia yang bagus. Kabarku baik. Kamu? Ah...ini yang disebut armor Aksaranger, ya…” Faidzul mengangguk, mengagumi armor milik Dani.
“Aksaranger? ah..bukan, Oh,ayolah Dzul. Kita ngobrol di tempat lain..” ajak Dani.
“Sure,..ayo kita ngobrol.. tapi,ah..kamu tidak sibuk, Dan?”
“Ahhh,..nggak sama sekali!” Dani me-non-aktifkan armornya.
“Heeeiiii..! kita be lum selesaiii!” potong Iwan marah. Melihat Dani mengacuhkannya dengan melepas armor, Iwan bermaksud maju untuk memberikan pelajaran. Namun dengan sigap, Sansan mencegah. “Jangan” ujar Sansan sambil menggelengkan kepalanya.
Iwan menggeram tak senang.
Sementara, saat Dani akan melintasi Indah, Indah mencegahnya.
“Dan, kak Indah benar-benar kecewa dengan kamu hari ini…benar-benar kecewa!”
“Kak, kakak pasti lihat dari awalnya, aku nggak pernah menyetujui pertunangan ini. Semua ini salah ayah! Ayah tidak mau mendengarku. Apa lagi yang bisa aku lakukan??”
“Banyak. Banyak yang bisa kau lakukan.hanya saja, kamu terlalu takut untuk memulai!” jawab Indah kesal sambil berlalu dari tempat tersebut.
“ Kalau begitu, kak Indah bicaralah dengan ayah, batalkan pertunangan ini,..”
“Kamu berpikiran pendek, Dan. Kamu hanya berpikir dari satu sisi. Pikir lagi, apa manfaat dari pertunangan ini bukan hanya untuk kamu, tapi untuk orang lain juga!”
Dani hanya terdiam menerim setiap kata dari Indah. Ia hanya dapat melihat Indah pergi dari hadapannya, sebelum rasa marah dan kecewa menguasainya.
“Persetan..” Ujar Dani dalam hati. “Dzul, ayo!” ajak Dani.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba Dani merasa kaku. Tubuhnya mengejang, kepala beputar dengan cepat.
“Uughh,..”
Keadaan itu membuat Dani harus berlutut, memegang kepalanya. Sementara Adfaidzul tampak berusaha menolong, Dani seketika memandang ke depan. Matanya melotot. Bayangan seorang perempuan begitu jelas nampak di depannya. Perempuan itu beberapa saat memandang ke arah lain, sebelum ia memandang ke depan, tepat di depan wajah Dani. Lama ia dan Dani saling bertatapan, sampai kemudian ia tersenyum.
Dani mengejang, seluruh tubuhnya kaku. Ia mengenal dengan baik perempuan di depannya itu dalam hitungan detik. Seseorang yang sesungguhnya sangat penting baginya. Seseorang yang ia cintai.
Kemudian, bayang perempuan itu akan beranjak pergi. Bibirnya nampak mengucapkan sesuatu. Namun sebelum Dani mampu memahami ucapannya, tiba-tiba badannya tak kuat. Dani jatuh ke tanah dengan keras. Orang-orang sekitarnya termasuk Indah, berusaha menolong Dani. Di tengah ketidak berdayaan tersebut, kesadaran Dani muncul,..
“,..Ratna???”

Bersambung...........





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Go... Aksara..!

Popular Post

- Copyright © AKSARANGER Powered by Blogger